MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Perang Dingin


__ADS_3

Merry mendatangi rumah putranya untuk melihat kondisi pernikahan kedua dari Reyhan bersama Aleana yang jelas-jelas tak mendapatkan restu darinya. Ia masuk ke dalam rumah putranya itu dengan dagu naik sejengkal sangking sombongnya.


"Dimana wanita matre itu? Aku ingin sekali memberinya pelajaran karena dia telah berani menantangku saat di pesta pernikahan itu." Gerutu Merry seraya naik ke lantai atas menuju ke kamar utama.


Namun saat akan tiba di depan kamar utama, langkah Merry terhenti karena Farrel menghadangnya.


"Granny, what are doing here?" Tanya Farrel menatap tajam pada sosok Merry yang tak pernah ramah kepadanya.


Merry membalas tatapan cucunya itu dengan sinis.


"Menyingkirlah! Aku akan....


Tiba-tiba saja pintu kamar utama itu terbuka dan Aleana muncul hanya dengan mengenakan selimut tebal di tubuhnya. Aleana sengaja melakukan hal itu untuk membuat hati Merry semakin jengkel padanya.


"Apa yang kau lakukan dengan penampilan seperti itu, hah? Apa kau tidak malu hanya mengenakan selimut itu di depan bocah 5 tahun ini?" Teriak Merry dongkol setengah mati kepada Aleana.


"Apaan sih! Datang-datang malah marah-marah!" Gumam Aleana santai.


Aleana menoleh kebelakang dan masih mendengar percikan air di dalam kamar mandi. Saat itu Reyhan sedang mandi disana. Aleana lantas berjongkok dan menatap anak tirinya itu.


"Farrel, pergilah ke kamarmu! Mommy ingin bicara dengan nenek-nenek ini." Bisik Aleana membuat Farrel terkekeh geli sembari menutup mulutnya dengan tangannya.


"Apa yang dia bisikkan pada Farrel? Apa dia menjelek-jelekkan aku?" Gumam Merry dalam hatinya.


Lalu Farrel pun melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Aleana berdua dengan Merry di depan pintu kamar utama tersebut.


"So, ada yang bisa aku banting? Eh, maksudnya ada yang bisa aku bantu?" Tanya Aleana seakan mempermainkan ibu mertuanya itu yang terlibat perang dingin dengannya.


"Kau benar-benar wanita tak punya harga diri! Beraninya kau mempermainkan ibu mertuamu!!!" Teriak Merry semakin jengkel padanya.


"Oh, sejak kapan kau menjadi ibu mertuaku? Bukannya kau tidak merestui pernikahanku dengan Reyhan?" Sahut Aleana sembari menyunggingkan senyumnya.


"Kalau kau tau diri dan mengerti aku tak merestui pernikahan kalian, kenapa kau masih berada di rumah putraku? Pergi sana!" Teriak Merry.


"Sayangnya aku telah menikahi putramu dan aku adalah nyonya dirumah ini! Lagipula putra dan cucumu begitu menginginkan aku! Jadi aku harus bagaimana dong? Hehehe." Ucap Aleana mengejek Merry.


Aleana melangkah sedikit maju dan mendekat pada ibu mertuanya itu.


"Apa kau tau? Aku berniat untuk memberikan adik pada Farrel! Bagaimana menurutmu, ibu mertua?" Bisik Aleana sembari tersenyum licik padanya.


"Heh, jangan mimpi kau bisa menjadi nyonya di rumah putraku!" Ucap Merry semakin kesal padanya.


"Tapi aku sudah jadi nyonya tuh dirumah ini! Reyhan memberikan aku segalanya dan aku akan memberikan apapun yang putramu inginkan termasuk keturunan selanjutnya." Sahut Aleana.


"Dasar wanita kurang ajar! Kau ingin menantangku, hah?" Teriak Merry.

__ADS_1


"Ya, pastinya!" Sahut Aleana.


Merry hendak melayangkan telapak tangannya ke wajah Aleana, namun dengan sigap Aleana menangkap tangannya itu.


"Tidak ada untuk kedua kalinya! Kau tidak bisa menamparku lagi, ibu mertua!" Ujar Aleana mencengkram kuat pergelangan tangan Merry sehingga membuatnya meringis kesakitan.


"Dan ingat satu hal lagi, kau yang menggebuk genderang perang denganku karena kau telah menghina kedua orang tuaku! Memang benar, aku adalah wanita matre dan juga memiliki kehidupan yah sederhana, tapi bukan berarti orang-orang kaya seperti kalian bisa menghinaku dan keluargaku!" Ucap Aleana lagi sembari menghempaskan tangan Merry dengan kasar.


Merry dan Aleana saling menatap tajam satu sama lain. Lalu tiba-tiba terdengar suara Reyhan memanggil Aleana dari kamar mandi.


"Aleana, aku lupa membawa handuk! Bisa tolong kau ambilkan?" Kata Reyhan sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.


"Iya, tunggu sebentar!" Sahut Aleana.


Aleana masih berdiri dan menatap wajah Merry yang tampak kesal padanya.


"Heh, kau dengarkan apa yang putramu inginkan? Dia menyuruhku untuk memberikan handuk padanya, padahal aku sangat tau ada lemari tempat penyimpanan handuk disana. Hehehe. Kau tau maksud putramu kan? Dia ingin aku menemaninya di dalam kamar mandi. Ya, mungkin kami akan melanjutkannya lagi!" Ucap Aleana membuat Merry seakan naik darah tinggi sangking kesalnya.


"Bye, ibu mertua!" Ucap Aleana lagi sembari tersenyum licik dan berlalu masuk ke dalam kamar serta menutup pintunya.


Merry tak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa kesalnya terhadap Aleana yang begitu berani menantangnya.


"Awas saja kau nanti! Aku akan membalas apa yang sudah kau perbuat hari ini terhadapku!" Gerutu Merry sembari melangkah pergi dengan kesal.


Di balik pintu kamarnya yang tak jauh dari kamar utama, Farrel terkekeh kecil melihat neneknya tersebut.


***


Aleana mengambil handuk dari dalam lemari dan mengetuk pintu kamar mandi itu. Reyhan dengan percaya dirinya berdiri tegak berhadapan dengan Aleana.


"Eehheemm, bisakah kau menyembunyikan tubuhmu yang polos itu, Reyhan?" Ucap Aleana sembari memalingkan wajahnya yang memerah malu.


Tanpa menyahut, Reyhan meraih ujung selimut yang membalut tubuh Aleana dan membukanya. Lalu ia melemparkan selimut itu ke sembarang tempat. Lantas ia pun menarik tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi bersama dirinya. Sambil mendekapnya, Reyhan pun saling menatap dengan Aleana.


"Mana handukku?" Bisik Reyhan.


"Kau tidak usah berpura-pura, aku tau begitu banyak handuk tersimpan di lemari itu!" Sahut Aleana.


"Oh, jadi kau sudah tau apa niatku, hah?" Bisik Reyhan lagi.


"Tentu saja! Kau itu pria yang terlalu lama puasa jadi kau seakan tak pernah puas untuk...


Aleana belum sempat menghabiskan kalimatnya, namun Reyhan langsung mencium bibirnya dengan ganas.


"Huh, dasar duda mesum! Untung saja dia pria yang kaya." Gerutu Aleana dalam hatinya.

__ADS_1


Usai mandi, Reyhan dan Aleana makan bersama di ruang makan. Disana juga ada Farrel yang merasa senang karena akhirnya ia memiliki keluarga yang utuh.


"Oh iya, tadi aku sempat mendengar suara mama! Apa mamaku kesini?" Tanya Reyhan.


"Tidak! Granny tidak kesini!" Sahut Farrel berbohong.


Aleana sedikit bingung melihat sikap Farrel yang tampak tak menyukai kehadiran neneknya.


"Ada apa dengan keluarga ini? Sepetinya Reyhan dan Farrel tak bersikap hangat pada si nenek tua itu!" Gumam Aleana dalam hatinya.


Lalu Reyhan melirik Aleana yang tampak bingung sambil mengunyah makanannya.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Reyhan.


"Eemmm, tidak ada apa-apa!" Sahut Aleana.


"Oh ya, Rey! Hari ini aku ingin mengajak Farrel jalan-jalan! Apa kami boleh pergi?" Tanya Aleana.


"Wah, jalan-jalan sama mommy!" Seru Farrel antusias.


"Iya!" Sahut Aleana tersenyum lebar padanya.


"Hei, bantu mommy! Nanti saat kita keluar dari rumah mommy akan mengajakmu ke toko kue untuk mencicipi kue coklat disana. Apa kau mau?" Bisik Aleana pada Farrel yang membuat Reyhan pasang telinga untuk mendengarkannya.


Farrel mengangguk dengan cepat untuk mengiyakan.


"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa berbisik-bisik?" Gumam Reyhan penasaran dalam hatinya.


Lalu Farrel menatap Reyhan seakan memohon padanya.


"Daddy, izinkan aku pergi bersama mommy!" Rengek Farrel.


Reyhan tersenyum tipis menanggapi permintaan dari anak kesayangannya itu.


"Baiklah! Kalau begitu kita akan pergi jalan-jalan bersama nanti." Sahut Reyhan.


"Wwwhhhaaatt???" Pekik Aleana kaget.


"Kenapa? Kenapa kau begitu kaget?" Tanya Reyhan.


"Aku mengajak Farrel bukan mengajakmu!" Sahut Aleana.


"Tapi aku ingin ikut!" Sahut Reyhan.


"Lagi pula aku juga sedang cuti, jadi aku memaksa ingin ikut! Hehehe." Sambung Reyhan terkekeh licik.

__ADS_1


"Huh, dasar pria pengganggu! Sudah pengganggu pemaksa pula! Menyebalkan sekali dia!" Gerutu Aleana begitu sewot pada suaminya itu.


Reyhan dan Farrel terkekeh kecil sambil terus menyantap makan siang mereka di ruang makan itu.


__ADS_2