
Billy mengamati tuannya yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan pena di jarinya. Sudah lama tuannya tak memperlihatkan ekspresi itu.
"Bagaimana bisa kamu salah mengenali seseorang?" Tiba-tiba David bertanya pada Billy.
"Saya tidak akan salah mengenali orang, Tuan."
David hanya mengerutkan alis mendengar jawaban Billy yang tak ia harapkan.
Dia masih tak habis pikir bagaimana perempuan itu tak bisa mengenalinya. Tapi berkat kesalahannya, David jadi puas bisa mempermainkannya. Tanpa disadari, kenikmatan fantasinya telah dimulai, kelak akan banyak hal-hal gila yang menanti.
***
Cherry merasa bosan seharian di rumah. Dia memutuskan berjalan-jalan di sekitar kompleks rumah, dan hal itu membuatnya nampak aneh. Tidak ada pejalan kaki yang nampak di kawasan elit itu, kemudian ia kembali masuk ke rumah dengan cepat.
"Apa berenang saja, ya? Tapi aku tak punya baju renang." Dia bergumam sendiri sambil duduk di taman yang bersebelahan dengan kolam renang.
Cherry melamun dan semilirnya angin membuatnya tertidur.
"Nyonya, sudah waktunya makan malam." Mia membangunkannya.
"Ah, iya. Aku tak ingin makan, aku mau tidur lagi. Kepalaku pusing."
"Apakah perlu saya panggilkan dokter?"
"Tidak perlu, aku mau tidur saja." Cherry melangkah menuju kamar dan kembali tidur.
David pulang sedikit larut malam ini. Dilihatnya Cherry tidur menggunakan selimut tebal. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia mendekati Cherry, sengaja ingin mempermainkannya lagi.
Dilihatnya wajah Cherry yang terlelap, bola mataya bergerak-gerak, mungkin sedang mimpi buruk. David meletakkan telapak tangannya di dahi Cherry.
"Dia demam."
"Tidak, jangan, kumohon, pergi--" Cherry mengigau dalam tidurnya.
David merasa iba dengan kondisinya, "apakah kamu ketakutan?"
***
Dokter Alexander datang beberapa saat kemudian setelah menerima panggilan telepon David.
"Tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan." Dokter Alexander menuliskan sesuatu dan memberikannya pada David. David menerimanya dan memberikannya pada Mia.
"Mia kamu yang bertanggung jawab."
"Baik, Tuan."
"David, siapa dia? Aku belum pernah melihatnya."
"Istriku."
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu tak memberikan undangan pernikahan?"
Hubungannya dengan David cukup dekat. Keluarga Alexander adalah dokter keluarga David. Sudah turun temurun hingga kini Alexander yang sudah cukup berpengalaman mengambil alih tugas dari ayahnya.
"Tak ada pesta, tenanglah."
"Tetap saja, harusnya kamu memberi tahuku. Baiklah, kondisi istrimu baik-baik saja. Sekarang aku harus pergi, masih ada jadwal di rumah sakit."
"Oke, tank you."
Mia mengantar Alexander keluar. Kini tinggal David yang terus memandangi wajah Cherry yang bahkan tidak terbangun saat dokter memeriksanya.
“Apakah aku menyakitimu?” bisik David.
***
Cherry merasakan tubuhnya basah oleh keringat. Pusing di kepalanya sudah hilang. Tak ada siapa pun di kamarnya. Dia mencoba melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Saat membuka pintu kamar mandi, Cherry terbelalak kaget melihat David yang hanya terlilit handuk putih di bagian pinggangnya. Tubuhnya yang basah menunjukkan dia baru saja selesai mandi.
"Menginginkanku hingga ekspresimu seperti itu?" tanya David yang melihat Cherry begitu terkejut.
"Kenapa kamu di sini? Keluar!"
"Kamu suka sekali berteriak. Mau kumandikan?"
Melihat David yang melangkah menuju pintu, Cherry mundur beberapa langkah.
"Kamu tak ingin ke kamar mandi? Atau mau kutemani?" goda David yang telah berada di pinggir pintu kamar mandi.
Cherry segera masuk dengan cepat, kemudian menutup dan mengunci pintu. Karena sudah begitu risih dengan tubuhnya, Cherry segera mandi dengan cepat. Dia tidak membawa baju ganti ke kamar mandi. Dengan memakai bath robes, Cherry membuka pintu pelan dan mengintip keluar. Perasaan lega karena tidak menemukan sosok pria di kamarnya. Kemudian dia melangkah santai menuju lemari baju.
"Mencariku?" tanya David yang keluar dari walk in closet. Cherry tak mengira David berada di sana karena dia sendiri belum pernah memasukinya.
"Kenapa kamu terus saja menggangguku?" Cherry mulai waspada.
David berjalan santai, kemudian duduk di atas ranjang. Dia tampak menawan dengan setelan jas hitamnya.
"Keluarlah dari sini!" Cherry menjadi emosi karena merasa tak dihiraukan.
"Kamu tau siapa aku?"
"Tentu saja, meskipun kamu anak dari pemilik rumah ini, kamu tidak bisa terus menindasku! Apa salahku?" Masih terlintas di benaknya bagaimana laki-laki yang berada di depannya itu memperlakukannya.
"Siapa yang mengatakannya padamu?"
"Apa?" Cherry tak mengerti.
David menarik nafas panjang kemudian berkata, "aku anak tirimu."
__ADS_1
Cherry terdiam. Iya, memang tak ada yang mengatakannya. Itu hanya kesimpulan Cherry sendiri. Yang dia ketahui selama ini adalah suamianya seorang duda tua yang kaya raya, maka dari itu dia tak mau memandang wajahnya saat menikah.
"Lalu siapa kamu?" tanya Cherry ragu-ragu menyadari ada sesuatu yang salah.
"Apakah matamu bermasalah? Sebaiknya periksakan matamu nanti. Pakai kartu yang telah kuberikan padamu."
"Jadi kamu yang memberikan kartunya? Bukan ayahmu?"
David mengerutkan alis, merasa gemas dengan kebodohan Cherry.
"Tunggu, perjelas dulu. Kamu siapa?"
David hanya diam saja, memandang Cherry tanpa ekspresi.
"Kamu suamiku?" tanya Cherry ragu-ragu.
"Ternyata suamimu adalah seorang yang tampan dan juga kaya. Apa kamu senang?" David mengatakannya dengan suara datar.
Ada perasaan lega ketika mengetahui bahwa dia tidak melakukan hal yang terlarang, dia melakukannya dengan suaminya sendiri. Selain itu, suaminya tampan dan kaya. Pipi Cherry bersemu merah.
"Kemarilah."
Cherry diam saja mendengar perintah David.
"Aku tak suka berkata dua kali." Nada suaranya dingin, membuat Cherry takut dan menuruti perintahnya.
David meraih pinggang Cherry dan menariknya ke dalam pelukan. "Lakukan tugasmu sebagai istri."
"A-apa maksudnya?"
David menarik tali bath robes, tubuh Cherry yang mulus jadi terlihat dengan jelas. Cherry dibuat gelagapan olehnya, wajahnya merah padam.
"Tak ada alasan bagimu untuk menolak."
David memegang pipi Cherry, mendekatkannya pada wajahnya. Kemudian David mencium bibirnya. Cherry tak dapat menghindar karena pria itu telah mengunci tubuhnya dengan rapat.
"Tok-tok-tok." Pintu kamar diketuk, merasa ada celah Cherry mencoba melepaskan diri dari David.
"Tuan, Tuan Billy menunggu di bawah." ucap Mia dari balik pintu.
“Hari ini pergilah periksakan matamu, belilah apa yang kamu butuhkan. Johan akan mengantarmu. Aku tidak mau kamu salah mengenali pria lain sebagai suamimu.” Bisiknya tepat di telinga Cherry.
Cherry malu mendengarnya, bagaimana bisa dia tidak mengenali suaminya. Bahkan mengira suaminya adalah anak tirinya. Saat ini dia terus saja merutuki kebodohannya.
David berdiri merapikan jasnya, Cherry dengan cepat mundur menjauh. Bila tidak mengingat pagi ini ada rapat penting, David tak akan melepaskannya.
"Nanti malam kita bermain lagi." David mengatakannya sambil berlalu pergi.
Setelah David menghilang di balik pintu, cepat-cepat ia memakai kembali bath robes yang tergeletak di lantai. Kemudian ia terduduk di tepi ranjang. Pikirannya menerawang mengingat kejadian beberapa hari lalu yang seperti mimpi buruk.
__ADS_1