MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Mendadak Romantis


__ADS_3

Selama Aleana sedang datang bulan, Reyhan menjalani masa bulan madunya dengan sikap uring-uringan. Masalah sepele bisa menjadi besar baginya. Aleana hanya bisa mengurut dada saja melihat sikap suami dadakannya tersebut.


Reyhan menghampiri Aleana yang sedang duduk di samping jendela kamar hotel. Saat itu Aleana sedang menikmati pemandangan kota Amsterdam yang sedang di selimuti salju tebal di ruas-ruas jalannya.


"Ale...


"Panggil saja aku Ana!" Seru Aleana pada Reyhan.


"Tidak! Aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan sayang!" Sahut Reyhan ngotot.


"Maksa banget jadi orang! Sok romantis!" Gerutu Aleana sewot.


"Hei, aku ini memang romantis, sayang!" Seru Reyhan.


"Huh, terserah kau!" Gerutu Aleana lagi.


"Kenapa kau kesal? Kau tidak suka aku memanggilmu dengan sebutan sayang? Iya?" Tanya Reyhan sembari melotot kesal pada Aleana.


"Apaan sih?" Gerutu Aleana kesal melihat sikap Reyhan selalu uring-uringan selama berbulan madu.


"Kau membuatku kesal saja!" Gerutu Reyhan.


"Kau yang aneh! Semenjak tiba disini kau selalu saja uring-uringan gak jelas seperti itu! Apa kau sadar, berapa orang yang sudah kau ajak berkelahi selama kita pergi jalan-jalan keluar dari hotel ini? Bahkan bellboy pun menjadi tempat kekesalanmu itu." Sahut Aleana kesal.


"Mereka yang mencari masalah denganku!" Teriak Reyhan.


"Sikapmu itu yang menjadi masalah buatmu! Kau sungguh menyebalkan!" Balas Aleana ikut berteriak.


"Jika aku tau kau akan seperti ini, aku tidak akan mau ikut pergi berbulan madu denganmu!" Ucap Aleana mengungkapkan kekesalannya pada Reyhan.


Aleana lantas bangkit dan mengenakan jaket serta sarung tangannya.


"Mau kemana kau?" Tanya Reyhan.


"Kemanapun yang penting aku tidak menjadi pelampiasan uring-uringanmu!" Sahut Aleana melangkah pergi begitu saja keluar dari kamar hotelnya.


Reyhan hanya bisa mengumpat dirinya sendiri merasa telah mengacaukan masa bulan madunya bersama Aleana. Padahal niat sebelumnya pergi berbulan madu untuk menaklukkan hati Aleana, tapi hal lain terjadi diantara mereka berdua.


"Sial!" Umpatnya.


Reyhan terduduk di atas ranjang sambil menghela nafasnya dengan kesal. Saat itu ia bahkan tidak kepikiran untuk mengikuti kemana istrinya pergi.


Beberapa jam kemudian, Aleana tak kunjung kembali ke hotel. Reyhan menatap ruas-ruas jalan melihat salju turun semakin lebat. Reyhan melirik jam menunjukkan waktu hampir larut.

__ADS_1


"Dimana dia? Kenapa dia belum kembali sampai saat ini?" Gumam Reyhan dalam hatinya merasa cemas pada Aleana.


Reyhan pun menghubungi ponsel Aleana, namun sialnya ketika pergi Aleana lupa membawa ponselnya dan tertinggal disisi ranjang tidur.


"Dia juga gak membawa ponselnya!" Gumam Reyhan lagi.


Lalu Reyhan mendengar siaran dari televisi yang mengabarkan mengenai kota Amsterdam yang telah di terpa angin kencang dan salju yang lebat. Kerusakan parah terjadi di ruas-ruas jalan perkotaan. Mendengar berita yang tersiar di televisi tersebut, Reyhan semakin khawatir akan keberadaa Aleana yang pergi lama sekali dari hotel hingga kini belum kembali.


"Aku harus mencarinya!" Ucap Reyhan segera mengenakan pakaian hangatnya dan pergi mencari keberadaan Aleana malam itu.


Reyhan menyusuri setiap jalan perkotaan kota Amsterdam mencari Aleana. Namun ia tak menemukannya. Perasaan khawatir terus menyelimuti hati dan pikiran Reyhan.


"Dimana kau, Aleana? Aku mencarimu hampir dua jam, tapi kenapa aku tak kunjung menemukanmu? Semoga tidak ada suatu hal pun terjadi padamu." Ucap Reyhan gelisah dalam dirinya sembari mencari keberadaan Aleana.


Saat di tengah jalan, mobil Reyhan dihentikan oleh seorang polisi yang sedang menangani musibah yang terjadi di jalan tersebut. Polisi itu menyuruh Reyhan memutar kembali mobilnya karena tidak bisa melewati jalan itu.


"Silahkan putar kembali! Jalanan ini rusak." Kata polisi itu.


"Pak, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Reyhan.


"Pohon tumbang karena di terpa angin kencang! Banyak korban yang sedang di evakuasi." Sahutnya.


Reyhan menjadi was-was dan juga panik karena ia belum menemukan istrinya.


"Apa Aleana berada disana?" Pikir Reyhan.


"Dimana dia? Semoga saja dugaanku salah." Gumam Reyhan dalam hatinya memasang kedua matanya untuk mencari keberadaan Aleana di sekitar begitu banyak orang yang sibuk berlalu-lalang mengevakuasi para korban luka.


"Disini ada korban lagi! Cepat bawa dia kerumah sakit!" Teriak para petugas disana.


"Aleana! Aleana!!!" Jerit Reyhan mencari istrinya di tengah angin kencang dan juga salju yang turun cukup lebat.


Reyhan terus memanggil nama Aleana sembari melangkah kesana-kemari. Dari salah satu mobil ambulan yang terparkir tak jauh dari tempat itu, Aleana mendengar namanya di panggil-panggil. Ia tau bahwa itu suara Reyhan yang sibuk mencarinya.


"Rey? Dia mencariku?" Gumam Aleana dalam hatinya.


Aleana yang menjadi salah satu korban luka dalam musibah tersebut, melangkah cepat mencari keberadaa Reyhan. Tak lama mencari Aleana melihat Reyhan terus memanggilnya.


"Rey!" Panggil Aleana.


Reyhan menoleh dan melihat Aleana berdiri dengan luka pada lengan kanannya.


"Aleana!" Seru Reyhan langsung berlari menghampirinya serta memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Oh, aku mencarimu kemana-mana!" Ucap Reyhan pada istrinya itu.


"Maafkan aku, Rey! Aku pergi dengan kesal tadi lalu aku lupa membawa ponselku jadi aku tidak bisa menghubungimu saat terjadi musibah ini." Ucap Aleana.


"Tidak, Ana! Akulah yang salah! Aku yang membuatmu kesal. Maafkan aku!" Sahut Reyhan sembari mengelus wajah Aleana.


"Rey, aku takut sekali!" Ucap Aleana masih gemetar melihat semua yang terjadi di jalan tersebut.


"Tenanglah, aku akan membawamu kerumah sakit!" Ucap Reyhan segera membawa istrinya itu mendapatkan pertolongan pertama pada lukanya di lengannya tersebut.


Usai dari rumah sakit, Reyhan mendudukkan Aleana di sisi ranjang. Tampak lengan Aleana terbalut perban akibat luka yang ia dapat dari musibah yang terjadi. Saat itu Aleana mendengar suara aneh yang berasal dari perut Reyhan.


Krrriiuukkkk...


Sontak saja Aleana menatap pada suaminya itu.


"Kau belum makan?" Tanya Aleana.


"Belum!" Sahutnya.


"Kenapa kau belum makan? Kau kan bisa pesan dari layanan hotel." Tanya Aleana lagi.


"Aku menunggumu pulang dan ingin makan malam bersamamu! Jadi aku...


Aleana menatap wajah Reyhan memerah saat menjawab pertanyaan darinya.


"Se...sebenarnya aku juga belum makan malam!" Ucap Aleana dengan wajahnya yang juga memerah.


"Benarkah?" Tanya Reyhan dan dibalas anggukan oleh Aleana dengan rona merah dipipinya.


"Kalau begitu, aku akan pesan makan malam untuk kita berdua." Kata Reyhan.


"Iya." Sahutnya.


Makanan yang di pesan oleh Reyhan pun datang. Karena lengan kanan Aleana terluka, maka ia tak bisa mengangkat lengannya dengna bebas. Dengan sigap Reyhan membantunya untuk menyantap makan malamnya.


"Biar aku menyuapimu." Ucap Reyhan pada Aleana.


"Tapi kau kan juga belum makan! Kalau kau menyuapiku, lalu kau bagaimana?" Tanya Aleana.


Reyhan berpikir sejenak dan menatap makanan-makanan tersebut. Reyhan menuangkan makanan itu menjadi satu piring. Kebetulan menu makanan yang di pesan keduanya sama.


"Sudah menjadi satu piring! Jadi aku bisa makan sepiring berdua." Seru Reyhan.

__ADS_1


"Ayo makanlah!" Seru Reyhan lagi menyuapi Aleana.


Hal romantis seketika terjadi pada keduanya setelah bertengkar hanya karena masalah sepele.


__ADS_2