Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Pria dalam Lukisan


__ADS_3

“Haicihhh!”


“Ish, jauh-jauh dariku,” ucap Tracy bergeser menjauh dari kursi Daphne.


Bukannya marah, Daphne justru senang karena berhasil mengeluarkan bersinnya setelah ditahan sekian lama.


“Jangan berlebihan, aku kan pakai masker. Lagipula sudah biasa penyakit sinusku kambuh kalau aku begadang,” jawab Daphne dengan santai. Ia udah terbiasa terserang pilek hingga lima kali dalam setahun saat tubuhnya kelelahan.


Tracy menyipitkan mata sambil menatap Daphne penuh selidik.


“Memangnya apa yang kau lakukan semalam? Jangan-jangan kau….”


“Aku bukan sepertimu, Nona Petualang Cinta. Dua malam ini, aku mengerjakan makalah tentang skizofrenia paranoid.”


“Ckckck, benar-benar mahasiswi teladan. Aku saja baru mengerjakan setengahnya. Hati-hati, Daphne, kau bisa jadi perawan tua kalau terlalu rajin belajar. Tidurlah lebih awal supaya ada lelaki yang berani mendekatimu,” seloroh Tracy sambil mengunyah permen karet rasa mint.


“Sssttt, pelankan suaramu. Haicihhh….”


Daphne merasa malu karena mahasiswa lain di dalam bus mulai menatap ke arahnya. Karena takut dianggap pembawa virus, Daphne memilih diam supaya tidak bersin lagi. Sementara Tracy malah mengantuk karena perjalanan ini terasa sangat membosankan.


“Sebentar lagi kita sampai di Museum Lestate. Siapkan alat tulis mulai dari sekarang. Kalian dilarang menggunakan ponsel selama berada di area museum,” seru Mr. Mourens, dosen kepala jurusan psikologi.


Daphne menyenggol tangan Tracy agar gadis itu terbangun dari tidurnya.


“Tracy, bangun! Kita akan sampai di museum.”


Tracy menguap lebar sambil menggosok matanya.


“Aku malas sekali. Kita ini calon psikolog, bukan calon arkeolog. Aku tidak mengerti kenapa Mr. Mourens malah mengajak kita mengunjungi museum tua.”


“Kalau kau berani, tanyakan saja langsung kepada Mr. Mourens,” tantang Daphne.


“Tidak mau. Dia itu duda tua yang sangat galak, bisa-bisa aku diterkamnya,” tolak Tracy bergidik ngeri.


Daphne mengurungkan niatnya untuk menanggapi perkataan Tracy, karena bus mereka telah berhenti di depan gedung museum.


“Silakan turun berdasarkan urutan kursi. Saya tidak mau terjadi aksi saling dorong. Ingat kalian sudah dewasa, bukan anak kecil lagi,” seru Mr. Mourens memberikan peringatan.


Daphne dan Tracy yang duduk di deretan paling belakang, mendapat giliran terakhir untuk turun. Tatkala keluar dari bus, Daphne terkesima melihat gedung antik bergaya Renaissance yang menjulang di hadapannya. Bagi Daphne, gedung ini mencerminkan nilai seni sekaligus mengandung misteri tersendiri. Pantas saja bila Museum Lestate menjadi primadona di kalangan pecinta seni, meski usia gedung ini terbilang tua.


“Ayo masuk, jangan bengong saja di luar,” ajak Tracy menarik tangan Daphne.

__ADS_1


“Eh, iya,” jawab Daphne tersadar dari rasa takjubnya.


Di belakang Daphne, menyusul Mr. Mourens dan satu orang dosen pendamping.


“Daphne, jangan lupa amati setiap lukisan, arca dan novel yang tersimpan di sini. Catatlah perubahan dan karakter dasar manusia di masa itu. Saya akan menggunakan laporanmu sebagai contoh untuk mahasiswa lain,” ucap Mr. Mourens.


“Baik, Profesor,” kata Daphne mengangguk.


Tracy memutar bola matanya malas. Beginilah resiko jika berteman dengan mahasisiwi teladan yang menjadi idola para dosen.


Mendapat kepercayaan dari sang dosen, Daphne semakin bersemangat. Ia berencana akan berkeliling di seluruh sudut museum agar dapat memenuhi ekspektasi dari Mr. Mourens. Berbeda dengan Tracy yang justru menempel kepada Daphne. Gadis itu nampak ketakutan sejak menginjakkan kaki di museum.


"Tracy, aku akan berkeliling sendiri supaya lebih cepat."


"Jangan tinggalkan aku, Daph. Banyak gosip di media sosial yang mengatakan kalau museum ini berhantu. Aku takut," rengek Tracy.


Daphne membuka sedikit maskernya. Ia mengerutkan hidung ke atas, pura-pura hendak bersin untuk menakuti Tracy.


"Mau berapa kali lagi kamu bersin?" tanya Tracy bergidik.


Daphne menggeleng kecil sambil mengusap ujung hidungnya.


"Tidak tahu, sepertinya sinusku tambah parah. Aku sarankan menjauh dulu dariku supaya tidak tertular. Lagipula di sana ada Aston. Peluk saja dia jika kau takut," bujuk Daphne kepada Tracy.


"Idemu bagus sekali, Daph. Aku ke sana dulu. Usahakan untuk tidak bersin lagi," kata Tracy melambaikan tangan.


Melihat Tracy berlari menjauh, Daphne menyeringai senang. Tak disangka usahanya menakut-nakuti sang sahabat membuahkan hasil.


Daphne pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia mulai melakukan tugasnya, dengan mengamati berbagai macam lukisan yang terpajang. Ada lukisan para pekerja pertambangan, wanita bangsawan, dan sekumpulan anak-anak di rumah peternakan.


Puas memandangi lukisan, Daphne beralih kepada novel lama yang ditulis Madam Lindsay. Novel yang ditulis sekitar tahun 1930-an itu cukup terkenal dan mengisahkan percintaan antara manusia dan Lycan.


Karena tidak ada mahasiswa lain di dekatnya, Daphne melepas masker lalu membolak-balik lembaran novel yang sudah menguning. Ia membuat beberapa catatan di bukunya sebelum menutup novel itu.


Usai membaca cukup lama, Daphne memutuskan untuk melihat-lihat lagi lukisan kuno yang tergantung di dinding museum. Ia berhenti saat melihat lukisan yang letaknya paling ujung. Letaknya tersembunyi, seolah terpisah dari yang lain. Lukisan itu menarik perhatian Daphne karena dibingkai oleh kayu berukir di sisi kiri dan kanan.


Merasa penasaran, Daphne pun berjalan ke arah lukisan itu. Matanya menyipit ketika memperhatikan kastil besar yang terlukis dengan begitu indahnya.


‘Wow, kastil ini mirip sekali dengan film Count Dracula.’


Saking kagumnya, Daphne mengulurkan tangan untuk mengusap permukaan lukisan. Namun tiba-tiba saja ujung jemarinya terasa hangat, seolah-olah ia menyentuh barang yang bernyawa. Buru-buru Daphne menarik tangannya karena rasa terkejut. Mana mungkin lukisan yang disentuhnya mengeluarkan hawa panas, sementara museum ini memakai pendingin ruangan.

__ADS_1


Daphne pun menempelkan punggung tangan di dahinya untuk mengecek apakah ia demam atau tidak. Merasa diri baik-baik saja, Daphne kembali dilanda rasa penasaran. Ia memajukan wajahnya lebih dekat ke lukisan kastil itu. Namun ketika jaraknya hanya tersisa satu senti, mata Daphne terbelalak lebar. Pasalnya, ia seperti melihat sosok laki-laki yang berdiri di depan kastil.


Sontak, Daphne memundurkan tubuh. Rasa terkejut yang luar biasa membuat hidungnya gatal. Ia pun bersih dengan keras di depan lukisan itu.


“Haicihhh! Haiciihhh!”


Daphne segera menutup mulut lalu memakai masker untuk menutupi hidungnya. Ia berharap tidak ada seorang pun yang mendengar suara bersinnya tadi.


‘Apa bersinku mengotori lukisan ini? Aku harus segera membersihkannya sebelum ketahuan oleh petugas,’


batin Daphne panik.


Daphne mengeluarkan tissue dari dalam tas. Namun baru saja ia hendak melakukannya, lukisan itu mendadak bergetar. Sesaat kemudian, lukisan itu bergoncang-goncang disertai kemunculan asap putih yang keluar dari atap kastil.


Dengan mata melotot, Daphne menyaksikan fenomena aneh itu. Bulu kuduknya meremang seketika dan jantungnya serasa akan berhenti. Tanpa pikir panjang, Daphne berlari meninggalkan lukisan itu.


“Maaf,” kata Daphne menabrak seorang mahasiswa yang datang dari arah berlawanan.


“Lain kali hati-hati, Nona,” ucap mahasiswa itu sedikit kesal.


Daphne terus berjalan untuk mencari Tracy, tetapi sahabatnya itu tidak terlihat di mana-mana. Karena lelah, Daphne berhenti di lorong bagian arca. Ia menyenderkan punggung di dinding untuk mengatur napas dan mengusap matanya yang berair. Kejadian tadi sungguh menyeramkan.


‘Apa kejadian tadi nyata atau halusinasi? Jangan-jangan aku juga mengidap kelainan skizofrenia paranoid,’


pikir Daphne merasa cemas.


Masih berperang dengan pikirannya sendiri, Daphne merasakan ada seseorang yang mengawasinya dari belakang. Ia pun menoleh tetapi tidak melihat siapa-siapa di sana.


Karena semakin dilanda rasa takut, Daphne mengambil langkah seribu. Ia tergesa-gesa meninggalkan lorong itu untuk mencari Mr. Mourens. Beruntung pria berkaca mata itu sedang mengobrol dengan petugas Museum Lestate.


“Profesor, maaf saya mengganggu,” ujar Daphne dengan napas terengah-engah. Bulir keringat membasahi dahinya.


“Ada apa, Daphne? Kenapa kamu berkeringat?” tanya Mr. Mourens mengerutkan dahi.


“Badan saya mendadak demam, saya minta izin untuk pulang duluan. Laporan hari ini pasti akan saya kumpulkan,” pinta Daphne.


“Tapi kau akan pulang naik apa?” tanya Mr. Mourens.


“Saya akan memesan taksi online.”


“Baiklah, hati-hati, Daphne.”

__ADS_1


“Terima kasih, Profesor.”


Daphne buru-buru menyalakan ponselnya yang tersimpan di dalam tas lantas menekan aplikasi pemesanan taksi. Ia tidak sadar jika ada sepasang mata berwarna biru langit yang mengawasinya sejak tadi.


__ADS_2