
Reyhan yang sedang duduk di balik meja kerjanya, tampak memikirkan bagaimana caranya ia membuat Aleana segera jatuh hati padanya tanpa embel-embel harta yang ia miliki. Ketika sedang memikirkan hal tersebut, Defras masuk ke dalam ruangannya sembari membawa berkas yang perlu di tanda tangani oleh Reyhan.
"Rey, ini berkas yang harus kau tanda tangani mengenai...
Defras mengehentikan ucapannya dan menatap Reyhan yang bahkan tidak menoleh sama sekali dengannya.
"Bocah ini malah melamun!" Gumam Defras melihat sepupu sekaligus CEO perusahaan tempatnya bekerja.
"Woooiii!!!" Teriak Defras sembari menggebrak meja yang membuat Reyhan tak bergeming sama sekali.
"Eh, anying!!! Dia bahkan tidak bergerak sama sekali!" Ucap Defras lagi terkejut melihat Reyhan tak bergeming.
"Rey, apa kau baik-baik saja?" Tanya Defras sibuk melambaikan tangannya kepada Reyhan untuk membuatnya tersadar.
"Eeemm, Defras! Apakah kau tau caranya membuat wanita jatuh hati hingga klepek-klepek?" Tanya Reyhan padanya.
"Oh, untung saja kau menyahut! Aku pikir kau terkena serangan stroke!" Ucap Defras sembari bernafas lega.
"Hei, kau pikir aku ini punya riwayat penyakit mematikan, hah? Enak saja kalau bicara!!!" Pekik Reyhan kesal.
"Habisnya sedari tadi aku bicara kau malah diam saja! Aku bahkan menggebrak meja kau juga tidak bergerak sama sekali!" Sahut Defras.
"Huh, cepat jawab pertanyaanku tadi!" Ujar Reyhan sewot.
"Kau ingin menaklukkan hati wanita mana?" Tanya Defras.
"Tentu saja Aleana! Kenapa kau masih bertanya? Aleana kan sudah menjadi istriku, tentu saja aku ingin menaklukkan hatinya tanpa embel-embel dari harta kekayaanku!" Sahut Reyhan semakin sewot.
"Oh, begitu! Eeemmm, sebentar aku pikirkan dulu!" Kata Defras sembari duduk di hadapan Reyhan sambil berpikir keras.
One hour later...
"Hei, masih lama kah?" Tanya Reyhan menanti ide dari sepupunya itu.
"Bersabarlah, aku sedang berpikir!" Sahut Defras sewot.
"Oke!" Sahut Reyhan terus menanti dengan sabar.
Two hour later....
Reyhan masih menanti dengan sabar dan menatap Defras yang tampak sedang berpikir keras untuk mencari cara agar dapat menaklukkan hati Aleana.
A few moment later...
Reyhan melirik ke arah jendela dan melihat langit sudah hampir gelap, namun Defras masih saja terlihat berpikir dihadapannya.
"Uuuggghh, aku sudah tidak sabar lagi menghadapi asisten gila seperti dia!" Gerutu Reyhan mengepalkan tangannya dengan erat seakan geram pada Defras.
"Aaaarrrghhhhhh...
"Aku ada ide!!!" Seru Defras membuat Reyhan mengurungkan niatnya menghantam sepupunya itu.
"Apa?" Tanya Reyhan.
"Kalian baru saja menikah, kenapa kalian tidak pergi berbulan madu saja?" Kata Defras mengutarakan idenya.
"Bulan madu?" Ucap Reyhan bingung.
"Iyalah! Aku benar kan? Setiap pasangan yang baru menikah lebih baik pergi berbulan madu untuk saling mendekatkan diri terhadap pasangannya." Sahut Defras.
__ADS_1
"Nah, selama kau berbulan madu bersama Aleana, kau harus berusaha untuk menunjukkan hal-hal romantis agar Aleana jatuh cinta padamu!" Sambung Defras.
"Hal-hal romantis." Gumam Reyhan sembari berpikir.
"Hei, wanita itu suka dengan gombalan dan juga hal-hal romantis yang ditujukan oleh pria padanya." Kata Defras lagi.
"Kau yakin ini akan berhasil?" Tanya Reyhan.
"Tentu saja!" Sahut Defras percaya diri.
"Oke! Kalau begitu bantu aku menyiapkan segala keperluan untukku pergi berbulan madu." Kata Reyhan pada Defras.
"Siiiaaaapppp!!!" Seru Defras.
"Eeemm, tapi ngomong-ngomong kalian akan berbulan madu kemana?" Tanya Defras.
"Eh iya juga! Belum terpikir olehku." Sahut Reyhan kembali bingung.
Reyhan dan Defras kembali berpikir keras untuk mencari tempat yang bagus sebagai bulan madu. Mereka mencari-cari tempat yang direkomendasikan untuk pergi berbulan madu di internet.
"Rey, menurutku kalian pergi ke luar angkasa saja!" Kata Defras.
"Kejauhan, anying!" Sahut Reyhan sewot.
"Hahaha, kan kalian bisa tidur di bulan!" Kata Defras meledek Reyhan.
"Nyari nenek moyang kita disana???" Pekik Reyhan semakin sewot.
"Hahaha, nenek moyang seorang pelaut!!!" Seru Defras sembari tertawa geli.
Reyhan menatap layar ponselnya dan melihat sebuah negara yang cocok untuk dijadikan tempat sebagai bulan madu bersama Aleana pikirnya.
"Kau yakin mau kesana?" Tanya Defras.
"Disana sedang musim dingin!" Ucap Defras lagi.
"Justru sedang musim dingin itu yang akan membuatku dan Aleana semakin dekat. Hehehe." Sahut Reyhan sembari terkekeh licik.
"Oh, maksudmu jika dingin jadi sering peluk-peluk begitu?" Tanya Defras.
Reyhan mengangguk cepat sembari tersenyum lebar.
"Waaahh, anjjjiirrr!!! Dasar otak messuumm!!!" Pekik Defras pada sepupunya itu.
"Hehehe! Atur semuanya dengan sempurna!" Kata Reyhan pada asistennya itu.
"Wwwookkeee!!!" Sahut Defras.
***
Reyhan pulang kerumahnya lebih awal dari biasanya. Saat itu Aleana sedang makan malam bersama Farrel di ruang makan. Reyhan langsung duduk di kursinya dan meminta Aleana melayaninya makan.
"Aleana, taruh nasi di piringku!" Pinta Reyhan.
"Apa kau tidak punya...
Reyhan mendekat dan berbisik padanya.
__ADS_1
"Jika kau menolak maka aku akan memotong uang bulananmu 2%. Hehehe." Bisik Reyhan terkekeh licik.
"Dasar licik!" Gerutu Aleana mau tak mau melayani apa yang Reyhan inginkan darinya di meja makan itu.
Selagi menunggu piringnya penuh dengan makanan, Reyhan berbincang dengan putranya yang begitu bersemangat ketika bercerita mengenai kegiatannya di taman kanak-kanak. Lalu Reyhan melihat piring yang ada di depannya begitu banyak terisi makanan.
"Woiiii, Aleana!!! Kau pikir aku kerbau makan sebanyak ini, hah?" Ujar Reyhan kesal.
"Kau kan pria, jadi aku pikir pria itu makannya sudah pasti banyak!" Sahut Aleana santai.
"Tidak semua pria makan makanan sebanyak ini!" Gerutu Reyhan.
"Ayolah, makan saja! Kau pasti lapar, kan?" Ucap Aleana menggoda iman Reyhan.
Reyhan tersenyum lebar dan mencolek dagu Aleana dengan tangannya yang nakal. Sementara itu Aleana menatap Reyhan yang mulai makan malam dengan setumpuk makanan yang ia letakkan.
"Hehehe, jika dia makan banyak pasti dia akan cepat tertidur, lalu aku akan terbebas dari gangguannya malam ini!" Gumam Aleana dalam hatinya sambil terkekeh licik.
"Oh iya, Aleana! Minggu depan aku dan kau akan pergi berbulan madu, jadi siapkan segala keperluanmu disana nanti." Kata Reyhan.
"Bu...bulan madu?" Ucap Aleana bingung.
"Iya! Kita akan ke Belanda!" Seru Reyhan sembari mengunyah makanannya.
"Daddy, apa aku boleh ikut?" Tanya Farrel antusias.
"No...no...no!!! Anak kecil dilarang ikut ketika orang dewasa pergi berbulan madu!" Sahut Reyhan.
"Tapi kenapa?" Tanya Farrel lesu.
"Ada banyak adegan dewasa yang kau tidak akan mengerti!" Sahut Reyhan.
"Huh, haruskah kau mengatakan itu pada putramu?" Gerutu Aleana sewot.
"Oh, jadi kau ingin aku menjabarkan apa yang aku bilang tadi?" Ancam Reyhan.
"Jaaaangaaann!!!" Pekik Aleana degan wajahnya yang memerah.
"Hehehe, kau takut kan?" Ucap Reyhan meledek Aleana.
"Dasar pria aneh!" Umpat Aleana kesal.
"Daddy, tapi aku ingin ikut! Aku ingin jalan-jalan sama mommy di Belanda." Rengek Farrel.
Reyhan menghentikan makannya dan berbisik pada putranya yang membuat Aleana seakan ingin menguping pembicaraan mereka.
"Hei, apa teman-teman di sekolahmu ada yang memiliki adik?" Bisik Reyhan pada putranya.
"Ada! Misha dan Hasson memiliki adik kembar!" Sahut Farrel.
"Nah, apa kau juga menginginkan adik?" Bisik Reyhan lagi.
Farrel mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu kau tidak boleh ikut ke Belanda, karena Daddy dan mommy akan membuat adil untukmu disana! Hehehe." Bisik Reyhan lagi.
"Oke!" Sahut Farrel tegas.
Reyhan tersenyum lebar dan kembali menyantap makan malamnya. Sementara Aleana hanya menatap bingung kepada ayah dan anak itu.
__ADS_1
"Apa yang mereka bicarakan?" Gumam Aleana dalam hatinya.