
Sebelum acara pernikahan selesai, Aleana memutuskan untuk kembali ke kamar pengantin. Ia merasa sangat lelah setelah seharian bermanis-manis mulut kepada para tamu undangan yang semuanya adalah rekan bisnis dari Reyhan. Aleana berdiri di depan cermin dan menatap wajahnya.
"Haah, mulutku seakan kaku seharian terus tersenyum lebar pada semua tamu! Gigiku bahkan terasa kering." Gerutu Aleana sembari membuka gaun pengantin yang ia kenakan.
"Eh, kalau aku mandi apa ada pakaian ganti disini?" Gumam Aleana dalam hatinya.
Aleana melirik pada sebuah lemari pakaian dan membukanya.
"Waaaddaaauu!!! Sepertinya pria menjengkelkan itu sungguh-sungguh berniat untuk menindasku malam ini! Heh, dia kira aku ini wanita gampangan, apa? Walaupun aku wanita matre, bukan berarti aku akan menyerahkan segalanya untuk pria yang baru aku kenal!" Ucap Aleana melirik semua pakaian yang menggantung di lemari pakaian itu yang semuanya berjenis pakaian tidur yang tipis.
Aleana duduk sambil melipat kedua tangannya dan berpikir.
"Heeeemm, jadi aku harus pakai baju apa setelah mandi nanti? Apa aku kabur saja dari sini?" Gumam Aleana.
Aleana membuka pintu dan melangkah keluar ke arah balkon kamar. Ia melihat ke pinggir dan menatap betapa tingginya lantai hotel yang menjadi tempat pernikahannya tersebut.
"Aku pasti mati bila melompat ke bawah! Haaaah, aku lebih sayang pada diriku sendiri dari pada yang pastinya!" Gumamnya lagi dan mengurungkan niatnya untuk kabur.
Lalu Aleana kembali masuk ke dalam dan mengunci pintu balkon tersebut.
"Apa kau mau kabur, hah?" Ucap Reyhan secara tiba-tiba.
"Aarrgghh!!!" Pekik Aleana kaget.
"Dasar pria menjengkelkan! Jantungku hampir copot gara-gara kau!" Pekik Aleana kesal pada suaminya itu.
"Kau sedang apa di balkon kamar? Apa kau mau kabur?" Teriak Reyhan.
"Aku tidak kabur, melainkan ingin bunuh diri karena merasa kesal menjadi istrimu!" Sahut Aleana.
"Kau tenang saja, pernikahan ini hanya demi menyenangkan putraku saja! Lagipula kau tidak perlu bekerja keras lagi di toko kuemu itu karena aku akan memberikan segalanya padamu!" Kata Reyhan.
"Benarkah? Kau yakin akan memberikan apapun yang aku mau?" Tanya Aleana degan mata yang berbinar-binar.
"Apapun itu! Tas mahal, sepatu mahal, gaun mahal, perhiasan, uang dan jika kau mau aku bisa membelikanmu sebuah apartemen mewah!" Sahut Reyhan.
"Wah, iya...iya...aku mau apartemen mewah!" Seru Aleana.
"Tapi ada syaratnya! Hehehe." Ucap Reyhan terkekeh licik.
"Heeemm, aku punya firasat buruk melihat senyumannya itu!" Gumam Aleana dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" Tanya Aleana.
"Kau harus menuruti semua keinginanku!" Sahut Reyhan sembari melangkah mendekati Aleana.
"A...apa maumu?" Tanya Aleana gugup sembari melangkah mundur hingga mentok di tembok kamar. Reyhan mendekatinya dan berbisik padanya.
"Aku ingin kau melakukan semua yang aku inginkan, termasuk menghangatkan ranjang tidurku!" Bisik Reyhan.
"No...no...no...!!! Impossible!!! Aku tak mau melakukanya!" Pekik Aleana.
"Kenapa?" Teriak Reyhan kesal karena di tolak mentah-mentah oleh Aleana.
"Perjanjian kita adalah aku harus menjadi mommy untuk putramu dan sebagai gantinya kau memberikan apapun yang aku inginkan! Kau lupa kalau aku juga punya syarat saat itu, hah?" Balas Aleana.
"Apa kau juga lupa kalau aku menolaknya waktu itu?" Teriak Reyhan tak mau kalah.
"Tapi waktu itu kau sudah setuju dengan syarat yang aku ajukan!" Sahut Aleana.
"Aku bilang, tidak!!!" Pekik Reyhan berkeras.
"Heeemmmppp!!!" Aleana hanya bisa berdengus kesal karena tak bisa menang dari pria yang menjengkelkan itu.
"Pergilah mandi!" Kata Reyhan pada Aleana.
"Kenapa? Apa kau ingin tidur dalam keadaan seperti ini?" Tanya Reyhan.
"Aku tidak punya pakaian ganti!" Sahutnya lagi.
Reyhan membuka lemari pakaian itu dan melihat semua isinya. Ia menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya dan tau apa yang membuat Aleana tak ingin mengganti gaun pengantinnya itu.
"Hehehe, dengan semua ini aku dan dia pasti akan......
"Hei, simpan pikiran kotorku itu! Aku tidak akan melewatkan malam ini seperti apa yang kau pikirkan!" Ujar Aleana sewot.
"Cih, dasar wanita sialan! Apa dia tidak mengerti kalau aku sudah puasa selama hampir 5 tahun! Semenjak Linda meninggalkan aku demi pria lain, aku tidak pernah merasakan belaian dari wanita lagi!" Gerutu Reyhan dalam hatinya.
Reyhan berbalik menatap Aleana yang juga menatapnya.
"Apa lihat-lihat!!!" Ujar Aleana dengan judesnya.
"Heh, kita sudah suami istri! Bukankah sah-sah saja kalau aku menginginkannya? Hehehe." Ucap Reyhan sembari terkekeh jahat.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" Pekik Aleana.
"Hei, tenanglah! Malam ini aku tidak akan memaksa bila kau tidak mau!" Kata Reyhan.
"Lalu?" Tanya Aleana.
"Aku berniat ingin merayakannya denganmu!" Kata Reyhan ingin mengelabui Aleana.
"Tidak perlu merayakannya! Tidak ada yang spesial dari pernikahan ini." Sahut Aleana.
Reyhan melirik sebotol anggur yang disediakan di samping ranjang tidur itu. Ia mengambil gelas yang ada di samping botol itu dan menuangkan minuman tersebut kedalamnya.
"Mari kita bersulang!" Kata Reyhan sembari memberikan segelas anggur itu pada Aleana.
"Heh, dia pikir aku payah dalam minum!" Gumam Aleana dalam hatinya sambil menatap wajah Reyhan yang tersenyum licik padanya.
"Baiklah, mari kita bersulang untuk merayakan hari pernikahan kita yang mendadak ini!" Seru Aleana.
Kedua pasangan suami istri yang baru saja menikah itu pun langsung meneguk minuman yang jelas-jelas akan membuat mereka mabuk.
Sebotol minuman beralkohol itu pun habis. Namun Aleana dan Reyhan masih bisa menguasai diri mereka walaupun sudah merasa sedikit mabuk.
"Heh, cuma segitu kemampuanmu?" Kata Aleana seolah menantang Reyhan.
"Ternyata dia kuat minum juga!" Gumam Reyhan dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan pesan sebotol lagi!" Kata Reyhan.
Tak lama menunggu pesanannya pun datang. Namun kali ini Aleana lah yang menuangkan minuman itu ke gelas mereka berdua. Reyhan dan Aleana pun terus menenggak minuman tersebut secara bersamaan. Tegukan demi tegukan membuat keduanya hilang kendali.
"Dasar pria gila!" Racau Aleana sudah terlalu mabuk.
"Kau cewek matre yang menyebalkan!" Racau Reyhan ternyata sama kondisinya seperti Aleana.
Keduanya pun jatuh terkulai di atas ranjang tidur yang terhias indah dengan kelopak bunga mawar merah. Lalu keduanya saling menoleh dan menatap.
"Hai, tampan! Hehehe." Racau Aleana.
"Hai, kelinci kecil! Hehehe." Racau Reyhan.
"Apa kau siap untuk aku makan, hah? Hehehe." Bisik Reyhan.
__ADS_1
"Apa kau seekor serigala? Hehehe." Ucap Aleana tak sadar akan apa yang ia ucapkan begitu pula dengan Reyhan.
Tanpa mereka sadari, keduanya pun melakukan apa yang memang seharusnya mereka lakukan sebagai suami dan istri. Dalam keadaan mabuk berat keduanya menikmati malam pertama mereka di kamar hotel tersebut.