MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Malu, Tapi Mau!


__ADS_3

Setelah beberapa hari merawat luka yang ada di lengan istrinya, Reyhan terlihat begitu sangat perhatian dimata sang istri. Ketika Reyhan mengganti perban di lengannya, Aleana seakan senang juga merasakan detak jantungnya berdegup kencang.


"Duh, jantungku kenapa jadi gini sih? Padahal Rey sudah sering dekat seperti ini denganku, bahkan kami sering melakukannya tapi kenapa sekarang aku merasakan hal yang aneh ketika dia terlihat begitu dekat denganku seperti ini? Apa benih-benih cinta telah tumbuh dihatiku?" Gumam Aleana dalam hatinya.


Reyhan terus fokus pada sebuah perban yang ia ikat untuk membalut luka di lengan Aleana.


"Nah, sudah selesai!" Seru Reyhan.


Aleana pun melirik ikatan perban di lengannya tersebut.


"Aaahh, selalu bentuk pita kupu-kupu!" Gerutu Aleana.


"Hei, jangan menggerutu! Aku telah menyimpulkan ikatan perban ini seindah mungkin!" Sahut Reyhan.


"Ini hanya luka, jadi untuk apa menyimpulkan ikatan perbannya seperti ini! Dasar aneh!" Gerutu Aleana lagi.


"Kau ini! Aku sudah capek-capek merawatmu tapi kau malah menggerutuku setiap hari! Ah, aku jadi males merawatmu lagi!" Gerutu Reyhan kesal.


Aleana merasa bersalah karena ia seakan tak bersyukur sebab Reyhan telah merawat lukanya dengan baik,  ya walaupun Aleana tetap saja sebal melihat simpul ikatan perban di lengannya itu. Aleana melirik wajah Reyhan tampak begitu cemberut saat duduk disebelahnya. Reyhan juga tampak bersedekap sembari menggerutu kesal sendirian.


"Lebih baik aku membujuknya! Bagaimanapun juga selama beberapa hari ini dia memperlakukan aku dengan baik dan mau merawat luka dilenganku!" Gumam Aleana dalam hatinya.


Aleana pun berinisiatif untuk membujuk pria yang duduk disebelahnya itu. Aleana mendekatinya dan berupaya untuk berkata manis kepadanya.


"Rey, maaf ya! Aku salah. Seharusnya aku bersyukur karena kau mau merawatku dengan baik selama beberapa hari ini!" Ucap Aleana.


Hal tersebut ternyata dimanfaatkan oleh Reyhan untuk mengganggu Aleana. Reyhan menyeringai sembari menatapnya.


"Ke...kenapa? Kenapa kau tersenyum begitu jelek seperti itu, Rey?" Tanya Aleana bingung sekaligus berdegik ngeri.


"Kau bilang kau harus bersyukur kan karena aku merawatmu dengan baik!" Kata Reyhan sembari berbisik padanya.


Aleana pun mengangguk namun masih bingung atas apa yang diinginkan oleh suaminya tersebut.


"Kalau begitu bukannya kau harus berterima kasih padaku, Ana?" Bisik Reyhan lagi.


Aleana langsung bangkit dari sofa itu dan berdiri di hadapan suaminya. Reyhan tampak bingung melihat istrinya tersebut.


"Terima kasih, Rey!" Ucap Aleana sembari membungkukkan tubuhnya di hadapan Reyhan.

__ADS_1


"Ya ampun, aku pikir dia mau ngapain ternyata mau mengucapkan terima kasih!" Gumam Reyhan dalam hatinya sembari tepok jidat menyikapi istrinya itu.


"Aku sudah mengucapkan terima kasih, jadi...


"Bukan begitu maksudku, Ana!!!" Pekik Reyhan.


"Eh, salah ya?" Tanya Aleana bingung.


"Uugghh, dasar wanita gak peka! Sudah beberapa hari ini aku puasa dan gak menyentuhnya! Bukankah ini bulan madu, kenapa miris banget sih nikah sama wanita gak peka seperti dia!" Gerutu Reyhan dalam hatinya.


"Eeemm, Rey! Jadi menurutmu aku harus melakukan apa untuk berterima kasih padamu?" Tanya Aleana.


Mendengat perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Aleana, Reyhan kembali menyeringai sembari menatapnya. Aleana yang masih berdiri dihadapannya itu pun langsung diraihnya dan masuk ke dalam dekapannya.


"Rey..., ada apa? Ke...kenapa...


"Kenapa kau gugup sekali? Wajahmu juga memerah! Apa kau malu karena aku mendekapmu seperti ini, hah?" Bisik Reyhan.


"Iihhh, kenapa sih aku jadi deg-degan seperti ini? Bukannya Rey dan aku sering melakukannya? Tapi kenapa sekarang aku seakan nervous gini sih? Nyebelin banget!" Gerutu Aleana dalam hatinya seakan ia tak berani untuk memperlihatkan wajahnya yang begitu memerah.


Reyhan tersenyum dan tau bahwa Aleana tampak malu-malu kucing kepadanya. Reyhan lantas membawa istrinya itu ke ranjang tidur mereka selama menginap di hotel tersebut.


"Eemm, Rey! Kau mau apa?" Tanya Aleana lagi ketika Reyhan menimpa tubuhnya di atas ranjang itu.


"Menurutmu?" Bisik Reyhan seakan membuat jantung Aleana berhenti berdetak sangking gugupnya.


"Hehehe, bukankah aku sedang sakit?" Ucap Aleana ingin Reyhan tak melakukannya karena ia begitu malu tapi juga mau.


"Yang sakit kan lenganmu bukan...


"Jangan teruskan!!!" Pekik Aleana semakin malu saat Reyhan akan mengatakan hal yang membuatnya berpikir jorok.


"Hehehe, dia begitu malu sampai gugup!" Ucap Reyhan dalam hatinya sembari terus menatap wajah Aleana yang tampak begitu memerah bak kepiting rebus.


"Ayo kita mulai, sayang!" Bisik Reyhan mulai meniup telinga Aleana sehingga membuatnya tak dapat mengontrol diri.


Aleana terdengar memekik pelan ketika Reyhan menyentuh lembut pada bibir serta bagian tubuh lainnya. Hal yang dapat membuat Reyhan terus ingin melakukan hal tersebut karena suara berisik tersebut yang keluar dari mulut Aleana saat mereka melakukannya. Aleana termasuk wanita yang berisik ketika disentuh oleh pria.


 

__ADS_1


***


Suara percuma air pun terdengar dari dalam kamar mandi. Reyhan bangkit dari atas ranjang tersebut dan menatap kejauhan dari jendela kamar hotel. Reyhan tersenyum mengingat betapa Aleana membalas semua perlakuan darinya barusan.


"Apa aku sudah berhasil membuatnya jatuh cinta padaku? Tadi aku merasakan bahwa dia membalas semua yang aku lakukan di atas ranjang! Hal itu tak pernah aku dapatkan setelah menikahinya, dan baru kali ini dia membalas ku!" Gumam Reyhan dalam hatinya.


"Tapi walau bagaimanapun juga aku harus tau isi hatinya yang sebenarnya terhadapku! Awal kami bersama karena aku memberikannya begitu banyak uang dan dia termasuk wanita yang matre, jadi aku harus tau sikapnya tadi karena dia memiliki perasaan padaku atau karena dia ingin aku bersikap lebih royal kepadanya saja? Aku harus cari tau sampai dia benar-benar mengatakannya pada sendiri!" Gumam Reyhan lagi dalam hatinya.


Usai mandi, Alena duduk di depan cermin sambil mengingat bagaimana Reyhan memperlakukan dirinya di atas ranjang tidur mereka. Aleana melirik sekilas pada Reyhan yang terlihat sedang berbicara dengan Defran melalui ponselnya.


"Heeemm, kalau dia sedang berbicara serius seperti itu aura ketampanannya seakan terpancar dan membuatku seakan terpesona padanya!" Ucap Aleana dalam hatinya.


"Tapi sepertinya hanya aku yang merasakan seperti itu! Hubungan kami dimulai karena Reyhan hanya ingin membahagiakan putranya saja maka dari itu dia mau menikahiku demi putranya! Kalaupun dia memperlakukan aku dengan baik di atas ranjang, aku rasa itu karena dia seorang pria yang haus akan sentuhan wanita! Aku paham akan hal itu karena dia telah lama menduda sebelumnya!" Ucap Aleana dalam hatinya lagi.


"Eemm, menurutku lebih baik perasaan ini aku pendam sendiri saja! Jika suatu saat nanti aku harus patah hati bila Rey memiliki wanita lain seenggaknya aku bisa menerima semuanya." Gumam Aleana sedikit sedih dalam hatinya.


Usai berbicara di telepon, Reyhan melirik Aleana yang sibuk menggunakan pelembab diwajahnya. Ia menghampiri istrinya tersebut dan berbisik padanya.


"Ana, aku ingin membawamu pergi keluar!" Kata Reyhan.


"Keluar? Kemana?" Tanya Aleana.


"Hei, kita sedang berbulan madu kan? Jadi apalagi yang kita lakukan selain melakukannya bersama dan juga bersenang-senang diluar?" Sahut Reyhan kembali membuat wajah Aleana memerah atas ucapannya barusan.


Reyhan mendapati wajah istrinya kembali memerah. Ucapan meledek pun keluar dari mulut pria yang telah memiliki seorang putra itu.


"Wajahmu memerah lagi! Apa kau memikirkan sesuatu untuk kita lakukan, hah? Mumpung masih ada waktu beberapa menit sebelum kita keluar untuk makan siang!" Bisik Reyhan pada telinga Aleana seakan menggodanya.


"Ti...tidak! Kau pergilah mandi sana, tubuhmu lengket!" Pekik Aleana berusaha mati-matian untuk mengindari apa yang Reyhan inginkan darinya.


"Ini semua keringatmu! Saat ronde kedua kau sangat aktif sehingga keringatmu menetes di tubuhku tadi!" Bisik Reyhan lagi terus saja menggoda istrinya.


"Rey, hentikan!!!" Pekik Aleana semakin malu karena ucapan suaminya tersebut.


"Hahaha, dasar kepiting rebus!" Ucap Reyhan sembari tertawa dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Aleana menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya. Ia begitu malu mengingat bagaimana ia begitu aktif sehingga tak dapat mengontrol dirinya ketika melakukannya bersama Reyhan tadi.


"Aduh, aku malu sekali rasanya! Dasar Reyhan menyebalkan! Dia sengaja meledekku barusan." Gerutu Aleana dalam hatinya sembari terus menutupi wajahnya yang masih memerah malu.


BACA JUGA NOVEL TERBARUKU....

__ADS_1


\=LOVE IN PARIS=


__ADS_2