Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 26 Mulai Merasakan Cinta


__ADS_3

Daphne hanya bisa memejamkan mata saat merasakan tubuhnya meluncur ke bawah. Meminta tolong pun kini sudah terlambat. Bila malam ini malaikat maut akan datang menjemputnya, maka ia tidak akan menghindar lagi. Salahnya sendiri terlalu percaya kepada lelaki asing yang memasuki hidupnya secara tiba-tiba.


Sambil melayang, Daphne menghitung di dalam hati. Bersiap untuk merasakan bagaimana jika nyawa manusia terlepas dari raganya. Ketika Daphne telah memasrahkan diri, ia justru merasakan tubuhnya ditopang oleh seseorang.


Seperti astronot yang berada di kawasan hampa udara, Daphne mengambang di atas ketinggian. Detik berikutnya, ia merasa tubuhnya mulai bergerak. Tidak, dia tak hanya bergerak melainkan terbang laksana seekor burung.


Saking terkejutnya, Daphne spontan membuka kedua. Ia tertegun saat bertemu pandang dengan manik sebiru lautan.


"Duncan?!"


"Nona, aku tidak akan membiarkanmu jatuh," ucap Duncan dengan tatapan sayu. Tatapan yang selalu mampu mengusik hati seorang Daphne Oliver.


Tak ayal Daphne terenyuh mendengar ucapan Duncan. Namun tak berselang lama, Daphne kembali membentengi dirinya. Ia tidak ingin terperdaya lagi oleh pesona lelaki itu.


"Tidak, lebih baik aku mati daripada menjadi mangsamu. Aku benci kau, Duncan!" sentak Daphne.


Duncan tidak menghiraukan protes yang dilayangkan gadis itu, karena ia tahu bahwa Daphne masih dalam keadaan syok. Tanpa ragu, Duncan membawa Daphne terbang melintasi jurang yang curam. Namun saat mereka hampir menginjakkan kaki di tanah, mendadak Daphne memberontak.


Entah mendapat kekuatan dari mana, gadis itu tiba-tiba mendorong tubuh Duncan. Alhasil tangan Duncan pun terlepas, sehingga Daphne langsung terhempas ke bawah.


Melihat Daphne akan membentur permukaan tanah, Duncan segera bertindak cepat. Ia lebih dulu terjun untuk menggapai gadis itu. Bahkan Duncan memutar tubuhnya agar bisa menjadi bantalan untuk Daphne. Dengan demikian, ia yang akan jatuh terlebih dulu sebelum Daphne benar-benar membentur tanah.


Tepat seperti perkiraan Duncan, tubuh Daphne menghantamnya dengan keras. Saat itulah, Duncan merasakan nyeri yang teramat sangat di rongga dadanya. Seolah ada sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya seperti letusan gunung berapi.


"Aarggghh!" lolong Duncan


Daphne terkesiap saat melihat Duncan meringis kesakitan sambil memegangi dadanya.


"Duncan, kau kenapa? Apa kau mengalami patah tulang?" tanya Daphne panik. Ia juga melihat bulir-bulir keringat yang membasahi kening pria tampan itu.


Duncan tidak menjawab karena rasa sakit yang menyerangnya. Tak hanya di bagian dada, kini perutnya juga ikut bergejolak seakan ingin memuntahkan sesuatu.

__ADS_1


Melihat Duncan menggelepar tak berdaya, Daphne menjadi kalut. Bingung dengan apa yang harus dilakukan, Daphne hanya bisa merangkul Duncan sambil terisak pelan.


Rasa marah dan kecewanya menguap seketika. Ia menyesal karena sudah bertindak keterlaluan terhadap Duncan. Tak seharusnya ia menuduh Duncan sekejam itu meskipun Duncan adalah seorang vampir.


"Maafkan aku, Duncan. Aku yang membuatmu jadi seperti ini," isak Daphne.


Dalam pelukan Daphne, tubuh lelaki itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya kemerahan. Daphne melerai pelukannya dan beringsut mundur. Gadis itu tercengang kala menyaksikan benda seukuran ibu jari melesat keluar dari mulut Duncan.


Benda mirip kristal itu membumbung tinggi di udara. Namun tak sampai satu menit, kristal tersebut pecah dengan sendirinya. Berubah menjadi partikel halus yang tak bisa dilihat secara kasat mata.


Bersamaan dengan hancurnya kristal itu, Duncan tidak sadarkan diri. Daphne pun meletakkan Duncan di pangkuannya dan berusaha menyadarkan lelaki itu.


"Duncan, bangunlah, kumohon," pinta Daphne menepuk pelan pipi Duncan.


Ia bisa merasakan betapa dinginnya kulit wajah Duncan. Seolah-olah tidak ada pasokan darah yang mengalir di tubuh lelaki itu. Daphne berusaha mengguncang tubuh Duncan lebih keras, tetapi pria itu tidak bergeming.


"Duncan, jangan tinggalkan aku," ucap Daphne putus asa. Ia meletakkan jari telunjuknya di dekat hidung Duncan untuk memeriksa apakah pria itu masih bernapas.


Dalam situasi sekarang, Daphne tidak memikirkan dirinya lagi. Ia bahkan rela mengorbankan seluruh darahnya demi memberikan setitik kehidupan kepada Duncan.


Tanpa pikir panjang, Daphne menggigit jari telunjuknya sendiri hingga berdarah. Kemudian dengan tangannya yang lain, ia membuka sedikit bibir Duncan yang terkatup rapat.


Daphne memasukkan tetesan darah dari telunjuknya ke mulut Duncan, sebagai pancingan agar pria itu tersadar.


"Sadarlah, Duncan. Kalau kau bangun, aku berjanji akan memberikan darahku untukmu."


Untuk beberapa saat, Duncan belum bereaksi. Namun kemudian, pria itu terbatuk-batuk dan perlahan membuka matanya.


Melihat Duncan telah sadar, Daphne tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia langsung memeluk Duncan dengan erat sambil menitikkan air mata. Daphne baru menyadari bahwa dia tidak bisa kehilangan lelaki itu.


"Duncan, aku minta maaf. Mulai sekarang aku tidak peduli kau vampir atau bukan. Aku akan menerimamu apa adanya."

__ADS_1


Dengan pandangan kosong, Duncan balas menatap Daphne. Ia bagaikan orang linglung yang baru saja kehilangan hartanya yang paling berharga. Ada suatu kehampaan di dalam jiwanya yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


"Nona, apa yang terjadi padaku?" tanya Duncan bingung. Pasalnya, ia merasakan getaran yang berbeda saat dipeluk sehangat ini oleh Daphne.


"Kau baru saja memuntahkan sebuah benda berwarna merah dari tubuhmu, lalu jatuh pingsan. Aku tidak tahu benda apa itu sebenarnya. Apa itu semacam jimat atau senjata sakti milikmu?" tanya Daphne.


Duncan mengubah posisinya menjadi duduk. Seingatnya, ia tidak pernah memiliki benda pusaka yang ditanamkan di dalam tubuh. Jika memang ada, pastilah sang nenek akan memberitahunya.


"Aku juga tidak tahu benda apa itu. Lebih baik kita pulang sekarang. Jangan sampai ada binatang buas atau vampir yang mengincar Nona."


Duncan berusaha untuk berdiri, tetapi tubuhnya yang masih lemas membuat Duncan sempoyongan. Ia hilang keseimbangan dan menubruk tubuh mungil Daphne dari samping. Mereka pun jatuh bergulingan di tanah.


Ketika gerakan mereka terhenti, tanpa sengaja bibir Duncan dan Daphne saling bersentuhan.


Duncan merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Entah mengapa muncul keinginan tak terbendung dalam dirinya, sehingga ia nekat mencecap manisnya bibir kenyal Daphne.


Daphne terkejut saat Duncan mencium bibirnya dengan lembut. Secara refleks, ia membuka bibirnya untuk memberikan akses lebih dalam kepada pria itu. Duncan pun semakin berani membelitkan lidahnya. Sesekali ia juga menghisap bibir bagian bawah Daphne sebagai pelampiasan.


Daphne melenguh pelan saat merasakan ciuman pertamanya dengan seorang pria. Namun, Duncan semakin lama semakin liar. Ia tidak memberikan jeda kepada Daphne, hingga gadis itu hampir kehabisan napas.


"Hmmppth!" seru Daphne berusaha mendorong tubuh Duncan menjauh darinya.


Seperti orang kesetanan, Duncan tidak menghiraukan protes dari Daphne. Dorongan hasrat yang baru pertama kali dia rasakan, membuat Duncan tak mampu berhenti. Yang dia mau hanyalah menghisap madu gadis ini sampai tak bersisa.


Duncan baru tersadar saat merasakan cairan hangat yang membasahi kedua pipi Daphne. Sontak, ia melepaskan tautan bibir mereka.


Duncan bisa melihat wajah Daphne yang memerah. Gadis itu membungkuk dengan napas terengah-engah, seperti orang yang kehabisan pasokan oksigen.


"Maafkan aku, Nona. Aku tidak tahu kenapa bisa lepas kendali seperti ini," ucap Duncan penuh penyesalan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2