Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 43 Ke mana Suamiku


__ADS_3

Bagai mendengar bunyi guntur tepat di telinganya, itulah yang dirasakan Duncan. Ia tidak menduga bila tindakannya telah membuat sang nenek murka, bahkan sampai mengancam akan membunuh Daphne.


“Aku yang bersalah dalam hal ini, bukan Daphne. Tolong jangan lukai dia. Hukum saja aku, Ratu,” pinta Duncan bersimpuh di depan neneknya. Di balik sifat tegas Ratu Claudia, ia tahu bahwa sang nenek masih memiliki rasa belas kasihan.


Di sisi lain, Ratu Claudia sudah mengeraskan hati. Meski jutaan kali Duncan memohon, ia tidak akan mentolerir pelanggaran yang dilakukan oleh cucunya itu. Apalagi bayang-bayang kematian Brandon yang tragis masih saja menghantuinya hingga saat ini.


“Kalau kau berkata demikian, artinya kau sudah menentukan pilihan untuk ikut bersamaku. Kembalilah ke tubuhmu dan kita pergi sekarang!” titah Ratu Claudia.


Masih dalam posisi bersimpuh, Duncan mencoba menyampaikan isi hatinya yang terdalam.


“Tidak bisakah Nenek membiarkan aku hidup sebagai manusia bersama dengan istriku? Aku tidak akan mengganggu atau merugikan siapapun.”


“Diam, Duncan! Aku melakukan ini semua demi kebaikanmu. Sekali aku membuat keputusan, aku tidak akan pernah menariknya kembali. Jika kau ingin wanita itu tetap bernapas, lupakan dia untuk selama-lamanya!”


Duncan merasa dirinya terjebak di antara lautan api dan air. Jika ia terjun ke lautan api, maka ia akan hangus terbakar. Sebaliknya bila masuk ke dalam air, dia akan tenggelam dan tak bisa muncul lagi ke permukaan. Duncan tidak mau meninggalkan Daphne seorang diri, tetapi bila ia bersikukuh sudah pasti wanita yang dicintainya itu akan kehilangan nyawa.


“Batas kesabaranku hampir habis, Duncan!” bentak Ratu Claudia.


“Baiklah, aku akan ikut bersamamu ke Istana. Tetapi mohon berikan aku waktu untuk mengantar Daphne pulang ke rumahnya.”


Ratu Claudia bersedekap sembari mengamati wajah Duncan. Entah mengapa ia seperti melihat Brandon yang kala itu juga memohon pengampunan atas nyawa istrinya.


“Aku memberimu waktu sebelum matahari terbit. Jika kau tidak datang ke istana, maka jangan berharap kau bisa melihat wanita itu lagi. Bangunlah dan pergi sekarang!”


Duncan pun memberi hormat kepada neneknya sebelum ia beranjak pergi. Dari arah depan, muncul sebuah lingkaran besar yang menyilaukan mata. Tanpa bisa menghindar, Duncan tersedot ke dalam pusat lingkaran itu.


Beberapa detik kemudian, Duncan membuka mata dan melihat Daphne masih setia memeluknya. Melihat Daphne yang tertidur begitu nyenyak, membuat hati Duncan semakin tersiksa. Ia tidak menyangka jika tali jodohnya dengan Daphne akan berakhir secepat ini.


Perlahan, Duncan melepaskan tangan Daphne yang melingkar di pinggangnya. Ia mengecup sekilas bibir Daphne sambil membelai rambut panjang gadis itu. Tanpa terasa, bulir sebening embun luruh dari kelopak mata Duncan. Untuk pertama kalinya, ia menitikkan air mata. Kini Duncan bisa memahami bagaimana perasaan manusia jika harus berpisah dari orang yang dikasihi.

__ADS_1


Sementara dalam tidurnya, Daphne mendapatkan mimpi yang aneh. Ia sedang berada di sebuah taman yang dipenuhi bunga mawar. Ketika ia memetik sekuntum mawar merah, tiba-tiba Duncan memeluknya dari belakang. Daphne pun tersenyum lantas memutar tubuhnya untuk memandang Duncan.


“Sayang, kau mengejutkan aku. Apa kau merindukan aku?” tanya Daphne.


“Iya, aku sangat merindukanmu,” jawab Duncan dengan suara lirih.


Melihat ekspresi sang suami yang murung, Daphne pun mengernyitkan dahi.


“Ada apa, Sayang? Kenapa kau kelihatan sedih?”


Duncan melerai pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Daphne dengan telapak tangannya yang besar.


“Daphne, maafkan aku karena tidak bisa menepati janji, tetapi percayalah bahwa aku selalu mencintaimu.”


“A-apa maksudmu?” tanya Daphne bingung.


“Aku harus pergi. Jagalah dirimu baik-baik sampai aku kembali, Sayang.”


“Duncan, tunggu, jangan tinggalkan aku!”


Daphne terus saja berlari tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Dihinggapi rasa putus asa, Daphne terjatuh di atas hamparan rumput. Namun ia berusaha untuk bangkit agar bisa menemukan Duncan. Berulang kali Daphne berteriak memanggil nama Duncan, tetapi suaminya itu bak lenyap tertelan bumi.


“Duncan!” seru Daphne.


Merasakan sesak di rongga dadanya, Daphne pun menangis tersedu-sedu. Namun secara tiba-tiba, jiwanya tersentak ke alam nyata.


Seketika Daphne mengerjap bingung ketika menyadari dirinya berada di dalam kamar. Apalagi ia bisa melihat cahaya matahari yang menembus lewat tirai jendela. Daphne bergegas bangun dan menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya.


‘K-kenapa aku bisa terbangun di kamarku sendiri? Bukankah semalam aku tidur di hotel bersama Duncan?’ gumam Daphne.

__ADS_1


Merasa ada yang janggal, ia pun beranjak dari tempat tidur. Tanpa mengenakan alas kaki, Daphne keluar dari kamar untuk mencari Duncan. Ia yakin bila Duncan menggunakan kemampuan teleportasi untuk memindahkannya ke rumah Kakek James. Padahal mereka masih memiliki waktu satu hari untuk menikmati bulan madu di Mount Valley.


Mengingat Duncan selalu menyiapkan sarapan pagi, Daphne buru-buru menuju ke dapur. Namun Daphne langsung kecewa karena yang dilihatnya hanyalah Kakek James.


“Kakek, di mana Duncan?” tanya Daphne.


Kakek James menghentikan aktivitas memasaknya, lalu memandang Daphne dengan tatapan rumit.


“Duncan? Apa itu nama tetangga baru kita?”


“Kek, jangan bercanda, ini tidak lucu. Aku sedang mencari suamiku, karena kami seharusnya masih berbulan madu di hotel.”


Kakek James menggeleng kecil. Ia mencuci tangannya yang terkena tepung di wastafel, lalu memegang kedua bahu Daphne.


“Sweetheart, apa kau baru saja bermimpi? Bagaimana mungkin kau bersuami, sementara pacar saja kau tidak punya. Soal Duncan, apa dia itu kekasih khayalanmu?”


“Kek, aku baru menikah di Gereja dengan Duncan dua hari yang lalu. Kakek sendiri yang mengantarkan aku ke altar, apa Kakek lupa semua itu?” balas Daphne balik bertanya.


Kakek James menghembuskan napas panjang, seolah prihatin dengan kondisi cucu perempuannya.


“Daphne, lebih baik kau mandi, berdandan yang cantik, lalu sarapan bersama Kakek. Setelah itu, berangkatlah ke kampus untuk kuliah. Siapa tahu kau akan bertemu dengan pria idamanmu yang bernama Duncan.”


Menghadapi sikap kakeknya yang acuh tak acuh, Daphne merasa kesal. Ia berpikir bahwa Kakek James mulai pikun akibat faktor usia. Daripada berdebat lebih lama, Daphne memilih untuk kembali ke kamar.


Setelah mengunci pintu, Daphne meraih ponselnya dari atas nakas. Ia pun berpikir untuk menghubungi Tracy, guna meminta bantuan dari sahabatnya itu.


“Halo, Daph, kenapa meneleponku pagi-pagi? Apa kau sudah mendapatkan pasangan untuk menghadiri acara ulang tahun Valerie? Kalau belum, aku akan minta pada Aaron untuk mengenalkanmu dengan salah satu temannya.”


Mendengar perkataan Tracy, Daphne hanya bisa meneguk salivanya. Dari pertanyaan gadis itu, tersirat dengan jelas bahwa Tracy menganggap dirinya masih berstatus lajang. Lalu bagaimana dengan pernikahannya? Kenapa semua orang mendadak lupa bahwa ia sudah menjadi istri seorang Duncan Kliev?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2