
Ratu Claudia berjalan bolak-balik di depan kamarnya. Ia sedang menunggu Astara, tabib paling sakti di kerajaan, selesai memeriksa kondisi Salma. Saat ini hati sang ratu sungguh gelisah. Bila Salma sampai gagal diselamatkan, sudah pasti Lord Duante akan marah besar.
Pria itu adalah vampir yang berpengaruh dan memiliki banyak pengikut setia. Jika dia sampai murka, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi pemberontakan terhadap kekuasaan istana. Apalagi jika mereka tahu bahwa Salma terluka karena Duncan.
"Bagaimana kondisi Salma?" tanya Ratu Claudia begitu melihat tabib itu keluar.
"Dia akan siuman sebentar lagi, Yang Mulia. Saya sudah menyalurkan energi murni untuk mengobati lukanya. Tetapi sebenarnya bukan itu penyebab Nona Salma menjadi pingsan," jelas Astara.
"Lalu apa penyebab utamanya?"
"Tanaman beracun yang langka, Pylodon Hibiscus. Sepertinya Nona Salma memakan tanaman itu hingga dia tidak sadarkan diri. Untung saja racun tersebut belum menyebar di seluruh tubuhnya. Saya sudah memberikan obat penawar, sebentar lagi dia pasti akan sadar."
"Terima kasih, Astara. Tolong jaga rahasia ini. Jika ada orang lain yang mengetahuinya, kau tahu sendiri hukuman apa yang akan kujatuhkan untukmu," tandas Ratu Claudia.
"Saya mengerti, Ratu. Saya mohon undur diri," ucap Astara buru-buru pergi dari ruangan mewah itu.
Ratu Claudia bergegas menuju ke kamarnya. Ia menghampiri Salma yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur, sembari menunggu gadis itu siuman.
Tak berselang lama, tubuh Salma mulai bergerak. Perlahan gadis itu membuka matanya dan menatap wajah Ratu Claudia.
"Salma, akhirnya kau sadar juga. Apa ada yang sakit?" tanya Ratu Claudia penuh perhatian. Terbersit rasa bersalah di hatinya karena telah mengutus Salma untuk mencari Duncan.
"Saya masih pusing, Yang Mulia, dan tenggorokan saya sangat kering," keluh Salma.
"Tunggu sebentar."
Ratu Claudia mengambilkan segelas darah segar untuk mengurangi rasa sakit di tenggorokan Salma. Ia membantu Salma untuk bangun, lalu meminumkan darah itu.
"Salma, jawablah dengan jujur. Kenapa kau memakan tanaman beracun? Aku kira kau terluka parah karena mendapat serangan dari cucuku," tanya Ratu Claudia.
__ADS_1
"Saya melakukannya karena merasa tidak berharga lagi, Ratu. Harga diri saya sebagai wanita sudah terinjak-injak oleh Pangeran Duncan," jawab Salma sambil menitikkan air mata.
Air mata Salma semakin deras mengalir. Ia sengaja membuat dirinya terlihat menderita untuk menarik simpati sang ratu.
"Pangeran Duncan sudah menolak saya mentah-mentah. Dia mengatakan bahwa saya tidak pantas menjadi calon istrinya, karena dia akan menikahi gadis manusia."
Sontak wajah Ratu Claudia menegang begitu mendengar berita buruk yang disampaikan Salma. Jika benar Duncan menikahi manusia, maka apa yang ditakutkannya selama ini akan menjadi kenyataan.
"Apa kau serius dengan ucapanmu itu? Kau yakin Duncan akan menikah?"
"Mana mungkin saya berbohong padamu, Ratu. Saya bahkan mengetahui nama dan rupa gadis itu. Dia sudah mempengaruhi Pangeran Duncan supaya melupakan ras vampir dan tinggal selamanya di dunia manusia."
Ratu Claudia semakin meradang. Tanpa sadar ia mencengkeram lengan Salma hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Katakan siapa nama gadis itu? Aku akan melenyapkannya dengan segera dari kehidupan Duncan!"
"Ambillah ingatan saya, Ratu. Anda akan mengetahui siapa gadis manusia yang telah merebut hati Pangeran Duncan," ujar Salma meletakkan tangan Ratu Claudia di atas kepalanya.
Tidak seperti biasanya, Daphne hanya diam sepanjang perjalanan menuju ke Mount Valley. Entah mengapa setelah mereka menjadi suami istri, ia justru semakin deg-degan saat berada di dekat Duncan.
Untuk mengusir kebosanan, Daphne melempar pandangannya ke jendela, melihat pohon-pohon yang berjajar di pinggir jalan. Mobil Duncan pun terus memanjat naik, menyusuri kawasan perbukitan yang didominasi warna hijau. Semakin ke puncak, semakin terasa hawa dingin yang menusuk hingga ke pori-pori kulit.
"Nona, kita sudah sampai. Itu dia hotel Mount Valley," tunjuk Duncan ke bangunan putih yang menjulang di hadapan mereka.
Bangunan bertingkat empat yang dikelilingi tebing itu membuat Daphne kagum. Bukan hanya arsitekturnya yang mirip sebuah kastil modern, tetapi pemandangan gunung di depannya juga memanjakan mata. Daphne tidak menyangka bila sang kakek akan memilihkan tempat seindah ini untuk bulan madunya.
Duncan memarkirkan mobilnya di halaman parkir hotel, lalu mengajak Daphne turun. Begitu keluar dari mobil, Daphne mengeratkan syal di lehernya untuk menghalau udara dingin. Sementara Duncan sibuk menurunkan koper dari bagasi.
"Sshhh, dingin sekali," tutur Daphne mengeluarkan asap tipis dari napas hidungnya.
__ADS_1
"Cepat masuk ke dalam supaya kau tidak kedinginan. Aku akan mengurus barang kita dulu," ucap Duncan.
Daphne mengangguk, kemudian melangkah masuk ke hotel untuk menemui resepsionis. Ia menyerahkan voucher hotel yang diberikan oleh Kakek James untuk melakukan check in.
"Kamar Anda di lantai tiga Nona, nomer 303. Ini kuncinya," ucap resepsionis itu memberikan kunci kamar.
Duncan pun menyusul masuk dengan mendorong dua buah koper. Dengan dibantu petugas hotel, mereka masuk ke lift untuk menuju kamar khusus bulan madu di lantai tiga.
"Selamat istirahat, Tuan, Nyonya. Nanti jam tujuh malam, silakan turun ke restoran untuk menikmati candle light dinner," ujar petugas itu.
"Terima kasih, Tuan."
Setelah petugas itu pergi, Daphne membuka pintu kamar diikuti oleh Duncan di belakangnya. Merasakan hembusan angin dari pendingin ruangan, tubuh Daphne kembali menggigil. Ternyata kawasan Mount Valley memiliki suhu udara yang lebih rendah dibandingkan pegunungan di sekitarnya.
"Masih kedinginan?" tanya Duncan melihat Daphne menggosok-gosokkan telapak tangannya. Duncan masih ragu untuk menyebut nama Daphne karena ia belum terbiasa.
"Iya, aku mau tidur sebentar untuk menghangatkan badan," ujar Daphne.
"Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu saat makan malam," kata Duncan memberikan persetujuan.
Daphne bergegas menanggalkan syalnya. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur dan bergelung di bawah bed cover hotel yang tebal. Inilah yang dibutuhkannya sejak tadi, selimut hangat dan kasur yang empuk.
Duncan membiarkan Daphne beristirahat, sementara dia sibuk mengeluarkan baju-baju dari koper Daphne. Ia juga mengeluarkan hadiah pemberian Tracy dari kopernya.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Duncan ikut naik ke atas tempat tidur untuk menemani Daphne. Melihat Daphne cepat sekali tertidur, Duncan tersenyum tipis. Ia pun menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi sang istri.
'Kau sangat cantik saat tidur seperti ini. Nanti malam aku akan menepati janjiku untuk menunjukkan semua kemampuan sihir yang belum pernah kau lihat. Aku akan mengajakmu menjelajahi pegunungan dengan cara yang ajaib,' batin Duncan.
Sambil menjaga Daphne, Duncan membuka hadiah yang diberikan Tracy. Mata Duncan membulat sempurna, ketika ia mengeluarkan kotak dari dalam paper bag tersebut.
__ADS_1
'Bajunya kenapa sangat tipis seperti kekurangan bahan? Dan benda pipih ini mirip sekali dengan kepunyaan Daphne,' gumam Duncan mengamati lingerie dan flash disk berwarna hitam di tangannya.
BERSAMBUNG