MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Merasa Terhina


__ADS_3

Tiba di sebuah gedung pernikahan, Reyhan menyeret Aleana yang terus berontak sambil mendekap lembaran-lembaran uang itu. Defras hanya bisa tepok jidat melihat kedua pasangan calon pengantin yang sedari tadi saling menghujat satu sama lain ketika dalam perjalanan. Reyhan mendudukkan Aleana pada sebuah ruangan yang terlihat begitu indah dengan hiasan penuh bunga mawar berwarna merah.


"Duduk disini dan jangan pernah berpikir untuk kabur! Aku akan memerintahkan beberapa pengawal pribadiku untuk menjagamu." Kata Reyhan pada Aleana.


"Apakah ini kamar pengantin?" Tanya Aleana sembari celingak-celinguk melihat sekeliling kamar tersebut.


"Tentu saja! Masa iya, ini kamar mayat!" Sahut Reyhan.


"Kau mayatnya!" Seru Aleana sewot.


"Tunggu aku disini!" Kata Reyhan lagi.


"Kau mau kemana?" Tanya Aleana.


"Aku ingin menemui kedua orang tuaku terlebih dahulu sebelum acara pernikahan dimulai." Sahut Reyhan.


Melihat Reyhan melangkah keluar kamar, seketika Aleana mendapatkan ide cemerlang untuk membatalkan pernikahan tersebut.


"Heeemm, kalau aku bertemu dengan kedua orang tuanya Reyhan, aku bilang saja kalau aku menikah dengan putra mereka dengan alasan karena ingin menguasai hartanya. Aku yakin kalau aku bilang seperti itu, pasti kedua orang tua Reyhan tidak akan mengizikan aku menjadi menantu mereka dan pasti pernikahan ini akan dibatalkan! Yeeeyyy, itu sangat mudah!" Seru Aleana kegirangan.


Hampir se-jam lamanya, Aleana menunggu di dalam kamar pengantin yang akan menjadi tempatnya menghabiskan malam setelah acara pernikahan bersama Reyhan. Aleana mulai gerah karena tak sabar menunggu di dalam kamar itu dengan di jaga oleh beberapa pengawal pribadi Reyhan agar dia tidak melarikan diri.


"Sialan! Kemana pria menyebalkan itu?" Gerutu Aleana kesal.


Lalu tak lama Aleana menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Ia melihat seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan tajam. Aleana juga melirik pada pengawal-pengawal pribadi Reyhan yang tampak memberi hormat pada wanita tersebut.


"Hei, siapa dia?" Bisik Aleana bertanya pada salah seorang pengawal pribadi Reyhan.


"Dia adalah nyonya besar!" Sahutnya.


"Apa maksudmu dia adalah ibunya Reyhan?" Tanya Aleana lagi.


"Iya, nyonya!" Sahutnya lagi.


Aleana menatap wajah wanita paruh baya itu yang terlihat begitu sangar.


"Hehehe, sepertinya dia wanita yang angkuh dan juga berkelas! Aku yakin ini akan mudah untuk menggagalkan pernikahan ini." Gumam Aleana dalam hatinya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu pun berdiri dihadapan Aleana yang menatapnya sedari tadi.


"Apa kau yang bernama Aleana?" Tanya ibunya Reyhan yang sering di sapa Merry.


"Iya!" Sahut Aleana santai.


"Kau tidak pantas untuk putraku!" Seru Merry menatap tajam pada Aleana.


"Apa?" Ucap Aleana kaget.


"Kau wanita matre yang hanya bisa membuat kue murahan dan tidak berkelas sama sekali!" Kata Merry merendahkan profesi Aleana sebagai chef pembuat kue lulusan luar negeri.


"Wanita yang pantas mendampingi putraku hanyalah wanita berkelas dan memiliki pendidikan lulusan luar negeri." Kata Merry lagi.


"Haaah, aku kan lulusan universitas luar negeri juga! Hanya saja aku mengambil jurusan Pastry Chef!" Gumam Aleana dalam hatinya.


"Kau wanita rendahan! Ibu dan ayahmu juga orang-orang rendahan. Kalian bersekongkol untuk menguasai harta putraku kan?" Ujar Merry menghina Aleana beserta keluarganya.


"Cih, kalau dia hanya menghinaku saja aku tak masalah! Tapi kalau dia menghina ayah dan ibuku, itu sama saja dia telah memukul genderang perang padaku!" Gerutu Aleana dalam hatinya.


Mendengar hinaan yang Merry lontarkan kepada dirinya dan juga kedua orang tuanya, Aleana langsung berubah pikiran. Ia seakan ingin menantang Merry.


"Tentu saja!" Sahutnya.


"Aku akan memberimu sejumlah uang yang banyak, tapi kau harus pergi meninggalkan putra dan cucuku!" Sambungnya lagi dengan nada yang arogan.


"Heh, aku ini memang wanita matre, nyonya! Tapi bukan berarti aku begitu mudah untuk diatur-atur oleh orang lain." Sahut Aleana.


"Apa kau menantangku, hah?" Teriak Merry kesal.


"Eeemm, bisa jadi!" Sahut Aleana santai.


"Dasar wanita kurang ajar, kau!" Pekik Merry seraya menampar wajah Aleana dengan keras.


"Heh, dia benar-benar mencari masalah denganku!" Gerutu Aleana dalam hatinya semakin memantapkan diri untuk menantang ibunya Reyhan.


"Ma! Apa yang mama lakukan pada calon istriku?" Teriak Reyhan tiba-tiba masuk dan melihat Merry menampar wajah Aleana.

__ADS_1


"Dia berlaku tidak sopan padaku! Apa wanita rendahan seperti ini yang kau jadikan sebagai istrimu, hah? Apa kau tidak belajar dari pengalamanmu yang menikahi wanita liar seperti Linda dan akhirnya berujung perceraian?" Teriak Merry marah pada Reyhan.


"Ma, cukup!!!" Teriak Reyhan.


"Ini hidupku! Ini pilihanku! Aku bahagia ataupun tidak itu sudah menjadi keputusanku! Mama tidak usah ikut campur dalam kehidupanku!" Teriak Reyhan lagi.


"Reyhan! Mama melakukan ini semua agar kau tidak terluka lagi oleh wanita-wanita rendahan seperti mereka!" Kata Merry.


"Mereka siapa maksud mama? Linda?" Tanya Reyhan.


"Tentu saja, siapa lagi?" Sahut Merry.


"Ma, aku menyuruh mama untuk datang ke pesta pernikahanku ini bukan untuk menghancurkannya, tapi karena aku masih menghargai mama sebagai ibu kandungku! Jika mama tidak berkenan hadir disini, setidaknya mama jangan mengacaukan rencanaku." Kata Reyhan.


"Kau benar-benar susah di atur!" Gerutu Merry sembari menatap kesal pada Aleana.


"Sampai matipun aku tidak akan pernah merestui pernikahanmu dengan wanita matre ini!" Ucap Merry pada Reyhan sembari melangkah keluar dari kamar itu.


Setelah ibunya pergi, Reyhan menatap pipi Aleana yang tampak memerah akibat tamparan yang dilayangkan oleh Merry.


"Kau tidak apa-apa? Maafkan mamaku yang...


'Tidak usah banyak bicara! Ayo kita lakukan pernikahan ini agar semuanya cepat selesai!" Kata Aleana menyeret Reyhan pergi ke ruang acara pernikahan.


Acara pernikahan itu pun dimulai. Robert selaku ayah Aleana menggandeng tangan putrinya itu untuk melangkah bersama menuju altar pernikahan.


"Nak, apa kau yakin?" Tanya Robert pada Aleana.


"Haaah.." Aleana hanya menghela nafas saja.


"Dia menghina keluarga kita, sayang!" Ucap Robert lagi yang membuat Aleana kaget.


"Sialan! Jadi mamanya Reyhan lebih dulu menemui kedua orang tuaku dan menghina mereka sebelum diriku! Aku tidak bisa terima ini. Aku akan membalas semua penghinaannya itu." Gerutu Aleana dalam hatinya.


"Ayah, tenang saja! Aku tau apa yang akan aku lakukan." Sahut Aleana.


Robert pun menyerahkan putrinya itu pada Reyhan. Mereka berdua mengucapkan sumpah janji pernikahan sebagai saksi semua tamu undangan yang hadir di acar pernikahan tersebut. Setelahnya, Aleana melirik pada Merry yang menatap geram terhadapnya. Aleana menyunggingkan senyuman licik kepada Merry. Hal itu terlihat oleh Reyhan. Ia tau bahwa Aleana memiliki perang dingin terhadap ibunya.

__ADS_1


"Heh, wanita ini memiliki sifat yang tak bisa di duga-duga!" Gumam Reyhan dalam hatinya semabari menatap pada Aleana yang telah menjadi istrinya.


__ADS_2