Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 26 Perawatan Tubuh


__ADS_3

Cherry menggenggam tangan David, "apakah sayang baik-baik saja?"


Mereka sedang berbaring di tempat tidur. Setelah Megan pergi dari rumah ini, David nampak murung. Bagaimanapun, Megan adalah adik Rachel. David merasa telah gagal menjaga orang yang dicintai mendiang istrinya.


David menggeser kepalanya, bersandar di bahu Cherry. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya.


Cherry memainkan jemari David, tangannya begitu besar dan kokoh, "dia seorang laki-laki, kenapa kulitnya halus sekali?" batin Cherry. Kemudian ia membandingkan dengan kulitnya sendiri, lalu tertawa kecil.


"Ada apa?" tanya David.


"Tanganmu lebih halus dariku." Cherry tersenyum malu sambil menyembunyikan tangannya sendiri di bawah selimut.


David meraih tangan Cherry, digenggam dan diamati jari dan kuku istrinya, "kamu akan memiliki kulit yang halus."


"Ya, tentu saja hahaha." Cherry tertawa, merasa David sedang mengejeknya.


"Besok weekend, kamu ke klinik kecantikan. Atau lakukan perawatan di rumah saja?"


Cherry bingung menjawabnya, "apa perlu?"


"Perlu. Nikmatilah liburanmu. Tapi aku tak bisa menemani, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Baiklah. Aku ke klinik saja." Cherry tidak mau melakukan perawatan di rumah, ia berpikir akan menyenangkan bila bisa bertemu orang banyak di luar sana.


"Peluk aku." pinta David.


Cherry memeluknya hingga ia tertidur.


David mengelus lembut rambut Cherry yang terurai, “maaf, bagaimana bisa aku dibutakan oleh Megan hingga membuatmu tersakiti.”


***


David telah berangkat ke kantor, weekend pun dia masih saja bekerja. Cherry sedang menuju klinik kecantikan. Ia pun tak tahu di mana tempat yang dimaksud David, Johan yang mengemudikan mobil.


"Kita sudah sampai, Nyonya." ucap Johan yang berhenti tepat di depan pintu masuk.


"Terima kasih, Johan." Cherry turun dari mobil.


Para pegawai yang melihat kedatangan Cherry menyambut dengan ramah. Tak ada yang meremehkannya. Pasalnya mereka mengetahui saat Cherry turun dari mobil mewah, selain itu penampilan dan pakaian yang dikenakan Cherry juga berasal dari brand terkenal.


"Apakah sudah melakukan reservasi, Nona?" tanya salah satu pegawai dengan ramah.


"Iya, sepertinya David sudah melakukannya, David Chuay." jawab Cherry.


Pegawai memeriksa di layar komputernya, "Anda Nona Cherry Chuay?" tanya pegawai ingin memastikan.


"Benar."

__ADS_1


"Baik, silahkan duduk di sini, Nona Cherry Chuay." Pegawai mempersilahkan Cherry duduk di salah satu sofa yang empuk.


Sekumpulan wanita sosialita yang tengah melakukan perawatan saling berbisik, "kau dengar, David Chuay! Dia bernama Cherry Chuay, dia pasti adiknya."


Perempuan lain berbisik, "aku tak menyangka bisa bertemu dengannya di sini. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


David Chuay terkenal di kalangan para perempuan elite di kota ini. Ia kerap menjadi bahan gosip mereka karena wajah tampannya dan statusnya yang telah lama menduda. Mereka akan berusaha mendekatkan diri saat bertemu di acara amal atau pacuan kuda. Tapi, hal itu tidak semudah itu. David terkenal dingin dan arogan, sangat sulit mendekatinya.


Saat melihat Cherry, yang mereka kira adik David, sedang melakukan perawatan tubuh di tempat yang sama, perempuan-perempuan itu seperti menemukan sebongkah berlian. Mereka berebutan meraihnya untuk mendapatkan hati pemiliknya.


Cherry tak mengetahui bahwa ia menjadi bahan pembicaraan, ia sedang duduk dengan nyaman dan beberapa orang terapis melakukan perawatan manicure padicure pada jari tangan dan kakinya. Ia nyaris tidur mendengkur bila salah seorang dari mereka tidak mengajaknya bicara.


"Nona belum pernah ke mari?"


Cherry tergagap antara setengah tidur, "ah iya. Kamu sudah lama bekerja di sini?" Cherry mencoba menghilangkan kantuknya.


"Saya sudah bekerja di sini selama tiga tahun."


"Apakah Anda adik dari Tuan David Chuay?" tanyanya lagi, tak sanggup membendung rasa ingin tahunya.


Cherry belum sempat menjawab pertanyaan itu, seorang perempuan yang berumur sekitar tiga puluh tahunan dengan dandanan glamour menghampirinya, "hai kenalkan, namaku Sarah An." Dia mengulurkan tangannya pada Cherry,


"Ah tanganmu sedang sibuk, ya hahaha ..." Sarah berkata pada dirinya sendiri karena menyadari kebodohannya, Cherry sedang melakukan perawatan pada kuku-kukunya, bagaimana bisa ia berjabat tangan.


Cherry tersenyum, "hai, namaku Cherry."


"Kamu pasti adik David Chuay." lanjut Sarah.


Belum sempat Cherry memberikan jawaban, Sarah sudah mulai berbicara lagi, "apa kamu baru tiba di kota ini? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya."


"Ah, iya." Cherry menjawab dengan singkat.


"Setelah ini lulur dan spa, bagaimana kalau kita satu ruangan? Akan menyenangkan bila ada teman ngobrol."


Klinik kecantikan ini menyediakan tempat lulur dan spa dengan ruangan sesuai kemauan pelanggan, sendiri atau berkelompok. Karena terkadang para wanita sosialita ini datang bersama-sama, mereka menginginkan di sebuah ruangan yang besar.


Cherry tak bisa menolak ajakan Sarah, "baiklah."


"Aku akan menunggumu sampai selesai." Kemudian Sarah melenggang dan tersenyum penuh arti memperlihatkan bahwa dia sukses mendekati Cherry. Perempuan-perempuan yang ada di ruangan tersebut kalah cepat karena Sarah tidak akan membiarkan mereka mendekati Cherry.


Setelah melakukan perawatan manicure padicure, Cherry telah berbaring untuk melakukan lulur dan spa. Di sebelahnya, Sarah telah siap memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Cherry baru menyadari kesalahannya, saat dipijat ia akan lebih senang dan rileks sampai tertidur daripada harus menahan kantuknya dan menjawab pertanyaan Sarah yang tak kalah dari seorang wartawan.


"Apa kamu masih sekolah?" tanya Sarah.


"Tidak, aku sudah kuliah." jawab Cherry.


"Wow, kamu pasti sangat rajin melakukan perawatan. Wajahmu masih seperti anak sekolah." Sepertinya mulut Sarah telah dilumuri gula, tak henti-hentinya ia berucap manis pada Cherry.

__ADS_1


"Kak Sarah bisa saja." ucap Cherry lalu ia menguap.


"Kamu mengantuk? Tidurlah, dipijat memang paling enak sambil tidur."


"Tidak, aku hanya kelelahan." ucap Cherry malu, ia tak mau menyinggung Sarah.


"Cherry, kita harus bertukar nomor telepon. Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Atau kita bisa menonton balap kuda besok."


"Balap kuda? Aku belum pernah melihatnya kecuali di televisi."


"Itu sangat menyenangkan, kamu harus melihatnya secara langsung. Bagaimana?"


"Aku harus minta ijin dulu." Ini pertama kalinya Cherry diajak pergi oleh temannya, selain Sandra. Dulu dia hanya bepergian dengan Sandra, tapi sekarang ia hampir tak pernah bertemu Sandra lagi sejak kejadian viral video permintaan maafnya dulu.


"Baiklah, kamu harus mengabariku." Sarah tahu bahwa David akan menghadiri pacuan kuda terbesar tahunan yang diadakan besok. Sarah telah mengamati bahwa David tak akan melewatkannya setiap tahun. Dia akan mendekati David lewat Cherry.


"Kling." Sebuah pesan dari David masuk ke ponsel Cherry.


[Apa Cherryku menikmati?]


[Ya, tapi sepertinya aku lebih suka di rumah.] Cherry membalas dengan cepat.


[Ada apa?]


[Di sini berisik.]


[Pulanglah sekarang. Perawatan akan dilanjutkan di rumah.]


Cherry terkejut membaca pesan itu, [tidak apa-apa. Sepertinya sudah mau selesai.]


[Baiklah. Setelah selesai, pergilah ke kantorku.]


[Baik, sayang.]


"Kekasihmu?" tanya Sarah.


"Ya." jawab Cherry dengan senyum.


"Masa muda memang menyenangkan. Aku dulu ..." Sarah bercerita tentang dirinya panjang lebar. Cherry mendengarkan dengan menahan kantuknya, sesekali matanya terpejam karena tak tahan menahan kelopak matanya yang berat.


Akhirnya rangkaian perawatan tubuh diakhiri dengan sauna. Cherry menikmatinya dengan backsound Sarah yang terus menceritakan tentang nama besar keluarganya.


"Apa kamu mau pergi belanja setelah ini? Kudengar brand C mengeluarkan tas model baru." ucap Sarah.


"Tidak, aku masih ada janji."


"Oke. Kamu harus segera mengabariku untuk pergi ke pacuan kuda besok."

__ADS_1


"Ya."


Cherry hanya merasa terganggu karena Sarah terus saja berbicara. Selebihnya, Sarah adalah orang yang baik di mata Cherry.


__ADS_2