MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Makan Malam


__ADS_3

Reyhan pun tiba di kediaman kedua orang tuanya dengan membawa Aleana serta Farrel bersamanya. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Gustaf, namun saat itu Merry masih belum mau menampakkan batang hidungnya.


"Ayo kita ke ruang tamu, disana kedua orang tua Aleana sudah menunggu kedatangan kalian!" Ajak Gustaf pada anak, menantu serta cucuknya.


"Apakah ada kakek dan nenek disini?" Tanya Farrel terlihat begitu senang ingin bertemu dengan kedua orang tua Aleana yang selalu menyayanginya.


"Iya! Apa kau akrab dengan mereka?" Tanya Gustaf pada cucunya itu.


"Tentu saja! Mereka sering memanjakan aku!" Sahut Farrel ceria.


Gustaf merasa sangat malu bahkan menyesal karena cucunya jauh lebih dekat pada orang lain ketimbang dirinya.


"Pa, dimana mama?" Tanya Reyhan.


"Mamamu masih di dalam kamarnya! Aku tak tau apakah dia akan turun menemui kalian atau tidak." Sahut Gustaf.


"Lebih baik jika mama tidak usah turun menemui kami disini!" Sahut Reyhan.


"Rey, bagaimanapun sikapnya dia tetap mamamu!" Bisik Aleana mengingatkan suaminya tersebut.


Reyhan hanya berdengus kesal saat Aleana berusaha agar makan malam itu berjalan sesuai dengan rencana yang Gustaf inginkan.


Sebelum mulai untuk makan malam bersama, mereka tampak berbincang ringan di ruang tengah. Sementara Merry masih berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tampak berpikir mengenai keputusan yang harus diambilnya malam itu. Merry berjalan dan berdiri di depan cermin tempat biasa ia memoles wajahnya.


"Wajahku tampak semakin menua karena usiaku yang terus bertambah! Putra yang aku lahirkan bahwa sudah memiliki anak dan aku telah menjadi nenek. Tapi dalam kondisi seperti ini aku bahkan tidak pernah merasakan bahagia dalam hidupku! Masa mudaku aku habiskan untuk mengurusi semua urusanku hingga Reyhan tak pernah mendapatkan belaian kasih sayang dariku. Sekarang aku sudah menjadi seorang nenek, namun aku belum pernah menyentuh cucuku sama sekali semenjak ia lahir. Apa yang telah aku dapatkan dari ini semua? Hiks...hiks...hiks." Ucap Merry dalam hatinya.


"Aku banyak menyakiti orang-orang hanya untuk melindungi putraku secara diam-diam! Aku tak ingin putraku tersakiti lagi seperti yang Linda lakukan padanya." Ucap Merry lagi sambil terus menangis sendirian di dalam kamarnya.


Saat masih terisak menangis di dalam kamarnya, tiba-tiba Merry mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuklah!" Ucap Merry cepat-cepat mengusap air matanya itu.


"Nyonya, apa aku boleh masuk?" Tanya Grace ketika hendak masuk ke dalam kamar Merry.


Merry menoleh padany dan terkejut melihat besannya itu datang menghampirinya.


"Kau?" Ucap Merry menatap Grace.


"Nyo...nyonya, aku kesini untuk memintamu makan malam bersama kami di ruang makan! Semuanya sedang menunggumu, tapi kau...


"Hiks...hiks....hiks..." Merry terduduk di sisi ranjang tidurnya sambil menangis menutupi wajahnya.


Grace yang berhati baik itu pun cepat-cepat mendekati dan memeluk besannya tersebut.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Grace.


"Aku sangat malu, nyonya!" Sahut Merry seakan menyesali semua perbuatannya kepada mereka yang pernah ia hina dulu.


"Aku sangat malu karena aku telah menghina kalian, padahal kalian memiliki hati yang sangat baik." Sambung Merry lagi sambil terus menangis.

__ADS_1


"Tidak masalah! Lupakanlah hal itu." Ucap Grace terus mendekapnya.


Di dalam kamarnya itu, Merry pun mengutarakan rasa penyesalan dirinya yang tanpa sengaja telah menelantarkan putranya karena ia sibuk dengan segala urusannya. Ia juga menyampaikan bagaimana alasan dirinya yang tak ingin Reyhan tersakiti oleh orang lain, lalu ia pun sangat menyesal karena selama ini ia tak pernah memberikan kasih sayangnya kepada cucunya tersebut.


Semua perkataan yang Merry utarakan sebagai bentuk curhat kepada sang besan, terdengar oleh Reyhan dan Aleana dimana mereka berdiri di balik pintu kamar seakan menguping. Reyhan menundukkan wajahnya tampak rasa sedih menyelimuti dirinya saat mendengarkan alasan demi alasan yang diucapkan oleh ibunya tersebut.


"Rey!" Ucap Aleana seakan memberikan kode pada suaminya itu untuk segera berbaikan dengan Merry.


Reyhan menghela nafas panjang dan melangkah masuk ke dalam kamar orang tuanya itu.


"Ma." Ucap Reyhan memanggil Merry.


Merry lantas menoleh dan menatap putranya dengan linangan air mata.


"Rey, kau datang." Ucap Merry padanya seakan tak percaya bahwa Reyhan ada di hadapannya.


Ingin memberikan ruang untuk ibu dan anak itu, Grace dan Aleana pun kembali keruang makan dan menunggu mereka disana bersama yang lainnya.


"Rey, maafkan aku! Aku memang bukan ibu yang baik untukmu." Ucap Merry pada putrany tersebut.


Reyhan tak tahan melihat air mata ibunya yang terus mengalir dengan rasa penyesalannya. Cepat-cepat ia memeluk tubuh ibunya seakan memberikan maaf kepadanya.


"Ma, lupakan saja semuanya! Kita mulai hubungan keluarga kita lagi mulai sekarang." Ucap Reyhan pada Merry.


Merry menangis sedih bercampur haru karena putra sematawayangnya itu pun akhirnya mau memberikan maaf padanya.


"Ma, ayo kita ke ruang makan! Mereka semua sudah menunggu mama sejak tadi." Ajak Reyhan.


"Ma, Ana wanita yang baik! Dia yang membujukku untuk datang kesini menemui mama." Sahut Reyhan.


"Tanpa mama meminta maaf padanya, aku yakin Ana sudah memaafkan mama! Dia mencintaiku dan juga putraku, jadi aku juga sangat yakin bahwa Ana akan menyayangi mama dan papa. Kedua mertuaku juga orang yang baik, walau mereka bukan dari kalangan atas seperti kita, namun mereka sangat menghargai orang lain." Sambung Reyhan lagi.


"Mulai saat ini aku akan berusaha untuk memperbaiki diri dan juga hubungan keluarga kita." Ucap Merry akhirnya sadar bahwa kesombongan hanya akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri.


Reyhan dan Merry pun masuk ke ruang makan dan duduk satu meja bersama yang lainnya. Gustaf tampak tenang ketika ia mengetahui bahwa istrinya telah mengambil keputusan yang benar dalam memperbaiki hubungan keluarga mereka. Merry menatap Aleana yang saat itu duduk di samping Farrel. Ia ingin sekali meminta maaf pada menantunya itu. Merry ingin memiliki hubungan yang baik dengan Aleana. Namun saat itu Merry berpikir untuk bicara pada Aleana usai makan malam.


Merry diam-diam memperhatikan sikap menantunya itu terhadap cucunya. Aleana sangat perhatian kepada Farrel. Merry seakan bingung melihat perubahan sikap Aleana yang sangat lembut pada cucunya, sementara bila bertemu dengannya Aleana selalu bersikap kasar padanya.


"Aku bingung melihat sikapnya! Dia sangat baik dan lembut pada cucuku dan juga lainnya, padahal selama beberapa kali aku bertemu dengannya dia sering berkata kasar dan membalas semua yang aku ujarkan kepadanya." Gumam Mere dalam hatinya.


"Apa mungkin dia memiliki dua kepribadian?" Gumam Merry lagi dalam hatinya sembari melirik dan memperhatikan Aleana.


 


 


***


Usai makan malam, mereka kembali ngobrol sejenak di ruang tengah. Aleana masih duduk tenang di samping Reyhan dan juga Farrel. Keluarga kecil itu tampak harmonis dimata Merry.

__ADS_1


"Farrel apa kau sudah ngantuk?" Tanya Aleana melihat Farrel terus menguap sedari tadi.


"Iya, mommy!" Sahut Farrel.


"Kalau begitu sebentar lagi kita akan...


"Ana, bawa Farrel ke kamar tamu! Biarkan dia tidur disini malam ini. Aku juga ingin sesekali menghabiskan waktu dengannya." Kata Gustaf pada menantunya itu.


Aleana melirik pada Reyhan dan Reyhan pun menganggukkan kepalanya sebagai kode untuk memberikan izin.


"Baiklah! Aku permisi dulu untuk membawa Farrel ke kamar." Ucap Aleana segera membawa putra tirinya tersebut.


Aleana pun segera membawa Farrel ke kamar tamu,  sementara yang lainnya masih duduk bersama sambil berbincang di ruangan itu. Tak lama kemudian, Reyhan melirik ibunya yang juga permisi dengan mereka dan keluar dari ruang tengah. Reyhan tampak sedikit curiga pada ibunya tersebut. Ia tau bahwa Merry akan menghampiri istrinya. Merasa penasaran, Reyhan pun diam-diam mengikuti langkah sang ibu yang benar saja tampak masuk ke dalam kamar tamu dimana Aleana sedang menidurkan Farrel.


"Ana, boleh aku masuk?" Tanya Merry pada menantunya itu.


"Masuklah!" Sahut Aleana.


"Mau apa dia menghampiriku kesini? Aahh, aku tak ingin merusak malam ini apabila dia akan menghinaku lagi seperti biasanya." Gumam Aleana dalam hatinya.


Merry tampak mendekati sisi ranjang kamar tamu itu dan menatap wajah cucunya yang baru saja tertidur.


"Aku masih ingat pertama kalinya dia memanggilku Granny! Saat itu wajahnya sangat polos, namun aku mengabaikannya karena aku pikir dia bukan darah daging Rey!" Ucap Merry terus menatap pada Farrel, namun sebenarnya ia tengah berbicara pada Aleana.


"Ya, aku tau itu! Rey sudah menceritakannya padaku bahkan Farrel juga!" Sahut Aleana membuat Merry menoleh padanya.


"Dia pasti sangat kecewa padaku!" Ucap Merry lalu menundukkan wajahnya.


"Ya, kau benar!" Sahut Aleana lagi.


Merry menghela nafas panjang lalu ia mendekati Aleana dan meraih kedua tangannya untuk ia genggam.


"Ana, maukah kau memaafkan aku? Aku telah salah paham terhadapmu." Ucap Merry.


"Aku melakukan semuanya karena aku tak ingin Reyhan di sakiti lagi oleh wanita yang ia cintai. Mantan istrinya itu pernah menyakitinya begitu dalam." Ucap Merry lagi.


"Iya, lupakan saja!  Semua orang pernah melakukan kesalahan tak terkecuali aku yang dulu pernah berkata kasar padamu. Jadi aku juga ingin minta maaf padamu." Sahut Apaan sembari tersenyum lebar pada Merry.


"Kau mau kan memanggilku mama seperti Rey?" Pinta Merry pada menantunya itu.


"Iya, ma! Tapi jangan memintaku untuk tidak bersifat matre!" Sahut Aleana.


Merry seakan terkejut mendengar ucapannya dari menantunya tersebut.


"Apa kau bilang?" Tanya Merry seakan ingin mendengar ucapan itu lagi dari mulut menantunya.


"Hahaha, aku hanya bercanda!" Ucap Aleana tertawa.


"Haaaah, syukurlah! Aku tau wanita selalu ingin memiliki segalanya, namun aku ingin sekali kau menerima putraku apa adanya." Kata Merrry.

__ADS_1


"Ya, awalnya sih aku mau menikah dengannya karena uang, tapi setelah menjalani hari-hariku bersamanya aku malah jatuh cinta padanya dan aku menerima dirinya apa adanya sama sepertinya yang menerima ku apa adanya." Sahut Aleana.


Dari balik pintu Reyhan tampak bernafas lega karena akhirnya ibu dan istrinya telah menjadi akur serta berhubungan baik. Reyhan pun menyadari bahwa ia juga harus membuka dirimu agar ia dapat menjalin hubungan yang harmonis bersama keluarganya tersebut.


__ADS_2