Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 16 Dimanjakan


__ADS_3

"Sayang, kenapa tak mengatakan padaku kalau hari ini menjadi dosen tamu di kampus?" Cherry bersandar di lengan David, mereka tengah bersantai di depan layar televisi.


"Aku sudah mengatakan padamu bila kita akan segera bertemu lagi."


"Harusnya sayang mengatakan dengan lebih jelas. Aku kan tak mengerti maksudnya." Cherry merajuk.


"Hahaha ... kamu lucu sekali. Besok weekend, kamu mau ke mana?"


"Ke mana, ya? Aku ingin berolah raga, sudah lama sekali tak melenturkan tubuh."


"Hmmm ... apa olah raga denganku setiap hari kurang?"


"Sayang suka sekali menggangguku."


"Olah raga di ranjang juga membuatmu sehat."


"Sayang ..." Pipi Cherry bersemu merah.


"Kamu bisa menggunakan peralatan fitnes yang ada."


"Di mana? Di sini?"


"Kamu tak tahu? Ke mana saja kamu?"


"Aku sungguh-sungguh tak tahu."


"Di lantai 3. Besok pagi akan kutunjukkan."


"Malam ini kita pemanasan dulu, Cherryku." David mencium leher Cherry.


"Sayang, jangan di sini." Mereka sedang berada di ruang santai, Cherry takut ada yang melihat.


"Baiklah, kita pergi." David membopong Cherry, "kamu jadi lebih berat sekarang."


"Benarkah? Ayo coba gendong aku sampai ke kamar." Cherry berpikir akan sulit bagi David untuk menggendongnya menaiki tangga. Tapi kenyataannya, David dengan mudah membawanya ke atas.


***


"Angkat kakimu." perintah David.


"Sayang, aku sudah tak kuat."


"Tahan sebentar."


"Sayang, cukup sudah cukup."


"Oke, turunkan perlahan. Ayo angkat lagi."


"Renggangkan ototmu."


Cherry menuruti perintah David, "Rasanya otot pahaku tegang sekali."


“Tahan sebentar lagi.”


“Ah ... aku tak tahaaan.” Cherry memekik.


“Aku akan memegangimu.”


“Ya, itu sangat membantu.”


"Kamu harus sering-sering latihan. Ayo lakukan selama sepuluh menit."


Cherry mengangkat kaki dan menahannya di udara selama beberapa detik, tangannya berada di atas kepala. David membantunya untuk melakukan latihan mengangkat kaki untuk meningkatkan fleksibilitas area perut dan pinggul. Latihan ini berguna untuk merenggangkan otot secara maksimal tanpa merasa tegang saat menaiki tangga. Latihan ini juga memperbaiki postur tubuh dan membentuk otot perut.


Saat melihat David melakukannya, Cherry merasa hal itu sangat mudah. Tapi, ia tak mengira akan sesulit ini. Baru tiga kali kakinya diayunkan, ia sudah tak sanggup lagi.


Pantas saja David memiliki stamina dan tubuh layaknya roti sobek. Ia sudah sejak lama melakukan latihan dengan rutin.



* ini roti sobeknya David


"Sayang, aku mau berjalan di treadmill saja. Aku tak sanggup mengangkat kakiku lagi."


"Baiklah, jangan dipaksakan."


Mereka menghabiskan waktu ngegym bersama selama dua jam. Cherry benar-benar kelelahan karena tak terbiasa. Ia langsung tertidur setelah membersihkan diri.


Setelah tidur beberapa saat Cherry terbangun, "aku tertidur, sekarang sudah sore."


Cherry keluar dari kamarnya, namun ia tak dapat menemukan keberadaan David di rumah.


"Apakah David pergi?" tanyanya pada Mia.


"Iya, Nyonya. Tuan berpesan Nyonya bisa keluar bila ingin jalan-jalan."


"Terima kasih, Mia." kemudian Cherry melangkah ke luar rumah, "tapi keluar sendiri tidak menyenangkan." gumamnya.


Dilihatnya pintu garasi sedang terbuka. Beberapa orang pegawai laki-laki tengah sibuk mengelap sepeda gunung.


"Wah, sore-sore begini menyenangkan bila bersepeda." ucapnya riang sambil berjalan menuju garasi.

__ADS_1


"Selamat sore, Nyonya." sapa para pegawai.


"Hallo .... Apa semua ini milik David?" Ada lima buah sepeda gunung dengan model yang berbeda.


"Ya, Nyonya."


"Kenapa dikeluarkan semua?"


"Kami sedang melakukan perawatan rutin."


"Apa aku bisa memakai salah satunya? Aku ingin berkeliling."


"Tentu saja, Nyonya. Anda bisa memilihnya sendiri." Cherry memilih sebuah sepeda gunung dengan jenis roda yang besar, itu lebih cocok ia gunakan di jalan mulus beraspal.


"Nyonya, apa Anda mau bersepeda di luar?" tanya Johan yang baru saja datang mendekat.


"Ya, tidak seru kalau hanya keliling di dalam rumah."


"Saya akan menemani, Nyonya."


"Ya, tentu. Sendirian akan membosankan."


"Tunggu sebentar, Nyonya. Saya akan mengambil sepeda saya di belakang."


Beberapa saat kemudian Cherry ditemani Johan bersepeda. Saat Cherry keluar dari pintu gerbang rumah, David kembali dari arah yang berbeda. Ia bergegas turun dari mobil dan melepas jasnya kemudian mengayuh salah satu sepedanya untuk mengejar Cherry.


Masih dengan mengenakan sepatu kerjanya, David menyusul Cherry dan Johan.



"Kenapa tak menungguku?"


"Sayang, kamu mengagetkanku." Cherry menghentikan sepedanya, "aku hampir saja terjatuh."


"Hahaha ... itu hukumanmu karena tak menungguku."


"Bagaimana aku tahu kamu sudah pulang." protesnya.


"Maaf Tuan Nyonya, saya akan kembali." Johan pamit.


"Pulanglah."


"Ayo, kutunjukkan sebuah tempat." David mulai mengayuh sepeda.


"Sayang, tunggu. Jangan cepat-cepat!" Cherry mencoba menyusul David.


"Kamu lamban sekali."


Setelah mengayuh sepedanya hampir setengah jam, David berhenti di sebuah waduk buatan.


"Kamu bisa melihat matahari terbenam di sini."


"Benarkah? Kita akan melihatnya kan?"


"Tentu saja." David turun dari sepeda gunungnya, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di rumput yang hijau terawat.


Waduk ini adalah bagian dari fasilitas kawasan hunian elite ini. Pohon-pohon rindang mengelilingi waduk dan memberikan kesan alami. Rumput hijau terbentang luas membuat siapa pun betah berlama-lama di sana. Beberapa kursi taman dan gazebo berdiri kokoh di pinggir waduk.


"Harusnya aku membawa kamera." gumam Cherry.


"Kamu tak membawa ponselmu?"


"Tidak."


"Lain kali, ke mana pun harus membawa ponsel."


"Baik, sayang."


Kemudian Cherry tersadar, selama ini ia dan David tak pernah berfoto bersama, "sayang bawa ponsel?"


"Ya."


"Boleh pinjam untuk foto?"


"Tidak gratis."


"Ayolah ..." Cherry merajuk.


David menunjuk bibirnya,


"cup!" Sebuah kecupan telah mendarat di bibirnya.


"Hahaha ... sekarang kamu pintar sekali." David mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Cherry dan David mengambil foto bersama dari berbagai sisi. Tak terasa matahari pun sudah terbenam dan mereka melewatkan momen tersebut.


"Padahal aku ingin sekali melihat matahari terbenam."


"Kita akan melihatnya lain kali." ucap David, "mari kita pulang."


Hari ini Cherry menghabiskan waktunya bersama David. Pria itu membuatnya terkagum-kagum. Wawasannya begitu luas, ia banyak belajar dari David.

__ADS_1


Setelah mandi dan makan malam, David mengajak Cherry ke kamar, "ada yang ingin kutunjukkan padamu."


"Apa itu?"


David membimbing Cherry untuk berdiri di depan cermin, "tunggu di sini."


David membuka kotak yang ada di meja dan mengeluarkan isinya. Kemudian ia memasangkan benda itu di leher Cherry.


"Sayang ini indah sekali." ucap Cherry mengagumi kalung emas bermata giok hijau yang tergantung di lehernya.


"Kamu cantik sekali." David mencium tengkuk Cherry.


"Sepertinya ini barang mahal. Aku tak pantas memakainya."


"Kamu istriku. Tidak ada yang pantas selain kamu."


"Sayang ... kamu terlalu memanjakanku."


"Kamu pantas menerimanya."


"Tapi--"


David tak membiarkan Cherry berkata-kata lagi. Ia mencium bibirnya dalam-dalam. Cherry serasa terisap ke dalamnya, ia pun terhanyut dalam buaian David.


"Cherryku ... aku mencintaimu."


David menyesap leher Cherry, meninggalkan tanda cinta.


"Sayang ... jangan tinggalkan aku."


"Tidak akan pernah."


Lalu mereka berdua larut dalam cinta, meskipun dalam hati Cherry yang paling dalam masih tertinggal rasa takut apabila suatu saat ia akan ditinggalkan.


***


Cherry merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya hingga membuatnya tak bisa tidur. Hari ini ia memang melalui aktivitas yang menguras energi.


Dari pagi ia berlatih di ruang gym selama beberapa jam. Sore harinya ia bersepeda beberapa kilometer. Lalu malam harinya, David masih mengerjainya habis-habisan. Kini tinggal ia merintih kesakitan.


"Aku akan memijatmu."


"Tidak-tidak, sayang besok harus bangun pagi. Tidurlah. Sekarang sudah malam."


"Menurutlah. Buka bajumu."


Cherry tak bisa menolak, ia melakukan perintah David. Lalu ia berbaring tengkurap di ranjang.


David mulai mengoleskan minyak essential yang biasa dipakai Cherry untuk memijatnya. Perlahan David memijat pundak Cherry.


"Sayang, aku lelah sekali. Apa sayang tidak kelelahan?"


"Tidak."


"Sayang benar-benar luar biasa."


"Sekarang bila kamu ingin, aku bisa melakukannya." ucap David dengan bangga.


"Saaayaaaaaang ..."


"Hahaha ..."


"Sayang, besok pagi aku tidak ada kelas. Aku berencana untuk membuatkan sayang makan siang, bagaimana?"


"Boleh."


"Johan akan mengantarkannya ke kantor."


"Kenapa bukan kamu sendiri?"


"Hmmm ... baiklah. Aku akan mengantarkannya lalu berangkat ke kampus."


"Cherryku bisa masak?"


"Sayang belum tahu."


"Apa yang akan kamu masak? Mie instan?"


"Hahaha ... sayang ingin makan apa?"


"Terserah padamu saja."


"Bagaimana kalau bebek panggang?"


"Sungguh kamu bisa?"


"Aku bisa memasaknya lebih enak dari restoran bebek peking."


"Baiklah, aku mau bebek panggang."


"Hmmm ... membayangkannya saja sudah membuatku ingin makan." Cherry membayangkan betapa lezatnya bebek panggang.

__ADS_1


David masih memijat tubuh Cherry dengan lembut. Sebenarnya ia sedang menahan diri untuk tidak membelainya. Ia tahu Cherry sudah kelelahan dengan aktivitasnya hari ini. Ia terus memijat hingga Cherry tertidur.


“Aku mencintaimu.” Bisik David.


__ADS_2