Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 14 Mencoba Kuat


__ADS_3

"Mini market tidak jauh, kenapa kita tidak jalan kaki saja?" usul Cherry saat mereka berjalan bersama menuju garasi mobil.


"Tidak." David menolak dengan cepat.


"Mobil sebanyak ini juga tidak pernah dipakai." gumam Cherry saat melihat mobil-mobil mewah berjejer di dalam garasi yang luas.


"Kamu bisa memakainya."


"Aku tak bisa menyetir."


"Tidak perlu menyetir sendiri, minta Johan mengantarmu." Alih-alih membiarkan Cherry pergi sendiri, David merasa lebih aman bila Johan yang mengantarnya.


"Tit tit." Lampu salah satu mobil menyala, tanda remote control telah ditekan.


"Wow, aku belum pernah naik mobil seperti ini." ucap Cherry tertegun melihat mobil sport merah, "ke mini market saja memakai mobil seperti ini."


"Aku sudah lama tak memakainya. Cepat masuk." David sudah duduk di depan kemudi.


Hanya dalam beberapa menit saja mereka sudah sampai di mini market.


Cherry mendorong troli belanja dengan riang, membayangkan makan mie instan pedas membuatnya tak sabar. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan deretan mie instan dengan berbagai macam rasa.


David memperhatikan Cherry yang sedang memilih, "ambil semua."


"Semua? Sayang mau membuatku makan mie instan tiap hari?"


"Hahaha ... ambillah apa yang kamu inginkan, bahkan seluruh isi mini market boleh kamu bawa pulang. Uangku tak akan habis." David berkata dengan santai.


"Dasar orang kaya."


Cherry hanya mengambil beberapa bungkus mie instan, ia tahu makanan itu tak baik dikonsumsi terlalu sering. Lagi pula Mia selalu membuat makanan enak, ia selalu menyukai masakan Mia. Dulu ia sering makan mie instan karena keadaannya yang tak memiliki uang, mie instan adalah solusinya untuk mengenyangkan perutnya.


"Kamu benar-benar seperti anak kecil." David memandangi Troli telah dipenuhi berbagai macam makanan ringan dan minuman bersoda.


"Perempuan biasanya makan banyak saat mengalami stres."


"Kamu sedang stres?" David menggenggam jemari Cherry.


"Ah, tidak." elaknya, "baiklah, aku sudah selesai."


Mereka berjalan menuju kasir dan membayar belanjaannya.


"Ah, tahukah sayang? Aku pernah berandai-andai berjalan dengan kekasihku. Dia membawakan kantong-kantong belanjaku. Kekasihku membuat wanita-wanita lain iri melihatku." Cherry menggamit lengan David yang sedang menenteng kantong belanja di kedua tangannya.


David membusungkan dadanya merasa tersanjung, "aku memang tampan. Mereka pasti iri melihatmu."


Saat ini para pengunjung wanita memang sedang memperhatikan mereka. Saling berbisik mengagumi wajah tampan dan tubuhnya yang berotot.


Sesampainya di rumah, Cherry segera memasak mie instannya. David menunggunya duduk di meja makan.


"Sayang sungguh tak mau?" tanya Cherry yang hanya memasak satu porsi untuknya.


"Tidak, aku masih kenyang."


Beberapa menit kemudian semangkuk mi pedas lengkap dengan sayur dan telur telah siap. Cherry menuangkan segelas soda rasa stroberi.


Cherry duduk di seberang David, "Hmmm ... ini enak sekali. Sayang, cobalah." Cherry menyuapkannya pada David.


Untuk menyenangkan Cherry, David tak menolak dan membuka mulutnya, "Uh, ini pedas sekali." David meneguk minuman soda di depannya.


"Tapi enak kan?" tanya Cherry.


"Coba sekali lagi."

__ADS_1


Cherry menyuapinya sekali lagi, lagi, dan lagi hingga akhirnya David menghabiskannya.


"Apakah aku menghabiskannya?" tanya David saat melihat mangkuk telah kosong.


"Ya." jawab Cherry sambil memandanginya penuh arti.


"Cherryku ... makanan buatanmu sangat enak."


"Aku tahu."


"Kamu ingin aku membuatkannya lagi untukmu?" tanya David merasa bersalah.


"Tidak, sayang ... aku sudah kenyang melihatmu makan."


Lalu mereka tertawa bersama. Cherry telah melupakan hal yang membuatnya sedih karena sepanjang malam David selalu membuatnya tertawa. Tapi ia tak bisa terus melupakannya, karena esok pagi Cherrry telah mengingatnya kembali.


***


David meraba tempat di sisinya, namun ia tak menemukannya. Matanya yang masih melekat dipaksanya terbuka sedikit untuk mencari keberadaan istrinya, "Cherryku ..." panggilnya.


Cherry keluar dari walk in closet. Pagi ini ia bangun lebih awal dan telah mempersiapkan keperluan David.


"Kemari." tangan David terbuka lebar berharap Cherry menjatuhkan diri ke pelukannya.


Cherry memegang kedua tangan David, "bangun, pemalas." Ia menirukan kata yang pernah David ucapkan padanya.


"Hahaha ... Cherryku semakin pintar." David meraih pinggul Cherry dan mendekapnya dalam pelukan.


"Kamu cantik sekali."


"Aku memang cantik."


"Sekarang Cherryku pandai bicara."


Cherry tertawa salah tingkah, "Sayang, air panasnya sudah siap."


"Baiklah."


Tak menyangka Cherry akan menyetujuinya, "ayo kita mandi." David membopong Cherry menuju kamar mandi.


"Sayang, aku sudah mandi. Jangan membuat bajuku basah."


David tak menyahut, dia mendudukkan Cherry di pinggir bath tub, "kalau tak mau basah, lepas bajumu."


"Kamu nakal."


"Lepas bajumu, aku akan menggosok gigi."


"Haruskah aku melepas baju?" protes Cherry.


"Atau aku yang melepasnya."


"Baik, sayang." Cherry melepaskannya dengan mengerucutkan bibirnya. Meskipun telah menyatakan cintanya, sikap David yang suka memerintah tidak berubah.


"Cherryku ... kamu menggemaskan sekali." David mencium bibir istrinya dengan lembut hingga Cherry pun ikut terhanyut. Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi pagi ini.


"Sayang, aku lelah sekali. Aku tidak berangkat ke kampus hari ini." ucap Cherry setelah mereka selesai berpakaian.


David mengecup kening Cherry, "apa pun maumu. Mari kita ke bawah dulu."


Cherry bergelayut manja di lengan David, lalu mereka turun ke bawah.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." Sapa Billy yang sudah menunggu.

__ADS_1


"Pagi, Billy." Sapa Cherry.


"Cherry, kamu sarapan dulu."


"Baik, Sayang." Cherry melangkahkan kakinya ke ruang makan.


"Kita ke atas." David kembali ke lantai atas menuju ruang kerjanya, Billy mengikutinya dari belakang.


"Beberapa waktu lalu Universitas M mengundangku sebagai pembicara dan aku menolaknya. Kamu atur jadwal secepatnya."


"Baik, Tuan."


"Bagaimana orang tua laki-laki itu?"


"Ayah Alex di bagian gudang, dia punya sikap pemarah. Banyak pegawai yang mengeluhkan perilakunya."


"Berhentikan dia, berikan pesangon 2x lipat. Untuk Alex, aku tak mau melihatnya di dekat Cherry lagi."


"Baik, Tuan." Kemudian Billy melaporkan beberapa hal terkait hasil dari rapat pemegang saham kemarin.


***


David telah berangkat ke kantornya. Hari ini Cherry menghabiskan waktu di rumah.


"Ternyata di rumah sendirian sangat membosankan. Besok ke kampus saja, biarlah mereka berkata apa. Aku tidak bisa terus menghindar."


Begitulah hingga keesokan harinya, Cherry bersiap berangkat ke kampus.


"Cherryku, aku tidak bisa mengantarmu hari ini." David mengecup pipi Cherry.


"Berangkatlah sayang, Johan yang akan mengantarku."


"Kita akan segera bertemu lagi." David tersenyum lalu masuk ke mobilnya. Cherry tak mengerti apa maksud perkataannya, dia tak berpikir bahwa mereka akan bertemu kurang dari satu jam lagi.


Beberapa saat kemudian Cherry pun menaiki mobil menuju kampusnya. Sesampainya di kampus ia melangkah memasuki gerbang kampus dan tak memedulikan pandangan mata dan bisik-bisik menyakitkan dari warga kampus.


"Cherry, kelas hari ini diadakan di aula besar. Akan ada pembicara khusus yang datang. Kabarnya dia pengusaha." ucap Sandra, "hei kenapa kamu bolos kemarin?"


"Aku merasa kurang enak badan."


"Sekarang sudah baikkan?" tanya Sandra menunjukkan empatinya.


"Ya. Ayo kita ke aula."


Aula sudah hampir penuh, Cherry dan Sandra mendapatkan kursi di deretan belakang. Mahasiswi-mahasiswi nampak begitu antusias mengikuti kuliah hari ini. Mereka terus saja membicarakan dosen tamu yang akan menjadi pembicara pagi ini.


"Kabarnya dia sangat tampan."


"Pria sukses biasanya memang tampan."


"Dia CEO perusahaan besar di negeri ini.


"Benarkah?"


"Kudengar dia masih singgle."


"Kyaaa, benar-benar laki-laki idaman. Aku harus mendapatkan nomor teleponnya nanti."


"Jangan bermimpi hahaha."


Kemudian seorang wanita naik ke podium membuka acara, suara bising di aula mulai tenang.


"Kita sambut, CEO Eagle Group, Mr. David Chuay."

__ADS_1


Aula dipenuhi riuh tepuk tangan menyambut dosen tamu istimewa. Sedangkan Cherry begitu kaget mendengar nama itu disebut.


Benarkah itu David, suamiku?


__ADS_2