Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 23 Megan Xia


__ADS_3

Megan Xia, adik kandung dari Rachel Xia. Sejak kecil Megan merasa dirinya tak pernah sehebat Rachel. Megan pun merasa kedua orang tua mereka tak pernah puas dengan apa yang ia lakukan.


Rachel adalah seorang gadis yang cerdas, ia selalu mendapatkan rangking di kelasnya. Hingga ia mampu menyelesaikan kuliahnya dan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan milik David. Dari sanalah Rachel menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai seluruh kebutuhan Megan. Kisah cinta menyatukan David dan Rachel sampai berujung di pelaminan. Namun Rachel tak memiliki umur yang panjang, beberapa bulan setelah menikah, ia mengalami kecelakaan mobil dan merenggut nyawanya.


Keluarga yang sudah terbiasa menggantungkan hidupnya pada Rachel, tidak mampu untuk bertahan dengan keadaan ekonomi. David membantu mereka mencukupi kebutuhan dan membiayai Megan kuliah di universitas bergengsi di Paris. Namun Megan tak benar-benar belajar di sana, ia hanya menerima uang dan menghamburkan untuk kesenangan.


Beberapa operasi plastik pun dilakukan untuk membuat wajah Megan menjadi semirip mungkin dengan kakaknya, tentunya menggunakan uang yang David berikan. Setelah dirinya memiliki kemiripan dengan kakaknya, kemudian Megan menemui David untuk mendapatkan hatinya. Namun sayang, Megan sedikit terlambat, David telah melangsungkan pernikahan dengan Cherry. Awalnya Megan merasa Cherry bukanlah orang yang istimewa untuk David, tapi ternyata ia salah.


Segala tipu daya telah Megan lakukan untuk mendapatkan hati David. Laki-laki mana yang tak tergoda dengan kemolekan tubuh yang Megan miliki, Megan telah berolah raga keras untuk mendapatkan body goalnya. Tapi sepertinya David berbeda, ia tak pernah mau merespon setiap godaan Megan, ia hanya memberi perhatian Megan layaknya seorang kakak pada adiknya.


Megan tak mau kehilangan sandaran hidupnya, ia harus mendapatkan David bagaimana pun caranya.


"Kakak, jangan pergi!" Megan menarik tangan David.


"Megan!" David menghempaskan tangan Megan.


"Ah, perutku!" Megan memekik kesakitan sambil memegangi perutnya.


Mendengar teriakan Megan, David mengurungkan niatnya untuk mengejar Cherry, ia membantu Megan yang terduduk di lantai, "apa kamu baik-baik saja?"


"Perutku sakit."


"Kita ke rumah sakit."


"Tidak." tolak Megan cepat, "tolong bawa aku ke ranjang.


David memapah Megan untuk berbaring di ranjang.


"Kak, apa kamu tak menginginkan anak ini?" tanya Megan, matanya berkaca-kaca menahan tangis.


David menatap Megan, "kapan aku melakukannya?"


Megan menangis, "aku tahu kakak tak menginginkannya." Tangisnya makin kencang, "biarkan aku mati bersama bayi ini." Megan memukul-mukul perutnya.


David segera memegang tangan Megan untuk menghentikannya.


"Biarkan aku mati saja, kak." Megan masih menangis.


"Megan, tenanglah." David mencoba menenangkannya, "tidak ada yang akan mati."


"Kakak, Megan takut." Megan memeluk David dan membenamkan kepalanya di kemeja David.


Megan tahu, David tak akan bisa menolaknya dengan menunjukkan sikap yang begitu membutuhkan pada David. Megan seorang diri sepeninggal kakaknya, kedua orang tuanya sudah sangat tua, hanya Davidlah tempatnya bergantung.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit?" tanya David lagi.


"Tidak perlu kak, aku akan istirahat sekarang. Kakak harus berangkat ke kantor.”


"Aku tak mau sesuatu terjadi padamu dan -- bayinya." ucap David, sepertinya begitu berat ia mengucapkan kata bayi.


"Harusnya aku bisa menjaga kakak saat itu. Tak kusangka akan jadi begini." Megan kembali terisak.


"Semua akan baik-baik saja. Istirahatlah, aku harus ke kantor."


"Baik, Kak."


David melangkahkan kakinya keluar kamar.


Megan tersenyum penuh kemenangan, ia tahu David tak akan pernah meninggalkannya. Megan pun yakin bila Cherry saat ini sedang menangis dan pergi meninggalkan rumah ini untuk selamanya.


Seharian ini Megan bertingkah seolah-olah dia adalah Nyonya di rumah keluarga Chuay.


"Mia, aku mau mandi sebelum Kak David pulang. Siapkan air mawar untukku." perintah Megan pada Mia.


"Baik, Nona Megan." Mia melaksanakan perintah Megan dengan setengah hati karena ia tak suka dengan kelakuannya yang arogan. Tapi begitu ada David, sikap Megan berubah 180 derajat.


Megan berendam air mawar di bath tub dengan perasaan senang. Setelah mandi, ia berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan David dari kantor. Ia membubuhkan sedikit warna pucat di make upnya untuk menimbulkan kesan bahwa ia sedang tidak sehat.


"Wanita itu!" geramnya.


Beberapa detik kemudian, wajah Megan telah kembali dengan senyuman. Ia harus menyambut David dengan wajah manis.


"Kak David, Kak Cherry. Akhirnya kalian pulang, aku sungguh kesepian di rumah." Megan merangkul lengan David dan Cherry.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya David.


"Aku baik-baik saja." ucap Megan, "hanya mual sedikit."


"Aku mandi dulu, kemudian kita makan malam bersama." kata David.


"Ah, Kak Cherry ... bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Megan dengan memasang raut wajah bersalah.


Cherry memandang David sejenak, "Aku akan menyusul."


"Baiklah." David melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.


"Ada apa?" tanya Cherry datar.

__ADS_1


"Kak, apakah kamu baik-baik saja? Aku tak bermaksud menyakitimu." ucap Megan.


"Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?"


"Semua terjadi begitu saja, Kak. Aku tak sanggup melawan Kak David."


Cherry menghela nafasnya, "sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?"


"Aku sungguh menyesal, Kak."


"Itu saja? Baiklah, aku harus segera mandi."


"Kak Cherry marah padaku?"


"Apa itu penting? Kalau tak ada lagi yang mau kamu katakan, aku akan pergi." Cherry bersiap melangkahkan kakinya ke anak tangga.


"Kak Cherry begitu membenciku, kalau begitu aku akan pergi dari rumah ini." kata Megan dengan sedih.


Cherry menghentikan langkahnya, "ya, pergilah." ia masih berkata dengan nada yang datar, tak ada kemarahan yang ia tampakkan pada Megan.


Megan menangis, lalu tiba-tiba ia menjatuhkan diri di lantai, "aku akan pergi, Kak." ucapnya dengan meninggikan suaranya.


Cherry mengerutkan alisnya, keheranan melihat tingkah laku Megan.


"Kak Cherry membenciku, aku akan meninggalkan rumah ini sekarang." ucap Megan sambil memegangi perutnya.


"Megan." David berlari kecil turun dari tangga, ia meraih tangan Megan yang masih terduduk di lantai.


"Kak David, tolong jangan salahkan Kak Cherry, dia tak mendorongku. Aku yang kurang berhati-hati." ucap Megan dengan penuh air mata.


"Cherry, dia sedang hamil. Bagaimana bisa--" David tak melanjutkan kata-katanya.


"Ayo, bangun Megan." David membantu Megan berdiri.


"Kak Cherry, tolong maafkan aku. Sungguh aku juga tak menginginkan hal ini terjadi." Tangis Megan terdengar pilu.


David memandang Cherry yang hanya berdiri diam tanpa ekspresi.


"Ah, perutku sakit." pekik Megan.


"Kita ke rumah sakit." David membimbing Megan yang masih menangis berjalan ke pintu.


Di sela-sela tangisnya, tak ada yang melihat saat Megan tersenyum penuh kemenangan. Ia menggenggam erat tangan David, tak ingin melepasnya

__ADS_1


__ADS_2