
Sebelum Ratu Claudia benar-benar mencekiknya, Daphne menunjuk ke arah Vladimir. Ia ingin memberitahukan kepada sang ratu bahwa dalang di balik tragedi ini adalah cucunya sendiri. Vladimir-lah yang sudah mempengaruhinya untuk membunuh suaminya sendiri.
"Di-a yang...." tunjuk Daphne sambil berlinang air mata.
Ratu Claudia menajamkan penglihatannya, hingga bertatapan langsung dengan kedua manik mata kecokelatan milik Daphne. Sekelebat memori gadis itu terbaca olehnya. Ratu Claudia terkesiap saat mendapati kemunculan Vladimir dalam pikiran Daphne.
Saking terkejutnya, ia melepaskan cengkeraman di leher Daphne dan berganti meremas lengan gadis itu. Dengan segera, Ratu Claudia menyeret Daphne ke tengah-tengah podium.
Para vampir yang melihat kejadian itu sangat terkejut karena ada manusia di dalam kerajaan mereka. Apalagi manusia itu adalah seorang gadis yang cantik, dengan darah yang terlihat manis dan segar untuk dinikmati.
"Aku ingin mengumumkan kepada kalian semua. Wanita ini sudah mencoba untuk membunuh calon raja kalian, Duncan. Katakan hukuman apa yang pantas untuknya?" teriak Ratu Claudia.
Iris mata para vampir itu serentak memerah karena diselimuti kemarahan yang luar biasa. Mereka menatap lapar kepada Daphne, seolah ingin menerkam gadis itu hidup-hidup. Para vampir itu saling berbisik dan menjawab secara serempak.
"Dia harus menjadi santapan kita semua, Ratu. Itulah hukuman yang paling pantas untuknya."
Daphne memejamkan mata dengan tubuh yang gemetaran. Ia lebih memilih bunuh diri daripada harus dijadikan pelepas dahaga oleh para vampir ini.
Di saat genting itu, Salma tiba-tiba maju ke depan. Ia merasa inilah waktu yang tepat untuk membalas rasa sakit hatinya. Gara-gara Daphne ia gagal menjadi seorang ratu dan dipermalukan sedemikian rupa oleh Duncan.
"Yang Mulia, tolong serahkan dia kepadaku. Aku akan menghabisinya di depan semua vampir," tukas Salma menatap Daphne penuh kebencian.
Melihat wajah Salma, Daphne langsung mengenalinya sebagai vampir wanita yang dulu pernah menyamar menjadi Duncan.
"Kau yang...menculikku waktu itu?" tanya Daphne terbata-bata.
"Iya, kita bertemu lagi, Daphne. Sudah waktunya kau mati di tanganku," jawab Salma menyeringai. Ia sudah tidak sabar untuk mencabik-cabik Daphne hingga tak berbentuk.
"Tunggu, Salma, kau boleh menahan Daphne di sini, tetapi jangan membunuhnya dulu. Aku harus melakukan sesuatu."
Ratu Claudia bergegas kembali ke dalam untuk melihat kondisi Duncan. Ia melihat sang cucu masih terbaring lemah dengan tangan dan kaki yang mulai memudar. Sedangkan bagian kepalanya masih ditopang oleh Vladimir.
"Duncan, aku tidak akan membiarkanmu lenyap. Aku akan membawamu kembali ke lukisan," ucap Ratu Claudia dengan mata berkaca-kaca.
Perempuan berusia ribuan tahun itu berjalan mendekat untuk mengambil alih tubuh Duncan. Namun Vladimir dengan cepat membawa Duncan terbang ke atas.
"Vladi, apa yang kau lakukan? Turunkan, Duncan!" seru Ratu Claudia.
"Tidak bisa, Nenek. Aku ingin dewa kematian segera menjemput Duncan. Aku tidak akan membiarkanmu merusak impianku," ujar Vladimir sambil menahan tubuh Duncan.
"Jadi benar kau yang merencanakan ini semua? Kau yang membawa Daphne menyelinap ke istana dan menyuruhnya untuk membunuh Duncan?" tanya Ratu Claudia dengan suara parau.
__ADS_1
"Kau benar, Nenek. Kau tahu kenapa aku melakukannya? Karena aku sangat membenci Duncan. Dia adalah penghalang terbesarku untuk mendapatkan takhta. Karena kelahirannya, aku kehilangan ayahku, kakekku, dan tidak mendapatkan kasih sayang darimu!" balas Vladimir mengeraskan rahangnya.
"Tidak, kau salah, Vladi. Aku juga sayang padamu."
"Omong kosong! Sikapmu sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Sekarang aku minta izin untuk membawa cucu kesayanganmu ini menemui ajalnya. Dan kau lebih baik tinggal di sini, Nenek!"
Secepat kilat, Vladimir melancarkan mantra pengurung untuk membuat Ratu Claudia tidak mampu bergerak dari tempatnya. Mantra ini sama seperti yang dulu dipakai oleh Lord Anthony menjelang detik-detik kematian Brandon.
"Dari mana...kau belajar mantra pengurung ini?" tanya Ratu Claudia terperanjat.
"Kau tidak perlu tahu, Nenek. Diamlah di situ sampai aku resmi dinobatkan menjadi raja."
Sekarang segalanya menjadi terang benderang bagi Duncan. Ia baru mengetahui bahwa kakak tirinya adalah penyebab dari semua malapetaka yang menimpanya. Duncan ingin sekali menghajar Vladimir, lalu membebaskan istri dan neneknya. Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa karena sebelah tangan dan kakinya telah memudar.
Dengan sekali hentakan, Vladimir pun membawa Duncan terbang menuju ke podium aula pertemuan. Perhatian para vampir kembali teralihkan dari Daphne kepada Duncan. Mulut mereka semua menganga melihat tubuh sang pangeran yang berubah transparan. Lebih parahnya lagi ia justru dihempaskan begitu saja oleh kakaknya sendiri, yaitu Vladimir.
"Duncan!" teriak Daphne melihat suaminya tersungkur di lantai. Ia ingin berlari untuk menolong Duncan, tetapi tidak mampu karena ada Salma yang membelenggu tubuhnya.
"Diam, kau, wanita munafik! Kau sendiri yang menyebabkan Pangeran Duncan meregang nyawa, tetapi sekarang kau pura-pura peduli padanya!" bentak Salma menjambak rambut Daphne hingga mendongak menatap langit-langit.
Dengan sisa kesadarannya, Duncan melihat ke arah Daphne. Ia berusaha merangkak untuk menggapai sang istri yang ditawan oleh Salma. Namun Vladimir bergerak lebih cepat untuk menghalanginya.
"Kau kejam sekali! Kau yang sudah menghipnotis aku untuk menusuk Duncan dengan belati!" pekik Daphne.
Seketika Vladimir menoleh kepada Daphne. Ia menjadi murka karena Daphne sudah berani membeberkan kelakuannya di hadapan majelis vampir.
Vladimir memicingkan mata sambil mengepalkan kedua tangannya, lalu ia kembali menghadap kepada Duncan.
"Tadinya aku ingin mempercepat kematianmu dengan menghanguskan sisa tubuhmu. Namun aku berubah pikiran. Akan lebih baik jika kau melihat dulu bagaimana istrimu mati perlahan-lahan di depan matamu."
"Aku peringatkan kau, jangan sentuh istriku!" ujar Duncan dengan sisa tenaganya.
Vladimir tidak menghiraukan ancaman yang diberikan Duncan. Ia memilih untuk menghampiri Daphne yang masih ditahan oleh Salma.
"Serahkan gadis itu kepadaku, Salma!" tukas Vladimir.
"Pangeran, biar aku saja yang membunuhnya untukmu," pinta Salma.
"Aku bilang serahkan Daphne kepadaku!"
Melihat wajah Vladimir yang berubah menyeramkan, Salma tidak berani membantah. Ia pun mendorong tubuh Daphne hingga jatuh ke pelukan Vladimir.
__ADS_1
"Bunuh saja aku, tetapi lepaskan Duncan," ucap Daphne dengan berlinang air mata.
Vladimir berdecih mendengar permintaan Daphne.
"Aku heran kenapa kalian semua sangat menyayangi Duncan, bahkan rela mati untuknya. Apa istimewanya dia dibandingkan aku? Padahal aku sempat berpikir untuk menjadikanmu sebagai istriku setelah dia mati. Sayangnya kau sudah mengkhianatiku, Daphne. Karena itu, kau layak mendapatkan hukuman."
Vladimir menarik Daphne merapat kepadanya, lalu ******* bibir gadis itu dengan ganas. Daphne meronta-ronta ingin melepaskan diri, tetapi ia kalah tenaga dengan Vladimir.
Salma dan vampir yang lain hanya bisa terpaku menyaksikan kejadian itu. Tidak ada yang berani berkomentar, karena mereka takut akan menjadi sasaran kemarahan Vladimir.
Melihat istrinya dilecehkan oleh sang kakak, amarah Duncan kian memuncak. Namun semakin ia mencoba untuk bangkit, bagian tubuhnya justru kian memudar. Duncan merasa kalau waktunya akan habis, tetapi ia tidak rela membiarkan Daphne menderita di tangan Vladimir.
"Hen...tikan! A-aku tidak akan...."
"Tidak akan apa?" tanya Vladimir melepaskan pagutan bibirnya. Ia membalikkan tubuh Daphne, lalu membawanya mendekati Duncan.
"Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa, Duncan. Keadaanmu ini sangat menyedihkan," ejek Vladimir.
Pangeran vampir bermata hijau itu lantas berteriak dengan suara lantang.
"Dengarkan semuanya! Kalian akan menjadi saksi mata saat aku menghisap darah istri adikku ini sampai kering. Daphne akan segera mati, begitu pula dengan Duncan. Dan setelahnya kalian bisa merayakan penobatanku sebagai raja!"
Zetta dan para vampir pendukung Vladimir segera meneriakkan yel-yel dukungan untuk calon raja baru. Mereka pun tak sabar menunggu detik-detik menegangkan di mana Vladimir akan menunjukkan taringnya.
Derai air mata Daphne berjatuhan tatkala Vladimir mulai mengendus bagian lehernya. Kini ia hanya bisa memanjatkan doa supaya ada keajaiban yang membebaskannya dari cengkeraman sang vampir jahat.
Di tempatnya, Duncan hanya bisa memandangi Daphne dengan pilu. Sebelum dirinya sendiri benar-benar musnah menjadi debu, ia harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan hidup istrinya.
Ketika suasana menjadi hening, Vladimir bersiap menancapkan gigi taringnya ke leher Daphne. Namun mendadak muncul seberkas cahaya dari perut Daphne. Cahaya itu melesat begitu cepatnya dan menghantam keras da-da Vladimir. Karena tidak sempat menghindar, pria itu terjengkang ke belakang. Ia menabrak dinding aula, hingga menimbulkan bunyi dentuman yang keras.
"Vladimir!" Zetta berteriak keras dan berlari untuk menyelamatkan putranya.
Melihat Vladimir terluka, Daphne tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan langkah sempoyongan, ia berusaha menghampiri tubuh Duncan yang hampir menghilang.
Salma berusaha menghalangi langkah Daphne, tetapi lagi-lagi cahaya berwarna kebiruan muncul dari perut Daphne. Persis seperti yang dialami Vladimir, Salma terhempas ke belakang, dan kehilangan kesadarannya.
Para vampir yang melihat kejadian itu sangat terkejut sekaligus terpukau. Tak terkecuali Marconi yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Menyaksikan cahaya berkekuatan dahsyat itu, ia langsung membelalakkan matanya.
"Ini mustahil. Apa gadis manusia itu sedang mengandung calon raja berikutnya?" pikir Marconi.
Bersambung
__ADS_1