
Reyhan dan Aleana kembali ke rumahnya dengan menggunakan taksi yang kebetulan melintas di jalan tempat mereka di kejar-kejar oleh pria-pria berbadan tegap itu. Reyhan dan Aleana pun dapat bernafas lega setelah merasa aman sampai di halaman depan rumahnya.
"Syukurlah, akhirnya kita dapat meloloskan diri dari kejaran orang-orang itu." Ucap Aleana
"Iya, kau benar!" Sahut Reyhan.
Lalu saat hendak masuk ke dalam rumah, mereka dihampiri oleh supir pribadinya yang ternyata kembali kerumah lebih awal dari mereka dan dalam kondisi baik-baik saja.
"Tuan Rey! Tuan tidak apa-apa kan?" Tanya supir itu.
"Eh, kau tidak mati?" Reyhan bingung menatap kondisi supir pribadinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Tuan, maafkan saya! Tadi saya langsung lari ketika mereka ingin masuk ke dalam toko kue nyonya Aleana. Saya melihat salah satu dari mereka membawa senjata api, tuan." Sahutnya.
"Jadi kau lari begitu saja meninggalkan aku, hah?" Ujar Reyhan kesal.
"Maaf tuan! Saya juga ketakutan." Sahutnya.
"Cih, dasar tidak berguna!" Umpat Reyhan kesal.
"Saya hanya supir dan saya tidak tau cara berkelahi jadi saya hanya mengambil langkah seribu saja!" Sahutnya lagi.
"Langkah seribu?" Ucap Reyhan bingung dan membuat Aleana tepok jidat.
"Langkah seribu itu artinya melarikan diri, Reyhan!" Gerutu Aleana menjelaskan.
"Oh, gitu!" Ucap Reyhan manggut-manggut.
"Lantas kenapa ponselmu mati?" Tanya Reyhan.
"Tertinggal di mobil! Mungkin mereka merusak ponsel saya, tuan!" Sahut supir itu.
"Hiks...hiks...hiks..." Reyhan dan Aleana menatap sang supir menangis di depan mereka.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Aleana.
"Itu ponsel saya satu-satunya, nyonya! Mana masih kredit lagi! Hiks...hiks...hiks..., malangnya nasibku!" Sahut supir nangis bombai.
"Hei, Reyhan! Apa kau menggaji supirmu ini sangat sedikit? Sampai-sampai untuk membeli ponsel saja dia harus kredit." Tanya Aleana sembari meledek Reyhan.
"What the hell!!! Aku ini CEO perusahaan besar di kota ini, mana mungkin aku membayar gaji supirku dengan uang yang sedikit!" Pekik Reyhan kesal.
"Buktinya dia membeli ponselnya dengan mencicil." Sahut Aleana sembari menunjuk pada supir yang sedang menangis histeris akibat ponselnya yang tak bisa dihubungi lagi.
__ADS_1
"Cih, iya...iya! Aku akan membelikan ponsel baru untuknya!" Ucap Reyhan.
"Be.. benarkah, tuan?" Tanya supir itu yang langsung berhenti menangis dan menatap Reyhan dengan antusias.
"Iya!" Teriak Reyhan kesal.
"Hoorrree!!! Nyonya baru ini memang baik!" Seru supir itu jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Hei, kenapa kau malah memujinya??? Aku yang akan membelikanmu ponsel baru, supir somplak!!!" Pekik Reyhan kesal.
"Hohoho, terima kasih tuan!" Ucap supir itu cengengesan.
"Dasar!" Ujar Reyhan lagi dengan tampangnya yang kesal.
Reyhan dan Aleana hendak melangkah masuk ke dalam rumah, namun supir itu menghentikan mereka lagi.
"Oh iya, tuan! Tadi saya sempat mendengar pria-pria yang masuk ke dalam toko kue itu berkata ingin menghabisi nyonya Aleana." Kata supir itu.
"Apa???" Pekik Aleana kaget setengah mati mendengar perkataan supir barusan.
"Iya, nyonya! Aku sungguh-sungguh mendengar mereka mengatakan hal itu.
"Lalu apa lagi yang kau dengar?" Tanya Reyhan pada supir pribadinya.
"Tidak ada! Saya hanya mendengar itu saja, lalu saya cepat-cepat melarikan diri.
"Pergilah, istirahat!" Kata Reyhan pada supirnya.
"Baik, tuan!" Sahutnya.
"Selamat malam tuan, nyonya!" Ucapnya sembari pergi.
Reyhan melirik Aleana yang tampak begitu terkejut akan perkataan supir tadi mengenai dirinya. Tubuhnya pun terlihat gemetaran ketika tau dia akan dihabisi oleh orang-orang yang tidak ia kenal.
"Ayo masuk ke dalam! Kita perlu bicara." Kata Reyhan menarik tangan Aleana ikut bersamanya masuk ke dalam rumah.
***
Di hotel berbintang lima, Bram tampak kesal setelah mendapat telepon dari anak buahnya dan mengatakan bahwa mereka tidak berhasil menjalankan misinya untuk menghabisi Aleana.
"Sial!" Umpat Bram.
__ADS_1
Umpatan itu terdengar oleh Linda yang sedang berbaring di atas ranjang hotel itu dengan berbalut selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang polos. Linda segera mengenakan pakaian tidurnya dan melangkah menghampiri Bram.
"Ada apa?" Tanya Linda.
"Anak buahku tak berhasil menghabisi nyawa istri dari Reyhan!" Sahutnya dengan perasaan kesal.
"Heh, aku telah memberikan apa yang kau inginkan sebagai imbalan, tapi kau malah tidak becus menjalani apa yang aku perintahkan!" Ujar Linda kesal.
"Jangan memerintahku, Linda!" Bentak Bram marah.
"Aku bukan pelayanmu!" Bentak Bram lagi.
Bram langsung mencengkram dagu Linda dengan kuat dan menatapnya dengan wajah yang bengis.
"Apa kau pikir imbalan yang kau berikan padaku tadi berharga untukku, hah? Begitu banyak pria yang sudah mencicipi tubuhmu itu! Kau bahkan tak layak di jadikan seorang simpanan sekalipun apa lagi seorang istri! Heh, kau pikir jika kau berhasil menyingkirkan Aleana, Reyhan akan menerimamu kembali disisinya?" Ucap Bram menghina Linda habis-habisan.
"Itu bukan urusanmu!" Balas Linda.
"Kau memang wanita yang tidak tau diri!" Gerutu Bram sembari mendorong Linda dengan kuat hingga terjatuh di lantai kamar hotel itu.
"Pergi dari hadapanku!" Bentak Bram mengusir Linda.
"Kau belum menyelesaikan apa yang aku inginkan, Bram!" Teriak Linda.
"Pergi atau aku akan membunuhmu disini!" Ancam Bram.
"Dasar brengsek!!! Kau pria yang tidak berguna!!!" Pekik Linda kesal.
Ppplllaaakkkk...
Sebuah tamparan keras hinggap di pipi Linda sehingga membuatnya kembali terjatuh di lantai itu lagi.
"Berani memakiku lagi, aku akan benar-benar melenyapkanmu!" Ancam Bram sembari mencengkram kuat dagu Linda karena sangking kesalnya.
"Pergi dari sini!" Teriak Bram lagi mengusir Linda.
Linda pun segera mengenakan gaunnya dan juga sepatu serta meraih tas miliknya. Ia lalu pergi keluar dari kamar hotel tersebut sembari membanting pintunya dengan keras. Linda begitu kesal karena Bram tak bisa melakukan apa yang ia inginkan sementara itu ia telah memberikan dirinya sebagai imbalan.
"Dasar kurang ajar! Aku salah meminta bantuan! Aku telah memberikan apa yang dia inginkan, namun dia tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan!" Gerutu Linda sembari masuk ke dalam lift hotel untuk turun menuju lobi.
"Apa sulitnya hanya menyingkirkan satu wanita kampungan seperti Aleana! Aku benar-benar kesal malam ini!" Gerutu Linda lagi saat di dalam lift tersebut.
Linda masuk ke dalam mobilnya dan memukul batang setir mobilnya itu dengan rasa kesal yang memuncak di ubun-ubun kepalanya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti! Kalau begitu aku sendiri yang akan bertindak untuk menghabisi Aleana." Ucap Linda dalam hatinya.
Linda pun melakukan mobilnya dengan kencang, namun malam itu ia tidak kembali ke apartemennya melainkan pergi ke sebuah diskotik untuk mencari kesenangan dengan pria-pria yang suka akan kecantikan dirinya.