
"Kenapa wanita harus datang bulan? Aku jadi tidak bisa bermain dengannya. Berada di dekatnya membuatku tak bisa menahan diri. Lebih baik aku fokus pada pekerjaan." gerutu David.
Begitulah, beberapa hari ini David menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia masuk ke kamar saat larut malam dan saat pagi sekali ia pergi ke ruang kerja, menghindari Cherry sebelum ia bangun, kemudian berangkat ke kantor saat jam kerja.
Saat ini David berada di ruang kerja kantornya. Dia merasakan penat dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Karena merasa ingin rileks sebentar kemudian ia mengirim pesan pada Cherry.
[Di mana?]
Menit berganti menit, pesan itu tak kunjung dibalas. Sebentar-sebentar ia mengecek ponselnya.
"Tuan, apakah Anda menanti sesuatu? Ada yang bisa saya lakukan?" tanya Billy ketika melihat tuannya nampak gusar.
"Tidak."
Mulutnya berkata tidak, tapi gestur tubuhnya menunjukkan kegelisahan.
"Apa yang sedang ia lakukan? Apa ia sedang bersenang-senang?" batin David.
Tak mau merasa penasaran, ia membuat panggilan telepon.
"Beraninya dia menolak panggilan teleponku." ucapnya marah saat panggilannya ditolak.
Sekali lagi ia membuat panggilan telepon, namun nomor yang dihubungi sedang tidak aktif. Cherry mematikan ponselnya.
David merasa geram dengan tingkah Cherry. Ia berdiri meninggalkan ruangan. Billy yang heran dengan sikap tuannya mengikutinya dari belakang.
"Mau ke mana, Tuan?" tanya Billy.
"Ke kampus Cherry."
"Baik, Tuan." Meskipun tak mengerti apa yang terjadi, Billy dengan siaga mengawal tuannya.
Billy mengemudi dengan kecepatan penuh karena tuannya terlihat tergesa-gesa.
Sebuah pesan masuk ke ponsel David.
[Tadi masih ada jam kuliah. Aku tak bisa mengangkat telepon. Ada apa?]
Alih-alih membalas pesan itu, David membuat panggilan video.
"Iya." Cherry nampak berbicara di layar ponsel milik David, ia berada di tempat yang tak begitu ramai.
"Kamu di mana?"
"Di kampus. Ada apa?"
"Kenapa sepi sekali?"
"Tentu saja aku tak bisa berbicara di tempat ramai. Terlalu berisik."
"Coba putar kameramu." perintah David. Ia ingin tahu bahwa Cherry benar-benar berada di kampus. Setelah melihat bahwa itu area kampus, David segera mematikan panggilannya.
"Billy, putar arah. Aku mau membeli ponsel." ucap David.
"Baik, Tuan." Billy memutar kemudi, mengarahkannya ke pusat perbelanjaan.
"Kamu turunlah. Belikan sebuah ponsel yang terbaik dan terbaru." perintah David pada Billy saat sampai di tempat parkir pusat perbelanjaan.
"Baik, Tuan. Saya akan segera kembali." Billy keluar dari mobil dan masuk ke area pusat perbelanjaan.
"Perempuan itu ... Kualitas gambar ponselnya begitu buruk. Bagaimana bisa aku melihat wajahnya dengan baik saat melakukan panggilan video." David masih belum mengerti dengan sifat Cherry. Ia tak seperti wanita lain yang lebih suka menghamburkan uang. Kartu platinum sudah ia berikan, tapi Cherry hanya menggunakan untuk membayar biaya kuliahnya.
Tak membutuhkan waktu lama, Billy segera kembali dengan barang yang diminta tuannya.
"Kita kembali ke kantor." ucap David.
"Baik, Taun."
__ADS_1
***
David menutup panggilan videonya begitu saja. Cherry masih keheranan dengan apa yang baru saja terjadi, ini pertama kalinya mereka berbicara lewat video. Ia harus berlari mencari tempat sepi supaya tak terlihat teman-temannya.
"Tidak ada sesuatu yang penting, apa aku melewatkan sesuatu?" Cherry masih memikirkan kenapa David tiba-tiba menghubunginya. Bahkan beberapa hari ini ia nyaris tak pernah bertemu David di rumah.
"Cherry, apa yang kamu lakukan di sini?" Alex menyapanya.
"Hai, tidak ada. Barusan aku hanya menerima panggilan telepon."
"Tidak ada kelas?" tanya Alex.
"Setengah jam lagi."
"Aku juga. Bagaimana kalau kita menunggu di kantin?"
"Di mana Sandra?" Cherry balik bertanya.
"Dia akan menyusul ke kantin."
"Oke."
Alex seorang laki-laki yang tampan. Tapi sejujurnya di mata Cherry, dia tak ada apa-apanya dibandingkan dengan David. Wajah David begitu tampan dan dadanya bidang layaknya roti sobek.
"Hmm roti sobek." Cherry bergumam.
"Apa? Kamu ingin roti sobek?" tanya Alex.
"Ya, aku akan membelinya nanti saat pulang." Cherry berkata sambil menahan senyum karena menyadari kebodohannya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku yang pesan." tanya Alex.
"Jus jeruk saja."
"Oke, tunggu." Beberapa saat kemudian Alex datang sambil membawa dua gelas jus di tangannya.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Alex. Beberapa waktu lalu Sandra bercerita tentang Cherry. Ia mengatakan bahwa penampilan Cherry banyak berubah, pakaian yang dipakainya adalah produk butik ternama. Karena penasaran, Alex mencoba mendekati Cherry.
"Di daerah selatan."
"Di mana? Kebetulan sepupuku di daerah selatan."
"Kuberi tahu pun akan sulit menemukan alamatnya. Eh, di mana Sandra?" tanya Cherry mengalihkan perhatian.
"Entahlah, mungkin dia masih ada keperluan." Pada kenyataannya, Alex tidak memberi tahu Sandra bahwa ia sedang berdua dengan Cherry.
Alex mengamati semua yang dikenakan Cherry, ia pun bisa mengetahui bahwa semuanya barang mahal.
"Kamu tahu, Sandra yang mengajakku berkencan pertama kali." ucap Alex.
"Benarkah?" Ah, Cherry merasa menyesal telah merespon ucapan Alex, harusnya ia tak peduli.
"Ya, sebetulnya aku tak memiliki perasaan apa pun padanya. Aku hanya kasihan."
"Bagaimana mungkin kamu bisa setega itu pada Sandra?"
"Saat itu aku terpaksa menerimanya, karena aku tahu dia teman baikmu. Aku mencari info tentangmu dari Sandra, tapi dia justru mengajakku kencan. Kupikir aku bisa melupakanmu setelah bersama Sandra. Tapi, ternyata bayanganmu selalu datang di tiap mimpiku. Cherry ... maafkan aku." ucap Alex.
"Kenapa kamu minta maaf padaku?"
"Maaf karena aku tidak bisa bertahan untuk terus berusaha mendapatkanmu. Kini aku menyesal. Mau kah kamu memaafkanku?"
"Harusnya kamu minta maaf pada Sandra."
"Ya, tentu saja. Aku akan minta maaf dan putus dengan Sandra. Lalu kita bisa bersama." ucap Alex.
"Tidak, Alex. Kita tidak bisa bersama."
__ADS_1
"Cherry, aku tahu kalau kamu menyukaiku. Beri aku kesempatan. Please ..." Alex menangkupkan kedua tangannya memohon pada Cherry.
"Tidak." Cherry berdiri dan beranjak meninggalkan Alex.
"Kamu pasti akan jadi milikku." Alex berkata dengan penuh keyakinan. Dia berpikir tidak akan ada perempuan yang menolaknya. Dulu dia adalah idola sekolah, dan kini dia pun akan menjadi idola di kampus ini.
***
Setelah kuliah usai, Cherry dan Sandra pergi ke sebuah restoran cepat saji di dekat kampusnya.
"Cherry, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu." Sandra mengajak Cherry makan berdua karena ingin mengatakan sesuatu.
"Apa itu?"
"Maaf, aku berkencan dengan Alex. Dia mengajakku kencan setelah kelulusan sekolah. Saat itu aku kesepian tanpamu." Sandra mengatakannya dengan penuh penyesalan.
Cherry terdiam. Perkataan Alex kembali membayangi pikirannya. Bagaimana mungkin dia tega melakukan hal itu pada Sandra? Tapi, apa yang disampaikan mereka berdua sangat bertentangan.
"Apa kamu marah padaku?"
"Tidak. Aku tidak ada perasaan apa pun pada Alex. Itu hanyalah kenangan waktu di sekolah. Semua gadis akan punya idola, hanya sebatas itu." ucap Cherry.
"Benarkah? Kamu memaafkanku kan?"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
Cherry tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, jadi dia memilih untuk tidak bercerita tentang kejadian di kantin tadi siang.
"Cherry, apa kamu sekarang sudah punya kekasih?" tanya Sandra, "Jossi mengatakan padaku, kemarin dia melihatmu dijemput seseorang."
"Ah, iya." ucap Cherry tak bisa mengelak.
"Kamu harus mengenalkannya padaku."
"Dia sangat pemalu." Cherry mencoba mencari alasan.
Ponsel Cherry bergetar, nama Johan nampak memanggil di layar ponselnya.
"Ya." Cherry menjawab panggilan telepon.
"Nyonya, saya berada di depan kampus. Apakah kuliah Anda sudah selesai?" tanya Johan di seberang telepon.
"Ya, aku ada di restoran cepat saji di dekat kampus."
"Saya akan menjemput, Nyonya."
"Oke." Cherry mengakhiri panggilan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Sandra.
"Aku harus pulang. Dia sudah menjemputku."
"Ah, bagus sekali. Kamu bisa mengenalkannya padaku."
"Maaf Sandra, tidak sekarang. Dia sedang terburu-buru." Cherry mengemasi barangnya.
"Baiklah. Aku lega sekali mengetahui kamu sudah punya kekasih. Huh, kenapa kamu tak pernah bercerita padaku sebelumnya?"
"Ya, kami baru jadian." ucap Cherry salah tingkah, "aku pergi dulu. Dia sudah di depan. Byee ..."
"Byee ..."
Restoran itu dikelilingi kaca, Sandra bisa melihat Cherry yang sedang berjalan di luar. Ia begitu penasaran dengan kekasih Cherry.
Ternyata benar seperti perkataan Jossi kemarin, bahwa Cherry dijemput sebuah mobil sedan mewah. Pemilik mobil itu tak nampak. Tapi dengan melihat mobil mewah itu saja, cukup untuk meyakinkan Sandra bahwa pemiliknya adalah orang kaya.
"Hmmm ... beruntung sekali Cherry. Pasti semua barang mahal yang menempel di badannya ia dapatkan dari pemilik mobil itu. Apa istimewanya Cherry? Aku jauh lebih baik dari dia."
__ADS_1