MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Kecewa Berat


__ADS_3

Reyhan dan Aleana pun terbang ke Belanda untuk menikmati bulan madu mereka setelah beberapa waktu lalu menikah. Tiba di negara kincir angin itu, cuaca disana sedang mengalami musim dingin. Tumpukan salju banyak terlihat sepanjang jalan ketika mereka menuju ke sebuah penginapan yang tak jauh dari pusat kota Amsterdam.


"Aaah, aku lelah sekali!" Ucap Aleana menghempaskan tubuhnya di atas ranjang hotel.


Reyhan tersenyum lebar dan berdiri di hadapan wanita berambut pirang tersebut. Ia lantas naik ke atas ranjang tersebut dan menimpa tubuh istrinya.


"Rey, jangan memulainya, oke! Aku benar-benar lelah." Gerutu Aleana.


"Kau tenang saja, aku tak memulainya saat ini tapi nanti malam!" Bisik Reyhan.


"Jangan!" Ucap Aleana.


"Kenapa? Kita tiba disini saat hari masih siang dan kau bisa beristirahat sebelum malam nanti akan menikmati malam bulan madu kita yang indah! Hehehe." Kata Reyhan terkekeh senang.


"Aahh, nanti kau juga akan tau alasannya kenapa aku tak ingin melakukannya denganmu nanti malam." Sahut Aleana membuat Reyhan bingung.


"Apaan sih?" Gumam Reyhan penasaran.


"Menyingkirlah! Aku akan mandi air hangat dan segera tidur." Kata Aleana.


"Oh, iya! Pesan makanan juga ya. Aku lapar." Kata Aleana lagi.


"Iya, baiklah!" Sahut Reyhan.


Reyhan pun menghampiri telepon di samping ranjang tidur dan menghubungi pihak hotel untuk memesan makanan untuknya dan juga Aleana. Sementara Aleana tampak masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri dengan mandi air hangat dikarenakan cuaca di kota Amsterdam sedang musim dingin.


Setelah mandi dan mengenakan pakaian hangatnya, Aleana duduk makan bersama Reyhan untuk menyantap makanan hotel yang serba mewah. Aleana makan dengan lahap mengisi perutnya sebelum ia beristirahat.


"Heeem, enak sekali makanannya!" Seru Aleana.


"Makanlah yang banyak!" Seri Reyhan menatap Aleana dengan tatapan licik.


"Baiklah!" Seru Aleana kegirangan.


"Hehehe, nanti malam aku yang akan memakanmu, Aleana! Aahh, aku jadi gak sabar untuk menyantap istriku ini." Seru Reyhan dalam hatinya.


Setelah makan banyak, Aleana pun tertidur dengan pulas di atas ranjang itu. Reyhan yang ikut berbaring disebelahnya tak berniat untuk mengganggu istrinya tersebut karena ia memiliki rencana lain saat malam tiba.


"Aku harus tidur nyenyak siang ini, agar malam nanti aku dan Aleana dapat menghabiskan waktu bersama! Aku akan melakukannya dengan cara yang begitu romantis! Hahahaiiii..." Seru Reyhan lagi dalam hatinya dengan segala rencana nakalnya untuk menindas Aleana.


Malam pun tiba, Reyhan terbangun setelah tertidur cukup lama di sebelah Aleana yang tampak masih pulas tidur. Reyhan melirik jam yang digital yang tertempel di dinding, menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat.


"Udah malam! Aku tertidur cukup lama." Gumam Reyhan sembari duduk diatas ranjang itu.


Lalu Reyhan melirik istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Eh, aku dan Aleana kan sedang menikmati bulan madu disini!" Seru Reyhan mengingat bahwa ia sedang berada di kota Amsterdam.


Reyhan kembali berbaring dan mendekap tubuh Aleana sembari mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang!" Bisik Reyhan mencoba untuk membangunkan Aleana.


Tak ada sahutan dari waniat berambut pirang itu. Jangankan sahutan, Aleana bahkan tak bergerak sedikitpun.


"Eh, apa dia mati?" Gumam Reyhan bingung karena Aleana tak kunjung bangun.


"Aleana!" Panggil Reyhan lagi berupaya membangunkannya, namun tetap saja tak ada sahutan.


"Oh, aku coba cek denyut jantungnya!" Seru Reyhan tak berpikir panjang melakukan hal tersebut.


Reyhan meletakkan tangannya di atas dada sintal Aleana dengan maksud untuk mengetahui detak jantungnya. Karena tak kunjung mendengar detak jantung istrinya itu, Reyhan pun sibuk menggerak-gerakkan tangannya tersebut di dada Aleana sehingga Aleana terbangung dan mendapati tangan Reyhan sedang menyentuh bagian dadanya.


"Aaarrggghhh!!!" Teriak Aleana.


"Aaarrgghh!!!" Teriak Reyhan kaget karena mendengar teriakan Aleana.


Dengan spontan Aleana berbalik dan menendang tubuh Reyhan hingga terpental jatuh dari atas ranjang itu.


Ggguuubbraaaakk...


"Aduh, sialan! Kenapa kau menendangku?" Pekik Reyhan meringis kesakitan.


"Kau yang sialan! Kenapa kau menyentuh asetku, hah?" Pekik Aleana sewot pada Reyhan.


"Kau mengambil kesempatan disaat aku tidur kan? Iya, kan? Mengaku saja!" Pekik Aleana lagi.


"Lantas apa, hah?" Tanya Aleana.


"Tadi kau tidur seperti orang mati, aku berupaya untuk membangunkanmu tapi kau tak kunjung bangun, aku pikir kau mati makanya aku menyetuh dadamu untuk mendengarkan detak jantungmu!" Sahut Reyhan dongkol setengah mati pada istrinya tersebut.


"Huh, alasan! Dimana-mana kalau ingin mendengarkan detak jantung itu pakai telinga bukan pakai tangan, dodol!" Seru Aleana tak kalah dongkolnya pada Reyhan.


"Tapi aku berkata yang sejujurnya!" Teriak Reyhan.


"Aku tidak percaya! Dasar cabul!" Teriak Aleana.


"Apa? Kau bilang aku cabul?" Ucap Reyhan terkejut.


"Iya! Kenapa, hah? Gak senang?" Pekik Aleana.


"Oh, baiklah! Aku akan menunjukkan seberapa cabul aku. Hehehe." Seru Reyhan sembari terkekeh dan mendekati Aleana.


"Ma...mau apa kau?" Tanya Aleana mundur perlahan.


"Menindasmu!" Sahut Reyhan secara tiba-tiba menangkap Aleana sehingga mereka berdua pun jatuh di atas ranjang itu.


Reyhan lantas mencium bibir Aleana dengan paksa dan mendorong lidahnya untuk masuk ke dalam mulutnya.


"Eerrrmmm....eerrrmmm..." Pekik Aleana tertahan ketika Reyhan memaksa untuk menciumnya.

__ADS_1


Tangan Reyhan bergerak bebas menyentuh tubuh istrinya itu. Sementara Aleana sibuk menepis segara serangan yang Reyhan berikan terhadapnya. Ciuman itu turun ke leher Aleana, membuatnya tak bisa memekik perlahan dengan nafas yang tak beraturan.


"Aahh, Rey...jangan..." Ucap Aleana berupaya untuk menolak keingina suaminya itu.


Reyhan tak perduli dan terus melakukannya.


"Aaahh...aku...aku...aahhh....


Saat tangan Reyhan akan masuk ke dalam sela kakinya, Aleana langsung memekik dengan keras.


"Rey, jangan!!!" Pekik Aleana membuat Reyhan kaget dan menghentikannya.


"Apa sih? Kau mau menolakku? Aku akan memotong uang bulananmu nanti!" Teriak Reyhan dongkol.


"Bukan begitu, Rey! Aku...aku gak bisa melakukannya." Sahut Aleana dengan wajahnya yang memerah.


"Kenapa? Jangan beralasan yang...


"Sssttt!!!" Aleana langsung menutup mulut Reyhan dengan jarinya.


"Aku sedang datang bulan!" Bisik Aleana pada telinga suaminya itu.


Reyhan lantas menatap Aleana dengan tatapan penuh kecewa.


"Sejak kapan?" Tanya Reyhan.


"Tadi pagi!" Seru Aleana melebarkan senyumannya.


"Tadi pagi?" Tanya Reyhan lagi dengan tatapannya seakan kecewa berat.


Aleana menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Serius nih?" Tanya Reryhan lagi seakan tak percaya.


"Kau belum beruntung, sayang!" Seru Aleana dengan wajah sumringah karena berhasil membuat Reyhan kecewa.


"Coba lagi nanti!" Bisik Aleana lagi.


"Kapan?" Tanya Reyhan seakan mewek dihadapan Aleana.


"Seminggu lagi, mungkin?" Sahut Aleana dengan jawaban yang tak pasti.


"Aaaarrggghhh!!! Aku bisa gila jika menunggu selama itu!!!" Teriak Reyhan seraya bangkit dari atas rnajang itu dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Hehehe, dengan masuk ke kamar mandi adalah hal yang tepat untukmu, sayang!" Seru Aleana meledek Reyhan.


"Kau menyebalkan, Aleana!!!" Teriak Reyhan lagi yang sudah masuk ke dalam kamar mandi sembari membanting pintunya dengan keras.


"Oh, pria yang yang malang! Niatnya mau bulan madu untuk menindasku, tapi malah gagal! Hahaha." Ucap Aleana tertawa senang berhasil mengerjai Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2