
Beberapa bulan kemudian, ketika bangun baru saja bangun tidur Reyhan merasakan mual pada perutnya. Ia membuka kedua matanya lebar-lebar dan langsung melompat turun dari atas ranjang tidurnya itu. Lantas Reyhan masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua isi yang ada di dalam lambungnya.
Kkrrriiuukkk...
"Hooaaamm!!! Aku lapar!" Ucap Aleana saat ia baru saja bangun tidur.
Wanita berambut pirang itu pun menoleh kesamping tak mendapati suaminya. Lalu ia mendengar suara Reyhan sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"Eh, Reyhan muntah-muntah! Kenapa dia? Apa jangan-jangan dia sakit?" Gumam Aleana langsung turun dari atas ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Disana ia melihat Reyhan muntah-muntah dengan wajahnya yang sedikit pucat.
"Sayang, kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Aleana tampak khawatir pada suaminya itu.
"Entahlah! Aku merasa sangat mual!" Sahutnya.
Lalu Reyhan membersihkan muka serta berkumur-kumur setelah membuang semua isi yang ada dalam lambungnya di pagi hari itu. Aleana menggandeng tangan Reyhan dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Minumlah segelas air ini agar tenggorokanmu tidak kering." Kata Aleana sembari memberikan segelas air putih pada Reyhan.
Reyhan meminum air itu sedikit dan memberikannya kembali pada Aleana.
"Kau kenapa? Wajahmu sedikit pucat! Apa kau sakit?" Tanya Aleana lagi.
"Entahlah! Saat bangun tidur tiba-tiba saja aku merasa mual dan langsung muntah-muntah!" Sahut Reyhan.
"Semalam kau kan baik-baik saja! Apa kau masuk angin? Sebaiknya aku panggilkan dokter saja ya." Kata Aleana hendak meminta pelayan untuk memanggil kan dokter agar memeriksa Reyhan.
"Sayang, itu tidak perlu! Mungkin semalam aku salah makan makanya aku muntah-muntah! Aku tidak apa-apa." Kata Reyhan menolak.
Kkrriiuuukkk... Reyhan lantas menoleh pada perut istrinya yang rata itu.
"Hehehe, aku lapar!" Ucap Aleana terkekeh malu.
"Ayo kita sarapan bersama!" Ajak Reyhan tersenyum pada istrinya.
Duduk bersama di meja makan dengan begitu banyak menu makanan membuat Reyhan merasakan mual lagi pada perutnya. Ia seakan tak menyukai bau makanan-makanan yang terhidang di meja itu. Sementara Aleana seakan tak kenal kenyang saat menyantap makanan paginya.
"Rey, kau tidak makan?" Tanya Aleana.
"Aku...mual..."
Reyhan lantas berkat dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dekat ruangan tersebut. Aleana dan Farrel saling menatap dan merasa bingung melihat Reyhan terus-terusan mual dan muntah-muntah, bahkan ia tak berselera untuk makan.
"Mommy, daddy kenapa? Apa dia sakit?" Tanya Farrel.
__ADS_1
"Mungkin daddy hanya tidak enak badan saja! Nanti mommy akan panggilkan dokter untuk memeriksa daddy mu! Sekarang cepat habiskan sarapanmu dan berangkat la ke sekolah bersama supir." Sahut Aleana pada Farrel.
"Baiklah!" Sahut Farrel kembali menyantap makan paginya.
Aleana kembali menghampiri Reyhan yang baru saja selesai berkumur-kumur setelah muntah di kamar mandi itu. Aleana tampak semakin khawatir akan kondisi suaminya tersebut.
"Rey, kau istirahatlah di kamar! Aku akan panggilkan dokter untukmu! Kau tidak perlu ke kantor hari ini, oke!" Kata Aleana.
"Itu tidak perlu, sayang! Aku hanya...
"Rey, aku sangat khawatir! Aku tak ingin kau kenapa-kenapa." Kata Aleana lagi.
"Iya, baiklah!" Sahut Reyhan menuruti perkataan istrinya tersebut.
Reyhan pun kembali ke kamar dan berbaring untuk beristirahat setelah ia mengatakan pada Defras bahwa ia tidak akan ke kantor hari itu. Tak lama kemudian dokter pribadinya datang dan segera memeriksa kondisi kesehatan Reyhan.
"Bagaimana dokter? Apa yang terjadi padanya? Dia terus saja mual dan muntah!" Tanya Aleana pada dokter itu.
"Kondisinya baik-baik saja!" Sahut dokter.
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dokter? Suamiku mual dan muntah-muntah!" Seru Aleana merasa tak puas akan jawaban dari dokter pribadi suaminya tersebut.
"Saya sudah mengecek semuanya dan hanya tekanan darahnya saja yang sedikit rendah! Mungkin tuan Rey salah makan dan aku akan berikan resep obat untuk mengurangi rasa mualnya." Sahut dokter itu lagi.
Setelah beberapa hari mengalami mual dan muntah bahwa hingga tak berselera makan, Reyhan pun terlihat sedikit lebih kurus dari biasanya, sementara berbanding terbalik pada Aleana yang terus saja mengunyah sehingga berat badannya bertambah hingga 5 kg.
"Oh, astaga! Aku gendut!" Pekik Aleana tak menerima bahwa pinggang serta perutnya sedikit menebal.
Aleana sibuk berpura sana sini untuk melihat dirimu di cermin. Tak lama Reyhan yang baru saja kembali dari kantornya melihat sang istri tampak frustasi akan perubahan bentuk tubuhnya.
"Kau kenapa?" Tanya Reyhan.
"Aku gendut! Huuwwwaaa..." Sahut Aleana langsung nangis histeris di hadapan suaminya.
Reyhan pun memencet bagian tubuh yang sedikit melar tak seperti biasanya.
"Melar sedikit, tapi tetap cantik kok!" Ucap Reyhan tanpa ia sadar telah melukai relung hati seorang wanita yang menatap kesal padanya.
"Apa? Ada apa?" Tanya Reyhan bingung ada tatapan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Kau jahat! Kau bilang aku melar! Uugghh, aku benci kau, Reyhan!" Teriak Aleana seakan ngamuk ingin memukulnya.
"Hei, aku hanya bicara fakta!" Ucap Reyhan lagi.
"Hhuuuwwaaaa..." Aleana nangis tambah kencang dan membuat Reyhan panik serta takut Farrel akan memarahinya jika mendengar tangisan Aleana.
"Oh, oke...oke! Kau tidak melar tapi berisi!" Ucap Reyhan lagi untuk menenangkan istrinya.
"Tetap aja kalau kau ingin bilang bahwa aku gendut!" Pekik Aleana kesal.
"Oke! Kau cantik! Tubuhmu langsing seperti model." Ucap Reyhan mencoba untuk membujuknya.
"Kau bohong! Mana ada model yang tinggi badannya seperti aku! Aku ini termasuk wanita cebol!" Pekik Aleana lagi sambil menangis histeris.
"Aaadduuhh, salah terus! Jadi aku harus bilang apa, hah?" Teriak Reyhan kesal.
"Hhuwwaaaa..., kenapa kau lebih galak dariku padahal kau duluan yang mengejek tubuhku?" Teriak Aleana nangis kesal.
Reyhan seakan pusing mendengar tangisan istrinya itu. Reyhan melangkah menuju ke brangkas dan mengambil segepok uang dari dalam sana..
"Ambil nih! Jangan nangis lagi!" Kata Reyhan sembari memberikan begitu banyak uang pada istrinya untuk menghentikan tangisannya itu.
"Wah, uang!" Seru Aleana langsung diam dan duduk di sofa sambil menghitung uang tersebut dan alhasil ia pun berhenti menangis.
"Cobaan apa ini ya Lord??? Istriku begitu matre!!! Untung aku pengusaha kaya raya!!!" Teriak Reyhan frustasi.
Setelah menghitung uang tersebut, Aleana menyimpannya ke dalam tas untuk ia gunakan pergi berbelanja dan bersenang-senang. Ketika ia membuka lemarinya tanpa sengaja ia melirik sebuah kalender lipat yang terpampang nyata di dalam lemari tersebut. Ia melihat lingkaran merah berbentuk hati yang menandakan siklus datang bulannya.
"Heeemm, ini terakhir kalinya aku datang bulan!" Gumam Aleana dalam hatinya.
"Rey, ini bulan apa?" Tanya Aleana pada suaminya yang baru saja membuka jas serta kemejanya.
"Bulan Agustus!" Sahut Reyhan.
Aleana memeriksa bulan yang ada di kalender lipat miliknya tersebut.
"Aaaarrrrggghhh!!!" Pekik Aleana mengejutkan Reyhan lalu berlari menghampirinya.
"Ada apa, sayang? Kenapa kau berteriak?" Tanya Reyhan panik.
Aleana menoleh dan menatap suaminya tersebut.
"Aku butuh testpack!" Seru Aleana.
__ADS_1
"Heeemm???" Gumam Reyhan bingung menatap istrinya itu.