Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)


__ADS_3

Daphne sedikit ragu mendengar ajakan Julio, apalagi mereka baru saja berkenalan. Namun bila benar pria itu mengetahui tempat persembunyian vampir, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Dari mana Tuan bisa mengetahui tempat persembunyian vampir?" tanya Daphne memastikan.


"Karena saya pernah melihat seorang laki-laki yang menghisap darah gelandangan. Waktu itu, saya sedang berjalan-jalan sendirian di malam hari untuk mencari makanan," jawab Julio meyakinkan Daphne.


Pria itu kemudian menarik napas panjang.


"Jika Nona berubah pikiran, saya tidak akan memaksa. Mencari vampir memang kegiatan yang berbahaya, apalagi bagi wanita cantik seperti Nona. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Julio berpura-pura hendak keluar dari toko buku.


Melihat pria itu akan pergi, Daphne segera menahannya. Kapan lagi dia bisa bertemu dengan orang yang secara suka rela mau menolongnya untuk bertemu vampir.


"Tunggu, Tuan, saya akan membayar buku-buku ini lalu ikut dengan Anda," ucap Daphne bergegas menuju ke meja kasir.


Julio hanya tersenyum smirk melihat umpan yang ditebarnya telah mengenai sasaran. Sambil bersandar pada salah satu rak, ia menunggu hingga Daphne selesai membayar buku yang dibelinya.


Tanpa sadar Julio menjilat bibirnya sendiri ketika melihat leher jenjang Daphne yang putih dan mulus. Rasanya sudah lama ia tidak mendapatkan mangsa yang secantik ini. Pasti akan sangat nikmat, bila ia mencumbu gadis itu terlebih dulu. Kemudian setelah puas, ia akan menghisap darahnya sampai tak bersisa.


"Tuan, ayo kita pergi sekarang supaya tidak kemalaman," ucap Daphne yang segera disetujui oleh Julio.


Daphne pun berjalan mengikuti Julio sambil menenteng tas belanjaannya. Bunyi derap sepatu mereka terdengar nyaring saat menyusuri sisi jalan yang lengang. Mereka terus melangkah sampai akhirnya Julio berbelok di sebuah gang yang sempit.


Melihat tak ada lagi pejalan kaki di sekitar mereka, Daphne mulai cemas. Ia berhenti sejenak untuk bertanya kepada Julio.


"Tuan, untuk apa kita ke sini?" tanya Daphne.


"Tentu saja untuk menemukan vampir itu, Nona. Di tempat inilah dia menghisap darah korbannya. Ayo, ikuti saya," kata Julio. Pupil matanya yang semula hitam perlahan telah berubah menjadi kemerahan. Pertanda bahwa hasratnya terhadap darah murni kini semakin memuncak.


Dengan dipandu Julio, Daphne pun memasuki gang sempit itu. Ia bisa melihat banyaknya coret-coretan yang bertebaran di sepanjang tembok. Beberapa puntung rokok dan botol bekas minuman juga berserakan di lantai. Benarkah vampir suka bersembunyi di tempat yang jorok seperti ini?


Sambil menahan rasa takut bercampur penasaran, Daphne mengedarkan pandangannya. Gang ini sangat sunyi, tidak terlihat siapapun kecuali dirinya dan Julio. Lalu di manakah keberadaan vampir yang dimaksud oleh pria berambut gondrong itu?

__ADS_1


"Kita sudah sampai, Nona. Sekarang kamu bisa bertemu dengan vampir yang asli," ucap Julio dengan ekspresi datar. Daphne terkesiap saat menyadari mata Julio sudah berubah, tidak lagi hitam legam seperti semula.


"Tapi, di mana vampir itu, Tuan?" tanyanya sedikit memundurkan tubuh.


"Kau tidak perlu mencari lagi, Nona. Vampir yang kau maksud ada di depan matamu," ucap Julio sambil menyeringai.


"A-apa maksudmu?" tanya Daphne ketakutan melihat kilatan aneh di mata Julio.


"Kau akan segera mengetahuinya sebentar lagi."


Julio membuka mulutnya dan tiba-tiba saja kedua gigi taringnya bertambah panjang. Matanya kini menjadi merah menyala seperti batu rubi.


Melihat pemandangan mengerikan itu, mata Daphne terbelalak lebar. Ia merasakan sekujur tubuhnya merinding tak karuan. Ingin sekali Daphne melarikan diri, tetapi kedua kakinya justru tak mampu bergerak sama sekali. Terlebih ketika Julio menghampirinya dengan melayang, seperti orang yang mengambang di atas permukaan air.


Sebelum Daphne sempat melarikan diri, Julio segera merengkuh tubuh mungil Daphne. Kemudian ia menatap mata gadis itu dengan sorot penuh damba.


"Tatap mataku, Nona. Sebentar lagi aku akan memberimu kenikmatan yang tidak terbatas."


"Hmmmm, kau sepertinya sangat lezat, Nona. Ini mungkin akan terasa sakit di awal, tetapi sesudahnya kau akan kecanduan," bujuk Julio dengan suara dalam. Sebagai vampir pembunuh yang berpengalaman, dia sangat pandai membuai kaum wanita.


"Kau sudah siap?" tanya Julio. Dia sudah tak sabar untuk memuaskan dahaganya dengan darah segar seorang perawan.


"I-iya," lirih Daphne mulai hilang kesadaran.


Detik berikutnya, gadis itu memejamkan mata, pasrah atas apa yang akan dilakukan Julio kepadanya.


Seringai menakutkan terbentuk di bibir Julio. Merasa mangsanya sudah tak berdaya, Julio bersiap untuk menancapkan taring tajamnya ke leher Daphne. Namun di saat yang bersamaan, ia merasakan sebuah hantaman keras menerpa punggungnya. Sontak, Julio terkejut dan melepaskan rengkuhannya dari tubuh Daphne.


Sembari menggeram penuh amarah, Julio menolehkan kepalanya. Dia bersumpah akan menghabisi siapapun yang telah berani mengganggu kesenangannya malam ini.


Namun di luar dugaan, si pengganggu ternyata sudah bergerak lebih dulu. Sosok tersebut langsung melompat untuk menopang tubuh Daphne yang hendak luruh ke tanah.

__ADS_1


"Nona, sadarlah," ucap Duncan menepuk pipi Daphne.


"Siapa kau? Beraninya kau merebut mangsaku!" bentak Julio dari belakang.


Karena Daphne belum sadar, Duncan akhirnya menyandarkan tubuh gadis itu ke dinding. Sekarang ia harus membereskan dulu si vampir ganas yang akan mengancam keselamatan Daphne.


"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Kenapa kau berkeliaran di dunia manusia dan mengganggu temanku?"


Julio mengernyitkan dahinya ketika merasakan energi yang dimiliki Duncan. Pria ini memiliki kekuatan vampir, tetapi juga tercium bau darah manusia dari tubuhnya. Vampir muda ini juga memiliki manik mata berwarna biru khas keluarga bangsawan.


Untuk sesaat mereka saling bersitatap, mencoba menyelami energi masing-masing.


Julio bersiap menghimpun kekuatannya untuk menyerang Duncan. Namun ia tertegun kala merasakan energi magis yang dimiliki lawannya kian membesar. Bahkan levelnya hampir setara dengan energi yang dimiliki Vladimir.


Seketika Julio menyunggingkan senyum. Ia merasa beruntung karena tanpa bersusah payah, ia berhasil menemukan sang pangeran yang telah lama menghilang. Ibarat kata sekali tepuk, dua ekor lalat akan mati dalam waktu bersamaan.


"Cepat pergi dari sini dan lepaskan Daphne, atau kita harus bertarung sampai mati!" hardik Duncan.


Julio pun membungkukkan badannya di hadapan Duncan.


"Aku Julio Segaf, tidak akan pernah melepaskan buruan yang sudah kutangkap. Dengan senang hati aku akan bertarung denganmu...Pangeran Duncan. Akan menjadi sebuah kehormatan besar bagiku jika aku berhasil mengalahkanmu."


Duncan terhenyak mendengar ucapan Julio. Entah dari mana vampir ini bisa mengetahui identitasnya sebagai keturunan raja. Namun Duncan tak mau ambil pusing. Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan Daphne.


"Mari kita mulai, Pangeran," ucap Julio.


Dalam sekejap mata, ia berubah menjadi pusaran angin hitam yang menggulung tubuh Duncan. Duncan berusaha melawan, tetapi pusaran angin itu bertambah kencang, sehingga tubuhnya terombang-ambing ke atas dan ke bawah.


"Pangeran, apa kau senang berada di dalam sini? Bersiaplah karena aku akan berputar sangat kencang untuk meremukkan tulang-tulangmu," ujar Julio dengan suara menggelegar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2