
"Ciiiiiit." David menginjak rem mobilnya, nyaris saja seseorang tertabrak mobilnya. Kemudian ia keluar dari mobilnya dan membantu gadis yang sedang tersungkur di pinggir trotoar jalan,
"Nona, apa kamu baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa." ucapnya, terlihat beberapa luka lecet di tangan dan kakinya.
"Syukurlah. Apa kamu bisa berdiri?"
"Iya. Aku bisa." Gadis itu mencoba berdiri tapi kemudian ia terjatuh, "ah."
"Mari kubantu." David mengulurkan tangannya dan gadis itu meraihnya, "di sana ada kursi, duduklah." David memapahnya sampai ke kursi.
"Ukh." Gadis itu meringis kesakitan.
"Nona, maafkan aku. Saat ini aku ada keperluan mendesak, kamu bisa memeriksakan diri ke dokter dan kirim tagihannya ke sini. Ini kartu nama saya. Nona tak masalah kan?" David menyerahkan kartu namanya dan gadis itu menerima.
"Tentu, silakan pergi. Aku tak apa-apa."
David meninggalkan gadis itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
"Jadi namanya Billy Fong. Di kartu ini tak tertulis posisinya di Eagle Group. Tapi aku yakin dia memiliki jabatan yang penting di perusahaan besar itu." gumanya.
"Dia memiliki wajah yang tampan. Cherry pasti hanyalah salah satu dari sekian banyak wanitanya. Sepertinya dia sudah mendapatkan banyak barang bagus, harusnya itu sudah lebih dari cukup. Cherry bersiaplah kehilangan semuanya." Gadis itu menyeringai puas.
***
"Tuan, nanti malam ada acara makan malam dengan pejabat di kota ini." Billy melaporkan agenda nanti malam.
"Kamu wakili perusahaan untuk datang."
"Wali kota kabarnya juga akan hadir."
"Tak masalah, aku tak perlu hadir."
"Baik, Tuan."
"Pagi tadi aku hampir menabrak seorang gadis. Dia hanya lecet-lecet kecil. Kuberikan kartu namamu."
"Baik, Tuan. Saya mengerti." Billy biasa menangani semua urusan David. Dia tahu apa yang harus dilakukan.
"Lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik, saya permisi, Tuan." Billy meninggalkan ruangan David.
Tiba-tiba David teringat Cherry, tanpa pikir panjang ia membuat sebuah panggilan video. Tak menunggu lama, panggilan itu ditolak.
Kemudian sebuah pesan masuk.
[Aku di dalam kelas, sayang. Nanti kena marah dosen.]
Disusul masuknya sebuah foto Cherry yang sedang selfi di dalam kelas.
[Belajarlah dengan baik.] David membalas pesannya.
[Tentu. Sampai jumpa nanti.]
David melanjutkan memeriksa lembaran di hadapannya. Namun sebentar-sebentar ia kembali melihat isi ponselnya dan tersenyum.
__ADS_1
Kemudian jari-jarinya menekan tombol telepon di meja kerjanya.
"Tok tok." Pintu diketuk.
"Masuk."
"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Sherry, sekretaris David.
"Aku mau kalung limitid edition yang dilaunching Ming Jewellary beberapa hari lalu."
"Baik Tuan, saya akan mengurusnya. Ada lagi, Tuan?"
"Aku mau secepatnya."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
Ming Jewellary merupakan salah satu rekan kerja Eagle Grup, mereka bekerja sama dalam beberapa even. Beberapa hari lalu, Ming Jewellary mengeluarkan sebuah produk limited edition, kalung bermata giok. Saat itu David tak tertarik untuk memilikinya, tapi kini ia berpikir kalung itu akan sangat cocok di leher Cherry.
***
"Wah, ponsel baru ya." bisik Sandra saat melihat Cherry mengeluarkan ponselnya.
Cherry hanya tersenyum menanggapi perkataan Sandra, "ada apa dia menelpon?"
"Kekasihmu?" tanya Sandra ingin tahu.
"Iya."
"Hei, di mana kalian bertemu?"
"Di rumahnya." jawab Cherry jujur.
"Belum."
"Apa ia tak serumah dengan orang tuanya."
"Begitulah." Cherry pun belum mengetahui perihal keluarga David. Bagaimana orang tuanya dan juga mantan istrinya. Yang Cherry tahu dari ayahnya adalah ia dinikahkan dengan seorang duda, tapi ia belum menanyakan kebenarannya. Ia tak berani mengira-ngira lagi mengingat kesalahan fatal di hari pertama ia menikah, menyangka David sebagai anak tirinya.
"Hei, apakah kamu habis terjatuh?" tanya Cherry setelah melihat beberapa goresan kecil di tangan Sandra.
"Ya, aku tak hati-hati dan terjatuh di jalan tadi."
"Kamu seperti anak kecil saja."
"Berhentilah mengolokku, aku juga tak mau diriku terluka." ucap Sandra.
***
David telah meninggalkan kantor lebih awal. Billy pun berkemas di ruang kerjanya, ia berencana untuk pulang dahulu sebelum menghadiri perjamuan makan malam nanti.
"Kriing kriiing kriiing." Sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal.
Billy menekan tombol hijau di layar ponselnya, "hallo."
"Selamat sore, dengan Tuan Billy Fong?" Suara seorang gadis di seberang telepon.
"Ya, dengan siapa saya berbicara?"
__ADS_1
Suara tegas dan sedikit mengintimidasi membuat gadis itu gugup, "Ah iya, saya adalah gadis yang Anda tabrak tadi pagi. Nama saya Sandra Xi."
"Nona Sandra Xi, bagaimana lukamu?"
"Saya sudah membawanya ke rumah sakit, sepertinya sudah sedikit membaik."
"Semoga segera pulih."
"Terima kasih, Tuan... mmm apakah kita bisa bertemu? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
"Maaf Nona, Anda bisa mengatakannya sekarang.
"Mmm begini Tuan Billy, saat saya sedang menempuh kuliah. Tapi keluarga saya sedang bermasalah dengan keuangan, saya tidak bisa membayar biaya kuliah bulan ini. Saya lihat di kartu nama Anda, Tuan bekerja di Eagle Grup. Bisakah Tuan membantu saya mendapatkan pekerjaan paruh waktu di sana?" Sandra mengucapkannya dengan lemah lembut, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa iba padanya.
"Nona Sandra Xi, Eagle grup bukan tempat main-main. Tidak ada pekerjaan paruh waktu di sini. Tapi aku pasti akan membantumu. Tolong kirimkan nomor rekening Anda, saya akan membantu membayar biaya kuliah bulan ini."
Sandra merasa tidak ada kesempatan untuk mendekati pria ini, dia begitu galak di telepon. Berbeda saat dia bertemu dengannya tadi pagi.
"Sungguh aku tidak ingin merepotkan Tuan." ucap Sandra memelas.
"Aku mohon, terimalah."
"Baik Tuan, saya akan menggantinya bila saya sudah mendapatkan uang."
"Jangan dipikirkan."
Billy mengakhiri panggilan telepon. Hal seperti ini bisa ia putuskan sendiri tanpa harus melapor pada tuannya, David. Selama ia bekerja untuk David, ia sudah banyak menghadapi perempuan seperti Sandra yang ingin mendekati David. Wanita-wanita itu bisa melakukan segala cara. Biasanya mereka akan mudah ditangani dengan memberikan sejumlah uang.
"Kenapa wanita tidak bisa menolak uang." gumam Billy. Kemudian ia bergegas meninggalkan kantor.
***
Sandra merasa kecewa karena gagal mengajak pria yang berusaha ia dekati untuk bertemu, "aku makin penasaran dengannya."
"Akan kukirimkan nomor rekeningku. Aku bisa membeli tas baru." ucap Sandra senang.
"Sandra, kenapa kamu lama sekali di sini? Aku mencarimu untuk mengembalikan buku ini" Cherry masuk ke toilet dan memasukkan ke tas Sandra.
Sandra berpura-pura membetulkan riasannya, "aku sudah selesai. Apakah kamu dijemput?"
"Ya. Kamu pulang dengan Alex?"
"Alex ada pertandingan basket hari ini. Aku akan melihatnya sebentar lagi."
"Oke. Aku pulang dulu." Cherry melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang. Diam-diam Sandra mengikutinya dari belakang.
Tepat saat Cherry keluar gerbang, sebuah mobil sedan hitam menghentikan lajunya. Sandra mengamatinya dari jauh, mobil yang sama saat ia mencoba pura-pura menabrakkan diri. Kaca mobil diturunkan setengah, lalu Cherry masuk ke dalamnya.
Sandra mengepalkan tangannya, "aku lebih cocok duduk di mobil itu."
"Kling." Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
[Saya sudah mengirimkan sejumlah uang ke rek Nona.]
"Ah, Billy!" Sandra segera mengecek rekeningnya, dilihatnya saldonya sudah bertambah sebanyak dua juta, "ah, dia sungguh dermawan. Aku bisa membeli tas branded dengan uang ini." pekiknya gembira.
[Terima kasih, Tuan Billy. Saya akan segera mengembalikannya.] Sandra membalas pesannya.
__ADS_1
"Uang ini kecil baginya. Dia tak akan menerima andaikan aku mengembalikannya. Tapi, aku tak berniat mengembalikannya." Senyum licik terukir di bibir Sandra.