Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 30 Desakan Mama


__ADS_3

"Sayang, aku punya sesuatu untukmu," ucap Cherry sambil mengambil sesuatu di laci meja riasnya.


"Apa itu?" tanya David setelah selesai mengenakan pakaian kerjanya dibantu oleh Cherry.


Cherry menunjukkan sepasang cincin pernikahan di telapak tangannya, "sayang mau pakai ini?" tanya Cherry sedikit ragu.


David menatapnya begitu dalam, ia merasa dirinya kurang memperhatikan istrinya hingga hal kecil seperti ini tak pernah terpikirkan olehnya. Kemudian diambilnya kedua benda bulat di tangan Cherry, ia memakaikannya di jari manis Cherry, "maaf."


"Kenapa sayang minta maaf?" tanya Cherry tak mengerti.


"Karena acara pernikahan kita tak istimewa. Bahkan aku tak membelikan cincin untukmu."


"Aku tidak memerlukannya. Cukup satu hal, jangan pernah meninggalkanku."


"Tidak akan." David memeluk Cherry dan menggenggam cincinnya.


Cherry melepaskan pelukannya, "kupakaikan cincin sayang."


David memberikannya pada Cherry, kemudian cincin itu terpasang di jarinya. Cherry puas ketika melihat cincin itu begitu pas di jari David, “ada nama kita di dalamnya.”


"Hmm ... kenapa baru memberikannya sekarang? Kamu membeli ini sudah lama.”


"Bagaimana sayang tahu?" Cherry tak menyangka David telah mengetahui kapan ia membelinya.


"Semua transaksi kartumu masuk ke ponselku."


"Benarkah?" Cherry terkejut, jadi David mengetahui saat ia bolos kuliah dan nongkrong di cafe.


"Belilah apa yang kamu inginkan." David mengecup dahi Cherry.


"Sayang, bolehkah uang lima ratus jutanya kumasukkan ke rekeningku? Itu terlalu banyak."


"Tentu. Berikan nomor rekeningmu, aku akan memberimu uang lagi.”


Cherry gembira mendengarnya, ia tak keberatan saat David memanjakannya dengan memberikan uang yang banyak, "Sayangku memang yang terbaik. Mari kita sarapan, mama pasti sudah menunggu." Cherry menggandeng lengan David dengan mesra, mereka berjalan ke ruang makan.


"Sayang, apakah David mengaduk pasta dengan benar?" tanya mama David tanpa basa-basi.


Pipi Cherry memerah mendengarnya, "mama ..."


"Baguslah kalau begitu, mama akan segera memiliki cucu," ucap mama David senang, "mama sudah menulis makanan yang harus kalian makan, dan ..." mama melirik ke kabinet dapur, "jangan pernah makan mi instan! Itu tidak baik untuk calon ibu hamil. Cherry kamu mengerti?"


Mama David begitu serius dengan program kehamilan untuk Cherry, ia merasa umurnya sudah terlalu tua untuk terus menunggu menimang seorang cucu.


"Iya, Ma ..." Cherry tak bisa menolak.


David menahan senyumnya melihat ekspresi Cherry yang lucu, "mama kapan pulang?"

__ADS_1


"Mama masih sehari di sini, kamu sudah menyuruh mama pulang?" tanya mama dengan ketus.


"Mintalah Johan untuk mengantar mama, jangan bepergian sendiri."


"Mama bukan anak kecil."


Mama David tinggal di rumah mereka selama tiga hari saja. Seperti biasa, ia tiba-tiba saja pergi setelah memberikan perintah pada Mia untuk memberikan menu makanan yang telah ia tentukan.


Kemudian hari-hari berlalu seperti biasa. David dengan segala kesibukan pekerjaannya, dan Cherry dengan tugasnya di kampus. Saat malam, bila mereka tak kelelahan David akan meminta Cherry untuk melakukannya.


Tepat satu bulan kemudian, mama David kembali ke rumah David, "Cherry apa kamu sudah isi?" Mama David hanya fokus pada kehamilan Cherry.


"Aku belum mengeceknya, Ma," jawab Cherry.


"Kamu masih datang bulan kemarin?"


"Iya."


Mama menghela nafas panjang, "kita ke rumah sakit, memeriksakan kesuburanmu."


"Ma, kita baru menikah beberapa bulan. Bagaimana mungkin mama memaksa Cherry untuk segera hamil?" tanya David yang tiba-tiba mendatangi mereka yang tengah berbincang di ruang santai.


“Apa kamu melakukannya dengan benar?”


“Tentu saja, Ma.”


"David, mama tidak bisa menunggu terlalu lama. Sekarang kita ke rumah sakit." Mama beranjak dari duduknya.


Cherry dan David saling berpandangan. Pada akhirnya Cherry menurut untuk mengikuti mama. Sedangkan David bersiap berangkat ke kantornya.


Di rumah sakit keluarga Alexander, dokter melakukan beberapa tes kesuburan untuk mengidentifikasi beragam masalah yang mungkin menjadi masalah infertilitas. Selain memeriksa organ-organ reproduksi, dokter juga melakukan tes fungsi ovulasi dan pemeriksaan hormon untuk memastikan penyebab ketidaksuburan yang diinginkan mama David. Sebetulnya Alexander sendiri merasa tidak perlu melakukan hal ini karena pernikahan mereka masih seumur jagung.


"Cherry, kamu bisa pulang. Aku akan mengantarkannya ke rumah bila hasilnya sudah keluar," ucap Alexander saat Cherry sudah melawati serangkaian tes.


"Terima kasih, dokter."


"Kamu pulanglah bersama Johan, mama masih ada keperluan di sini," ucap mama.


"Baik, Ma. Cherry pulang."


***


"Cherry, apa kamu terganggu setelah ke rumah sakit? Mama ingin cepat-cepat memiliki cucu," ucap David. Mereka sedang berbaring di ranjang.


"Tidak sayang ... aku mengerti."


David mengecup pipi Cherry, "apa kamu lelah?"

__ADS_1


"Tidak."


"Kalau begitu kita mengaduk pasta." David menggoda Cherry.


"Sayang, aku belum pernah makan pasta," kata Cherry tiba-tiba.


"Hahaha ..." David tertawa geli, "besok akan kuajak ke restoran Italia, sekarang kita mengaduknya di sini," ucap David sambil menarik selimut yang dipakai Cherry.


***


Cherry dan David turun dari kamarnya. Seperti rutinitas biasa tiap pagi, mereka akan sarapan bersama dan memulai aktivitas masing-masing.


"Alexander," sapa David ketika melihatnya tengah duduk berbincang dengan mamanya di lantai bawah.


"David, aku membawakan hasil tes istrimu."


Cherry dan David bergabung ke ruang santai.


"Apa ada masalah?" tanya David setelah duduk di sofa.


"Hasil tesnya baik, tidak ada masalah," jawab Alexander.


"Lalu kenapa Cherry tak kunjung hamil?" tanya mama tak sabar.


"Nyonya, bersabarlah. Lagi pula Cherry masih berumur delapan belas tahun. Mungkin saja organ reproduksinya belum matang," Alexander menyerahkan hasil tes pada Cherry, "baiklah, aku harus berangkat ke rumah sakit."


"Terima kasih, dokter," ucap Cherry.


"Kamu tidak ikut sarapan?" tanya David pada Alexander.


"Aku ada jadwal operasi sebentar lagi. Selamat tinggal, Nyonya besar Chuay," pamit Alexander lalu pergi meninggalkan kediaman Chuay.


"Cherry, pergilah sarapan dulu. Ada hal yang mau kubicarakan dengan David,” ucap mama.


"Baik, Ma." Cherry meninggalkan mereka menuju ruang makan.


Setelah Cherry menghilang di bali pintu, mama mulai berbicara, "David, umur mama sudah tak panjang," ia menghela nafas panjang, "mama mengidap kanker, dokter memvonis bahwa umur mama tak lebih dari dua tahun lagi."


David terkejut mendengarnya, "Mama ... kenapa tak pernah memberitahukan hal ini? Aku akan mencari pengobatan terbaik."


"Papamu sudah melakukan banyak hal. David ... mama hanya ingin menimang cucu sebelum mama pergi."


"Ma ..." David tak mengira mamanya sedang sakit, tubuhnya terlihat baik-baik saja dari luar.


"David, mama memberimu waktu satu bulan. Buat Cherry segera hamil. Kalau dia belum hamil, kamu harus menikahi wanita lain."


David mengerutkan alisnya, dia merasa dipojokkan mamanya.

__ADS_1


"Jangan kecewakan mama," ucap mama sambil berlalu meninggalkan David yang masih terdiam.


__ADS_2