
"Duncan, pelan-pelan, jalanan sedang ramai," cegah Daphne.
Bukan tanpa alasan Daphne berkata seperti itu, karena Duncan sejak tadi menyalib mobil-mobil yang ada di depannya secara ugal-ugalan. Lelaki itu seperti tidak sabar untuk segera sampai di tujuan.
"Duncan, kau meminjam mobil ini dari orang lain? Dan di mana mobilku?" tanya Daphne memperhatikan mobil yang ditumpanginya.
Duncan tidak menjawab, tetapi justru melajukan mobilnya semakin kencang. Saat Daphne masih bingung, ia melihat dari spion ada mobil lain yang menyusul mereka di belakang. Anehnya mobil itu justru mirip dengan mobil miliknya, baik dari segi model maupun warna. Tidak, bukan mirip melainkan sama persis.
"Berhenti, Duncan! Yang di belakang itu mobilku, kan. Apa kamu bertukar mobil dengan seseorang?"
Lagi-lagi Duncan tidak merespon. Seperti orang kesetanan, pria itu terus menginjak pedal gas lantas berbelok ke arah tikungan. Ternyata ia menuju ke sebuah kawasan kumuh yang biasa dipakai untuk tempat pembuangan sampah.
Bau yang menyengat memenuhi seluruh hidung Daphne, ketika Duncan menghentikan mobilnya.
"Kita sudah sampai. Turunlah, Nona Daphne," tutur Duncan membuka pintu mobil.
"Untuk apa kita ke sini? Katamu kita akan pergi ke tempat yang spesial?" tanya Daphne mengernyit bingung.
Duncan menyeringai lalu menarik Daphne agar keluar dari mobil.
"Nanti kau akan tahu."
Karena ditarik paksa, Daphne pun mengikuti pria itu berjalan melewati tumpukan sampah. Ketika mereka sampai di sebuah tanah lapang, terdengar suara seseorang yang memanggil Daphne.
“Nona, berhenti!”
Daphne terpaku saat melihat pria yang tengah berlari ke arahnya. Lutut Daphne mendadak gemetaran. Entah ini mimpi atau semacam halusinasi yang berlebihan, tetapi ia melihat dua sosok kembar dengan rupa yang sama persis. Yang satu ada di depannya, dan yang satu lagi sedang menggandeng tangannya.
Antara percaya dan tidak, Daphne melihat ke arah dua pria itu secara bergantian. Ia sampai mengerjapkan mata beberapa kali, karena takut ada yang salah dengan penglihatannya.
“Dun…can, k-kenapa kalian bisa ada dua?” tanya Daphne gelagapan.
__ADS_1
“Jangan hiraukan dia. Aku yakin dia hantu yang menyamar untuk mengejar kita. Cepat kita pergi dari sini,” ajak Duncan yang pertama.
“Tunggu, Nona, akulah Duncan yang asli, sedangkan dia vampir yang menyerupai aku,” cegah Duncan yang satu lagi.
“Tidak, dia yang berbohong. Dia ingin mencelakaimu, Nona."
Daphne benar-benar bingung saat ini. Duncan yang baru datang juga meraih tangan Daphne, sehingga gadis itu diperebutkan oleh dua pria yang berwujud sama. Mereka saling menarik tangan Daphne ke arah yang berlawanan, sehingga gadis itu terombang-ambing ke sana kemari.
“Stop! Kumohon jangan permainkan aku seperti ini,” pinta Daphne putus asa. Ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya saat ini, karena kedua pria tersebut sama-sama berusaha untuk meyakinkannya.
“Nona, kita seringkali menghabiskan waktu bersama. Apa kau sungguh tidak bisa mengenali aku yang asli? Perhatikan mataku baik-baik dan kau akan bisa membedakan mana diriku yang sebenarnya,” ujar Duncan yang baru datang menyusulnya.
Mendengar ucapan pria itu, Daphne lantas membandingkan sorot mata keduanya. Duncan yang pertama menjemputnya di dekat kios Mc. Grey memiliki tatapan yang dingin. Ia juga bersikap tak sabaran bahkan cenderung kasar. Sedangkan saat Daphne memandang Duncan yang satu lagi, ia bisa menemukan kehangatan dan ketulusan. Genggaman tangan pria itu juga lebih lembut, tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya.
Hati terdalam Daphne kini bisa merasakan siapakah Duncan yang asli. Daphne pun menghempaskan tangan Duncan palsu, tetapi pria itu mendadak terbang ke atas dan menariknya ikut serta.
“Tolong aku, Duncan!” pekik Daphne ketakutan.
Duncan palsu itu terbahak lantas melingkarkan lengannya di leher Daphne. Bersiap untuk mencekik leher gadis itu.
“Tidak akan, aku akan membalaskan sakit hatiku kepada wanita ini. Kau akan melihatnya mati karena kehabisan darah!”
Daphne bisa merasakan perubahan yang terjadi pada sosok yang menangkapnya. Ketika ia menengok ke belakang, kembaran Duncan itu telah berganti rupa menjadi seorang wanita muda. Meski wajahnya terbilang cantik, tetapi bola mata wanita itu begitu mengerikan. Ia seperti singa kelaparan yang hendak mengoyak habis mangsanya.
“Si-apa kau?” tanya Daphne terbata-bata.
“Kau sungguh ingin tahu siapa aku? Aku adalah calon istri sah Duncan, Salma Duante. Sedangkan kau sama seperti semut kecil yang berusaha untuk menggigit kulitku. Karena itu, aku harus menghabisimu sekarang juga!”
Wanita vampir itu segera mengeluarkan taringnya dan bersiap menancapkan ke leher Daphne. Namun sebelum itu terjadi, Duncan sudah lebih dulu melemparkan sinar mirip kilatan petir. Tanpa bisa dicegah, sinar itu langsung menerpa tubuh Salma hingga vampir wanita itu terjengkang dan jatuh menabrak tanah.
Otomatis tubuh Daphne pun turut terhempas ke bawah. Namun ia berhasil ditangkap oleh Duncan pada waktu yang tepat.
__ADS_1
“Nona, kau tidak apa-apa?”
Daphne menggelengkan kepala dan segera memeluk pria itu. Sementara Salma sudah berdiri sambil mengelap darah di sudut bibirnya.
“Pangeran, kau tega melukai aku demi manusia yang tidak ada nilainya itu?” teriak Salma penuh kemarahan.
“Aku tidak bermaksud melukaimu, Salma. Namun aku tidak akan tinggal diam jika kau melukai Daphne.”
“Jadi kau anggap dia lebih berharga daripada aku?” tanya Salma dengan suara parau.
“Tolong kembalilah saja ke kerajaan vampir dan jangan mengganggu Daphne lagi,” pinta Duncan sungguh-sungguh.
“Baiklah, jika itu maumu. Tetapi ingatlah, penghinaan ini tidak akan pernah aku lupakan. Kau dan wanita itu akan dijatuhi hukuman yang setimpal.”
Dalam sekejap Salma menghilang dari pandangan Duncan.
“Duncan, siapa dia? Kenapa dia menyamar menjadi dirimu dan ingin membunuhku?” tanya Daphne sambil meringkuk di pelukan Duncan.
“Aku juga tidak tahu. Dia muncul tiba-tiba di makam ibuku dan mengaku sebagai calon istriku. Sudahlah, lebih baik kita pulang sebelum ada bahaya lain yang mengintaimu. Pejamkan matamu, Nona.”
Tanpa membantah, Daphne memejamkan mata. Ia merasakan sedikit pusing dalam beberapa detik. Dan ketika ia membuka mata, Daphne terkejut karena mendapati dirinya telah berpindah tempat. Sekarang dia tidak lagi berada di tempat pembuangan sampah, melainkan berdiri di dalam kamarnya sendiri.
“Duncan, i-ini benar kamarku?” tanya Daphne tak percaya.
“Iya, aku menggunakan teleportasi untuk memindahkan tubuh kita berdua. Aku terpaksa melakukannya karena kau sudah melanggar laranganku, Nona,” tegas Duncan sembari menatap Daphne dengan tajam.
“Maaf, aku hanya…ingin membelikanmu darah hewan. Aku tidak menyangka niatku itu malah menyusahkanmu,” jawab Daphne penuh sesal.
“Apapun alasannya, kau harus mematuhi aku demi keselamatanmu. Lagipula sudah kukatakan berulang kali bahwa aku tidak membutuhkan darah,” tandas Duncan.
Tiba-tiba saja Duncan mengangkat tubuh mungil Daphne, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian ia sendiri merebahkan diri di samping gadis itu.
__ADS_1
“Duncan, apa yang…kau lakukan?” tanya Daphne bingung.
“Menjagamu sepanjang malam. Aku harus memastikan calon pengantinku aman sampai di hari pernikahan,” kata Duncan.