
Entah apa yang ada di pikirannya, saat ini Cherry sudah berada di sebuah optik untuk memilih kaca mata. Johan menunggunya di tempat parkir.
"Huft, apakah aku harus memakai kaca mata? Dokter bilang mataku memang ada sedikit minus, tapi aku masih bisa membaca dalam jarak normal." gumamnya.
"Nona, kaca mata juga menambah trendi penampilan Anda. Cobalah dulu, ini model terbaru." pegawai optik menunjukkan sebuah kaca mata dengan model bingkai agak besar.
Cherry mencobanya dan melihat dirinya di cermin, "aku seperti seorang kutu buku."
"Nona cantik sekali. Model ini cocok dengan bentuk wajah Nona."
"Oke, aku ambil yang ini."
"Baik terima kasih Nona, kami akan memasangkan lensa yang sesuai dengan minus mata Anda. Mohon tunggu sebentar ya, Nona bisa bersantai di mini bar." ucap pegawai optik.
Cherry melangkah menuju mini bar di sudut ruangan. Kemudian Cherry duduk santai dan menikmati segelas jus buah yang telah ia pesan. Diamati sekelilingnya, ada beberapa orang yang tengah duduk di sana, mestinya mereka juga sedang menunggu.
"Cherry?" seseorang memanggil dengan ragu.
"Sandra!" Cherry begitu senang melihat sahabatnya.
"Ke mana saja kamu?" Sandra memeluknya dengan erat. Sejak kelulusan sekolah mereka tidak bertemu. "Nomor ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Aku berkali-kali ke rumahmu tapi tak pernah dibukakan pintu."
"Ayo duduklah dulu. Ceritanya panjang sekali."
Cherry menatap mata Sandra, dia bingung harus bercerita dari mana.
"Ponselku dijual ayahku tanpa sepengetahuanku. Jadinya aku membeli ponsel dan nomor baru."
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sandra khawatir.
"Tentu saja." Cherry tersenyum untuk meyakinkan temannya.
Tapi tentu saja sekarang dia dalam kondisi baik-baik saja. Dia telah menikahi seorang lelaki tampan yang kaya raya, hanya saja tak ada cinta. Namun kondisi ini jauh lebih baik daripada harus tinggal dengan ayahnya. Suaminya memberikannya kartu tanpa limit dan memperbolehkannya keluar dengan diantar seorang sopir, sungguh tidak pernah ada bayangan dalam pikiran Cherry untuk hidup layak seperti ini.
"Sandra, kamu jadi melanjutkan kuliah di universitas S?" tanya Cherry mengalihkan perhatian, ia tak mau Sandra menanyakan lebih lanjut tentang dirinya.
"Iya, aku sudah diterima di sana. Ah, aku akan senang sekali kalau kita bisa ke kampus bersama seperti saat sekolah dulu."
"Kita akan ke kampus bersama."
Sandra menatap wajah Cherry yang tersenyum, lalu dia bersorak gembira, "sungguh aku senang sekali, Cherry."
"Sandra, kamu melupakanku. Hei, apa kamu Cherry?" tanya seorang laki-laki dari arah belakang Cherry.
Cherry memutar tubuhnya dan melihat laki-laki itu yang ternyata juga teman sekolahnya dulu, Alex.
"Cherry, senang sekali bertemu denganmu di sini." ucap Alex.
"Hai, Alex. Kalian datang bersama?" tanya Cherry.
"Ah, iya." jawab Sandra dengan nada canggung.
"Sandra, kita harus segera pergi. Kaca matanya sudah selesai." ucap Alex sambil menunjukkan papper bag yang ia tenteng.
"Cherry, aku harus pergi. Kita akan bertemu di kampus kan?" tatap Sandra penuh harap, "banyak yang ingin kuceritakan padamu."
"Tentu saja." Cherry menjawab dengan senyum meski ada sedikit rasa sakit.
"Bye, Cherry ... sampai jumpa di kampus."
Sandra dan Alex berjalan menjauh dengan bergandengan tangan.
"Huft, apa yang kupikirkan?" desah Cherry pelan.
Sepertinya Sandra dan Alex memiliki hubungan khusus, mungkin saja mereka berpacaran. Dulu Cherry diam-diam menyukai Alex, hanya Sandra yang tahu karena memang mereka sahabat dekat.
"Aku tak berhak sakit hati. Alex bukan siapa-siapaku, sekarang pun aku telah memiliki suami." Cherry mencoba berdamai dengan dirinya. Diambilnya nafas panjang lalu dihempaskan pelan, "oke, begini sudah lebih baik."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian kaca mata Cherry selesai dan dia pun pulang. Saat perjalanan pulang di dalam mobil sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.
[Kamu sudah membeli kaca mata baru? Pakai dan kirim fotonya padaku.]
Cherry memicingkan matanya, "menyebalkan sekali."
Mengingat sifat David, Cherry menuruti saja perintahnya. Ia mengambil foto dirinya yang sedang memakai kaca mata dari berbagai arah. Kemudian dua puluh foto ia kirimkan.
"Terimalah fotoku." ucap Cherry cekikikan di jok belakang. Johan yang sedang fokus menyetir sampai penasaran dengan tingkah laku istri bosnya.
Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk lagi.
[Belilah beberapa set pakaian kerja wanita, sekarang.]
Cherry mengerutkan dahinya. Ia tak tahu untuk apa pakaian itu, tapi ia menurut saja.
[Oke.]
"Johan, kita mampir ke mall dulu." ucap Cherry.
"Baik, Nyonya."
Cherry memasuki sebuah butik yang khusus menjual pakaian kerja wanita. Dia senang sekali karena akhirnya bisa masuk ke butik ini, sebelumnya dia takut masuk karena merasa ngeri dengan harga di bandrolnya, sungguh mahal menurut kantongnya. Tapi kini dia merasa santai, karena suaminya yang memintanya untuk membeli dan Cherry akan memilih baju yang istimewa.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pegawai butik ramah.
"Aku mau setelan pakaian kerja."
"Mau model apa, Nona? Rok mini? Celana?"
"Aku belum tahu untuk dipakai dalam acara apa, jadi aku akan membeli beberapa potong dengan model berbeda."
"Saya siap membantu Nona."
Pegawai tersebut memperlihatkan beberapa koleksi pilihan terbaru. Cherry menyembunyikan keterkejutannya karena melihat harga yang luar biasa.
"Aku tak akan sanggup membelinya sendiri." batinnya.
Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Dilihatnya baik-baik nomor tersebut, itu adalah nomor David. Cherry belum menyimpan nomornya.
"Hallo." jawab Cherry.
"Kamu di mana?"
"Di mall, membeli baju."
"Cepatlah. Aku mau kamu sudah di rumah sebelum aku pulang."
Telepon sudah ditutup, bahkan Cherry belum sempat menjawabnya.
"Huh, menyebalkan. Aku baru saja sampai." gerutu Cherry.
Pegawai butik menatap Cherry curiga. Dia berpikir bahwa Cherry tak memiliki uang, ponselnya saja model lama dan murahan. Dia mengira bahwa Cherry hanya melihat-lihat saja tanpa membeli, padahal sudah banyak setelan baju yang ia tunjukkan.
"Jadi mau pilih yang mana, Nona?" suara pegawai berubah menjadi ketus.
"Baiklah, aku mau yang kamu pegang semuanya." jawab Cherry asal. Dia tak punya waktu untuk memilih.
"Benarkah?" tanya pegawai itu tak percaya karena ada empat setel pakaian di tangannya.
"Tentu saja. Tolong cepat, ya. Aku terburu-buru."
"Baik, Nona."
Tak sampai setengah jam, Cherry sudah kembali ke kediaman David. Dilihat sekelilingnya, tak ia temukan mobil sedan hitam yang biasa dipakai David.
"Untunglah kita tidak terlambat. Johan, terima kasih telah mengantarku hari ini."
__ADS_1
"Ini adalah tugas saya, Nyonya." ucap Johan sambil membukakan pintu untuknya.
Cherry keluar sambil menenteng beberapa buah papper bag.
"Saya bantu, Nyonya."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Belum sampai Cherry masuk melewati pintu rumah, mobil David telah sampai di halaman.
"Kamu baru pulang?" tanya David mendekati Cherry yang berdiri mematung di dekat pintu.
"Iya."
"Ayo, masuk. Belanjaanmu banyak juga." kata David sambil berjalan meninggalkan Cherry.
Cherry berlari kecil mencoba menyusul David, "ini kan kamu yang minta."
"Selamat datang, Tuan. Nyonya, biar saya yang membawakan." ucap Mia sambil berjalan tergopoh-gopoh.
"Tidak perlu, aku bisa membawanya." jawab Cherry.
"Mia, kami akan makan malam di rumah."
"Baik Tuan, akan segera saya siapkan."
David menuju kamar di lantai atas, Cherry mengikutinya dengan sedikit berlari karena tak bisa menyamai langkah David yang lebar.
"Mau mandi bersama?" tanya David datar.
Cherry gelagapan mendengar pertanyaannya, "tidak, terima kasih."
David menahan senyum karena geli melihat tingkah Cherry.
"Apa yang kamu beli?" tanyanya sambil melepaskan dasi.
"Kaca mata dan baju yang kamu minta."
"Aku mau lihat kamu memakai bajunya setelah aku mandi." ucap David sambil berlalu menuju kamar mandi.
Cherry menggerak-gerakkan mulutnya menirukan ucapan David, "dia sungguh menyebalkan!"
Cherry mulai mengeluarkan isi tas belanjanya. Semua baju dia gantung di hanger dengan rapi.
"Kamu belum mencobanya?" tanya David saat keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk putih di pinggulnya.
Cherry yang tak siap dengan pemandangan dada bidang di depannya seketika kehilangan konsentrasi.
"Kenapa, Cherry? Kamu menginginkanku?" tanya David mendekat.
"Tidak! Aku membeli beberapa model karena bingung. Mana yang harus kucoba?" tanya Cherry mengalihkan perhatian.
David memandangi ke empat setelan kerja tersebut, "tak perlu mencoba. Besok kamu pakai ini." Dia menunjuk setelan rok mini dan jas berwarna hitam, dipadu kemeja putih dengan aksen ruffle di leher.
"Ini apa tidak terlalu pendek roknya? Boleh kuganti dengan celana?"
"Lalu kenapa kamu membelinya?"
Cherry merasa tak bisa membantah David, "baiklah. Besok mau ada acara apa?"
"Bersiaplah berangkat jam dua belas. Alamatnya akan kuberitahu besok. Minta Johan untuk mengantarmu."
"Ya, aku kemana-mana memang diantar Johan."
"Mandilah dan segera turun makan. Apa kamu mau membantuku memakai baju?"
"Ah tidak, aku mandi." Dengan cepat Cherry lari ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
__ADS_1
David terkekeh melihat tingkah Cherry. Dipandanginya setelan baju kerja yang besok akan dipakai istrinya. Ia membayangkan bagaimana tubuh istrinya dibalut baju itu.
"Besok kita bermain lagi sayang."