
Reyhan melirik Aleana tampak cemberut setelah seharian jalan-jalan di mall bersama dirinya dan juga Farrel. Reyhan penasaran apa yang membuat wanita yang baru ia nikahi itu tampak cemberut. Ketika duduk di mobil dan akan segera kembali ke rumah, Reyhan mendekatinya.
"Hei, ada apa? Kenapa kau cemberut?" Tanya Reyhan yang sudah mulai memiliki ketertarikan lebih pada Aleana.
"Daddy, sebenarnya mommy ingin pergi ke toko kue! Mommy ingin kerja!" Sahut Farrel buka mulut.
"Cih, kau masih saja ingin pergi bekerja?" Tanya Reyhan seraya melotot padanya.
"Tentu saja! Pembukuan bulan ini belum aku periksa." Sahut Aleana sewot.
"Dasar wanita gila kerja!" Gerutu Reyhan.
"Daddy juga gila kerja! Hehehe." Sahut Farrel.
"Huh, dia pun sama! Pakek ngatain orang segala!" Gerutu Aleana.
Tiba di halaman rumah, Reyhan menarik tangan Aleana agar tidak langsung turun dari mobil. Aleana pun bingung dan menoleh padanya.
"Ada apa?" Tanya Aleana
"Bukannya kau ingin pergi ke toko kuemu untuk memeriksa pembukuan bulanan?" Kata Reyhan.
"Eh, apa aku boleh pergi?" Tanya Aleana dengan senyuman yang mengambang.
"Tentu, tapi denganku!" Sahut Reyhan.
"Huh, menyebalkan!" Gerutu Aleana.
"Kapan aku punya waktu sendiri?" Gerutu Aleana lagi.
"Saat kau berada di kamar mandi!" Sahut Reyhan.
"Aku tak yakin! Kau juga selalu mengganggu waktuku di sana!" Gerutu Aleana sewot.
"Hehehe." Reyhan hanya terkekeh saja dengan wajah tanpa dosa.
"Daddy, apa aku boleh ikut pergi ke toko kue mommy?" Pinta Farrel.
"Tidak boleh! Kau harus tidur! Ini sudah hampir larut." Sahut Reyhan.
"Huh, menyebalkan!" Gerutu Farrel kesal sembari turun dari mobil itu.
Setelah Farrel benar-benar masuk ke dalam rumah bersama pengasuhnya, Reyhan menyuruh supir untuk pergi ke toko kue milik Aleana.
Selang beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Reyhan dan Aleana pun tiba di depan toko tersebut. Mereka segera masuk dengan kunci cadangan yang biasa di pegang oleh Aleana sebagai pemilik toko kue itu. Reyhan mengikuti langkah Aleana yang masuk ke dalam sebuah ruang kerja yang identik dengan warna ungu.
"Heeemm, ingin semuanya! Sampai perabotnya juga berwarna ungu." Gumam Reyhan menatap ke segala arah di ruangan tersebut.
"Rey, duduklah! Aku akan mengerjakannya secepat mungkin!" Kata Aleana.
"Tak usah buru-buru, kita memiliki waktu yang panjang malam ini! Bukankah begitu istriku yang matre? Hehehe." Sahut Reyhan sembari terkekeh.
__ADS_1
"Cih, dasar otak kotor! Pasti dia memiliki rencana jahat padaku di ruangan ini!" Gerutu Aleana dalam hatinya.
Tak ingin ambil pusing, Aleana pun segera mengerjakan apa yang setiap bulannya ia lakukan. Aleana duduk di meja kerjanya sambil membuka beberapa buku catatan mengenai pemasukan dan pengeluaran dari bisnis yang sedang ia jalankan.
Di sofa empuk berwarna ungu itu Reyhan menatap Aleana yang tampak serius dalam melakukan pekerjaannya. Reyhan tak henti-hentinya bergumam di dalam hatinya memperhatikan serta memberikan penilaian terhadap istrinya itu.
"Menurutku dia wanita yang suka bekerja keras! Dia begitu serius dalam melakukan pekerjaannya. Kalau di perhatikan lebih dalam wanita ini tidak buruk untuk dijadikan pasangan. Ya, walaupun dia matre dan juga judes." Gumam Reyhan dalam hatinya.
"Dua hari setelah pernikahan, aku belum tau seluk-beluk mengenai hidupnya. Kalau aku memiliki waktu senggang aku akan mendekati kedua orang tuanya untuk mencari tau jati dirinya." Gumam Reyhan dalam hatinya lagi sambil terus menatap pada Aleana.
Merasa di tatap Aleana pun melirik pada Reyhan yang duduk tepat dihadapannya. Saat Aleana meliriknya, Reyhan memonyongkan bibirnya seakan ingin memberikan ciuman pada Aleana.
"Cih, dasar!" Gerutu Aleana kembali fokus dalam memeriksa pembukuan bulanan tersebut.
Hampir dua jam Reyhan menunggu Aleana mengerjakan pekerjaannya di ruangan itu. Tanpa terasa kantuknya pun datang dan Reyhan tertidur di sofa tersebut.
"Aaahh, akhirnya selesai juga!" Seru Aleana sembari merenggangkan otot tubuhnya di sebuah kursi yang ia duduki.
Lalu Aleana melirik pada Reyhan yang sudah tertidur di sofa itu. Aleana pun bangkit dan mendekati suaminya yang tampak tertidur begitu pulas disana. Aleana membungkukkan tubuhnya sedikit dana menatap wajah Reyhan lebih dekat.
"Sebenarnya dia pria yang tampan dan yang pastinya dia juga kaya raya! Hehehe." Gumam Aleana terkekeh dalam hatinya.
"Tapi bagaimana dengan kehidupan pernikahan yang tak jelas ini nantinya ya? Apa akan ada cinta yang tumbuh di antara kami? Atau akan berakhir dengan perceraian?" Gumam Aleana lagi dalam hatinya.
Saat terus menatap wajah Reyhan, tiba-tiba saja Aleana mendengar suara langkah kaki yang mendekati ruang kerjanya. Aleana tentunya merasa penasaran. Ia pun pergi keluar dari ruangannya dan melihat beberapa orang pria yang tak dikenal telah masuk ke dalam toko kuenya itu.
"Ya, Tuhan! Apa itu maling?" Ucap Aleana dalam hatinya.
"Rey... Rey.." Bisik Aleana sembari mengguncang-guncangkan tubuh Reyhan agar segera terbangun dari tidurnya.
"Rey, bangun!" Bisik Aleana lagi.
"Heemmm???" Sahut Reyhan membuka matanya secara perlahan dan menatap Aleana.
Reyhan yang belum mengetahui apa-apa langsung meraih tubuh Aleana hingga jatuh ke atas tubuhnya.
"Malam ini kau terlihat agresif, Aleana! Hehehe." Ucap Reyhan menatap istrinya itu.
"Agresif gundulmu itu!" Ujar Aleana degan judesnya.
"Ada maling!" Bisik Aleana.
"Hah, maling?" Ucap Reyhan seakan tak percaya.
"Mana mungkin maling bisa masuk ke dalam sini, ada supirku yang sedang berjaga di luar." Kata Reyhan lagi.
"Tapi aku benar-benar melihat beberapa orang pria masuk ke dalam toko kue ini!" Sahut Aleana.
Reyhan pun segera meraih ponselnya dan menghubungi supir pribadinya yang berjaga di depan. Namun saat dihubungi, ponsel sang supir tidak aktif.
"Ada apa ini? Kenapa ponselnya mati?" Gumam Reyhan dalam hatinya.
__ADS_1
"Ada yang tidak beres! Aku akan mengeceknya." Kata Reyhan bangkit dan hendak keluar dari ruangan itu.
"Hei, kau mau kemana? Mereka bertubuh besar!" Ucap Aleana dengan suara yang begitu pelan sembari menahan Reyhan agar tidak keluar ruangan itu.
"Aku ingin mengeceknya sebentar! Aku ingin tau siapa mereka." Kata Reyhan tak perduli dan keluar dari ruangan itu secara mengendap-endap.
Dari balik tembok, Reyhan melihat beberapa pria berbadan tegap dan membawa senjata tajam. Lalu tanpa sengaja Reyhan melihat salah satu dari mereka ada yang membawa senjata api.
"Jika diperhatikan, mereka tidak seperti perampok yang masuk ke dalam toko untuk menggasak barang-barang berharga disini." Gumam Reyhan dalam hatinya.
"Ada yang aneh dengan mereka! Mereka pasti sudah menghabisi supir pribadiku diluar sana. Aku harus cepat-cepat membawa Aleana pergi dari sini." Gumam Reyhan lagi dalam hatinya.
Reyhan kembali ke ruangan dimana Aleana tampak mondar-mandir menunggunya.
"Oh, Tuhan! Akhirnya kau kembali juga." Ucap Aleana bernafas lega melihat Reyhan kembali dalam kondisi baik-baik saja.
"Ayo sebaiknya kita pergi dari sini! Aku tidak bisa melawan mereka karena salah satu dari mereka ada yang membawa senjata api." Kata Reyhan.
"Apa?" Ucap Aleana terkejut.
"Kita lewat pintu belakang saja! Tunjukkan jalannya." Kata Reyhan.
"I...iya!" Sahut Aleana.
Aleana dan Reyhan pun melangkah dengan begitu perlahan di dalam gelapnya ruangan belakang toko kue itu. Mereka hendak keluar dari pintu belakang. Ketika melintas di bagian dapur, Reyhan tanpa sengaja menyenggol sebuah rak tempat penyimpanan barang-barang untuk membuat kue.
Kkllloonnttaaanngg...
"Apa yang kau senggol itu?" Bisik Aleana.
"Aku tak sengaja, disini begitu gelap!" Sahut Reyhan.
"Hei, mereka disana!" Teriak salah seorang dari pria-pria berbadan tegap itu.
"Cepat lari!!!" Seru Reyhan menggenggam tangan Aleana dan menariknya segera kabur dari pintu belakang.
Tiba di depan pintu, Aleana tampak gugup ketika akan membuka pintu tersebut. Tangannya yang menggenggam kunci pintu tersebut gemetaran.
"Tenanglah, Aleana!" Ucap Reyhan. Namun Aleana semakin gemetaran.
Reyhan merebut kunci itu dan membuka pintu belakang itu. Segera ia menarik tangan Aleana kembali dan membawanya pergi. Suara tembakan pun terdengar, namun Reyhan tak gentar untuk terus membawa Aleana pergi secepatnya dan menjauh dari kejaran orang-orang yang tak mereka kenal itu.
Beberapa menit berlari, Reyhan dan Aleana berhenti dan ngos-ngosan di pinggir jalan raya yang begitu sunyi.
"Aku bingung, siapa mereka? Kenapa mereka mengejar kita tadi?" Tanya Aleana dengan nafas seakan terhenti sangking lelahnya berlari.
"Aku juga tidak tau! Tapi yang pasti supir pribadiku sudah tewas di tangan mereka." Sahut Reyhan.
"Ya Tuhan!" Ucap Aleana begitu kaget.
"Ayo segera pergi dari sini! Aku yakin mereka masih mencari-cari kita." Kata Reyhan sembari melangkah cepat dan menggenggam tangan Aleana untuk ikut bersama dirinya dan kembali pulang kerumah.
__ADS_1