
Reyhan masih menatap wajah istrinya dengan perasaan yang sangat bingung. Sementara Aleana sudah tak sabar ingin memastikan bahwa dirinya tengah berbadan dua setelah melihat tanda yang ada di kalender lipat miliknya.
"Hei, kenapa kau malah bingung seperti itu, Rey? Cih, lambat sekali!" Gerutu Aleana melangkah keluar dari kamar dan meminta pelayan untuk membelikan alat tes kehamilan di apotek terdekat.
Reyhan tersadar dan langsung menghampiri sang istri yang masih tampak mondar-mandir menunggu pelayan tersebut kembali.
"Ana, apa kau...
"Belum bisa aku pastikan! Bisa saja pengaruh dari hormonku yang tidak seimbang." Sahut Aleana tak ingin suaminya langsung berharap sebelum ia memastikannya terlebih dahulu.
Reyhan yang sudah berpengalaman memiliki seorang istri yang sedang hamil, lantas memperhatikan bentuk tubuh Aleana yang tampak sedikit berisi. Perhatian itu ternyata membuat Aleana bingung ketika ia melihat Reyhan menatap seluruh bagian tubuhnya.
"Kenapa kau malah menatapku seperti itu, Rey? Apa ada yang aneh di tubuhku?" Tanya Aleana.
"Iya! Aku perhatikan kau terlihat lebih gendut dari biasanya!" Sahut Reyhan bak memantik api disaat gas seakan sedang menyambar.
"Apa kau bilang??? Aku gendut???" Teriak Aleana kesal.
"Sa...sayang, mak...maksudku...
"Uuugghhh, kau menyebalkan!" Teriak Aleana kesal dan pergi masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Reyhan tampak menyesal telah mengatakan hal tersebut kepada seorang wanita.
"Apa sampai segitunya kalau wanita dibilang gendut? Haaahh, aku tidak akan pernah menyinggung masalah body shaming lagi kepada wanita manapun termasuk Ana." Gumam Reyhan sembari menghela nafas panjang.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali dan membawakan benda yang dipesan oleh Aleana. Reyhan yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi melihat Aleana memegang alat tersebut.
"Sayang, cepatlah periksa sana! Aku ingin mengetahuinya." Seru Reyhan seakan tak sabar.
"Iya, baiklah!" Sahut Aleana segera melakukan apa yang di perintahkan oleh suaminya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan segera menggunakan alat tersebut untuk mengetahui kondisi dirinya.
Reyhan menunggu di depan pintu kamar mandi sambil mondar-mandir seakan tak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Aaaarrggghh!!!" Pekik Aleana dari dalam kamar mandi.
Reyhan yang mendengar pekikan istrinya itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan menghampirinya.
"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Reyhan panik.
"LIhatlah!" Seru Aleana memberikan alat tes kehamilan itu padanya.
Reyhan menatap tanda dua garis merah dan tersenyum lebar.
"Kau hamil?" Ucap Reyhan menoleh pada Aleana.
"Iya, sayang! Aku hamil!" Sahut Aleana.
__ADS_1
Reyhan lantas memeluk istrinya itu dengan perasaan yang begitu bahagia. Ia juga menggendong tubuh Aleana sangking bahagianya akan segera di karuniai seorang anak dari pernikahannya yang kedua.
"Rey, hati-hati! Nanti aku bisa jatuh." Ucap Aleana saat berada di dalam gendongan Reyhan.
"Aku sangat bahagia, Ana!" Seru Reyhan.
Aleana dan Reyhan tertawa bahagia bersama di dalam kamar mandi itu. Kemudian Reyhan membawa Aleana ke ranjang tidur mereka dan membaringkannya.
"Hei, kenapa kau membaringkan aku diatas rajang?" Tanya Aleana seakan protes.
"Kau sedang hamil, jadi kau harus banyak-banyak beris...
Reyhan menghentikan perkataannya itu disaat ia merasakan mual pada perutnya.
"Rey, kau kenapa?" Tanya Aleana sembari menatapnya.
Tanpa menjawab Reyhan langsung berlari masuk ke dalam mandi lagi dan memuntahkan semua isi lambungnya disana. Aleana cepat-cepat menghampiri suaminya yang masih muntah-muntah di dalam kamar mandi tersebut.
"Rey, kenapa kau terus saja mual dan muntah-muntah begini sih?" Tanya Aleana bingung.
"Aku juga tidak tau!" Sahut Reyhan kemudian ia memuntahkan lagi isi dalam labungnya.
"Aku akan menelpon dokter agar memeriksamu." Kata Aleana.
"Tidak usah, Ana! Aku baik-baik saja." Kata Reyhan kemudian berkumur-kumur serta mencuci mulutnya.
***
Reyhan dan Aleana beserta Farrel melangkah bersama menuju ruang makan untuk makan malam bersama. Saat tiba diruangan itu, Reyhan sudah merasakan bau makanan yang membuatnya kembali merasakan mual. Sementara Aleana dan Farrel begitu antusias untuk menyantap makan malam mereka yang sudah terhidang di atas meja makan.
"Sayang, kau tidak duduk untuk makan?" Tanya Aleana.
"Aku...merasa mual!" Sahut Reyhan.
"Eh, mual lagi? Tapi kenapa?" Tanya Aleana lagi dengan tatapan bingung saat menatap suaminya.
Reyhan melirik satu menu makanan yang sebenarnya itu adalah makanan kesukannya.
"Mungkin karena aku mencium bau makanan itu!" Sahut Reyhan.
"Heeem???"
__ADS_1
Aleana pun menoleh pada makanan yang ditunjuk oleh Reyhan.
"Hei, itu kan makanan kesukaanmu sayang! Kau bahkan tak pernah merasa bosan untuk menyantapnya." Seru Aleana semakin bingung.
"Ana, maafkan aku! Aku ingin beristirahat di kamar. Kalian makanlah disini." Kata Reyhan.
"Iya, baiklah!" Sahut Aleana.
Aleana dan Farrel masih menatap Reyhan yang sudah melangkah keluar dari ruang makan tersebut.
"Mommy, apa yang terjadi pada daddy?" Tanya Farrel.
"Mommy tidak tau, sayang!" Sahut Aleana.
"Kalau begitu kita makan berdua saja ya! Nanti mommy akan bawakan makanan untuk daddy mu ke kamar." Sambung Aleana lagi.
Alhasil malam itu Aleana dan Farrel makan malam berdua saja tanpa Reyhan, karena Reyhan sering merasakan mual, muntah serta pusing di kepalanya. Namun semua itu belum di ketahui penyebabnya.
Usai makan malam, Aleana meminta pelayan untuk memotongkan buah-buahan segar yang akan ia bawakan kepada Reyhan yang sedang beristirahat di dalam kamar. Setelah itu Aleana pun membawa potongan buah-buahan tersebut ke dalam kamar dan melihat Reyhan masih duduk sambil bersandar pada sisi ranjang.
"Apa kau masih merasa pusing dan mual, sayang?" Tanya Aleana.
"Ya, sedikit! Tapi dengan begini aku merasa mendingan." Sahut Reyhan.
"Karena kau merasa mual, bagaimana kalau kau makan buah ini?" Kata Aleana sembari memberikan sepotong buah kepada Reyhan.
"Aku sedang tak ingin makan, Ana." Ucap Reyhan menolak.
"Oh, ayolah! Aku tak ingin membiarkan perutmu kosong." Kata Aleana sedikit memaksanya.
Reyhan pun membuka mulutnya dan memakan buah yang disuapi oleh Aleana.
"Bagaimana? Apa kau merasa mual saat makan buah?" Tanya Aleana.
"Eeemm, tidak! Rasanya enak!" Sahut Reyhan terus mengunyah buah-buahan segar itu.
Aleana tampak bingung memperhatikan sikap Reyhan yang tampak sedikit aneh.
"Bukannya aku yang hamil, tapi kenapa sikap Reyhan menunjukkan bahwa dia yang ngidam?" Pikir Aleana bingung sembari berucap dalam hatinya.
"Sayang, besok aku ingin memeriksakan diriku pada dokter kandungan." Kata Aleana.
"Aku akan mengantarmu." Sahut Reyhan.
"Tapi jika kau sibuk, aku bisa pergi bersama ibu." Kata Aleana tak ingin merepotkan suaminya apalagi ia melihat kondisi Reyhan sedang tak enak badan.
__ADS_1
"Aku tidak sibuk! Aku berencana untuk istirahat beberapa hari dirumah karena aku merasa tidak enak badan, tapi kau tenang saja aku akan tetap mengantarmu ke dokter kandungan besok." Kaat Reyhan lagi.
"Iya, baiklah!" Ucap Aleana.