MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Pria Pemaksa


__ADS_3

Keesokan harinya, Aleana terbangun karena mendengar suara dengkuran Reyhan yang begitu berisik di telinganya. Aleana bangun dan mengambil bantal guling lalu menimpuk wajah Reyhan yang tampak begitu nyenyak tertidur.


"Berisik!!!" Pekik Aleana kesal.


"Groookkk..."


"Aduh, kepalaku pusing sekali!" Gumam Aleana meringis sambil memegangi kepalanya.


Lalu Aleana membuka matanya lebar-lebar dan melihat sekeliling ruangan kamar hotel tersebut.


"Aku dimana sih? Sejak kapan kamarku terlihat sangat bagus seperti ini?" Gumamnya dalam hati.


Lalu Aleana mendengar dengkuran Reyhan yang tertidur pulas disebelahnya.


"Waaaddaaauu!!!" Pekik Aleana kaget hingga terjatuh dari atas ranjang kamar hotel tersebut.


Gguubbrraaakk...


"Aduuuuhh, pinggangku!" Jerit Aleana kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


Aleana melebarkan kedua matanya saat ia menyentuh tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benangpun. Ia melihat dirinya sendiri dan berteriak sekencang mungkin.


"Aaaarrrghhhhhh!!! Apa yang telah terjadi padaku???" Teriak Aleana.


Kemudian ia mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam bersama Reyhan.


"Semalam dia menawari aku minum lalu kami menghabiskan satu botol anggur! Kemudian dia memesan satu botol anggur lagi dan kami meminumnya lagi, lalu aku mabuk dan...


Aleana berdiri dan menatap Reyhan yang masih tertidur pulas dengan berbalut selimut. Aleana ingin memastikan bahwa apa yang dia pikirkan tentang kejadian semalam tidak benar-benar terjadi padanya. Ia menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Reyhan secara perlahan.


"Sialan! Dia memang benar-benar meniduriku semalam!" Umpat Aleana dalam hatinya melihat tubuh Reyhan yang juga polos sama seperti dirinya.


Aleana kesal karena hal yang ia pikirkan ternyata benar-benar terjadi semalam bersama Reyhan. Ia mengambil bantal guling itu lagi dan memukuli Reyhan dengan kesal.


"Dasar pria sialan! Kau menjebakku semalam!" Umpat Aleana terus memukuli Reyhan dengan bantal guling itu sehingga Reyhan terbangun dari tidurnya.


"Hei, ada apa ini, woi!!! Kenapa kau menggangguku tidur??" Pekik Reyhan kesal.


"Masih berani bertanya setelah menjebakku semalam?" Pekik Aleana terus memukulinya.


"Apaan sih?" Teriak Reyhan.


"Lihat apa yang kau lakukan padaku semalam???" Teriak Aleana.

__ADS_1


Reyhan pun menatap Aleana tanpa mengenakan sehelai benangpun, lalu ia juga melihat tubuhnya yang polos di balik selimut tebal itu.


"Apa aku dan dia semalam...


"Hehehe, akhirnya aku buka puasa juga!" Gumam Reyhan dalam hatinya sambil terkekeh senang.


Aleana semakin kesal menatap Reyhan yang terkekeh senang karena telah menghabiskan malam bersama dirinya di kamar hotel tersebut.


"Masih berani terkekeh senang seperti itu, hah?" Pekik Aleana kesal dan kembali memukuli Reyhan dengan guling.


"Hei, lalu apa salahnya jika kita melakukanya? Kita sudah suami istri! Apa kau lupa kemarin adalah hari pernikahan kita?" Teriak Reyhan.


"Iya, tapi bukan berarti kau bisa melakukannya denganku!" Pekik Aleana lagi.


Reyhan meraih guling itu dan menariknya sehingga Aleana ikut terjatuh ke dalam dekapan Reyhan yang masih duduk di atas ranjang. Mata keduanya pun saling menatap dengan seksama.


"Apapun yang terjadi, sekarang kau adalah milikku!" Ucap Reyhan sembari menarik garis senyumannya sedikit sambil menatap mata Aleana.


"Bukan seperti itu awal perjanjian kita kan?" Pekik Aleana kesal sembari meronta agar Reyhan melepaskan dirinya.


"Kalau aku bilang kau milikku, maka kau adalah milikku!!!" Teriak Reyhan memaksa.


"Heeemmpp, dasar pria pemaksa!" Gerutu Aleana berdengus kesal.


"Eeerrmm...errrmmm!!!" Pekik Aleana tertahan karena Reyhan terus saja mencium bibirnya dengan paksa. Tangan Aleana pun sibuk menepis tangan Reyhan yang bergerak bebas di tubuhnya.


Ciuman Reyhan terlepas untuk keduanya mengambil nafas.


"Apa yang kau lakukan, Reyhan?" Pekik Aleana sembari terus meronta agar terlepas dari dekapannya.


"Aku ingin melakukannya lagi!" Ucap Reyhan langsung membalikkan posisi mereka sehingga Aleana berada di bawahnya.


Reyhan kembali melakukan apa yang ada dipikirannya terhadap Aleana. Hasrat yang begitu lama tertahan akhirnya Reyhan lepaskan bersama Aleana walaupun dengan cara memaksanya.


 


***


Di rumah mewah bak istana itu, Farrel tampak kesal menunggu kedatangan Reyhan dan Aleana. Ia mondar-mandir sambil sesekali menengok ke halaman depan rumah.


"Cih, kemana sih mommy dan daddy? Apa merek tidak ingat padaku?" Gerutu Farrel gondok setengah mati.


"Tuan muda, mungkin daddy dan mommy masih berada di hotel! Kemarin mereka sangat lelah jadi kemungkinan mereka akan menginap semalam lagi di hotel." Kata Eugene pada Farrel.

__ADS_1


"Kalau begitu aku ingin ke hotel tempat daddy dan mommy menginap! Aku ingin tidur bersama mereka disana." Sahut Farrel begitu polos.


"Hehehe, aku harus apa ya lord? Tidak mungkin aku mengatakan kalau tuan Reyhan dan nyonya Aleana sedang na ena disana pada bocah berusia 5 tahun ini!" Gumam Eugene dalam hatinya.


"Eugene, ayo kita pergi! Antarkan aku bertemu dengan daddy dan mommy!" Pekik Farrel.


Eugene tampak kebingungan harus berbuat apa agar Farrel mengurungkan niatnya itu. Tak lama tampak mobil Reyhan masuk ke dalam pekarangan rumah.


"Itu daddy!" Seru Farrel begitu senang melihat mobil yang sering digunakan oleh Reyhan. Namun saat Farrel akan menghampirinya, yang turun dari mobil itu bukan Reyhan melainkan Defras.


"Om Defras!" Gumam Farrel bingung.


Defras segera mendekati Farrel yang menatap bingung padanya.


"Selamat pagi, Farrel!" Sapa Defras.


"Om, dimana daddy dan mommy?" Tanya Farrel.


"Daddy dan mommy sedang bermesraan di kamar hotel!!!" Seru Defras bicara seenak jidatnya saja kepada bocah berusia 5 tahun itu.


"Eehheemmm, tuan Defras anda baru saja bicara pada bocah lima tahun!" Ucap Eugene untuk mengingatkannya.


"Biarkan saja! Dia juga tidak mengerti apa yang aku bilang barusan!" Sahut Defras dengan santainya.


"Hei, om! Siapa bilang aku tidak tau maksud perkataan om! Aku tau! Daddy dan mommy sedang berciuman sambil berpelukan lalu tiba-tiba nanti keluar adik bayi! Hooorrreeee...., Aku akan punya adik bayi!!!" Seru Farrel ternyata mengerti apa yang dimaksud dengan bermesraan.


"Wwwhhhaaatt???" Pekik Eugene dan Defras kaget setengah mati mendengar perkataan bocah 5 tahun itu.


"Dari mana kau tau hal itu, hah?" Teriak Defras.


"Dari teman sekolahku di taman kanak-kanak! Katanya dia pernah melihat orang tuanya bermesraan. Hehehe." Sahut Farrel.


"Haaaah, tidak seharusnya orang tua melakukan hal tersebut di depan anak-anak mereka! Itu akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka." Ucap Eugene menghela nafas panjang.


"Kau benar, Eugene!" Sahut Defras.


"Makanya, nanti kalau tuan menikah jangan lakukan hal itu di depan anak anda ya, tuan! Kata Eugene seakan menasehati Defras.


"Hei hei hei, kenapa kau bicara seperti itu padaku, hah? Sok-sokan menasehatiku, kau sendiri belum menikah diusiamu yang hampir 50 tahun itu!" Pekik Defras sewot.


"Haaaah, aku sendiri tak memikirkan lagi soal pernikahan, tuan! Usiaku hanya akan aku habiskan untuk keluarga yang somplak ini! Hiks...hiks...hiks..." Sahut Eugene nangis bombai.


"Kau juga somplak, Eugene!!!" Pekik Defras lagi.

__ADS_1


Farrel hanya bisa tepok jidat melihat tingkah laku dua orang pria dewasa yang sedang berargumen dihadapannya.


__ADS_2