Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 42 Pilihan yang Sulit


__ADS_3

Sambil merentangkan kedua tangannya ke udara, Daphne membiarkan hembusan angin mengibarkan rambutnya. Malam ini, ia merasa sangat bebas untuk mengekspresikan diri. Tak ada lagi ketakutan maupun keraguan yang membebani pikirannya.


Duncan pun mendaratkan tubuhnya di tepi danau dan mengajak Daphne beristirahat.


“Sudah puas berkeliling atau masih ingin lagi?” tanya Duncan kepada Daphne. Mereka berdua duduk di atas rumput sambil memandangi air danau yang berwarna keperakan.


“Kita di sini saja, aku sudah lelah berteriak terus,” jawab Daphne menyenderkan kepalanya di bahu Duncan.


Dari arah pandangnya, Daphne bisa melihat bunga berbentuk terompet yang tumbuh di seberang danau.


“Duncan, bunga itu bentuknya unik. Aku baru pertama kali melihatnya.”


“Kau mau? Aku akan mengambilnya untukmu.”


Duncan menghadapkan tangan kanannya ke arah bunga terompet itu. Dengan sekali ayun, bunga terompet itu pun tercabut sendiri, lalu terangkat ke atas. Layaknya medan magnet, tangan Duncan berhasil menarik bunga terompet itu dari jarak jauh tanpa menyentuhnya. Dan tak lama kemudian, bunga berwarna jingga itu sudah berada di dalam genggaman Duncan.


Daphne hanya bisa melongo menyaksikan atraksi menakjubkan itu. Terlebih saat Duncan menyibak rambutnya, lalu menyelipkan bunga tersebut di belakang telinga.


“Itu tadi apakah semacam kemampuan telekinesis?” tanya Daphne.


“Iya, semua vampir menguasai telekinesis, tetapi dengan level yang berbeda-beda. Ada yang bisa melakukannya dalam jarak satu meter, dua meter, atau bahkan ratusan meter. Dengan meditasi dan rajin berlatih, maka kemampuan telekinesis akan berkembang,” jelas Duncan.


“Lalu siapa yang melatihmu, Sayang? Bukankah kau selalu berada di dalam lukisan?” tanya Daphne.


“Nenekku yang melatihku untuk bermeditasi. Aku juga banyak belajar dari buku bagaimana cara mengendalikan benda dan makhluk hidup tanpa menyentuh.”


“Kau pernah masuk ke kerajaan vampir?” tanya Daphne mendongakkan kepala.


“Pernah beberapa kali, tetapi hanya rohku saja. Aku memiliki darah yang tidak murni, sehingga tidak diizinkan untuk bertemu secara langsung dengan ras vampir.”


Melihat ekspresi kekecewaan di raut wajah suaminya, Daphne ikut bersedih. Sedikit banyak ia bisa memahami bagaimana Duncan menjalani hari-harinya dalam kesepian. Darah campuran di dalam tubuhnya, membuat Duncan harus hidup terasing dari ras vampir maupun manusia.


“Sekarang sudah ada aku yang menemanimu. Aku akan membantumu untuk menjadi manusia seutuhnya,” ujar Daphne.


“Tapi aku masih harus minum darah setiap tujuh hari sekali. Apa kau tidak keberatan dengan hal itu?”


Daphne menggeleng pelan mendengar pertanyaan yang diajukan Duncan.

__ADS_1


“Tidak, Sayang, aku akan menyimpan stok darah di lemari pendingin. Dengan begitu kau tidak perlu berburu lagi ke tengah hutan.”


Duncan mengecup bibir Daphne sebagai ungkapan cinta dan rasa terima kasih. Ia tidak menyangka Daphne yang semula begitu galak dan ketus, kini berubah menjadi lemah lembut dan pengertian. Bahkan wanita itu bersedia menerimanya sebagai suami tanpa mempermasalahkan darah vampir yang mengalir dalam tubuhnya.


“Duncan, kapan kau akan mengajakku ke dunia vampir? Aku ingin menemukan pembunuh ayah dan ibuku dengan segera," pinta Daphne tiba-tiba.


“Aku akan pergi seorang diri untuk menyelidikinya. Kau tidak perlu ikut, karena dunia vampir sangat berbahaya bagi manusia.”


Wajah Daphne berubah cemberut. Sampai detik ini, ia masih berharap untuk membalas kematian kedua orang tuanya dengan tangannya sendiri.


Mengetahui kekecewaan istrinya, Duncan menaikkan dagu Daphne agar pandangan mereka menjadi sejajar.


“Tidak usah sedih. Aku berjanji padamu akan menemukan vampir pembunuh itu dan menghukumnya di hadapanmu.”


“Benarkah?” tanya Daphne


“Kapan aku berbohong padamu. Ayo, kita kembali ke kamar untuk istirahat.”


Duncan memegang tangan Daphne, lalu mengajaknya untuk berdiri.


“Tidak, kita akan berpindah langsung ke kamar hotel. Pejamkan matamu.”


Daphne menurut saja karena ia tahu bahwa Duncan akan menggunakan sihir teleportasi. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, Daphne merasa dirinya menjadi molekul berukuran kecil yang menembus batasan ruang dan waktu. Meski begitu, ia tak lagi merasakan pusing dan mual seperti saat pertama kali melakukan teleportasi.


“Kita sudah sampai, Sayang,” bisik Duncan.


Ketika membuka mata, Daphne mendapati dirinya tidak lagi berada di dalam hutan, melainkan di kamar hotel tempatnya memadu kasih dengan Duncan.


Wanita muda tersebut kehilangan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Bersuamikan seorang vampir sungguh telah memberinya pengalaman yang luar biasa. Unik, mendebarkan, sekaligus sulit diterima oleh nalar manusia. Namun demikian, Daphne begitu menyukai semua sensasi yang ditawarkan oleh Duncan.


Melihat Daphne masih tertegun di tempatnya, Duncan lantas menggendong tubuh sang istri ke tempat tidur.


“Tidurlah, Sayang.”


“Kau akan tidur juga kan di sampingku?” tanya Daphne.


“Iya, aku tidak mungkin ke mana-mana.”

__ADS_1


“Malam ini aku sangat bahagia, Duncan,” ucap Daphne menyunggingkan senyum, lalu memeluk tubuh suaminya erat-erat.


Untuk sesaat, Daphne tiba-tiba merasa takut kehilangan Duncan. Entah mengapa firasatnya mengatakan ada sesuatu di luar sana yang hendak memisahkan mereka berdua.


***


Duncan masih betah memandangi wajah Daphne, hingga dia sendiri terlelap dengan deru napas yang teratur. Namun baru beberapa menit berlalu, jiwa Duncan tertarik oleh sebuah energi tak kasat mata. Ia berusaha melawan, tetapi energi itu menyeretnya hingga terjatuh ke sebuah ruangan yang remang-remang.


Duncan mengepalkan tangan, bersiap untuk menyerang lawannya. Namun, ia berhenti saat mendengar derap langkah seseorang.


“Nenek?!” tanya Duncan terkejut melihat kedatangan Ratu Claudia.


Sang ratu vampir itu berjalan mendekat, lalu merangkul Duncan dengan mata berkaca-kaca.


“Duncan, akhirnya aku berhasil menemukanmu di malam bulan purnama. Aku sangat mencemaskan keadaanmu. Ke mana saja kau selama ini?”


Duncan membeku dalam dekapan neneknya. Sadar bahwa ia tidak pernah mengabari sang nenek, hati Duncan diselimuti rasa bersalah.


“Maafkan aku, karena membuatmu khawatir. Aku terlalu nyaman tinggal di dunia manusia setelah keluar dari lukisan,” jawab Duncan membalas pelukan sang nenek.


Ratu Claudia melerai pelukannya, lalu mengamati Duncan yang tampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


“Wajahmu pucat. Kau pasti terlalu banyak makan makanan manusia dan lupa meminum darah. Karena itu, aku datang untuk menjemputmu pulang. Mulai sekarang kau akan hidup bersamaku di istana sebagai calon pewaris takhta,” ajak Ratu Claudia menarik tangan Duncan.


“Maaf, Nek, aku tidak bisa ikut denganmu. Aku mohon izinkanlah aku hidup dengan tenang sebagai manusia, karena aku sudah…memiliki istri," tolak Duncan.


Mata Ratu Claudia menyala bagaikan kobaran api. Urat-urat leher vampir wanita itu menonjol keluar, menunjukkan betapa murkanya dia saat ini. Ternyata semua yang dilaporkan oleh Salma adalah benar adanya.


“Kau nekat menikahi wanita dari ras manusia tanpa persetujuanku. Dan sekarang kau berani melawan perintahku demi wanita itu? Apa dia sudah menyihirmu sampai kau linglung?” tanya Ratu Claudia.


“Nenek salah paham. Daphne adalah wanita yang sangat baik. Dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang buruk kepadaku,” bela Duncan.


Ratu Claudia mengepalkan tangan seiring dengan kemarahannya yang kian memuncak. Duncan yang dulu sangat penurut, kini berubah menjadi pembangkang akibat pengaruh wanita licik bernama Daphne.


“Baiklah, aku akan memberimu dua pilihan. Pertama, ikut aku ke istana dan istrimu itu akan selamat. Atau yang kedua, kau boleh tinggal di dunia manusia, tetapi aku akan melenyapkan nyawa istrimu sekarang juga. Pilihlah, Duncan!” tandas Ratu Claudia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2