
Keesokan paginya, Cherry mendapati dirinya sendirian terbaring di ranjang. Ia melangkah gontai menuju kamar mandi, ingin menggosok setiap inci tubuhnya dengan sabun untuk menghilangkan aroma pria itu.
Saat duduk di meja rias untuk menyisir rambut, ia menemukan secarik kertas dan sebuah kartu.
"Kamu bisa melanjutkan kuliah. Pakai kartu ini untuk kebutuhanmu, pin hari lahirmu. Biarkan sopir mengantar dan menjemputmu ke kampus." Begitu isi surat tersebut.
Cherry membacanya dengan wajah berbinar. Diraihnya kartu yang bisa membantunya melunasi biaya daftar ulang.
"Siapa yang memberikan ini? Suamiku atau pria kasar semalam?" gumamnya.
"Akan kutanyakan bila bertemu lagi. Hari ini aku akan ke kampus." ucapnya bersemangat mencoba melupakan kejadian semalam.
Cherry segera turun dan menyantap sarapan yang telah disiapkan Mia.
"Aku akan pergi hari ini, apakah sopir bisa mengantarkanku?"
"Johan akan mengantar Nyonya." jawab Mia.
"Baiklah, aku akan menunggu di pintu depan."
Tak butuh waktu lama, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pintu utama rumah. Johan turun dan membukakan pintu untuk Cherry.
"Silahkan, Nyonya."
Cherry masuk ke dalam mobil. "Kita ke Universitas S."
"Baik, Nyonya."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Namamu Johan, kan?" tanya Cherry.
"Betul, Nyonya."
"Apa tidak apa-apa bila kamu menungguku di kampus? Mungkin sedikit lama karena aku harus mengurus beberapa keperluan."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Tugas saya memang untuk mengantar Nyonya ke mana pun."
"Baiklah, terima kasih."
__ADS_1
Mobil berhenti di depan pintu gerbang. Johan meminta Cherry untuk turun di sini, kemudian Johan akan mencari tempat parkir yang agak jauh. Karena sekarang adalah musim penerimaan mahasiswa baru, tempat parkir menjadi penuh. Butuh waktu yang lebih lama untuk menemukan tempat kosong untuk memarkir kendaraan.
Cherry berjalan menuju ruang administrasi dan menyerahkan semua kelengkapan untuk daftar ulang. Semua telah lengkap, persyaratan terakhir adalah membayarkan sejumlah uang yang Cherry tak miliki sepeser pun. Dengan perasaan khawatir, Cherry menyerahkan kartu berwarna emas pada pegawai yang bertugas.
"Kartu platinum." Petugas bergumam sendiri dan memandangi Cherry seperti meragukan sesuatu. "Silahkan pinnya." Petugas itu terus saja menatap Cherry.
Yang dikhawatirkan Cherry saat ini adalah apabila kartu itu tidak memiliki uang yang cukup untuk melunasi biaya daftar ulang. Dengan mengambil nafas panjang, Cherry memencet kode pin yang diminta. Kemudian petugas mengambil alih mesin EDC dan menyelesaikan transaksi.
"Terima kasih." ucap petugas.
Cherry bernafas lega. Biaya daftar ulangnya sebesar sepuluh juta telah lunas. Kini dia menjadi penasaran, berapa limit kartu emas yang ada di genggamannya.
***
Notifikasi sebuah pesan transaksi masuk ke ponsel David.
"Cepat juga perempuan ini memakai uangku. Kita main-main lagi nanti malam." Ia bergumam sambil mengingat kejadian semalam, sungguh pengalaman yang tak terlupakan baginya.
David Chuay yang berusia 35 tahun, sudah cukup lama menduda. Istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan lima tahun yang lalu. Selama itu pula dia tak pernah berhubungan dengan wanita lain. Tapi jangan diragukan berapa banyak wanita yang mendambanya, sungguh dia sangat tampan.
Satu bulan yang lalu, saat ayah Cherry menemui Billy untuk meminjam sejumlah uang, David yang sedang berada di ruangan lain mendengarnya. Kemudian ia bersedia memberikan uang sebanyak delapan ratus juta dan ayah Cherry menawarkan anaknya sebagai gantinya. Ayah Cherry tidak berkeinginan untuk mengembalikan uang tersebut. Setelah melihat foto Cherry, David pun setuju. Cherry memang memiliki tubuh sintal dan wajah yang manis.
***
"Aku tak mau sampai kejadian semalam terulang. Oh tidak, bagaimana bisa skandal seperti ini. Malam pertamaku terenggut oleh anak tiriku." Cherry kembali marah mengingatnya.
“Apa yang harus kukatakan pada suamiku kelak? Kenapa hal buruk selalu menimpaku?” Cherry mengeluhkan kehidupannya yang selalu sengsara. Ibunya sudah lama meninggal saat ia masih kecil. Ia hidup berdua dengan ayahnya yang seorang penjudi. Harta peninggalan ibunya lambat laun dihabiskan Sang ayah. Cherry bisa membiayai sekolahnya dari hasil kerja paruh waktu sepulang sekolah. Sungguh hidupnya penuh dengan perjuangan. Setelah lepas dari ayahnya, kini ia harus menghadapi laki-laki yang ia anggap sebagai anak tirinya.
Tiba-tiba terdengar kunci diputar dari luar. Cherry terperanjat karena melihat David bisa masuk dengan mudah ke kamar.
"Apa yang kamu lakukan? Berani-beraninya kamu masuk ke kamar ibu tirimu!"
"Ibu tiri ... aku ingin tidur di sini." David menyeringai membuat Cherry menarik selimut dan merapatkan diri ke kepala ranjang.
"Pergi kamu!"
"Bila kamu menurut, aku tak akan kasar."
"Pergiiii!"
__ADS_1
David sudah menindih kaki Cherry supaya ia tak bisa menendang. David ingat tendangannya cukup kuat hingga membuatnya meringis.
"Sssst, menurutlah." Tangan kirinya memegang kedua tangan Cherry di atas kepalanya.
"Kamu ba--." David segera menciumnya.
Tanpa disadari, tubuh Cherry memberi respon tiap sentuhannya.
"Jangan lakukan, kenapa kamu begitu jahat?"
“Katakan, siapa aku?” tanya David masih dalam posisi mengintimidasi Cherry.
“Aku ibu tirimu! Hal seperti ini sungguh tidak boleh dilakukan! Aku mohon, pergilah!” pinta Cherry memelas karena merasa kekuatannya kalah jauh dengan lawannya.
Saat melihatnya mengiba, David merasa kasihan pada Cherry. Diciumnya Cherry dengan lembut, lagi-lagi tanpa sadar Cherry meresponnya.
Cherry mencoba melepaskan tautan bibir David, "hentikan!"
"Ah ... hen-ti-kan." Cherry tak sanggup menahan gelombang yang datang.
“Ibu tiriku yang cantik, aku sungguh menginginkanmu. Tenanglah supaya aku tak menyakitimu.” Suara David terdengar parau membuat bulu kuduk Cherry berdiri.
Cherry menahan nafasnya, membuat David makin bersemangat. Dipercepat permainannya membuat tubuh Cherry makin memanas.
"Nikmatilah." bisik David.
Tangan Cherry mencengkeram sprei, saat tubuhnya seperti tersengat arus listrik yang lembut. Tak mengetahui apa yang terjadi, sesuatu mencoba menerobosnya.
"Ah." Cherry berteriak kesakitan.
David memelankan gerakannya hingga seluruhnya terbenam. Perlahan-lahan digerakkannya naik turun hingga sekali lagi tubuh Cherry memberi respon hebat hingga ujung kakinya. Tak lama disusul semburan hangat yang membuat Cherry terbelalak, seolah tersadar atas sesuatu yang salah.
Cherry terkulai lemah, merutuki kebodohannya. Dengan mudahnya laki-laki yang kini berbaring di sebelahnya bertindak semaunya untuk kedua kali.
“Laki-laki macam apa kamu? Bagaimana kamu bisa melakukan hal ini padaku?” Cherry meracau tak jelas diantara tangisnya.
Perasaan David kacau balau. Apa yang terjadi dengan dirinya? Sejak kapan dia memiliki fantasi yang membuatnya ingin terus melakukan dengan wanita yang terbaring di sebelahnya.
“Apakah aku terlalu kejam pada Cherry?” batinnya sedikit menyesali apa yang telah ia perbuat. Tapi kenikmatan yang ia dapatkan sungguh luar biasa. Kelak akan lebih banyak fantasi yang membuatnya merasakan sesuatu di luar dugaannya.
__ADS_1