MENIKAHI DUREN SAWIT

MENIKAHI DUREN SAWIT
Ungkapan Rasa


__ADS_3

Reyhan membawa Aleana ke suatu tempat setelah mereka makan siang bersama di restoran. Tempat tersebut begitu terkenal akan keromantisannya di kota Amsterdam. Tiba di tempat itu, Aleana melihat begitu banyak pengunjung secara berpasang-pasangan berada disana untuk berjalan santai sambil ngobrol ataupun duduk-duduk di cafe-cafe cantik yang tak jauh dari tempat tersebut.


"Wah, kanal airnya membeku!" Seru Aleana ketika baru sampai di tempat wisata yang ramai pengunjung itu.


"Aku pergi sebentar dan kau tunggu aku disini." Ucap Reyhan pada wanita berambut pirang tersebut.


"Rey, kau mau kemana?" Tanya Aleana pada Reyhan yang sudah berlari menjauh darinya.


"Sebentar! Aku akan membeli sesuatu untukmu." Seru Reyhan padanya.


Aleana pun berdiri di pinggir kanal air yang membeku itu sembari menunggu Reyhan yang pergi entah kemana. Tak lama kemudian ketika Aleana sedang melamu dan memikirkan benih-benih cinta yang mulai tumbuh dihatinya untuk Reyhan, tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh seseorang yang memperlihatkan sebuket bunga mawar merah di depan matanya.


"Mawar?" Gumam Aleana kaget lantas menoleh kebelakang.


"This is for you, Ana!" Ucap Reyhan sembari menyodorkan bunga tersebut padanya.


Aleana masih terdiam dan menatap pria yang tampak tersenyum lebar kepadanya itu. Aleana seakan tak menyangka bahwa kepergian Reyhan beberapa saat tadi ternyata untuk membelikan sebuket bunga mawar merah padanya.


"Mawar merah! Bukannya melambangkan perasaan cinta?" Gumam Aleana melirik bunga yang masih ada dalam genggaman Reyhan.


Lama Aleana hanya melirik bunga tersebut dan membuat Reyhan seakan menjadi ragu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Kau tak menyukainya?" Tanya Reyhan.


"Ten...tentu saja aku menyukainya." Sahut Aleana.


"Lantas kenapa kau malah bengong? Kau tidak ingin menerima bunga pemberianku ini?" Tanya Reyhan lagi.


Aleana segera mengambil sebuket bunga mawar itu dari genggaman Reyhan.


"A...aku hanya terkejut karena kau memberikan bunga ini secara tiba-tiba." Ucap Aleana sedikit gugup ketika Reyhan menatapnya.


Reyhan mendekati serta berbisik kepadanya.


"Kau mengerti kan lambang bunga mawar itu apabila diberikan oleh seorang pria kepada wanita?" Bisik Reyhan membuat Aleana semakin gugup dibuatnya.


"I...iya, a...aku tau." Sahut Aleana.


Reyhan tersenyum lebar sembari mengelus wajah istrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Ana!" Ucap Reyhan membuat Aleana semakin terkejut mendengarnya. Aleana langsung menatap Reyhan secara intens.


"Benarkah?" Ucap Aleana seakan tak percaya ungkapan cinta itu keluar dari mulut seorang pria kaya raya di Australia.


"Aku jatuh cinta padamu." Ucap Reyhan lagi.


"Se...sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" Tanya Aleana.


"Aku gak tau kapan aku mulai menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu, namun yang jelas saat itu aku tak ingin berada jauh darimu." Sahut Reyhan kembali mengelus wajah Aleana dengan lembut.


"Ana, apa kau menerima cintaku?" Tanya Reyhan.


Aleana yang juga memiliki perasaan cinta terhadap Reyhan langsung tersenyum lebar dan memeluknya dengan erat.


"Iya, aku menerima cintamu, Rey! Aku juga cinta padamu." Ucap Aleana membuat pria beranak satu itu sangat gembira karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


"Oh, Ana! Aku ingin kita terus bersama selamanya. Kita akan membangun keluarga kita dengan baik dan menyayangi anak-anak kita." Ucap Reyhan sangat menyentuh hati istrinya itu.


"Bagaimana dengan perjanjian kita, Rey?" Tanya Aleana.


"Tidak ada perjanjian lagi diantara kita! Kau dan aku cinta sampai mati." Ucap Reyhan.


"Iya, aku mau menua bersamamu!" Sahut Aleana tersenyum padanya.


Keduanya pun berpelukan bahkan tak segan untuk berciuman dengan mesra di pinggir kanal air yang membeku itu. Setelah keduanya saling mengungkapkan perasaan masing-masing, semuanya pun berjalan serasa begitu sempurna bagi mereka. Selama menjalani masa bulan madu di negara tersebut, Reyhan dan Aleana tampak semakin mesra dan juga lengket bak getah nangka. Wkwkwkwk...


 


 


***


Reyhan dan Aleana kembali ke hotel tempat mereka menginap dan berendam pada bathtub air hangat. Sambil mendekap mesra keduanya pun ngobrol ringan sembari merencanakan masa depan keluarga kecil mereka. Sepanjang obrolan itu membuat rasa penasaran Aleana mengenai hubungan antara Reyhan dengan ibunya kembali mencuat di pikirannya.


"Rey, apa aku boleh menanyakan sesuatu hal padamu?" Tanya Aleana.


"Tanyakan saja, sayang! Aku janji gak akan berkata bohong padamu." Sahut Reyhan bucin setengah mati pada istrinya.


"Eemm, aku perhatikan hubunganmu dengan orang tuamu sepertinya tidak harmonis! Ya, aku hanya merasa aneh saja ketika melihat mamamu sering menatap kesal pada Farrel. Setahuku seorang nenek pasti sangat mencintai cucunya kan? Tapi aku tak melihat hal itu dalam tatapan mamamu kepada putramu." Kata Aleana penasaran.

__ADS_1


Reyhan menghela nafas panjang seakan frustasi dengan masalah yang ada di dalam keluarganya itu.


"Kalau kau tidak ingin membahasnya, tak apa! Aku bisa mengerti." Kata Aleana lagi.


"Tidak masalah, aku pikir sebagai istriku kau harus tau masalah apa yang aku hadapi dengan mamaku itu sejak dulu." Sahut Reyhan.


"Sejak kecil aku tak pernah dekat dengan mamaku karena dia terlalu sibuk dengan urusannya diluar rumah! Dia sering pulang larut malam dan tak pernah ada waktu untukku." Sambung Reyhan mulai menceritakan hubungan antara dirinya dengan Merry.


"Bagaimana dengan papamu?" Tanya Aleana.


"Papaku juga begitu! Dia pimpinan perusahaan yang terus sibuk bekerja di kantornya, bahkan bisa dibilang kantornya itu adalah rumah kedua baginya." Sahut Reyhan.


"Mereka sering pulang larut malam dan selalu bertengkar apabila bertemu dirumah! Hampir setiap hari aku mendengarkan pertengkaran mereka berdua yang terkadang hanya dipicu oleh masalah sepele saja." Sambung Reyhan.


"Tapi saat di pernikahan kita, aku lihat kedua orang tuamu cukup akur." Kata Aleana.


"Mereka menjadi akur mungkin mereka lelah karena selalu bertengkar dan kemungkinan besar karena faktor usia mereka yang sudah semakin menua! Mereka berusaha untuk saling menghargai satu sama lain saja." Sahut Reyhan.


"Apakah kau bisa membayangkan bagaimana rasanya aku tumbuh diantara orang tua yang selalu bertengkar dan juga tak pernah memiliki waktu untukku? Hanya pelayan yang sering memperhatikan aku." Sambung Reyhan terlihat begitu kecewa terhadap kedua orang tuanya.


"Lantas kenapa mamamu terlihat seperti membenci Farrel?" Tanya Aleana.


"Mamaku membenci Linda, yaitu ibu kandungnya Farrel, jadi karena itulah mamaku tak pernah mau untuk mengakui bahwa Farrel itu adalah keturanku! Mantan istriku itu sering berselingkuh di belakangku, jadi karena itulah mamaku menganggap bahwa Farrel bukan darah dagingku." Sahut Reyhan.


"Oh, hal itu pasti akan membuat Farrel sedih jika ia tau mengenai ibunya." Ucap Aleana.


"Entahlah! Aku begitu mencintainya dulu sampai-sampai aku begitu buta dan selalu mempercayai semua perkataannya." Ucap Reyhan merasa menyesal telah mencintai Linda.


"Ya, aku rasa Reyhan memang pria yang bisa dikatakan sedikit lugu!" Gumam Aleana dalam hatinya.


Lalu Reyhan membalikkan tubuh Aleana menghadap dirinya untuk saling menatap.


"Aku harap kau tak melakukan hal yang sama seperti yang Linda lakukan, Ana! Aku sungguh-sungguh mencintaimu. JIka hal itu sampai terulang lagi kepadaku, maka aku tak akan pernah mau mengenal cinta lagi." Ucap Reyhan seakan mengemis cinta pada Aleana.


"Tidak, Rey! Aku berjanji akan setia padamu. Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Aleana berupaya untuk meyakinkan hati suaminya tersebut.


Aleana menatap senyuman tipis di bibir Reyhan dan saat itu juga ia berjanji dalam dirinya.


"Aku sangat memahami apa yang telah dilalui oleh Reyhan sejak kecil! Ia haus perhatian dan juga kasih sayang dar orang-orang sekitarnya. Rasa pernah patah hati akibat perselingkuhan membuat hatinya pernah mati, walaupun kini dia berusaha untuk kembali membangkitkan hatinya yang mati itu dan yakin merasakan cinta kembali." Gumam Aleana dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku berjanji, Rey! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau apapun yang terjadi." Ucap Aleana lagi dalam hatinya.


__ADS_2