
Cherry menggeliat, tubuhnya terasa sakit di sekujur tubuh.
"Pemalas, lekas bangun." David yang telah rapi dengan setelan jasnya mengagetkan Cherry.
"Sepertinya aku terlalu memanjakanmu. Mulai besok, kamu harus menyiapakan keperluanku sebelum berangkat bekerja. Saat aku pulang, kamu harus sudah ada di rumah."
"Baik." jawab Cherry pasrah.
David meninggalkan Cherry yang masih terduduk di atas ranjang.
"Ini masih pagi, kenapa dia sudah berangkat kerja?" gumamnya. Dengan malas ia melangkah ke kamar mandi.
"Ah, pantas saja badanku terasa sakit semua. Ternyata tamu bulanan sedang berkunjung. Mungkin Mia punya persediaan untuk dirinya, aku akan minta satu."
Cepat-cepat ia mandi dan membersihkan diri. Hanya dengan memakai bath robes, ia pergi ke lantai bawah untuk mencari Mia. Ia pikir tidak ada siapa-siapa di rumah. Pegawai laki-laki biasanya jarang nampak di dalam rumah.
"Mia." panggil Cherry.
Mia yang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur menghentikan aktifitasnya.
"Iya, Nyonya."
"Mia, apa kamu punya pembalut?"
"Maaf, Nyonya, tidak ada. Apakah Anda membutuhkannya?" tanyanya.
"Iya."
"Saya akan membelikannya untuk Anda."
"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku bisa keluar sendiri." Cherry membalikkan badannya bersiap untuk kembali ke kamarnya. Namun sosok tubuh tegap menghadangnya, nyaris saja membuat Cherry terjatuh.
"Aduh."
"Mau ke mana?" tanya David, tak menghiraukan Cherry yang menggosok hidungnya karena tertabrak badannya.
"Kupikir kamu sudah berangkat."
"Kamu?" David mengerutkan dahinya.
Cherry yang merasa tak melakukan kesalahan masih bersikap santai.
"Bila masih berani menyebut "kamu", aku akan menghukummu."
"Ah!" Cherry yang lambat menyadari kesalahannya hanya bisa tersenyum canggung, "iya, sayang. Aku tak akan melakukannya lagi." ucap Cherry pelan, takut Mia mendengar.
"Ada apa?"
"Eh itu ... aku harus ke mini market dulu. Mau membeli sesuatu."
"Biarkan Mia yang pergi."
"Jangan, Mia masih mempersiapkan sarapan. Aku bisa sendiri."
"Biar aku yang pergi, apa yang kamu butuhkan?"
Cherry menatapnya tak percaya, haruskah David yang membelinya?
***
"Banyak sekali jenisnya. Apa pun itu makin panjang makin bagus." gumam David.
__ADS_1
Beberapa wanita yang sedang berbelanja seperti mendapatkan angin sejuk ketika melihat David dengan setelan jasnya melintas di antara mereka, apalagi melihat keranjang belanjaannya yang penuh dengan pembalut wanita.
"Dia pasti sedang membelikan pacarnya. Romantis sekali."
"Aku juga mau yang tampan seperti itu."
Para wanita itu tak bisa menahan diri untuk terus berbisik membicarakan David di belakangnya.
Karena tak punya waktu banyak, akhirnya David mengambil semua jenis yang berjejer rapi di rak mini market. Dengan bangga ia membawa sekantong belanja penuh dengan berbagai merk.
Cherry yang tengah menunggu di kamar dibuatnya terbengong melihat pembalut sebanyak itu, "ini bisa untuk stok sampai beberapa bulan." gumamnya tak percaya.
"Kamu membuatku terlambat bekerja." ucap David setelah menyerahkannya pada Cherry.
"Ah, maafkan aku merepotkanmu, dan ... terimasih, sayang." Pipinya bersemu merah ketika mengucapkannya.
David segera membalikkan badan dan berjalan ke luar, tak ingin Cherry melihatnya tersenyum.
"Pria yang dingin. Aku mencoba bersikap manis tapi dia tetap saja acuh."
Hari ini adalah hari pertamanya kuliah. Tak ingin terlambat, Cherry segera merapikan diri dan bergegas berangkat. Johan telah menunggunya di halaman rumah. Tak lupa ia ambil amplop putih di meja riasnya yang berisikan uang.
"Meskipun dingin tapi dia tak pelit." gumam Cherry dengan riang.
***
"Johan, aku akan menelponmu saat pulang." ucap Cherry yang sebelumnya telah meminta Johan untuk menghentikan mobil di tempat yang agak sepi. Ia tak mau menjadi pusat perhatian.
"Baik, Nyonya. Saya kembali ke kantor Tuan."
Cherry keluar dari mobil dan berjalan masuk ke area kampus. Suasana kampus begitu ramai. Cherry menuju aula untuk ikut acara penyambutan mahasiswa baru.
"Michel." gumam Cherry, ia tak pernah berharap bertemu dengannya. Teman sekolah yang yang sering membully dirinya karena dia miskin.
"Bagimana bisa gadis miskin sepertimu berada di sini? Jangan katakan kalau kamu juga kuliah di sini."
"Sayangnya iya."
Cherry merasa tak perlu meladeni Michel dan kawan-kawannya. Ia pergi berlalu.
"Hei, apakah ini baju terbaikmu? Lumayan juga." ejek Michel, "kamu benar-benar memakai baju, tas, dan sepatu baru. Dari mana ia bisa mendapatkan barang-barang mahal itu? Jangan-jangan ..."
Cherry menghentikan langkahya, "terima kasih telah begitu perhatian padaku. Bahkan kamu tahu semua yang kupakai saat ini adalah barang baru." Lalu ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan gadis-gadis itu.
Aula utama kampus telah dipenuhi mahasiswa baru. Setelah acara penyambutan, Cherry berkeliling kampus sendirian sambil menunggu jadwal kuliah pertamanya dimulai. Dia tak memiliki banyak teman sebelumnya, karena setelah pulang sekolah ia harus segera bekerja.
"Cherry, apakah kamu mengambil kelas ini juga?" tanya Sandra saat mereka bertemu di depan ruang kuliah.
"Hei, Sandra. Kita mengambil jurusan yang sama kan?"
"Ah, tentu saja. Aku senang sekali bisa bersamamu. Ayo, kita masuk."
Sandra menggandeng tangan Cherry. Ia melihat pakaian, tas, dan sepatu yang dikenakan Cherry. Dia tahu bahwa yang dikenakannya itu bukan barang murahan.
"Bajumu cantik. Kamu beli di mana?" Sandra mengamati detail baju yang dikenakan Cherry.
"Ah, aku membelinya saat diskon di mall." Cherry sengaja berbohong, ia tak mungkin menceritakan tentang David. Lemari bajunya telah penuh dengan berbagai model baju, Cherry hanya memakai yang sudah disediakan untuknya.
"Lain kali kamu kita harus belanja bersama." ucap Sandra penasaran karena ia tahu Cherry tak akan mampu membeli barang mahal.
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
"Sssst, dosen datang."
***
"Cherry, aku ada urusan mendesak. Kita tak bisa pulang bersama." ucap Sandra saat kuliah hari ini berakhir.
"Tenanglah, Sandra. Sekarang aku juga tak tinggal di rumah ayahku lagi, jadi kita tak searah."
"Benarkah? Lalu kamu tinggal di mana?"
"Di arah selatan." Karena rumah mereka ke arah utara, Cherry hanya menyebutkan ke arah selatan. Tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa ia tinggal di kawasan terelit di kota ini.
"Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa besok. Bye ..." Sandra melambaikan tangan dan berlari kecil meninggalkan Cherry yang masih di dalam kelas.
"Bye ..."
Cherry mengambil ponselnya di dalam tas. Dilihatnya di layar ponselnya sekarang pukul empat sore. Lalu ia menelpon Johan untuk menjemputnya.
"Maaf, apakah Nyonya menunggu lama?" tanya Johan saat Cherry sudah masuk di dalam mobil.
"Tidak. Apakah David sudah pulang?"
"Belum, Nyonya. Biasanya Tuan pulang pukul enam sore."
"Aku lelah sekali. Mari kita pulang."
"Baik, Nyonya." Johan melajukan mobilnya.
Cherry memandang keluar jendela mobil. Nampak suasana jalanan di depan kampus sepi. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang hendak menuju halte bus di depan.
"Sandra." gumamnya.
Ternyata ia sedang berdua dengan Alex. Keduanya bergandengan tangan dan tertawa dengan gembira.
Cherry menghela nafas panjang.
"Sepertinya kencan berdua itu menyenangkan." pikirnya.
Lalu tiba-tiba terbayang wajah David sedang mencumbunya.
"Ah, kenapa dia yang muncul? Dia selalu menindasku." gerutunya.
"Nyonya, apakah ada masalah?" tanya Johan.
"Tidak ada, aku hanya teringat sesuatu." kata Cherry salah tingkah.
Sesampai di rumah, Cherry segera mandi dan berganti pakaian. Dibukanya lemari bajunya lebar-lebar. Ia baru menyadari bahwa pakaian yang diperuntukkannya ini tak mampu dibelinya dengan uang hasil kerja part time. Pantas saja teman-temannya tak percaya dia bisa mengenakannya.
"Baju-baju ini sudah terlanjur dibeli. Apa aku harus membeli baju baru seperti yang biasa aku pakai saja, ya? Pakaian ini terlalu mahal untukku." Cherry menatapap isi lemarinya yang bahkan belum terpakai seperempatnya.
"Lebih baik aku ke bawah dulu. Bila si Bos tak melihatku, dia akan menindasku lagi." ucapnya sambil turun ke lantai bawah.
Cherry duduk di sofa dan menyalakan televisi. Belum lama ia duduk, terdengar suara mobil di halaman. Cherry segera membukakan pintu dan menyambutnya dengan senyuman.
"Bila aku membuatnya senang, mungkin saja aku diperbolehkan membeli baju. Meskipun dia memberiku kartu platinum, aku tak berani membelanjakannya untuk hal yang tak perlu." batinnya.
David keluar dari mobil dan berjalan ke arah Cherry.
"Selamat datang, sayang." Cherry meraih tas kerja dari tangan David.
"Hmm ..." David mengerutkan alisnya, merasa ada yang tak beres dengan tingkah istrinya.
__ADS_1