
Gustaf kembali ke kediamannya setelah ia mengundang kedua besannya untuk datang makan malam bersama di kediamannya yang mewah itu. Gustaf meminta kepala pelayan dirumahnya itu untuk menyiapkan segalanya guna menyambut kedatangan tamunya tersebut. Merry yang mendengar akan hal itu pun bertanya pada suaminya.
"Siapa yang akan kau undang untuk makan malam dirumah kita?" Tanya Merry pada Gustaf.
"Besan kita!" Sahut Gustaf.
"Apa? Besan kita?" Ucap Merry terkejut.
"Apa kau akan mengundang kedua orang tua wanita matre itu?" Tanya Merry lagi seakan tak menyukainya.
"Siapa yang kau panggil wanita matre, hah?" Ujar Gustaf sembari melotot pada istrinya tersebut.
"Tentu saja wanita yang dinikahi Rey!" Sahut Merry.
"Wanita yang dinikahi Rey adalah menantu di keluarga kita!" Ucap Gustaf dengan tegas.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui hubungan mereka!" Pekik Merry kesal.
"Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini, hah? Apa kau ingi keluarga kita terus-terusan memiliki konflik internal yang tak pernah ada habisnya? Rey adalah putra kita satu-satunya, sejak kecil kita tidak pernah memberikannya perhatian sehingga sekarang dia memilih untuk menjauh dan bersikap dingin kepada kita! Apa ini yang ingin kau nikmati di masa tua?" Ucap Gustaf seakan muak melihat tingkah istrinya yang selalu saja menghalang-halangi hubungan Reyhan dengan wanita yang menjadi pilihan putranya tersebut.
"Wanita itu mau menikah dengan Rey karena menginginkan hartanya saja! Aku tak ingin hal serupa terjadi lagi kepada Rey! Linda juga melakukan hal itu saat ia menjadi istrinya Rey. Bagaimanapun juga Rey adalah putraku dan aku tak ingin Rey tersakiti lagi." Kata Merry.
"Aku lihat Aleana itu wanita yang baik! Dia sangat mencintai Rey dan juga cucu kita." Kata Gustaf.
"Farrel bukan keturunan dari keluarga kita!" Ucap Merry.
"Farrel adalah cucu kita! Dia anak kandung Rey bersama Linda." Kata Gustaf dengan tegas.
"Apa kau bisa membuktikannya padaku?" Tanya Merry seakan menantang suaminya itu.
Gustaf melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengambil berkas yang tersusun rapi di dalam map yang ia simpan di dalam laci lemarinya. Lalu Gustaf kembali menghampiri istrinya dan memberikan berkas-berkas tersebut hasil dari tes DNA antara Reyhan dan Farrel yang dikeluarkan secara resmi dari pihak rumah sakit.
"Itu hasil tes DNA Rey dan Farrel! Pihak rumah sakit mengatakan bahwa Rey adalah ayah biologis Farrel!" Ucap Gustaf sembari menunjuk-nunjuk pada berkas yang ada di tangan Merry.
Merry pun melihat berkas tersebut dan betapa terkejutnya ia bahwa selama ini ia salah. Kesalah yag Linda perbuat kepada Reyhan, membuatnya tak yakin bahwa Farrel adalah cucu kandungnya.
"Darimana kau bisa mendapatkan ini semua?" Tanya Merry.
"Secara diam-diam aku meminta Defras untuk mengambil helai rambut Rey dan juga Farrel! Lalu aku mengujinya di lab rumah sakit karena ingin membuktikan bahwa Farrel adalah cucu kita." Sahut Gustaf.
"Jadi Farrel benar-benar cucu kita?" Tanya Merry lagi seakan tak percaya dan merasa bersalah karena selalu mengacuhkan cucunya tersebut.
__ADS_1
"Buanglah jauh-jauh rasa egomu itu, Merry! Reyhan berhak bahagia bersama wanita pilihannya." Kata Gustaf mencoba untuk meyakinkan istrinya itu untuk menerima Aleana sebagai menantu di keluarga mereka.
"Tapi apa wanita itu benar-benar mencintai putra kita, Gustaf? Aku hanya tak ingin Rey tersakiti lagi seperti apa yang pernah Linda lakukan padanya." Ucap Merry khawatir.
"Kau tenang saja! Aku bisa memastikan bahwa Aleana adalah wanita yang baik." Sahut Gustaf.
"Aku dengar dari Rey, saat hari pernikahannya, kau menghina Aleana juga kedua orang tuanya. Apa itu benar?" Tanya Gustaf.
"Aku...aku...
"Jawab aku, Merry!" Bentak Gustaf.
"Iya." Sahut Merry.
"Tapi aku melakukan hal itu karena aku tak ingin mereka memanfaatkan putra kita, Gustaf!" Sambung Merry.
"Aku mengundang mereka untuk makan malam dirumah kita dan aku harap kau mau meminta maaf pada mereka." Kata Gustaf.
"Kau ingin aku minta maaf pada mereka?" Pekik Merry seakan menolak.
"Kenapa? Kau ingin menolaknya? Memang kau yang salah kan? Kau menghina orang yang belum tentu melalukan kejahatan!" Teriak Gustaf pada istrinya itu.
"Kau tinggal memilih, Merry! Kau ingin memperbaiki hubungan kita bersama putra kita atau kau terus saja melakukan hal yang kau suka! Aku tidakl perduli lagi. Jangan pernah menyalahkan orang lain, jika suatu saat kau merasa kesepian." Ucap Gustaf memberikan pilihan pada istrinya agar istrinya dapat merenungi segala kesalahannya.
"Haaaahh, kau juga merasa lelah dengan semua masalah yang ada! Hubunganku dengan putraku satu-satunya tidak pernah harmonis. Aku selalu sibuk dengan urusanku diluar dan mengacuhkan Rey sejak kecil. Rey tumbuh di tangan pengasuhnya, padahal aku lah yang melahirkannya! Semuanya semakin memburuk ketika aku terus-terusan saja ingin mengaturnya. Aku menghalanginya menjalin hubungan dengan wanita pilihannya. Aku juga mengacuhkan cucuku sendiri selama ini." Gumam Merry dalam hatinya.
"Oh, bodohnya aku! Kenapa aku menjadi egois seperti ini pada putraku sendiri?" Gumam Merry lagi seakan menyesali semua perbuatannya yang telah menyakiti Reyhan melalui sikap kasarnya kepada Farrel dan juga Aleana.
***
Reyhan dan Aleana tampak duduk santai serta bersandar di atas ranjang tidur mereka. Reyhan yang memiliki hobi membaca buku tampak membaca sebuah buku yang baru ia beli mengenai hukum-hukum yang menyangkut tentang dunia bisnis. Sedangkan Aleana sibuk memainkan ponsel melihat media sosial miliknya.
"Heeeem, sudah hampir malam! Waktu gak terasa begitu singkat." Gumam Aleana dalam hatinya.
Lalu ia mendapat notifikasi pesan dari ibunya.
"Ana, apa menurutmu ibu dan ayah pergi ke rumah mertuamu untuk menghadiri makan malam disana? Ayah mertuamu mengundang kami untuk datang."
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari ibunya tersebut, Aleana baru teringat bahwa Gustaf meminta bantuan darinya agar membujuk Reyhan untuk datang makan malam bersama mereka disana.
"Ayah dan ibu datang saja, aku dan Rey juga akan datang."
Usai membalas pesan dari ibunya itu, Aleana meletakkan ponselnya di samping ranjang. Lalu ia mendekati suaminya itu seakan ingin bermanja-manja padanya.
"Rey." Panggil Aleana.
"Heemm?" Sahut Reyhan namun masih menatap pada lembaran buku yang ia baca.
"Tadi ayahmu mengundang kita untuk pergi makan malam dirumahnya." Kata Aleana mencoba untuk membujuknya.
"Aku tak akan pergi." Sahut Reyhan.
"Oh, sayang ayolah!" Rengek Aleana bergelayut manja pada Reyhan.
"Ana, aku dan mereka tak pernah dekat! Aku sudha pernah cerita masalah keluargaku padamu kan? Jadi aku tidak akan pergi." Kata Reyhan bersikeras tak ingin pergi memenuhi undangan dari ayahnya itu.
"Rey, bagaimana pun sikap mereka dulu kepadamu, namun mereka tetaplah orang tuamu sayang! Aku lihat dari tatapan wajah ayahmu sepertinya dia ingin memperbaiki hubungan kalian." Kata Aleana lagi terus berupaya untuk membujuknya.
"Apa kau tidak ingat apa yang telah mamaku lakukan padamu di hari pernikahan kita? DIa menamparmu dan juga menghina keluargamu. Apa kau masih ingin bertemu dengannya nanti jika kau datang memenuhi undangan itu?" Kata Reyhan lagi.
"Sayang, ayahmu telah berjanji untuk meyakinkan mamamu agar mau menerimaku menjadi menantunya! Aku juga menginginkan hal itu. Aku ingin mamamu mengakui bahwa aku adalah menantu dikeluargamu. Apa kau mau aku dan mamamu terus-terusan berseteru?" Sahut Aleana.
"Rey, kedua orang tuaku juga akan hadir disana." Sambung Aleana.
"Apa?" Ucap Reyhan kaget.
"Aku menyuruh mereka untuk datang memenuhi undangan dari ayahmu." Sambung Aleana lagi.
"Ana, kenapa kau gak minta pendapatku dulu sebelum menyuruh orang tuamu untuk datang kerumah orang tuaku? Aku gak ingi kedua mertuaku dihina lagi oleh mamaku! Aku tau bahwa orang tuamu adalah orang baik." Kata Reyhan sembari mengelus wajah Aleana dengan lembut.
Aleana hanya diam saja dan menatap pada suaminya itu serta berharap Reyhan mau datang memenuhi undangan makan malam dari ayahnya.
"Ayo kita bersiap! Aku akan berupaya untuk menghentikan sikap mamaku kepada kedua orang tuamu." Kata Reyhan seraya hendak bangkit dari ranjang itu.
"Rey, kau tidak perlu panik! Aku yakin mamamu tidak akan menyakiti kedua orang tuaku lagi." Kata Aleana.
"Darimana kau tau akan hal itu?" Tanya Reyhan.
"Aku yakin ayahmu pasti bisa meyakinkan mamamu untuk menerima keluargaku sebagai besannya." Sahut Aleana.
__ADS_1
"Entahlah, Ana! Aku tak berani memastikan hal itu." Ucap Reyhan lagi.