Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 28 Pacuan Kuda


__ADS_3

Cherry membuka matanya, David sedang memeluknya dari belakang, "selamat pagi, sayang."


"Selamat pagi. Tidurmu nyenyak?" tanya David.


"Ya." Cherry menggenggam tangan David yang merengkuhnya.


"Cherry, kamu harus membayar hutangmu sekarang."


"Hutang?" tanya Cherry tak mengerti.


"Kemarin kamu berjanji akan melakukannya di rumah."


Cherry memejamkan matanya, "dia tak pernah lupa akan hal ini," batinnya.


David membenamkan wajahnya di tengkuk Cherry, "kita mandi bersama."


"Iya," jawab Cherry malu-malu.


Kemudian David bangkit dan membopong Cherry ke kamar mandi. Cherry malu memperlihatkan wajahnya yang memerah, lalu ia benamkan di dada David yang bidang.


"Diamlah, aku akan menggosok punggungmu," ucap David setelah mereka berada di kamar mandi.


"Sayang, aku bisa sendiri."


"Sssst ..."


David menggosok seluruh tubuh Cherry dengan busa sabun yang melimpah. Hal-hal romantis yang diharapkan David berubah menjadi canda tawa. Cherry justru mengajaknya bermain gelembung sabun.


Setelah selesai mandi, Cherry mengenakan bath robesnya, sedangkan David hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya. Lalu tiba-tiba David mengangkat Cherry dan membawanya ke ranjang, "sungguh kamu tak menginginkanku?"


Cherry memandang David, direngkuhnya lehernya dan menariknya ke dalam pelukan, "aku menginginkanmu," bisiknya.


"Tok-tok-tok." Pintu diketuk.


Keduanya melihat ke arah pintu yang tertutup.


"David, ini sudah siang. Mama menunggumu untuk sarapan, cepatlah turun." Suara mama David dari luar ruangan.


"Mama?" David tak tahu kalau mamanya datang.


Cherry segera membetulkan bath robesnya yang berantakan.


"Kami segera turun, Ma." jawab David.


David dan Cherry segera berganti pakaian, "gagal lagi," gerutu David.


Cherry menahan senyumnya lalu menggandeng tangan David dan menuruni tangga. Mama David telah duduk di ruang makan.


"Ma, kenapa tak memberitahuku?" tanya David sambil duduk. Sebetulnya David sudah hafal dengan tingkah laku mamanya yang suka tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Dasar anak nakal. Apa kamu tak suka dengan kehadiran mama?"


"Mama ... Apa kabar?" Cherry mendekatinya dan mereka berpelukan.


"Mama baik, apa kamu sudah isi?"


Cherry tak mengerti apa yang mama bicarakan.


"Jangan bilang kalau kalian belum pernah mengaduk pasta," lanjut mama David.


"Pasta? Kami tak pernah membuat pasta." jawab Cherry.

__ADS_1


Mama David melirik David, "apa kamu benar-benar tidak ingin memberi mama cucu?"


"Bila saja mama tak mengetuk pintu, pasti aku sukses mengaduk pasta." gumam David pelan.


Pipi Cherry memerah karena malu mendengar arah pembicaraan mereka.


"Sayang, duduklah,"


Cherry duduk di samping mama David dan menikmati sarapan.


"Ma, kami akan pergi melihat pacuan kuda. Mama mau ikut?" tanya David.


"Tidak, ada sesuatu yang harus kukerjakan."


"Baiklah."


***


Ini pertama kalinya bagi Cherry melihat pertandingan balap kuda secara langsung. Saat ini ia berada di tribun VVIP yang berada di lantai atas. Dari sini ia bisa melihat luasnya arena pacuan kuda. Di tiap sudut terdapat layar besar untuk menampilkan gambar yang lebih jelas di arena.


Cherry duduk menikmati minuman dinginnya, ia mengamati David yang tengah bersendar di pinggir tribun, "padahal hanya nonton kuda, tapi berpakaian seperti ini." David mengenakan setelan jas lengkap, tak ubahnya ketika bekerja. Cherry sendiri juga mengenakan dress selutut dipadu dengan topi bulat lebar.



Awalnya Cherry membayangkan akan mengenakan kaos dan celana jeans, seperti suporter sepak bola, ia akan berteriak dan berdesak-desakan dengan yang lain. Tapi ternyata di sini justru seperti sedang acara minum teh di restoran mewah dengan pemandangan kuda di lapangan bawah.


Tiba-tiba Billy datang mendatangi David dan membisikkan sesuatu. Kemudian David berjalan ke arah Cherry, "tunggu di sini sebentar. Aku ada pekerjaan."


"Baik."


"Pesanlah sesuatu jika kamu menginginkannya."


Cherry mengacungkan jempolnya, kemudian David meninggalkannya ke dalam ruangan diikuti Billy.


"Cherry!" panggil seorang perempuan, ia melambai dengan akrab ke arahnya.


"Sarah?"


"Hai, kamu sendirian?" Sarah memandang ke segala arah mencoba mencari sosok yang diidamkannya.


"Tidak, aku bersama David."


Tanpa permisi, Sarah duduk di dekat Cherry, "kenapa kamu tak mengabariku? Kukira kamu tak akan ke mari."


"Ah maaf, aku benar-benar sibuk kemarin." Seharian kemarin Cherry sibuk bermain bersama David, hingga melupakan janjinya pada Sarah.


"Hahaha ... yang penting kita sudah bertemu di sini. Di mana David?"


"Dia masih ada pekerjaan."


"Dia seperti papaku. Ke mana pun pergi selalu diikuti pekerjaan. Kamu kenal papaku, kan?"


Cherry terdiam, dia sungguh-sungguh tak mengetahui tentang keluarga Sarah.


"Hahaha ... aku lupa kalau kamu baru di kota ini. Papaku adalah wali kota di sini."


"Ah, walikota An," ucap Cherry.


Sarah mengangguk, "Cherry, aku akan mentraktirmu. Pesanlah makanan," dia berusaha mengambil hati Cherry.


"Aku sudah memesan tadi."

__ADS_1


"Begitu ya. Cherry, apakah David sudah memiliki kekasih?" Sarah akhirnya menanyakan pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan pada Cherry sejak pertama bertemu kemarin.


Cherry memandang Sarah, ia telah salah mengira bahwa dirinya adalah adik David dan Cherry belum ada kesempatan untuk mengatakan kebenarannya, "sudah."


"Benarkah?" Sarah sangat terkejut mendengarnya, "beberapa tahun yang lalu aku dan David adalah sepasang kekasih. Lalu sekretarisnya merebutnya dariku. Apakah kekasih barunya seorang sekretaris juga? Mereka pasti memainkan trik licik untuk mendapatkan hati David. Orang-orang miskin berebut memanjat ranjangnya."


Cherry tak menyangka akan mendengarkan hal itu dari Sarah, "apa kamu mengenal mereka hingga bisa berkata seperti itu?"


"Tak perlu mengenal mereka, semua orang miskin seperti itu," jawab Sarah dengan arogan, "David hanya cocok dengan perempuan yang statusnya sama dengannya. Seperti aku misalnya." Sarah menggenggam tangan Cherry, "Cherry aku adalah kakak ipar yang baik, aku pasti akan memanjakanmu kelak."


Cherry menarik tangannya, "David sudah sangat memanjakanku, aku tak perlu orang lain lagi."


"Hahaha ... beruntung sekali kamu memiliki kakak yang sangat perhatian. Aku adalah anak tunggal, jadi aku tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang kakak."


"Apakah aku terlalu lama meninggalkanmu?" David datang dari arah belakang Cherry.


"Tidak." ucap Cherry sambil tersenyum tipis.


"Hai, David. Aku menemani adikmu, dia tak akan bosan sendirian," ucap Sarah memperlihatkan keakrabannya dengan Cherry untuk mengambil hati David.


David memandang Cherry, lalu Cherry mengangkat alisnya menandakan ia tak tahu menahu.


"Cherry, ayo aku akan memperlihatkan sesuatu." David menggenggam tangan Cherry.


"Kami permisi dulu," pamit Cherry pada Sarah.


"Akan membosankan sendirian di sini. Boleh aku ikut? Pertandingan juga belum dimulai."


"Kami hanya sebentar," David menolaknya dengan halus, kemudian ia merangkul pinggul Cherry dan masuk ke dalam ruangan.


Sarah yang ditinggalkan sendiri merasa diabaikan oleh David, "kenapa dengan adiknya sendiri begitu mesra? Apakah dia seorang sister complex?" batin Sarah.


***


"Namanya Black." David mengelus kepala kuda hitamnya.



"Wow, dia keren sekali." Cherry mengagumi kuda gagah di hadapannya tapi ia tak berani mendekat.


"Kemarilah." David membimbing tangan Cherry untuk menyentuh bulu halusnya.


"Apa dia akan ikut bertanding?" tanya Cherry.


"Tidak pernah, aku tak akan membiarkannya ikut balapan. Ia mengalami cedera saat aku menungganginya bulan lalu. Sekarang dia di rawat di sini sampai lukanya sembuh."


"Kasihan sekali ... tapi sepertinya dia baik-baik saja."


"Iya, beberapa hari lagi ia sudah bisa pulang."


"Hai, Black ... lekaslah sembuh. Kita akan bertemu di rumah." Cherry mulai berani mengelus kepala Black.


"Apa yang kamu katakan pada Sarah?"


"Aku tidak banyak bicara padanya. Aku hanya mendengarkan ceritanya. Entah bagaimana dia mengira aku adalah adik sayang."


"Hahaha ... aku jadi teringat anak tiri."


Wajah Cherry merah padam karena malu, dicubitnya pinggul David untuk melampiaskan kekesalannya.


"Dia mengatakan bahwa kalian dulu adalah sepasang kekasih," ucap Cherry.

__ADS_1


"Hmmm ..."


__ADS_2