
Hari ini Cherry akan mengantarkan makan siang untuk David ke kantornya. Ia telah memasak beberapa menu makanan.
"Nyonya, maaf. Saya tidak bisa mengantar Anda ke ruang Tuan David. Saya mau membetulkan wiper yang lepas. Apakah tidak masalah, Nyonya?" tanya Johan.
"Kamu tak perlu mengantarku Johan. Aku akan masuk sendiri."
Cherry memasuki gedung Eagle Group yang besar dan megah. Ia menenteng sebuah kantong yang berisi kotak makan.
Seorang security menghentikannya di pintu masuk, "Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau menemui Tuan David."
"Tuan David yang mana maksud Nona?"
"CEO perusahaan ini."
"Apakah sudah membuat janji?"
Cherry terdiam, dia merasa telah membuat janji dengan David untuk mengantar makan siang untuknya, "sudah." Jawabnya.
"Silakan ikuti saya." Security menuju ke meja informasi kemudian ia mengatakan sesuatu pada wanita yang duduk di belakang meja.
"Nama Anda, Nona?" ucap wanita itu dengan ketus.
"Cherry, Cherry Chuay." Cherry sengaja menyebut nama belakang suaminya agar wanita di depannya mengetahui bahwa ia istrinya.
"Huh, gadis-gadis sekarang dengan mudahnya mengganti nama keluarga menjadi nama laki-laki idamannya." Wanita itu mencibir.
Cherry melihat nama yang terpasang di kemeja wanita itu, "Nona Margareth, apa saya sudah bisa ke atas?"
"Nona Cherry Chuay," ia memberi penekanan pada kata Chuay, "Anda belum memiliki janji. Silakan buat janji terlebih dahulu dan kembali lagi."
"Kamu belum memeriksa atau menanyakan pada sekretarisnya. Bagaimana kamu tahu aku belum membuat janji?"
"Tidak perlu, karena saya sudah banyak menemui perempuan seperti kamu yang ingin merayu Tuan David."
Cherry menghela nafas panjang, merasa percuma bila melanjutkan percakapan ini.
Lift terbuka, beberapa orang laki-laki termasuk Billy keluar. Billy melihat Cherry yang tengah berdiri di lobi. Ia bermaksud menghampirinya.
Belum sampai ia menyapa Cherry, Margareth menyapanya lebih dulu, "Selamat siang Tuan Billy ... kebetulan sekali Anda di sini. Perempuan ini sedang mengacau di sini, ia memaksa bertemu Tuan David."
"Mengacau?" Cherry mengerutkan alisnya.
David menatap Margareth sebentar, kemudian ia berbicara pada Cherry, "maaf telah membuat Nyonya tidak nyaman."
Cherry tersenyum.
Billy kembali menatap Margareth, dia berkata dengan dingin, "Kamu ke bagian HRD sekarang, tunggu saya di sana."
"Ba-baik, Tuan Billy." Margareth ketakutan mendapatkan pandangan Billy yang serasa membekukan tulang-tulangnya.
"Nyonya, mari saya antar ke ruangan Tuan David." Billy mempersilahkan Cherry untuk berjalan di depannya.
Melihat pemandangan yang tak biasa itu, Margareth tahu kalau wanita yang telah dihadapinya barusan adalah orang yang penting. “Tuan Billy saja bisa memperlakukannya dengan hormat. Apa yang harus kulakukan sekarang?” Kini Margareth mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri.
***
Cherry telah berada di ruang David.
"Cherryku ... aku senang melihatmu di sini." David beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Cherry.
"Sayang, aku tak bisa lama-lama di sini. Aku harus segera ke kampus."
"Temani aku makan."
"Baiklah sayang." Cherry menurut. Ia membuka lunch box yang dan menatanya di meja.
David menjatuhkan dirinya di sofa, "akan sangat menyenangkan bila setiap hari kamu datang kemari."
Cherry duduk di samping David, "lalu bagaimana dengan kuliahku. Ayo aaa ..." Cherry menyuapi David seperti anak kecil, ia tak mau melanjutkan percakapan itu. Ia takut bila hal itu benar-benar diinginkan oleh David dan ia tak bisa menolaknya.
"Hmmm ... rupanya Cherryku pandai memasak." puji David.
__ADS_1
Cherry tersenyum bangga mendengar pujian suaminya, "aku akan sering-sering memasak."
"Jangan, bagaimana kalau kamu lelah?"
"Sayang, memasak tak akan membuatku lelah. Yang melelahkan itu adalah membersihkan peralatan dapur setelah memasak. Tapi kan ada Mia yang membantuku hehehe ..."
"Aku tak mau kamu kelelahan, aku pasti ikut kelelahan."
"Bagaimana bisa?" tanya Cherry tak mengerti.
"Karena aku harus memijat tubuhmu sampai tertidur. Tahukah kamu? Aku menahannya di sini." David menunjuk juniornya.
Pipi Cherry bersemu merah karena malu, "aku tak pernah meminta untuk dipijat."
"Tapi pijatanku sangat nyaman kan, hingga kamu tidur pulas."
"Sayang ayo cepat makan, aku tidak bisa berlama-lama di sini." Cherry mencoba mengalihkan perhatian.
"Cherryku galak sekali." goda David.
Cherry menyuapi David hingga makanan habis tak tersisa. Kemudian ia bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Sayang, jadwal mata kuliah pagi ini diubah menjadi malam. Aku akan pulang terlambat."
"Aku akan menjemputmu."
"Sayang pasti lelah setelah seharian bekerja. Biar Johan yang menjemput."
"Kenapa? Apa yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada."
"Jangan sampai ada Alex yang lain."
Cherry terkejut, "Alex? Ah, pasti Johan yang menceritakannya. Tunggu, jangan-jangan Alex dikeluarkan dari kampus karena ..." Cherry menatap David, berharap ia mendapat jawaban.
"Dia hanya dikeluarkan dari kampus."
"Hanya?" Cherry tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Cherry menutup mulutnya menandakan ia terkejut, "apa yang sayang lakukan padanya?"
"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran."
"Apakah itu tidak berlebihan?"
"Cherryku ... tidak ada yang boleh menyentuh wanitaku."
"Benarkah? Apakah aku satu-satunya wanitamu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, Cherry tak mampu membendungnya.
David memandangnya lekat, "kamulah satu-satunya."
David mencium bibir Cherry, begitu hangat hingga melelehkan hati Cherry. Bila tidak ingat dia harus segera pergi, tentu ciuman ini akan berakhir dengan pertempuran yang panas.
"Sayang, aku harus pergi." Cherry mencoba melepaskan diri.
"Kuantar ke bawah."
"Baik sayang."
Lalu mereka keluar ruangan dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai paling bawah. Saat melewati lobi, Cherry memandang tempat informasi, posisi Margareth telah ditempati oleh wanita lain. Apa yang terjadi padanya?
"Sayang, tadi saat aku datang ada perempuan bernama Margareth. Sekarang tempatnya digantikan orang lain. Ke mana dia?"
"Apa dia temanmu?" David balik bertanya.
"Tidak, aku juga baru saja melihatnya hari ini."
"Lalu kenapa?"
"Aku ingin tahu, apakah Billy melakukan sesuatu padanya?"
"Billy?" David mengeluarkan ponselnya lalu membuat panggilan telepon, dia meminta Billy segera menemuinya.
__ADS_1
"Sayang sebenarnya tak perlu memanggil Billy." Cherry merasa serba salah.
Tak menunggu lama, Billy sudah berada di hadapan mereka.
"Billy, ada apa dengan wanita bernama Margareth?"
Billy melirik Cherry, "saya memberi sedikit pelajaran, Tuan."
"Ada apa?" tanya David.
"Dia tidak sopan terhadap Nyonya. Maafkan saya yang terlambat menangani."
"Apakah dia dipecat?" tanya Cherry penasaran.
"Iya, Nyonya. Kami menjunjung tinggi norma kesopanan, dia telah melanggar SOP perusahaan."
"Kerja bagus, Billy." puji David.
Cherry tak dapat berkata-kata, dia merasa kasihan pada Margareth.
"Johan telah menunggu. Sayang aku harus pergi." Pamit Cherry pada David.
"Aku akan menjemputmu nanti."
"Oke, byeee ..." Cherry melangkah masuk ke mobil.
Selama di perjalanan menuju kampus, Cherry masih tak habis pikir dengan nasib Alex dan Margareth. Cherry merasa bersalah atas apa yang menimpa mereka, itu semua karena dirinya.
"Nyonya, kita sudah sampai." Johan membuyarkan lamunannya.
Cherry menghela nafas panjang, "terima kasih Johan." kemudian ia turun dari mobil.
Begitu memasuki area kampus, Cherry merasakan keanehan. Teman-temannya yang bahkan ia tak kenal terus tersenyum padanya. Beberapa hari yang lalu mereka melempar hinaan padanya, dan sekarang seperti tak terjadi apa-apa, bahkan berubah menjadi wajah yang ramah penuh senyum.
"Apakah mereka tahu bahwa aku adalah istri David Chuay?" batinnya.
Cherry mengedarkan pandangan, dia mencoba mencari Sandra, dia pasti tahu apa yang terjadi.
"Cherry ..." seseorang memanggilnya dari belakang.
Cherry memutar badannya, "Mey, hai."
Mey adalah salah satu temannya di kampus, "Cherry, maafkan aku yang telah ikut mempercayai gosip itu. Aku sungguh menyesal."
"Mey, apa yang terjadi?"
"Kamu belum tahu? Tapi, tolong maafkan aku terlebih dahulu."
"Aku tidak pernah marah padamu."
"Benarkah? Terima kasih, Cherry." kemudian Mey mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, "kamu harus melihat ini." Mey menunjukkan sebuah video yang telah dilihat ribuan orang di media sosial.
"Ini Sandra?" Cherry melihat wajah Sandra di layar ponsel.
"Sebaiknya kamu melihatnya sendiri."
Cherry mulai melihat tayangan video itu.
"Hallo semuanya ... lewat video ini, saya ingin meminta maaf kepada seluruh warga kampus, khususnya pada Cherry Plum. Maaf ...
Saya telah menyebarkan gosip yang tidak benar. Cherry bukanlah gadis simpanan para lelaki kaya. Itu hanyalah karangan saya karena iri padanya.
Orang yang mengantar Cherry setiap hari adalah kekasihnya.
Sekali lagi saya minta maaf ..."
Bagai tersambar petir, Cherry terkejut bukan main. Teman dekat yang selama ini percaya ternyata menusuknya dari belakang.
"Cherry, kamu baik-baik saja?" Mey khawatir karena melihat wajah Cherry nampak pucat.
"Kenapa dia tiba-tiba membuat video ini?"
"Sepertinya pihak kampus yang memerintahkannya supaya tidak ada lagi yang suka menyebar gosip."
__ADS_1
Ke sekian kalinya untuk hari ini, Cherry menghela nafas panjang. Pikirannya langsung tertuju pada David.
David, kamu membuatku takut. Seberapa besar kekuatan dan kekuasaanmu?