Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah


__ADS_3

Daphne hampir tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal. Alhasil dia merasa lesu ketika harus meninggalkan tempat tidur. Bahkan ia bersin beberapa kali saat keluar dari kamar.


"Pagi, Kek," sapa Daphne meneguk segelas susu hangat.


Kakek James keheranan melihat cucunya itu tampak kurang bersemangat. Padahal hari ini mereka harus melakukan banyak kegiatan untuk persiapan pernikahan.


"Sayang, kenapa matamu hitam seperti mata panda? Apa kau kurang tidur semalam?" tanya Kakek James memperhatikan wajah Daphne.


"Aku hanya...mengalami sedikit insomnia, Kek."


"Pasti karena kau gugup memikirkan pernikahanmu. Apa kau sudah tidak sabar untuk melewati malam pengantin bersama Duncan?" goda Kakek James.


"Uhukkk! Uhukkk!"


Daphne tersedak oleh telur rebus yang dimakannya karena melihat Duncan datang dari arah dapur. Ia kesal mengapa sang kakek suka berbicara sembarangan tanpa mengenal waktu dan tempat.


Melihat wajah Daphne yang memerah sambil terbatuk-batuk, Duncan segera mengambilkan air untuk gadis itu.


"Nona, tidak apa-apa?"


Daphne melambaikan tangannya sambil menggeleng perlahan. Ia berharap Duncan tidak mendengar perkataan kakeknya barusan.


"Bergabunglah bersama kami, Duncan. Jangan bekerja terus. Kakek tidak mau kalian jatuh sakit di hari pernikahan. Setelah ini, kalian harus pergi ke butik Victoria untuk memilih baju pengantin. Sedangkan Kakek akan ke Gereja untuk mendaftarkan pernikahan kalian," ucap Kakek James.


Daphne langsung mengangkat wajahnya, nampak tidak setuju dengan ucapan sang kakek.


"Tidak usah pakai baju pengantin segala, Kek. Aku bisa memakai gaun putih peninggalan Nenek, dan Duncan akan memakai jas milik ayah. Lagipula tidak ada tamu undangan yang akan melihat kami."


"Tidak, baju-baju itu sudah kuno, ketinggalan zaman. Kalian anak muda harus mengikuti tren masa kini. Apalagi kamu adalah cucu Kakek satu-satunya. Jangan mempermalukan nama keluarga Oliver," jawab Kakek James.


Daphne hanya memutar bola matanya malas sambil berdesis.


"Usia Nyonya Victoria hanya enam tahun lebih muda dari Kakek. Lalu apa bedanya jika aku menyewa gaun pengantin darinya? Model gaun di butiknya pasti kuno juga."


"Eits, jangan salah. Kakek dan Victoria berteman sejak lama. Meski kami tua, tetapi jiwa kami seperti anak muda berusia dua puluhan," seloroh Kakek James.


"Yah, terserah Kakek saja," jawab Daphne enggan berdebat.


Kakek James pun tersenyum senang, lalu menepuk bahu Duncan.


"Duncan, temani Daphne memilih gaun pengantin yang sesuai untuknya. Kamu sendiri harus mencari jas yang serasi dengan gaun Daphne. Setelah itu, pilihlah bunga yang akan dibawa oleh Daphne ke altar."

__ADS_1


Usai pria tua itu bicara, terdengar bunyi klakson mobil dari pekarangan depan. Kakek James buru-buru bangkit dari kursi karena Xin Fei sudah datang untuk menjemputnya.


"Lakukan seperti yang Kakek katakan. Kakek menunggu kalian di restoran," pesan pria tua itu sebelum meninggalkan rumah.


Sementara itu, Daphne menjadi canggung saat ia hanya berduaan saja dengan Duncan. Apalagi ia merasa malu setiap kali mengingat peristiwa panas antara mereka semalam.


"Emmm, aku akan mandi," ujar Daphne hendak menghindar.


"Tunggu, Nona, apa kita akan pergi ke butik dulu sebelum ke kampus?" tanya Duncan.


"Hari ini aku tidak kuliah. Aku sulit untuk berkonsentrasi karena kurang tidur. Lebih baik kita ke rumah sakit."


"Nona sakit?" tanya Duncan keheranan.


"Bukan aku, tetapi seseorang yang selalu bersamaku."


Sebelum Duncan banyak bertanya, Daphne bergegas pergi ke kamarnya. Yang pertama kali ia lakukan adalah menghubungi Tracy untuk memberitahu bahwa dia absen hari ini. Cukup lama Daphne menunggu, tetapi Tracy tidak kunjung mengangkat teleponnya.


'Ck, lama sekali. Ke mana sebenarnya gadis genit itu?' batin Daphne kesal.


Sambil berdecak kesal, Daphne mengulang kembali panggilannya hingga sebuah suara menjawab dengan malas.


"Aku yang seharusnya bertanya, ke mana saja kau sampai tidak mengangkat telponku?" balas Daphne.


"Masa sebagai sesama wanita kau tidak peka? Sshhhh," keluh Tracy.


"Kau sakit?" tanya Daphne bingung.


"Bukan, aku kedatangan tamu bulanan yang menyebalkan. Padahal hari ini aku akan berkencan dengan Aaron di hotel, tetapi semuanya jadi gagal total."


Bukannya prihatin, Daphne justru tergelak mendengar keluhan sahabatnya itu.


"Makanya jangan urusan ranjang terus yang ada di pikiranmu."


"Tertawakan saja aku sepuas hatimu. Bisa jadi kau juga akan mengalami hal yang sama ketika kau sedang ingin bermesraan dengan kekasihmu," umpat Tracy.


"Sudah jangan marah. Aku meneleponmu karena hari ini aku tidak bisa ikut kelas. Besok aku akan meminjam catatanmu."


"Nona Teladan tidak ikut kuliah? Apa kau bercanda atau aku yang sedang bermimpi?" tanya Tracy tidak percaya.


"Aku serius. Hari ini aku tidak bisa masuk karena harus mengurus keperluan pernikahanku," ungkap Daphne berterus terang.

__ADS_1


Nada suara Tracy langsung naik dua oktaf begitu mendengar perkataan Daphne. Bahkan saking melengkingnya suara gadis itu, gendang telinga Daphne serasa berdengung.


"Oh, gosh! Ini bukan April Mop, Baby Girl. Pacar saja kau tidak punya, lalu bagaimana kau tiba-tiba akan menikah? Atau jangan-jangan kau akan menikahi lelaki dari dimensi lain yang tembus pandang? Ini sesuai dengan hobimu yang menyukai novel horor," pekik Tracy mengira Daphne hanya bicara omong kosong.


"Enak saja, aku akan menikah dengan pria yang bisa kau lihat dengan kedua matamu. Aku yakin kau akan patah hati saat mengetahui siapa calon suamiku," tegas Daphne.


"Memangnya siapa dia? Henry Cavill, Chris Evans, atau Liam Hemsworth?" gurau Tracy masih menganggap Daphne berbohong.


"Bukan mereka, tetapi aku akan menikah dengan pria pujaanmu. Dia adalah...Duncan Kliev," ucap Daphne dengan bangga.


...****************...


Daphne masih tersenyum-senyum sendiri setiap kali mengingat reaksi Tracy. Gadis itu sampai histeris saat mengetahui dia akan menikah dengan Duncan. Namun, fakta tentang pernikahannya membuat Daphne tersadar akan sesuatu.


"Duncan, apa kau punya kartu identitas dan surat-surat yang diperlukan untuk legalitas pernikahan?"


"Aku bisa membuat dan menirunya dalam sekejap, seperti kartu identitas yang kutunjukkan kepada Nona tempo hari. Apapun yang diperlukan, aku bisa memenuhinya dengan sihir," jawab Duncan enteng.


"Jadi kau memalsukan kartu identitasmu?" tanya Daphne.


"Bukan memalsukan, tetapi menciptakan kartu itu untuk menandai keberadaanku secara nyata di tengah manusia," terang Duncan.


Daphne jadi merasa dungu karena menanyakan hal yan ini. Tentu saja bagi vampir seperti Duncan, masalah semudah itu bisa diatasi. Bahkan Duncan mampu menangkal panasnya sinar matahari tanpa terbakar sedikitpun. Barangkali mitos mengenai vampir sebagian besar adalah bualan manusia belaka.


"Nona, aku juga ingin menanyakan beberapa hal," ujar Duncan sambil mengemudikan mobilnya memasuki area rumah sakit.


"Tanya saja, aku akan menjawabnya selama aku bisa."


"Apa saja yang harus kulakukan saat upacara pernikahan nanti? Kemudian setelah kita menikah, aku harus berbuat apa? Kakek James pernah mengatakan bahwa aku boleh menghamilimu supaya kita punya bayi. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya," terang Duncan dengan jujur.


Wajah Daphne langsung bersemu seperti buah apel. Entah Duncan masih terlalu polos atau pria ini sengaja mengetes pengetahuannya mengenai malam pertama. Yang jelas, ia tidak mungkin menjelaskan dengan detail cara untuk menghasilkan keturunan.


"Pikirkan saja sendiri atau cari di internet."


Daphne buru-buru keluar dari mobil agar Duncan tidak membicarakan hal yang sensitif. Dia akan sangat malu bila pria itu menyebut-nyebut soal bayi.


Daphne pun langsung menuju ke lobi rumah sakit. Ia bertanya ke bagian resepsionis mengenai prosedur pembelian kantong darah. Namun di saat yang bersamaan, ada seorang pria yang muncul dan berdiri di belakangnya.


"Nyonya, aku juga ingin membeli beberapa kantong darah seperti Nona ini," ujar pria itu dengan tatapan tajam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2