
Cherry masuk ke dalam mobil. Dihempaskan tubuhnya di jok belakang.
"Sudah makan?" tanya seseorang di sebelahnya.
"Kamu mengagetkanku!" Cherry berjingkat, tak menyadari kehadiran David di sebelahnya, "ah, maksudku-- sayang mengagetkanku." Cherry segera meralat perkataannya ketika melihat alis David yang mengerut.
"Ah iya, aku belum makan. Tadi hanya menemani teman saja. Sayang kenapa di sini?"
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Boleh, ini kan mobilmu." jawabnya setengah berbisik.
"Apa?"
"Tidak, sayang ... eh apa ini?" tanya Cherry yang mendapati sebuah papper bag di sampingnya.
"Untukmu."
"Apa ini?" tanya Cherry sambil mengambil sesuatu di dalamnya, "ponsel? Aku sudah punya ponsel."
"Buang saja. Pakai ini."
"Tapi--"
"Ponsel Mia saja lebih bagus dari milikmu. Jangan membuatku malu."
"Baik." Cherry pasrah menerimanya. Dilihatnya ponsel itu sepertinya sangat mahal. Ia berpikir bila suatu saat sedang membutuhkan uang, dia bisa menjualnya, "hehehe ... terima kasih."
"Aku tak memberikannya gratis."
"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya Cherry, ia tahu ada harga yang harus ia bayar dari semua kebaikan David.
"Sudah selesai?" tanya David.
"Apa?" Cherry tak mengerti.
"Ehem, tamu tak diundang."
Cherry mengerutkan alisnya, mencoba mencerna perkataan David, "ah, iya, sudah." ucap Cherry malu.
Kemudian masing-masing sibuk dengan pikirannya, menjadikan suasana hening sampai mobil masuk di halaman rumah.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya." sambut Mia.
"Siapkan makan malam satu jam lagi." ucap David sambil melangkah menuju kamar, Cherry mengekor di belakangnya.
"Baik, Tuan." jawab Mia.
"Kenapa menunggu satu jam lagi?" pikir Cherry, "apa dia ingin melakukannya sekarang?" tanya Cherry dalam hati.
"Kunci pintunya." perintah David saat keduanya telah berada di dalam kamar.
Cherry mengunci pintu dengan setengah hati. Ia enggan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Pakai ini." David menunjuk sebuah baju yang terlipat rapi di ranjang.
"Ini baju pelayan kemarin?"
"Ya."
"Sayang bilang tak suka melihatku memakainya."
"Kemarin permainan kita belum selesai."
"Permainan, ya." gumam Cherry sambil memegang baju itu, kemudian membawanya ke kamar mandi.
"Semua ini hanyalah permainan, aku adalah mainannya." Cherry sambil mengganti pakaiannya, dia ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar, "ini bukanlah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku. Lagi pula dia suamiku yang sah secara hukum, dia juga tak pernah menyakitiku secara fisik. Kebutuhanku tercukupi, entah sampai kapan. Karena aku tahu suatu saat nanti aku akan dicampakkan. Aku hanya mainan untuknya."
"Lama sekali." David masuk ke dalam kamar mandi, tak sabar menunggu Cherry yang sedang berganti pakaian.
David hanya mengenakan celana panjangnya. Dia meraih tubuh Cherry dan menciumnya. David merasa tak sabar untuk bersamanya.
Awalnya David ingin melanjutkan fantasinya beberapa hari yang lalu yang sempat tertunda. Tapi sekarang, ia tak lagi menginginkannya. Yang ia mau hanya Cherry. Tak dipedulikannya lagi baju pelayan yang kini telah terlepas.
__ADS_1
David membopong Cherry ke ranjang dan memperlakukannya sangat lembut. Cherry tak mampu menolaknya, lalu menyerahkan diri sepenuhnya pada David. Ini pertama kalinya mereka melakukan hubungan tanpa paksaan. Entah sudah berapa banyak yang mereka capai dalam waktu hampir satu jam, hingga tubuh Cherry lemas kelelahan. Ia membaringkan kepalanya di atas dada David.
"Kamu benar-benar penurut hari ini." David membelai rambut Cherry yang tergerai berantakan.
"Hmm." Sejenak Cherry membuang rasa takut dan khawatirnya, saat ini ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan hangat David.
"Teruslah jadi penurut. Aku akan memperlakukanmu dengan baik."
"Ya." sahut Cherry datar.
"Kruuuk kruuuk kruuuk." perut Cherry mengeluarkan suara.
"Hahaha ... kamu lapar."
Pipi Cherry bersemu merah karena malu, ia menenggelamkan wajahnya di dada David.
David merasakan Cherry begitu manja, "mandilah dulu, lalu kita makan. Apa kamu ingin aku memandikanmu?" goda David.
Cherry tersenyum pada David, lalu ia meraih selimut dan melilitkan di tubuhnya, "aku akan mandi dengan cepat." Kemudian ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
David memejamkan matanya, mencoba memahami dirinya sendiri, "Cherry, apakah selama ini aku tak memperlakukanmu dengan baik?" David merasakan sesuatu yang berbeda.
***
Setelah makan malam, Cherry memutuskan untuk tidur lebih awal. Tubuhnya begitu lelah. Stamina David sungguh luar biasa, ia membuat Cherry kewalahan menghadapinya.
"Mau tidur?" tanya David, ia mendekati Cherry yang telah berbaring di atas ranjang.
"Ya, besok ada kuliah pagi." ucap Cherry mencari alasan.
"Besok pagi aku yang akan mengantarmu. Sekarang tidurlah." David membelai rambut Cherry, lalu mengecup keningnya.
"Ya."
David meninggalkan Cherry, ada pekerjaan yang harus a selesaikan. Sepeninggal David, perasaan Cherry dibiarkannya meluap berbunga-bunga.
"Meleleh rasanya ... bagaimana bisa aku menghindar dari pesonanya, dia begitu lembut hari ini. Aku sudah pasrah bila suatu saat kamu meninggalkanku. Biarkan aku merasakan bahagia malam ini. Mengingatmu yang memperlakukanku dengan baik saja sudah membuatku bahagia." Ia berbicara pada dirinya sendiri hingga terlelap.
***
"Selamat pagi, sayang." sambut Cherry saat David telah beranjak dari tempat tidur.
"Sikapmu manis sekali pagi ini." David meraih pinggul Cherry dan mencium lehernya.
"Kita akan terlambat bila--."
"Bila apa?" goda David, "kenapa kamu jadi begitu pintar sekarang?" David memainkan hidung Cherry.
"Biar kusiapkan airnya." Cherry mencoba melepaskan diri dari pelukan David.
David membiarkan dan mengikutinya ke kamar mandi, "kenapa kita tak mandi bersama?"
"Aku sudah mandi." jawab Cherry dengan malu. Ia tahu arah pembicaraan David.
"Kalau begitu mandikan aku." David meraih pinggang Cherry yang sedang membungkuk mematikan keran air.
"Ah." Cherry memekik karena kaget.
"Sayang, jangan. Kita benar-benar akan terlambat. Dosenku pagi ini sangat galak."
"Siapa yang berani memarahi istriku?" David memutar badan Cherry, kini mereka saling menatap, "kamu belum mengenal suamimu."
Cherry begitu berbunga-bunga mendengar ucapan manis dari bibirnya, ia merasa David menjadi sangat romantis. Cherry berjinjit dan mengecup bibir David, "mandilah." ucap Cherry cepat dan berlari keluar kamar mandi.
"Aaakh, apa yang baru saja kulakukan? Jantungku berdetak cepat sekali." ucap Cherry setelah mendengar gemercik air di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian David keluar kamar mandi, seperti biasa hanya dengan selembar handuk putih melilit pinggangnya.
Namun Cherry belum juga tak terbiasa melihat pemandangan itu, ia masih saja gugup dibuatnya, "aku ingin menyiapkan pakaian sayang, tapi aku tak tahu yang mana." ucap Cherry malu-malu.
"Kemarilah, aku akan memberi tahumu." David mengajak Cherry masuk ke dalam walk in closet.
"Kabinet ini khusus celana kerja, di sebelahnya kemeja, lalu jas" David menunjukkan kabinet yang berjajar rapi mengelilingi ruangan, "bila bingung, kamu bisa membukanya semua. "Bukalah semua, masih ada dasi, sepatu, jam tangan, dan lainnya. Kamu bisa melihatnya."
__ADS_1
Cherry merasa takjub melihat isi walk in closet, "ini seperti sebuah toko baju." ucapnya.
"Hahaha ... apakah kamu menginginkannya? Lemari bajumu sudah penuh."
"Tidak-tidak perlu."
David tersenyum, "siapkan satu setel baju untukku."
"Baik." Cherry yang memiliki selera fashion yang cukup bagus, merasa percaya diri memilih pakaian yang akan dikenakan suaminya hari ini. Tak lama kemudian ia telah memilih satu set celana bahan berwarna biru tua dengan jas berwarna senada, dan sebuah kemeja katun berwarna pastel.
"Bagaimana?" tanya Cherry menanyakan pendapat David.
"Aku akan memakainya. Bantu aku."
Cherry membantu David mengenakan pakaiannya. Wajah Cherry nampak cerah mencerminkan hatinya yang sedang berbunga-bunga.
"Kamu bisa cara memakaikan dasi?"
"Tentu saja." Kemudian ia memilih sebuah dasi dengan motif garis biru di bagian ujungnya.
Cherry mencoba meraih leher David yang ternyata terlalu tinggi baginya. Dengan tinggi tubuh 160 cm, ia sedikit kesulitan mencapai leher David yang memiliki tinggi 180 cm.
"Makanlah yang banyak supaya kamu bisa lebih tinggi."
Saat Cherry akan mengatakan sesuatu untuk membela diri, David memegang pinggulnya dan mengangkat tubuhnya. Ia mendudukkan Cherry di atas kabinet yang paling rendah, "sekarang kamu bisa memakaikannya."
"Ya, jadi aku tak perlu makan banyak karena hanya membuatku menjadi gemuk." ucap Cherry sambil memasangkan dasi di leher David.
"Hahaha ... sejak kapan kamu pandai bercanda."
"Sayang belum mengenal istrimu ini."
"Hahaha ... kamu pandai mengembalikan kata." David menjepit hidung Cherry dengan jarinya.
"Baiklah, sudah selesai."
"Kamu sendiri sudah siap?"
"Ya, mari kita turun."
Lalu keduanya turun ke bawah untuk menyantap sarapan yang telah disiapkan Mia.
"Johan, kamu berangkatlah ke kantor. Aku yang akan mengantar Cherry ke kampus." ucap David ketika mereka sudah berada di halaman rumah.
"Baik, Tuan." jawab Johan.
David mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Cherry duduk di sampingnya, perasaannya sedang campur aduk. Ia merasa terlalu besar melepaskan perasaan bahagianya, ia takut rasa kehilangan juga akan datang melebihi bahagianya.
"Apa apa?" tanya David, menyadari perubahan ekspresi Cherry.
"Tidak, aku senang sayang mengantarku."
"Mulai sekarang, aku yang akan mengantarmu."
"Jangan, sayang sibuk bekerja. Ini akan sangat merepotkan."
David tersenyum, "kita lihat nanti."
David berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus. Bila Johan yang mengantar, Cherry bisa memintanya untuk berhenti di tempat yang lebih sepi. Namun, Cherry tidak bisa memintanya pada David karena ia tahu pasti David akan menolaknya.
"Aku akan menjemputmu nanti. Beri aku ciuman."
"Tapi--"
"Tak akan terlihat dari luar."
Cherry mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman ke pipi David.
Cherry bergegas keluar mobil, "Byeee ..." ia melambaikan tangannya.
David menurunkan setengah kaca mobilnya, "pergilah."
Cherry tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju kampus. Ia tak memedulikan berapa banyak mata yang tengah memperhatikannya sejak ia keluar dari sebuah mobil mewah milik David.
__ADS_1