
David memandang Megan yang tengah tertidur. Wajahnya begitu mirip dengan Rachel lima tahun yang lalu. Bahkan rambutnya Megan yang panjang dan hitam legam nampak sama dengan rambut mendiang istrinya.
"Rachel, aku merindukanmu." gumamnya Lirih.
Megan tidak bisa tidur karena mimpi buruk. Sudah 2 jam ia menemani Megan di kamar. Genggamannya tak mau ia melepaskan dari tangan David. Saat Megan mulai terlelap, perlahan-lahan David melepaskannya.
Ada beberapa hal yang harus ia kerjakan di ruang kerja. Lalu ia putuskan untuk menyelesaikannya sebelum tidur. Namun David justru tertidur di atas meja kerjanya.
Cahaya matahari menembus jendela membangunkan David dari tidurnya. Ia segera beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke kamar tidur. Ia tak mendapati Cherry di ranjang.
David mengetuk pintu kamar mandi, "Cherry, kamu di dalam?"
"Ya, aku masih mandi." sahut Cherry beberapa saat kemudian.
David duduk di tepi ranjang. Dirabanya permukaan ranjang yang begitu dingin, menandakan tidak ada yang menempatinya dalam waktu yang lama.
"Apa Cherry bangun pagi-pagi sekali?" batin David.
Cherry keluar kamar mandi dan buru-buru pergi menghindari David. Ia mengatakan ada kuliah pagi hari ini.
"Kakak David." Megan masuk ke kamarnya setelah melihat Cherry keluar, "Kak Cherry sudah pergi?"
"Sudah."
"Kak, bisakah kamu menemaniku jalan-jalan hari ini? Awalnya aku mau minta tolong Kak Cherry, tapi sepertinya dia sibuk."
"Baiklah. Biarkan aku mandi dulu." David beranjak ke kamar mandi.
Megan mengamati kamar David, tak ada foto pernikahan, "aku tahu kamu tak serius dengan Cherry. Aku telah mengeluarkan banyak usaha untuk membuat diriku semirip mungkin dengan kakakku. Kamu harus jadi milikku."
Beberapa saat kemudian David keluar dari kamar mandi dan mendapati Megan yang masih berada di kamarnya, "Megan, tunggulah aku di bawah. Kita makan bersama."
"Baik, Kak." Megan melangkah dengan riang. Ia tahu David menyukai gadis yang penurut, maka dia akan menuruti semua kemauan David.
David menatap setelan jas yang telah disiapkan Cherry sebelum berangkat, "Cherry ..." tiba-tiba David tersenyum senang karena ia ingat Cherry yang sedang cemburu.
Setelah sarapan, David harus ke kantornya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, nanti siang dia baru akan mengantar Megan ke pusat perbelanjaan. Tapi karena Megan tak mau merasa kesepian di rumah sendiri, ia ikut serta pergi ke kantor.
David begitu memanjakannya. Ia membiarkan Megan mengikutinya seperti anak kucing yang menempel padanya.
"Kling." Sebuah notifikasi masuk ke ponsel David.
Tertera di layar ponsel sebuah transaksi pembayaran telah dilakukan di cafe starbuck.
"Dia sedang marah sampai tidak mau sarapan di rumah." gumam David sambil tersenyum.
"Ada apa, Kak?" tanya Megan yang tengah bersantai sambil memainkan ponselnya di sofa kantor David.
"Tidak ada."
"Kapan kita keluar?" tanya Megan manja.
__ADS_1
"Ini masih pagi. Pusat perbelanjaan belum buka, Megan."
"Ah, benarkah." Megan terus saja membuat lelucon-lelucon untuk menyenangkan hati David. David pun merasa terhibur dengan keberadaan Megan saat ini.
Beberapa jam kemudian mereka telah berada di pusat perbelanjaan. David memanjakan Megan dengan menuruti apa yang ia minta.
"Kling." Sebuah notifikasi transaksi pembelian di toko perhiasan. Toko itu berada di pusat perbelanjaan yang saat ini David sedang kunjungi.
“Cherry juga di sini.” Batinnya.
Selama menemani Megan memilih barang, David mencoba memandang sekelilingnya untuk menemukan Cherry. Dia berharap bisa mengajak Cherry untuk makan siang bersama di sini. Tapi, ia tak bertemu Cherry hingga Megan mengajaknya pergi ke tempat lain.
Megan mengajaknya mengunjungi tempat-tempat yang ia inginkan dan pulang saat hari sudah hampir gelap.
Saat sampai di dalam rumah, David dikejutkan kehadiran seseorang, "mama, kapan mama tiba?"
"Rachel?" Tak kalah terkejutnya, mama David hampir menjatuhkan gelas di tangannya.
"Dia Megan, Ma ... adik Rachel." jelas David.
"Mereka sungguh mirip sekali. Kupikir dia adalah Rachel."
"Hallo, Nyonya besar." sapa Megan.
"Dari mana saja kalian? Ayo cepat kita makan malam." mama David mengajak mereka semua untuk duduk di ruang makan.
Saat makan malam, mama David melihat Megan yang begitu manja pada David. David pun seolah tak keberatan akan hal itu. Sedangkan Cherry hanya diam saja menikmati makan malamnya.
"Baik, Ma. Kita ke ruang kerja."
David dan mamanya meninggalkan Cherry dan Megan yang masih menikmati makanan penutup di ruang makan.
"Kak Cherry, kita tidak pernah punya kesempatan untuk berbincang." Megan membuka pembicaraannya.
"Ya." jawab Cherry tak berminat.
"Tadi siang aku ingin kamu menemaniku berbelanja, tapi rupanya kak Cherry sudah berangkat pagi-pagi. Jadi Kak David menemaniku belanja. Tanganku sampai tidak cukup membawa kantong-kantong belanja itu."
"Benarkah? Biasanya David akan menyuruh pegawai toko mengirimkan belanjaanku ke rumah. Karena bagasi mobil kami tak akan cukup menampung semua belanjaanku."
Megan mengerutkan alisnya, ia tak menyangka Cherry akan membalas perkataannya, "tapi kak David benar-benar baik. Ia meluangkan waktunya untukku walau ia begitu sibuk."
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Cherry sambil menatap tajam mata Megan.
"Ternyata Kak Cherry tak suka basa-basi ya. Kamu sebaiknya segera pergi dari rumah ini. Aku ingin mengambil apa yang harusnya menjadi milikku."
"Milikmu? Aku adalah istri sah David secara hukum, kamu hanyalah tamu di sini."
Megan begitu terkejut mendengarnya, ia tak tahu bahwa David telah menikahi Cherry secara sah, "kita lihat saja nanti." ucap Megan sambil beranjak pergi.
***
__ADS_1
Sementara itu di ruang kerja,
"Kamu belum memberitahu mama tentang pernikahanmu. Apa kamu tak serius dengan Cherry?"
"Aku belum punya waktu ke Kota M." David mencoba beralasan.
"David, mama mau segera menimang cucu. Mama sudah tua, hanya kamu putra mama satu-satunya. Mama telah memilih banyak gadis untukmu dan kamu menolaknya. Lalu mama bersedia memberimu kebebasan untuk memilih perempuan sebagai istrimu, tapi kamu terlalu lambat."
"Mama ..."
"Kenapa Megan bisa di sini?"
"Dia hanya berkunjung sebentar, Ma." jawab David.
"Kulihat kamu begitu perhatian pada Megan."
"Aku hanya kasihan padanya."
"Kamu sudah menikah secara sah dengan Cherry, lalu apa yang akan kamu lakukan pada Megan?"
"Megan ..." David tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Mama David menghela nafas panjang, "David, mama juga seorang perempuan. Kamu akan menyakiti salah satu dari mereka. Megan harus segera pergi atau ceraikan Cherry."
"Mama!"
"Cherry adalah gadis yang baik. Jangan sakiti dia bila kamu tak menginginkannya lagi. Segera selesaikan masalah kalian. Mama tak ingin papamu mendengar tentang hal ini. Atau mama yang harus menyelesaikan ini?"
"Aku bisa menyelesaikannya."
Lalu mama David meninggalkannya sendiri di ruang kerjanya.
David berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya. "Kenapa jadi serumit ini? Bukankah Cherry juga tak pernah mengeluh tentang Megan. Aku suka Megan berada di sini, dia mengingatkanku pada Rachel."
David beranjak dari duduknya. Ia turun ke lantai bawah, dilihatnya meja makan telah kosong. Ia berjalan menuju kamar Megan.
"Megan." panggil David.
"Masuklah, kak." Megan tengah duduk di depan meja rias.
"Megan, berkemaslah. Aku akan mengantarkanmu ke hotel."
"Ke hotel?" tanya Megan tak percaya, "apa Megan membuat kesalahan?"
"Tidak."
Megan berlari memeluk David, "Kak, ada apa?"
"Tidak ada yang perlu kamu kuatirkan. Besok aku akan membawamu jalan-jalan." David mencoba menghiburnya.
Megan melepaskan pelukannya, "baiklah."
__ADS_1