
Reyhan masih berdiri di depan tanah makam wanita yang pernah ia cintai. Air matanya tampak menggumpal di pelupuk matanya mengingat Linda pernah menghiasi hari-harinya sebelum mereka bercerai.
"Selamat jalan Linda! Semoga kau tenang disana." Ucap Reyhan dalam hatinya sebelum ia beranjak pergi dari tempat pemakaman itu.
Reyhan masuk ke dalam mobil bersama Defras dan juga Farrel, mereka hendak kembali ke rumah usai menghadiri pemakaman Linda. Saat di tengah jalan, ponsel Reyhan berdering.
"Halo?"
"Tuan, nyonya Ana sedang dibawa kerumah sakit!" Ucap seorang pelayan menghubungi Reyhan.
"Apa?" Ucap kaget.
"Sepertinya nyonya akan segera melahirkan." Kata pelayan itu lagi.
Reyhan lantas memerintahkan supir pribadinya untuk melajukan mobil lebih cepat dan menuju ke rumah sakit.
"Rey, ada apa?" Tanya Defras.
"Ana sedang dibawa kerumah sakit, dia akan segera melahirkan." Sahut Reyhan.
Reyhan lantas menghubungi kedua orang tua dan juga kedua mertuanya untuk mengabarkan bahwa Aleana akan segera melahirkan, sementara Defras menatap pada Farrel dan tersenyum padanya.
"Sebentar lagi kau akan melihat adikmu." Ucap Defras.
"Benarkah?" Ucap Farrel antusias.
Tiba di rumah sakit, Reyhan meminta supir untuk mengantar putranya kembali kerumah, namun Farrel sibuk ingin melihat Aleana yang sedang berjuang di salah satu ruang bersalin pada rumah sakit itu.
"Daddy, aku ingin melihat mommy!" Pinta Farrel.
"Farrel, kau tidak boleh masuk ke dalam! Ini rumah sakit, lebih baik kau menunggu adikmu dirumah saja." Kata Reyhan.
"Daddy, aku ingin melihat mommy!" Rengek Farrel lagi.
"Hei, dengarkan daddy! Apa kau ingat ada boneka yang kita beli beberapa hari lalu?" Tanya Reyhan.
"Iya!" Sahut Farrel.
"Bukankah itu untuk adikmu? Kau ingin menghias kamar adikmu kan dengan banyak boneka?" Kata Reyhan lagi.
"Iya!" Sahut Farrel.
"Kalau begitu pergilah hias kamar adikmu dengan banyak boneka! Daddy yakin itu akan membuat adikmu senang ketika dia dibawa pulang kerumah." Kata Reyhan membujuk putranya agar mau menuruti apa yang ia katakan.
"Benarkah, adikku akan senang kalau aku menghias kamarnya?" Tanya Farrel antusias.
"Tentu saja!" Sahut Reyhan.
"Baiklah, aku akan pulang dan menghias kamar adik bayiku dengan begitu banyak boneka!" Seru Farrel seakan lupa bahwa ibunya baru saja meninggal setelah ia begitu antusias untuk menyambut adiknya yang akan segera lahir kedunia.
Setelah supir pribadinya membawa sang putra, Reyhan dan Defras berlari menuju ke ruangan bersalin dimana Aleana sedang berjuang melahirkan bayinya. Tiba di depan ruangan tersebut, Reyhan mendengar tangisan bayi yang begitu kencang.
"Apa itu bayiku?" Gumam Reyhan.
"Tanyakan pada perawatnya!" Seru Defras.
Saat Reyhan akan menghampiri pintu ruang bersalin itu, seorang perawat keluar.
"Suster...
"Apa tuan suami nyonya Aleana?" Tanya perawat itu.
"Iya!" Sahutnya.
__ADS_1
"Masuklah! Bayi anda sudah lahir." Ucap perawat itu mempersilahkan Reyhan masuk ke dalam dan melihat Aleana sedang di tangani oleh dokter yang membantu persalinan itu.
Reyhan lantas menghampiri istrinya yang masih terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit.
"Ana!" Ucap Reyhan.
"Rey! Aku sudah melahirkan bayi kita." Ucap Aleana tersenyum sembari terharu karena dirinya telah menjadi seorang ibu untuk bayinya.
"Aku tau! Maaf aku tak sempat menemanimu saat kau berjuang melahirkan bayi kita." Ucap Reyhan.
"Iya, tidak apa-apa! Aku mengerti." Sahut Aleana.
Reyhan berkali-kali mencium kening istrinya yang masih basah dengan keringat. Tak lama berselang, bayi mungil yang berbalut kain berwarna pink terang dibawa untuk diperlihatkan kepada kedua orang tuanya.
"Tuan, nyonya! Ini bayi perempuan kalian." Ucap perawat itu sembari memberikan bayi mungil itu dalam dekapan Reyhan.
"Oh, putriku yang cantik!" Seru Aleana menatap wajah bayi yang masih memerah itu.
"Dia benar-benar cantik sepertimu, Ana!" Ucap Reyhan begitu bahagia mendekap bayinya tersebut.
***
Beberapa hari setelahnya, Farrel tampak mondar-mandir di halaman depan rumahnya. Ia tau bahwa hari itu adalah hari dimana ia akan melihat adik perempuannya.
"Huh, kenapa lama sekali? Kakiku sudah pegal mondar-mandir disini tapi mommy dan daddy belum juga datang untuk membawa adikku!" Gerutu Farrel sewot.
Pengasuh yang masih setia melakukan apa saja demi bocah 6 tahun itu, hanya bisa menghela nafas saja melihatnya.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk mondar-mandir seperti itu tuan muda!" Ucap pengasuhnya.
"Mentang-mentang dia baru memiliki adik, dia sudah merasa dewasa! Ya Tuhan, zaman apa ini?" Gumam sang pengasuh dalam hatinya.
Setelah lama menunggu akhirnya mobil yang membawa Reyhan dan Aleana pun tiba di halaman depan rumah. Farrel lantas berlari menghampiri Aleana yang baru saja turun dari mobil itu namun Farrel tak melihat ibu tirinya itu menggendong bayi.
"Mommy, dimana adikku?" Tanya Farrel.
"Adikmu sedang dalam perjalanan bersama Granny dan juga Grandad!" Sahut Aleana.
"Jadi aku harus menunggu lagi?" Tanya Farrel auto cemberut.
"Tentu saja!" Seru Aleana.
"Huh, menyebalkan!" Gerutu Farrel.
"Hei, boy! Tunggulah sebentar lagi mereka pasti akan sampai." Kata Reyhan pada putranya itu.
"Ayo kita menunggu kedatangan adikmu di dalam rumah saja! Diluar sangat dingin." Ajak Aleana.
"Iya, baiklah!" Sahut Farrel.
Beberapa menit kemudian sang adik pun tiba. Farrel merasa senang menatap adiknya yang baru beberapa hari dilahirkan.
"Granny, siapa nama adikku?" Tanya Farrel.
"Linda!" Sahut Merry sembari mendekap cucu perempuannya itu.
"Linda? Bukankah itu nama mommy ku?" Tanya Farrel lagi dengan polosnya.
__ADS_1
"Iya, sayang! Mommy dan daddy sengaja memberikan nama itu agar kau terus mengingat mendiang ibumu." Sahut Aleana.
"Farrel, kau sudah menjadi seorang kakak sekarang jadi kau harus menyayangi adikmu dan juga menjadi panutan yang baik untuk mereka." Sambung Reyhan.
"Mereka? Mereka siapa?" Tanya Aleana bingung.
"Ya adik-adiknya Farrel! Kau pikir aku sudah puas memiliki satu orang anak saja darimu? Aku ingin kita memiliki 3 atau 5 orang anak!" Sahut Reyhan.
"Seenak jidatmu saja kalau bicara! Kau pikir aku melahirkannya dengan cara meludah, hah?" Gerutu Aleana.
"Aku tidak perduli! Pokoknya harus ada adik-adik Farrel yang selanjutnya!" Ucap Reyhan memaksa.
"Dasar tukang paksa!" Gerutu Aleana lagi.
Farrel tak menghiraukan kedua orang tuanya sedang bersitegang karena masalah jumlah anak yang akan mereka rencanakan selanjutnya, ia hanya menatap adiknya yang terus saja tertutup.
"Granny! Apakah dia akan terus tidur? Kapan dia akan bermain denganku?" Tanya Farrel.
"Tak akan lama lagi kau akan bermain dengannya! Untuk saat ini adikmu akan terus tidur kecuali jika dia lapar dan buang air." Sahut Merry.
"Kalau kau ingin main, ayo main dengan Grandad!" Seru Gustaf mengajak cucu pertamanya itu bermain kejar-kejaran di ruangan itu.
Beberapa tahun kemudian, Farrel masuk secara tiba-tiba ke kamar kedua orang tuanya yang sedang asyik bermesraan supaya dapat memberikannya adik baru. Reyhan dan Aleana pun menatap bingung pada Farrel yang sibuk menekan-nekan kode brankas milik mereka.
"Ada apa, nak? Kenapa kau membuka brankas milik daddy?" Tanya Reyhan.
"Aku mau ambil segepok uang untuk Linda!" Sahutnya.
"Eh, tapi kenapa?" Tanya Aleana bingung.
"Mommy, Linda nangis dan aku ingin memberikannya uang yang banyak supaya dia berhenti nangis!" Sahut Farrel.
"Apakah itu jurus yang ampuh?" Tanya Reyhan.
"Tentu saja! Linda itu calon wanita matre!" Sahut Farrel lagi.
Setelah Farrel mengambil segepok uang dari brankas ayahnya, ia pun keluar kamar sambil berkata.
"Lanjutin ya! Semoga aku dapat adik laki-laki tapi kalau bisa jangan matre!" Ucap Farrel pada Reyhan dan Aleana.
Reyhan dan Aleana saling menatap bingung dengan ucapan putranya itu.
"Aaaahh, ternyata sifat Linda sama matrenya sepertiku!" Ucap Aleana tepok jidat.
"Heh, akhirnya kau mengaku juga kalau kau itu wanita matre!" Ucap Reyhan.
"Hehehehe." Aleana pun cengengesan sembari membalas tatapan suaminya.
"Ayo kita lanjut lagi supaya kita bisa memberikan adik untuk Farrel dan Linda!" Seru Reyhan lantas menarik selimut dan bergulat di atas ranjang bersama istrinya.
THE END...
***
__ADS_1
BACA JUGA NOVEL TERBARUKU
WANITA SAMARAN UNTUK CEO