Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)


__ADS_3

Duncan masih melayang-layang di dalam pusaran angin. Benar saja, pusaran itu semakin lama semakin cepat laksana gasing yang berputar tanpa henti. Mirip sebuah tangan raksasa yang siap meremukkan manusia hingga tak bersisa.


“Bagaimana, Pangeran, kau sudah siap melebur bersamaku?” ejek Julio tanpa menampakkan wajah aslinya.


Duncan tidak menjawab, tetapi ia berusaha memusatkan konsentrasi. Bagaimanapun, ia harus mencari titik lemah Julio supaya bisa mematahkan pusaran angin ini.


“Duncan….”


Meski tubuhnya berputar-putar, indera pendengaran Duncan masih bisa menangkap suara Daphne. Ia yakin bahwa gadis itu sudah sadar.


“Nona, pergi dari sini!” teriak Duncan berharap suaranya akan didengar oleh Daphne.


Julio yang mendengar itu terkekeh pelan.


“Apa gadis itu kekasih Anda, Pangeran? Jika iya, aku semakin tertarik untuk menghisap darahnya sampai kering.”


“Apa kau bilang? Jangan berani-berani menyentuh Daphne!"


Mendengar perkataan Julio, Duncan menjadi naik pitam. Sinar kuning yang menyilaukan mata langsung memancar dari tubuhnya.


Saat kekuatan Duncan telah meningkat, ia dapat menemukan titik kelemahan Julio. Dengan gerakan secepat kilat, Duncan menukik tajam ke atas. Ia mengarahkan pukulan telak ke tengah pusaran angin, yang sebenarnya merupakan penjelmaan dari kepala Julio.


Tak ayal erang kesakitan terdengar begitu nyaring. Selang beberapa detik, pusaran angin tersebut melambat, lalu berubah bentuk menyerupai tubuh laki-laki. Julio pun terkapar dengan cairan berwarna hijau yang keluar dari mulutnya.


Bersamaan dengan itu, Duncan ikut terlempar ke bawah. Segera ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menolong Daphne.


“Duncan, apa yang terjadi?” tanya Daphne lemah.


“Maaf, Nona, aku harus membuatmu tidur lelap sampai pertarungan ini selesai.”


Sejurus kemudian, Duncan menempelkan tangannya di dahi Daphne untuk membuat gadis itu tertidur. Sementara itu, Julio sudah bangkit berdiri, walaupun mulutnya terus mengeluarkan cairan pekat.


“Pangeran, aku tidak menyangka kau cukup hebat meski di dalam dirimu mengalir darah manusia. Namun pertarungan kita ini belum selesai. Aku punya tugas khusus untuk menghabisimu, dan aku harus memenuhi tugas itu,” tukas Julio.


“Siapa yang menyuruhmu melakukannya?” bentak Duncan.


“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu, Pangeran. Sekarang terimalah kematianmu.”

__ADS_1


Julio menghimpun kekuatan sihirnya, lalu melemparkan bola-bola api untuk membakar Duncan. Namun semuanya berhasil ditangkis oleh pria itu. Adu fisik antara keduanya pun tak bisa dihindari. Julio berusaha menyerang Duncan secara bertubi-tubi. Namun karena terluka di bagian kepala, vampir itu tidak setangguh biasanya. Dengan mudah, Duncan bisa mengelak dan balas menyerang Julio tepat di jantungnya.


Sontak, Julio terkapar di tanah dan kembali memuntahkan gumpalan berwarna hijau. Duncan pun mendekati vampir yang sudah tak berdaya itu untuk memberinya peringatan.


“Tinggalkan dunia manusia dan jangan mengganggu Daphne lagi, maka aku akan melepaskanmu.”


Bukannya takut, Julio justru terkekeh mendengar ucapan Duncan.


“Pangeran, kau terlalu naif. Sekarang ini kau hanya punya satu pilihan. Bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu dan kekasih manusiamu itu,” jawab Julio.


Mata Duncan mulai menggelap. Ia bisa membaca pikiran Julio yang akan terus mengincar Daphne sampai berhasil menghisap darah gadis itu. Karenanya, Duncan memutuskan untuk mengakhiri hidup Julio, meski ia tak ingin membunuh sesama vampir.


“Kau yang memaksaku melakukan ini. Maafkan aku.”


Dengan energi yang terpusat di telapak kanannya, Duncan mengayunkan tangan ke arah leher Julio. Vampir itu mengejang sebelum akhirnya tewas dengan kepala yang terpisah dari tubuh.


Tak kurang dari lima menit, tubuh Julio perlahan lenyap menjadi abu. Duncan memejamkan mata, merasa bersalah dengan kematian Julio. Apalagi ini adalah kali pertama baginya melakukan tindakan pembunuhan. Namun ia tak punya pilihan lain, karena keberadaan Julio akan mengancam keselamatan Daphne.


Setelah memastikan tak ada jejak vampir di tempat itu, Duncan bergegas mengangkat tubuh Daphne. Ia lantas membawa gadis yang tak sadarkan diri itu ke dalam mobil.


Mendengar ada suara yang memanggilnya, Daphne perlahan mengerjap. Kepalanya masih terasa pusing, seperti ada ratusan kunang-kunang yang bertebaran di atasnya.


“Di mana aku, Duncan?” tanya Daphne lemah.


“Di dalam mobil, Nona, kita akan pulang ke rumah,” jawab Duncan menyalakan mesin mobil.


Daphne mendadak ketakutan saat mengingat peristiwa yang dialaminya tadi. Taring Julio yang tajam dan bola matanya yang semerah darah masih membekas kuat dalam ingatan Daphne.


“Tunggu, Duncan, aku takut. Vampir itu…dia hampir menggigit leherku,” ujar Daphne meraih lengan Duncan.


Pria itu menoleh dan melihat tubuh Daphne yang menggigil seperti orang kedinginan.


“Tenang, Nona, vampir itu sudah pergi. Dia tidak akan mengganggu Nona lagi.”


“Tapi, bagaimana kalau dia kembali?” tanya Daphne dengan wajah yang pucat.


“Tidak akan. Aku akan menjaga Nona.”

__ADS_1


Secara refleks, Daphne melingkarkan lengannya di pinggang Duncan dan memeluk erat lelaki itu. Saat ini, Daphne sangat membutuhkan tempat perlindungan, dan tempat perlindungan itu hanya bisa ia temukan dalam diri Duncan.


“Bukankah Nona berada di toko buku, kenapa tiba-tiba bisa bertemu dengan vampir itu?” tanya Duncan membiarkan Daphne memeluknya. Ia merasa kasihan kepada gadis yang tengah ketakutan ini.


“Julio yang mengantarkan aku ke toko buku, lalu dia bilang akan membantuku untuk bertemu vampir. Aku tidak menyangka bahwa Julio sendiri adalah vampir.”


“Nona, hentikan saja usahamu untuk mencari vampir. Nyawa Nona bisa terancam seperti tadi.”


“I-iya, aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Aku hanya akan melawan vampir jika aku sudah siap,” jawab Daphne.


Sesaat kemudian, Daphne teringat akan sesuatu.


“Duncan, kenapa Julio bisa pergi begitu saja? Apa kamu yang digigit oleh vampir itu?”


Tanpa ragu, Daphne menggerakkan leher Duncan ke kanan dan ke kiri. Kemudian, ia meraba permukaan kulit leher pria itu untuk memastikan tidak ada luka gigitan atau sayatan.


“Vampir itu tidak menggigitku, Nona. Aku baik-baik saja.”


“Lalu bagaimana caramu mengusirnya?” tanya Daphne.


“Dengan…senter dari ponsel. Vampir itu termasuk golongan yang takut pada cahaya terang,” jawab Duncan asal.


Daphne mengangkat satu alisnya saat mendengar jawaban Duncan. Namun, ia tak peduli apakah Duncan sedang berbohong atau tidak. Yang terpenting lelaki ini telah menyelamatkan hidupnya dua kali, dan ia tak akan melupakan itu.


Daphne pun menatap Duncan dengan tatapan memuja.


“Duncan, terima kasih karena kau selalu menolongku. Kau adalah penyelamatku. Cup!”


Duncan terkejut saat pipinya dikecup ringan oleh bibir Daphne. Kecupan ini telah menimbulkan suatu getaran yang berbeda, getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, Duncan sama sekali tidak mengetahui perasaan macam apa ini.


‘Kenapa aku merasa aneh? Apa ini karena aku belum pernah dicium oleh wanita manusia?’ pikir Duncan keheranan.


***


Di dalam kamarnya, Vladimir yang sedang melatih kekuatan telepati langsung tersentak kaget. Pasalnya ia merasakan lenyapnya kekuatan Julio secara tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, muncul lagi sebuah energi besar yang sama seperti dulu.


“Sial! Julio sepertinya sudah mati terbunuh oleh Duncan,” umpat Vladimir merasa gusar.

__ADS_1


__ADS_2