
Daphne masih betah berada di pelukan Duncan usai mereka menyatukan diri untuk pertama kalinya. Sepasang pengantin baru itu tak lagi merasakan dingin, karena tubuh mereka kini basah oleh keringat. Keduanya masih beristirahat sambil meresapi sisa percintaan yang baru mereka lakukan. Daphne belum berani buka suara karena masih merasa malu, sedangkan Duncan berusaha menenangkan diri kembali dari geloranya yang sempat meledak-ledak.
Beberapa kali ia hampir saja dikuasai oleh sisi gelap, tetapi Daphne berhasil membangkitkan sisi manusianya berkat sentuhan lembut gadis itu. Kini Duncan semakin yakin bahwa Daphne adalah pasangan yang telah ditakdirkan untuknya. Seperti halnya sang ayah yang mencintai manusia, kini ia pun mengalami hal yang sama.
Keheningan di dalam kamar itu terpecahkan ketika terdengar bunyi-bunyian dari perut Daphne. Menyadari cacing di perutnya sudah berdemo, wajah Daphne pun merona. Ia yakin Duncan akan menertawakannya setelah ini. Namun di luar dugaan pria itu malah membelai rambutnya dengan lembut.
“Ayo kita mandi, lalu makan malam di luar. Kau pasti sudah lapar,” ajak Duncan.
“Aku tidak mau mandi, rasanya masih sakit untuk berjalan,” rengek Daphne dengan suara manjanya.
Wajah Duncan langsung berubah khawatir. Ia takut Daphne mengalami luka parah akibat pergumulan panjang mereka tadi.
“Bagian mana yang sakit, biar aku memeriksanya,” tanya Duncan hendak menyibak selimut Daphne. Namun Daphne buru-buru mencekal tangan Duncan.
“Tidak usah dilihat, aku hanya ingin minta sesuatu.”
“Katakan saja apa yang bisa kulakukan untuk membantumu supaya kau tidak kesakitan lagi,” ujar Duncan bertambah cemas.
“Aku…minta digendong ke kamar mandi.”
“Hanya itu?”
“Iya,” jawab Daphne mengangguk pelan.
Duncan segera membopong tubuh istrinya dari tempat tidur. Dengan satu tendangan kaki, ia berhasil membuka pintu kamar mandi dan membawa Daphne berdiri di bawah shower.
Melihat kaki Daphne yang terlihat lemas, Duncan berinisiatif untuk memandikan istrinya itu. Sambil menyenderkan tubuh Daphne ke tubuhnya sendiri, Duncan menyalakan shower air hangat dan mulai mencuci rambut Daphne.
“Duncan, apa yang kau lakukan? Aku masih bisa mandi sendiri,” protes Daphne. Ia merasa canggung dan malu karena dimandikan seperti anak kecil.
“Biarkan aku melayanimu. Kau tidak perlu malu lagi karena kita adalah suami istri.”
Dengan telaten, Duncan menyabuni leher, tangan, dan punggung Daphne. Tak ada yang luput dari perhatiannya sama sekali. Menerima perlakuan semanis ini, Daphne merasa terbang tinggi hingga ke langit ketujuh. Ia pun bergantian memandikan Duncan dan menikmati momen kebersamaan mereka.
Usai mandi, Daphne memilihkan jas dan kemeja untuk Duncan, sementara ia sendiri memakai gaun malam selutut berwarna merah. Malam ini Daphne ingin tampil serasi dengan Duncan sebagai sepasang pengantin baru.
__ADS_1
“Nah, sudah selesai,” ucap Daphne merapikan jas yang dipakai Duncan.
“Terima kasih, Sayang,” jawab Duncan.
Mata Daphne membola ketika mendengar Duncan memanggilnya dengan sebutan “Sayang.”
“D-dari mana kau mengenal kata-kata seperti itu?” tanya Daphne keheranan.
“Aku…mendengarnya dari film, juga dari pasangan yang ada di taman bermain waktu itu. Mereka saling memanggil dengan kata “Sayang”. Jadi, aku berpikir bahwa laki-laki dan perempuan yang saling mencintai akan memakai nama panggilan “Sayang”. Apa kesimpulanku itu salah?” tanya Duncan.
“T-tidak, kau benar.”
“Kalau begitu kau juga harus memanggilku dengan nama itu,” pinta Duncan.
Daphne membuang pandangannya ke sembarang arah, merasa salah tingkah dengan permintaan yang diajukan Duncan.
“I-iya. Lebih baik kita ke restoran sekarang,” ujar Daphne menarik Duncan.
Dengan bergandengan tangan, mereka menuju ke lobi untuk menanyakan acara makan malam yang sudah terlambat satu jam lamanya.
Daphne dan Duncan mengikuti petugas itu masuk ke dalam lift. Angin malam yang dingin langsung menerpa bahu Daphne saat mereka tiba di restoran roof top. Namun pemandangan romantis di depan matanya, membuat Daphne terkagum-kagum. Siapa wanita yang takkan terpana bila melihat meja bundar yang dilengkapi lilin dan bunga mawar. Terlebih dari atas sini, Daphne bisa melihat jajaran pegunungan yang mengitari hotel.
“Silakan duduk, Tuan, Nyonya. Kami akan mengantarkan makanan Anda sebentar lagi.”
“Terima kasih,” ucap Daphne.
Selepas petugas itu undur diri, Duncan melepas jas yang dipakainya dan menutupkannya ke tubuh Daphne. Selanjutnya, ia menarik kursi agar sang istri bisa duduk. Sikap dan tindakan Duncan yang mengistimewakan dirinya, membuat Daphne semakin jatuh dalam pesona lelaki itu.
Sambil menikmati hidangan, Daphne memperhatikan bulan berwarna kuning kemerahan yang menggantung di atas langit.
“Duncan, apakah sekarang bulan purnama? Bulannya terlihat bulat dan sangat terang,” tunjuk Daphne ke angkasa.
“Iya, kebetulan sekali ini malam bulan purnama.”
“Apa benar di malam bulan purnama vampir, manusia serigala, dan segala jenis monster akan bertambah kuat?” tanya Daphne.
__ADS_1
“Bulan memiliki energi magnetik dan getaran murni yang sangat kuat. Karena itu, para makhluk yang memiliki sihir akan menyerap energinya untuk meningkatkan kemampuan mereka,” jelas Duncan.
“Apa kau juga mengalami efek itu, Duncan?” tanya Daphne penasaran.
Duncan mendekatkan wajahnya sambil mengulum senyuman.
“Coba amati iris mataku. Jika kau melihatnya bersinar terang, itu artinya kekuatanku naik menjadi dua sampai tiga kali lipat,” jawab Duncan.
Daphne pun memperhatikan mata biru suaminya yang memancarkan cahaya seperti batu safir. Jika dilihat dalam keadaan begini, Duncan lebih mirip malaikat yang turun ke bumi daripada makhluk kegelapan berjenis vampir.
“Matamu sangat indah, Sayang, itu artinya kekuatanmu sedang mencapai puncaknya,” ucap Daphne seperti orang terhipnotis.
“Ini adalah salah satu keistimewaan vampir ketika bulan purnama tiba. Seperti janjiku, malam ini aku akan menunjukkan kelebihan apa saja yang aku miliki. Aku akan mengajakmu menjelajahi seluruh pegunungan dan hutan dengan cara yang tidak biasa,” ungkap Duncan.
“Tapi di luar sangat dingin,” keluh Daphne.
“Aku akan menjagamu tetap hangat. Kau percaya padaku kan?”
Duncan mengulurkan tangan kepada Daphne yang langsung disambut oleh pemiliknya. Tanpa aba-aba, Duncan membalikkan tubuh Daphne, lalu menggendong istrinya itu di belakang punggung.
“Pegangan yang kuat, Sayang. Aku akan mengajakmu melompat dan terbang dengan bebas. Kau akan bisa melihat bulan, bintang, dan pucuk pepohonan. Bukalah matamu lebar-lebar.”
Daphne memekik tertahan ketika Duncan melakukan satu lompatan ke bawah. Ia mengira mereka akan jatuh ke tebing yang curam. Namun belum sampai satu menit, Duncan sudah terbang sangat tinggi ke atas, hingga Daphne merasa hampir menggapai bulan.
“Duncan pelan-pelan, aku takut jatuh!” seru Daphne.
“Tidak akan. Nikmati saja pengalaman ini,” balas Duncan.
Dengan satu lompatan lebar, Duncan berhasil membawa Daphne hinggap di batang pohon oak yang besar. Kemudian, mereka berpindah lagi ke pucuk pohon cemara. Daphne merasakan adrenalinnya terpacu sangat kencang. Ia bagaikan seekor kera atau katak terbang yang bisa bergerak dari satu pohon ke pohon lain. Meski mendebarkan, tak dapat dipungkiri bahwa pengalaman ini begitu menakjubkan bagi Daphne.
“Sekarang aku akan membawamu ke atas pegunungan,” seru Duncan.
Karena terlalu fokus menyenangkan hati Daphne, Duncan tidak menyadari ada vampir lain yang tengah mengawasi pergerakannya dari puncak gunung.
‘Pantas saja aku merasakan koneksi yang tidak biasa dengan gadis itu. Ternyata dia adalah wanitamu. Berbahagialah dulu, Duncan, sebelum aku memanfaatkan kekasihmu untuk menghabisi nyawamu,’ gumam Vladimir mengepalkan tangannya.
__ADS_1