Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 8 Baju Baru


__ADS_3

David baru saja sampai di rumah. Cherry nampak sudah menunggunya di pintu, segera berlari kecil menyambut dan membawakan tas kerjanya.


David merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan Cherry. Diikutinya Cherry yang berjalan selangkah di depannya menuju kamar.


"Sayang, sudah makan?" tanyanya.


"Belum." jawabnya dengan suara datar.


"Baiklah. Sayang mandi, aku akan membantu Mia menyiapkan makan malam."


"Tidak perlu, biarkan Mia dibantu pegawai lain. Kamu di sini saja, bantu aku mandi."


"What????? Aduh, pria ini dikasi hati minta jantung." rutuk Cherry dalam hati.


"Tidak mau?" tanya David.


"Mau." jawab Cherry lesu. "Aku akan siapkan air panasnya."


Beberapa saat kemudian, pintu kamar diketuk.


"Masuklah." ucap David.


Mia masuk ke kamar sambil membawa satu set pakaian yang diminta David.


"Letakkan saja di sana." ucap David, "siapkan makan malam satu jam lagi." lanjutnya.


"Baik, tuan. Ada lagi yang perlu saya lakukan?"


"Tidak."


"Saya permisi, Tuan." Mia pamit dan meninggalkan kamar tuannya.


"Air panasnya sudah siap." kata Cherry.


"Pakailah baju itu, sekarang." perintah David.


Cherry mengambil baju yang terlipat rapi di ranjang.


"Ini kan baju pelayan. Untukku?"


"Ya."


Cherry tak mau membantah perintahnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


"Apakah kamu ingin mengingatkanku bahwa aku tak lebih dari seorang pelayan? Ya, aku tak boleh lupa siapa diriku." gumamnya pelan.


Cherry keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian pelayan, dress selutut berwarna hitam dengan beberapa aksen renda putih.


"Hmm ... cocok. Ikat rambutmu."


Cherry mengikat rambutnya, juga mengikat perasaannya. Menahannya agar tak merasakan lebih sakit lagi, mengingat dia tak lebih dari seorang pelayan.


"Kamu jadilah pelayan yang baik. Sekarang bantu aku melepaskan baju."


Cherry menahan nafas sejenak, "baik, Tuan."


"Ya begitu, panggil aku Tuan."


Cherry mulai melepaskan baju David. Dimulai dari jas yang dibuka dengan mudah. Dasi dengan dua kali sentuhan sudah terlepas. Melepas kancing kemeja membutuhkan sedikit usaha.


"Glek." Cherry menelan ludah. Kancing kemeja dibuka dan dilihatnya dada bidang, turun ke bawah nampak roti sobek. Lalu kalau turun ke bawah lagi ada ... Cherry menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


"Apakah aku harus melepaskan celana juga?" tanyanya ragu.


"Ya." David menyeringai senang saat melihat Cherry berulang kali menelan ludah.


Ragu-ragu, jemarinya mulai membuka resleting celana. Cherry menutup matanya, membiarkan sedikit celah untuk melihat tangannya memegang celana dengan benar tanpa menyenggol yang lain.


Cherry menghela nafas panjang. Kini hanya tinggal benda segi tiga yang belum terlepas. Cherry menatap David, berharap ia tak memintanya untuk melepaskan benda itu. Tapi harapannya sia-sia, David tak mempedulikannya.


"Tuan, silakan ke kamar mandi dulu. Nanti Tuan bisa kedinginan." Cherry berusaha mencari cara.


"Baiklah." David menuju kamar mandi. Cherry mengekor di belakangnya dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Silakan masuk ke bak mandi." ucap Cherry.


David tak berkata apa-apa, ia hanya mengarahkan jari telunjuknya ke bawah.


Karena tak bisa menolak lagi, Cherry melepaskan benda terakhir itu dengan menutup mata. Bagaimana pun ia tak bisa tak melihat tubuh David yang sempurna, sungguh menggoda.


David masuk ke dalam bath tub, "gosok punggungku."


"Baik, Tu-an." Cherry menekan kata tu-an, untuk menunjukkan bahwa dia tak lupa siapa dirinya. Namun di telinga David, penekanan kata tu-an membuatnya suhu tubuhnya makin panas.


Cherry membungkukkan badanya, menggosok punggung David.


"Gosok dadaku."


Cherry menggeser posisinya berada di samping bath tub. Karena David terus memandanginya, ia jadi salah tingkah.


"Apakah ada yang salah?" tanya Cherry.


David meraih leher Cherry lalu menciumnya.


"Jangan, bajuku bisa basah." Cherry berusaha menghindar.


David dengan sengaja membasahi baju Cherry, "kamu sudah basah. Gosok tubuhku dengan benar, masuk ke bath tub."


"Tapi, aku sedang halangan."


David mengerutkan alisnya, bagaimana ia bisa lupa jika pagi ini ia membeli begitu banyak pembalut untuknya. Lalu, siapa yang akan menyelesaikan ini? Ia melihat ke dalam air, pupus sudah harapannya untuk bermain dengan pelayan kesayangannya.


"Ganti bajumu sekarang. Aku tak suka melihatnya." ucap David kesal.


"Baik." Cherry ke luar dari kamar mandi.


David membilas tubuhnya dengan cepat. Dia tak menginginkannya lagi.


Setelah berganti pakaian, Cherry hendak masuk ke kamar mandi lagi, tapi David sudah keluar dengan handuk membelit pinggangnya. Wajahnya merah padam tak bersahabat.


"Tuan, biar kubantu memakai pakaian." ucap Cherry mengikuti langkah David menuju walk in closet.


"Tidak perlu. Jangan panggil tuan lagi, panggil sayang." David tak mau membiarkan Cherry mendekatinya, ia takut tak bisa menahannya lagi.


"Dia pasti tak puas dengan pekerjaanku sebagai pelayannya. Sepertinya dia marah sekali." batin Cherry.


Beberapa saat kemudian David keluar, "ayo kita makan."


Cherry pasrah saja. Sepertinya tak ada kesempatan baginya untuk mengatakan tentang permintaannya.


"Ada apa?" tanya David sambil menikmati hidangan makan malamnya.


"Tidak ada."


"Katakan."


"Laki-laki ini kenapa selalu tahu kalau aku ingin menyampaikan sesuatu? Aku yang bodoh atau dia yang pintar?" tanya Cherry dalam hati.


David tak suka berkata dua kali, Cherry pun berkata dengan ragu, "aku ingin membeli baju untuk kuliah."


"Apa baju yang kusiapkan masih kurang?"


"Tidak-tidak. Aku hanya ingin baju yang biasa."


Baju-baju yang ada di lemari Cherry disiapkan oleh sekretarisnya. Saat itu David tak peduli model dan harga dari baju itu.


"Tentu. Kita belanja setelah makan malam."


"Kita?" Tanya Cherry.


"Ya, aku akan menemanimu.”


"Tidak-tidak. Sayang begitu sibuk. Biarkan aku pergi sendiri besok sepulang kuliah."


"Cepat habiskan makananmu. Kita akan pergi."


"Baik." Cherry merasa canggung saja keluar berdua dengannya, tapi ia tak bisa menolak perkataan David.

__ADS_1


"Mia, katakan pada Johan untuk menyiapkan mobil. Aku akan keluar." ucap David.


"Baik, Tuan." Lalu Mia menghilang di balik pintu dapur.


***


"Hallo Tuan dan Nona, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pramuniaga dengan ramah.


"Kamu pilihlah sendiri. Aku akan menunggu di sini." ucap David pada Cherry, kemudian ia duduk di sebuah sofa merah.


"Ah, iya." jawabnya.


"Aku akan melihat-lihat dulu." ucap Cherry pada pramuniaga yang menyambutnya.


Cherry tahu bahwa tempat yang sedang ia kunjungi merupakan salah satu butik terbaik di negeri ini. Ia mengambil sebuah baju yang menarik hatinya. Dilihatnya label harga yang menempel, betapa terkejutnya dia. Ia tahu bila butik ini menjual barang mahal, tapi ini teramat sangat mahal baginya. Cherry mengembalikannya ke gantungan.


"Aku bermaksud membeli baju baru dengan harga yang masuk akal, ini bukan tempat yang cocok." batin Cherry.


Cherry menghampiri David dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa? Kamu tak suka?"


"Ya, kurang cocok untukku." jawab Cherry.


"Baiklah, kita ke tempat lain." David melangkah pergi dan Cherry mengikutinya.


Sepertinya David begitu hafal area pusat perbelanjaan ini. Tanpa harus berputar-putar mencari, ia langsung naik ke lift menuju butik selanjutnya di lantai atas.


"Pilihlah sendiri." ucap David sesampainya di butik yang tak kalah mewahnya dari butik pertama, bahkan sepertinya lebih mewah.


"Eh, sepertinya aku tak cocok dengan baju di sini." Cherry berbisik pada David.


"Baju seperti apa yang kamu inginkan?" tanya David. Ia berpikir baju yang ia siapkan di rumah kurang memuaskan untuk Cherry, jadi ia membawanya ke butik pertama. Tapi ternyata ia tak cocok, maka dibawanya ke butik kedua yang standarnya lebih tinggi dari butik pertama. Lalu butik ini pun tak cocok, David menjadi tak mengerti apa yang diinginkan istrinya.


"Aku ingin baju biasa." Cherry masih berbisik, ia takut ada orang lain yang mendengar.


David mengerutkan dahinya, "Yang bagaimana?"


"Yang tidak mahal harganya. Baju di rumah terlalu mahal, sayang malah membawaku ke butik ini. Di sini mahal sekali."


"Hahaha ..." David tertawa mendengar penjelasan Cherry, ternyata istrinya begitu sederhana, "aku tidak mengizinkanmu memakai baju biasa."


"Kalau begitu tidak perlu membeli lagi. Aku akan memakai baju di rumah."


"Tidak. Kamu pilih atau aku yang pilih."


"Baiklah, aku akan memilih." jawab Cherry putus asa.


"Apa yang dipikirkan teman-temanku bila aku selalu memakai pakaian bermerek ke kampus? Bagaimana bila sampai ketahuan kalau aku adalah istri David yang suatu saat akan dicampakkan?" Cherry tenggelam dengan pikirannya sendiri, dengan asal dia memilih sebuah dress selutut.


"Aku mau ini." ucapnya pada pramuniaga.


"Baik, Nona." jawab pramuniaga.


"Sayang, aku sudah selesai." ucapnya pada David yang berada tak jauh darinya.


"Sudah? Hanya satu?" tanya David.


"Iya."


"Tolong bungkus satu deret ini." ucap David pada pramuniaga.


"Baik, Tuan." jawab pramuniaga senang.


Cherry terbengong dibuatnya, "ini terlalu banyak."


"Buang saja bila kamu tak mau."


"Aaaaaaakh, apakah orang kaya memang seperti ini?" tanya Cherry dalam hatinya.


"Aku akan membayarnya dulu, kirim barangnya ke rumah." ucap David pada pramuniaga.


"Baik, Tuan. Terima kasih telah berbelanja"

__ADS_1


Lagi-lagi Cherry hanya terbengong-bengong. Dasar orang kaya, aku bisa membeli sebuah rumah seharga baju-baju itu, pikirnya.


__ADS_2