Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 6 Pijat


__ADS_3

David duduk dengan gelisah. Sebentar-sebentar ia memandangi pintu.


"Sedang apa dia di bawah?"


Johan telah melapor lewat pesan bahwa mereka kembali, sudah lebih dari setengah jam yang lalu. Tapi Cherry tak kunjung masuk ke kamar. David tak sabar menunggunya.


Didengarnya langkah kaki mendekat. Cepat-cepat ia mengangkat buku yang sedari tadi hanya dibolak-balik lembarnya saja. Pintu dibuka dan Cherry nampak terkejut melihat David yang berada di kamar.


"Katanya tadi rapat sampai malam. Kenapa sudah pulang?" tanya Cherry, sambil menutup kembali pintu kamar.


David mengacuhkannya, ia tetap pura-pura membaca buku.


Cherry mulai merasa canggung karena diacuhkan. Ia mengambil piyamanya di lemari dan membawanya ke kamar mandi.


"Bilang-tidak-bilang-tidak-bilang-tidak." Cherry bergumam sendiri di kamar mandi.


"Oke, harus bilang! Kamu bisa!" Setelah mengganti pakaiannya, ia keluar dari kamar mandi.


Meskipun sudah mencoba mengumpulkan keberanian, Cherry masih ragu untuk mengatakannya. Ia meremas ujung piyamanya.


"Kenapa kamu berdiri di situ? Kemari." perintah David.


Cherry mendekat, berdiri di pinggir ranjang.


"Duduk di sini." David menepuk-menepuk ranjang di sisinya.


Cherry menurut dan duduk di sebelah David.


"Ada apa? Katakan."


"Huft, laki-laki ini kenapa bisa menebak. Apa aku terlalu kelihatan?!" batin Cherry.


"Aku tak suka berkata dua kali." ucap David sambil memainkan buku yang masih ia pegang.


"Begini ..." Cherry mulai memberanikan diri, "besok aku mulai kuliah, aku butuh uang cash." ucap Cherry malu-malu. Ia tak terbiasa meminta pada orang lain. Selama ini ia mendapatkan uang dari hasil kerja part time.


"Itu saja?"


"Iya."


"Senangkan aku dulu."


"Apa? Bukannya tadi siang sudah?" protes Cherry. Terbayang apa yang telah ia lakukan di hotel tadi siang.


"Hahaha ... jadi kamu mau lagi?" goda David. “Aku suka saat kamu menjadi sekretaris.”


"Bu- bukan begitu." jawab Cherry salah tingkah. “Ah iya, kapan aku mulai bekerja? Aku tak perlu meminta uang lagi bila sudah bekerja.”ucapnya dengan semangat.


“Pekerjaanmu sebagai sekretaris sudah selesai. Kamu hanya perlu kuliah.”

__ADS_1


Cherry yang begitu polos belum mengerti apa maksud di balik perkataan David.


"Pijat aku. Hari ini aku lelah sekali." Tanpa menunggu persetujuan Cherry, David sudah memosisikan dirinya di ranjang, siap untuk dipijat.


"Aku juga lelah." batin Cherry.


"Apa kamu punya minyak atau sesuatu untuk memijat?" tanya Cherry.


Tiba-tiba saja David bergerak duduk, hal itu mengagetkan Cherry.


"Ke-kenapa?" tanya Cherry.


"Jangan panggil aku dengan sebutan kamu."


Cherry mengangkat alisnya tanda tak mengerti.


"Siapa aku?"


"Suamiku." jawab Cherry malu-malu.


"Panggil aku sayang, mengerti?"


"Baik." Cherry lebih memilih untuk menurut. "apa susahnya panggil sayang." pikirnya.


"Cepat, katakan."


"Apakah kamu selalu sebodoh ini?" tanya David sambil menunjuk dahi Cherry.


"Katakan."


"Sss ... sssssa- sa- yang." Ternyata yang baru saja ia pikir mudah, tidak semudah itu.


"Yang benar."


"Sa- sayang."


"Lagi."


"Sayang."


"Lagi."


"Sayang sayang sayang."


David berdiri untuk menyembunyikan ekspresinya yang menahan tawa. Cherry terlihat menggemaskan di matanya, tapi ia tak mau Cherry mengetahuinya.


"Cari Mia di bawah. Minta benda yang kamu butuhkan."


"Benda? Benda apa?"

__ADS_1


"Kamu belum memijatku."


"Ah iya, baik. Aku akan ke bawah sekarang." Cherry melompat dan berlari keluar mencari Mia untuk meminta minyak essential atau sejenisnya.


Tak butuh waktu lama, Cherry kembali dengan sebotol minyak essential. Namun, lagi-lagi Cherry dikejutkan oleh David yang tengah berbaring hanya memakai boxer.


"Ke- kenapa tidak pakai baju?"


"Gadis bodoh, apa aku harus berpakaian lengkap saat dipijat?" ucap David sambil tidur tengkurap.


"Apa itu di tanganmu?"


"Ini minyak essential beraroma chamomile."


Cherry memosisikan dirinya di atas ranjang dan siap memijat. Meskipun sudah melakukan hubungan suami istri beberapa kali, tapi Cherry belum terbiasa dengan tubuh David. Ia menelan air ludah, selalu dibuat terpesona dengan tubuhnya yang liat. Dipejamkan matanya saat tangannya mulai menyentuh kulit David.


"Hmm ..." David bergumam.


"Apakah terlalu keras?" tanya Cherry.


"Tidak terasa. Kamu seperti sedang mengelusku."


Pipi Cherry bersemu merah karena malu. Diperkuatnya gerakan pijatan di punggung David. Sungguh laki-laki ini memiliki tubuh yang kokoh.


"Pundaknya yang lebar dan bidang siap menjadi sandaran para wanita." Cherry membatin, "apakah aku satu-satunya wanitanya sekarang? Ah, memikirkannya saja aku tak berani. Diperlakukan dengan baik saja aku sudah merasa bersyukur. Aku tak boleh banyak berharap."


Pria pertama yang telah masuk dalam kehidupannya itu sungguh memesona. Meskipun tanpa cinta, Cherry sudah menyerahkan diri padanya. Entah apa yang akan terjadi nanti, ia tak berani membayangkan. Cherry menyadari siapa dirinya yang tak lebih sebagai barang penebus hutang.


David tertidur dalam kenyamanan pijatan. Cherry menarik selimut untuk menutupi tubuh kekarnya. Dipandangi wajah kelelahan yang sedang terlelap itu. Cherry baru kali ini memandangi wajah suaminya dengan saksama. Bagaimana bisa ia mengira laki-laki ini adalah anak tirinya, Cherry terus merutuki diri bila mengingat kejadian itu.


Cherry berbaring di sisi David, masih terus mengagumi wajah rupawan suaminya, “ini adalah dunia yang kejam. Bukan cerita dongeng yang selalu berakhir dengan bahagia. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Akan terlalu sakit bila kelak aku dicampakkan. Ayahku saja dengan mudahnya membuangku, apalagi pria lain yang baru mengenalku.”


Cherry terus tenggelam dalam lamunannya hingga tertidur.


David membuka matanya. Dipandangi wajah Cherry yang tengah tidur, pipinya bersemu merah, sepertinya karena kedinginan. Diraih selimut tebal dan membungkus tubuh sintal di sampingnya.


David menyelipkan telapak tangan Cherry masuk ke selimut. Ia merasakan kulitnya sedikit kasar, menandakan ia adalah seorang pekerja keras. Tapi ia menjaga dengan baik bagian tubuhnya yang lain. David masih ingat betapa halus dan mulusnya tubuh gadis yang ia nikahi beberapa hari yang lalu.


Cherry memiliki tubuh yang indah. Dengan dada penuh, perut rata, dan kaki yang panjang. Usianya yang masih tergolong belia, membuat dirinya terlihat makin menarik.


Tak ada niat khusus saat menikahinya dulu. Dia hanya suka melihat wajahnya di foto. Tanpa pikir panjang ia menikahi gadis ini. Hasratnya sebagai lelaki telah lama tak tersalurkan, ia tak pernah bermain dengan wanita mana pun. Cherry adalah tempatnya menyalurkan hasrat laki-lakinya.


Awalnya Cherry hanya akan dijadikannya teman ranjang. Tapi, dia begitu penurut dan menggemaskan, David tak tega memperlakukannya seperti itu. Akhirnya dia menuruti permintaan Cherry yang menginginkan untuk melanjutkan kuliah. David berpikir bahwa ia masih muda, masa depannya masih panjang. Entah apa yang akan terjadi besok. Tapi saat ini, David menyadari bahwa ia telah terjerat oleh pesona Cherry.


Masih segar di ingatannya bagaimana dia menikmati menghabiskan waktu siang bersama Cherry di hotel. Saat mabuk ia bisa begitu pasrah. David jadi menginginkannya kembali.


Diciumnya dengan lembut bibir Cherry. Tangannya ia masukkan di bawah selimut, meraba sesuatu di dalamnya. Cherry hanya menggeliat, matanya masih tertutup rapat.


“Kamu masih belum bangun juga? Benar-benar ...” David tak melanjutkan aksinya. Ia kembali berbaring dan memeluk Cherry yang masih terlelap.

__ADS_1


__ADS_2