
Terdengar suara ketukan berulang di pintu yang membuat Daphne tersadar. Ia pun menengok ke samping dan melihat Duncan yang masih terlelap. Nampaknya pria itu kelelahan, karena biasanya Duncan selalu bangun lebih awal dibanding dirinya.
Sambil memandangi wajah Duncan yang terlelap, Daphne tersenyum sendiri. Pastilah tidak akan ada yang menyangka jika pria tampan ini adalah vampir. Namun Daphne sama sekali tidak keberatan dengan jati diri Duncan, karena pria itu terlanjur menguasai hatinya. Bahkan semalaman ia bermimpi indah karena ada Duncan yang setia menemaninya.
"Daphne, buka pintunya!" seru Kakek James kembali mengetuk daun pintu.
Daphne bergegas turun dari peraduannya walaupun ia masih sangat mengantuk. Ketika pintu terbuka, ia melihat Kakek James berdiri sambil memicingkan mata.
"Sampai kapan kau akan tidur, Sayang? Kau tidak jadi menikah?" tanya Kakek James bersedekap.
Daphne mengucek matanya, lantas menjawab pertanyaan sang kakek dengan suara serak.
"Apa maksud Kakek?"
"Ini sudah hampir jam tujuh pagi dan kau masih tidur nyenyak? Padahal pernikahanmu tinggal tiga jam lagi."
Mata Daphne langsung membelalak lebar saat mengingat bahwa hari ini adalah hari pernikahannya. Jika dia tidak bersiap sekarang, maka ia akan tampil acak-acakan di peristiwa penting yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
"Ya ampun, aku sampai lupa, Kek. Aku akan mandi dan langsung pergi ke butik Nyonya Victoria," ucap Daphne menepuk dahinya.
"Hmmm, kau berbeda dari calon pengantin wanita yang lain, Sayang. Dulu nenekmu tidak bisa tidur karena mencemaskan pernikahannya, tetapi kau malah...."
Kakek James menjeda ucapannya, ketika melihat Duncan berjalan dari arah tempat tidur. Sekarang ia tahu alasan mengapa cucu perempuannya ini sampai bangun kesiangan.
Daphne hanya bisa menggigit bibir. Ia tahu bahwa pikiran sang kakek akan traveling ke mana-mana bila melihat Duncan tidur di kamarnya.
"Astaga! Ternyata ini penyebab kau bangun kesiangan. Apa kalian tidak bisa menahan diri untuk semalam saja? Setelah pulang dari gereja nanti, kalian bebas melakukan apa saja. Bahkan Kakek tidak akan peduli jika kalian berdua tidak keluar dari kamar seharian," ucap Kakek James sembari geleng-geleng kepala.
Pipi dan telinga Daphne langsung memerah saat mendengar ucapan frontal sang kakek. Andai saja Kakek James tahu bahwa Duncan adalah pria yang polos, pasti dia akan menarik perkataannya itu. Meski mereka sudah pernah berciuman, Daphne yakin Duncan belum tahu bagaimana cara bercinta yang benar dengan seorang wanita.
Sementara Duncan malah menanggapi perkataan Kakek James dengan santai.
__ADS_1
"Maaf, Kek, aku tidur di sini untuk menjaga Daphne."
"Ck, apapun alasannya, itu tidak penting lagi untuk Kakek. Sekarang kalian berdua cepat mandi dan ke salon. Kakek tunggu kedatangan kalian di Gereja."
Kakek James langsung pergi dari depan pintu untuk melanjutkan sarapannya. Sedangkan Duncan kembali ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap.
Tak berselang lama, terdengar suara decit ban mobil yang berhenti di depan rumah. Kemudian turunlah seorang gadis muda dengan gaun sifon pendek berwarna merah hati. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Tracy.
"Pagi, Kakek James, di mana Daphne? Aku datang untuk menemaninya ke salon," tanya Tracy dengan senyuman lebar. Gadis itu tampak menenteng sebuah paper bag di tangannya.
"Daphne sedang mandi kamar, susul saja, Sweety."
"Jam segini Daphne baru mandi? Apa sinusnya kambuh atau dia tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan? Kalau benar begitu, aku bersedia menjadi pengantin pengganti untuk Duncan," tanya Tracy penuh harap.
Kakek James tergelak mendengar perkataan Tracy.
“Bukan keduanya, tetapi karena darah muda yang tidak bisa ditahan.”
Kakek James otomatis ikut mencodongkan tubuhnya.
“Semalam Daphne dan Duncan pulang duluan ke rumah, sedangkan Kakek masih berada di restoran. Lalu menurutmu apa yang akan dilakukan oleh sepasang muda mudi jika mereka berdua saja?”
Daya tangkap Tracy yang biasanya lambat, kini berubah menjadi cepat. Seringaian tipis langsung terbentuk di bibir gadis itu. Ia tidak menyangka jika Daphne yang di luar kelihatan alim ternyata bisa tergoda juga.
“Ah, aku mengerti. Kalau begitu aku akan mengajak Daphne ke salon sekarang. Dia harus buru-buru dinikahkan, Kek.”
Kakek James mengacungkan jempolnya sebagai isyarat dukungan kepada Tracy.
Tanpa permisi, Tracy menyelonong masuk ke kamar Daphne, hingga gadis itu terkejut. Ia meletakkan paper bag yang dibawanya ke kasur Daphne. Tracy langsung menarik tubuh Daphne, lalu membuka kancing blouse sahabatnya itu. Mata tajamnya menelisik ke seluruh kulit leher dan tulang selangka Daphne, seolah menyelidiki sesuatu.
“Eh, apa-apaan kau ini? Apa kau sudah berganti orientasi menjadi penyuka sesama jenis?” tanya Daphne merasa risih.
__ADS_1
Tracy berdecih kesal mendengar tuduhan Daphne yang tidak berdasar.
“Enak saja, aku masih wanita normal. Aku sedang memeriksa apakah ada bercak kemerahan di kulitmu. Hari ini kau harus memakai gaun pengantin yang terbuka di bagian atas. Sebagai temanmu, aku ingin mencegahmu mendapat malu di hadapan Pastur dan para saksi pernikahan.”
Daphne mengerutkan dahi karena tidak paham dengan ucapan Tracy.
“Kau ini bicara apa?”
“Sudahlah, Daph, jangan berlagak bodoh. Ayo, kita ke salon sekarang,” ajak Tracy menarik tangan Daphne.
Sebelum keluar dari rumah, mereka berpapasan dengan Duncan yang sudah berpakaian rapi. Seperti biasa, pria itu selalu tampak menawan di mata Tracy, kapanpun dan di manapun.
“Duncan, maaf ya, kamu harus berpisah untuk sementara dengan Daphne, karena aku yang akan menemaninya ke salon. Tetapi jangan khawatir, nanti malam aku tidak akan mengganggu kalian. Bahkan aku sudah memberikan hadiah khusus di dalam kamar Daphne. Sampai jumpa, Duncan," ucap Tracy melambaikan tangan.
Daphne tidak sempat berkata apa-apa karena Tracy sudah mendorongnya masuk ke dalam mobil. Dengan cepat, gadis itu menyalakan mesin mobil lalu melaju ke jalan raya.
"Tracy, sebenarnya hadiah apa yang kau berikan untukku? Apakah yang ada di dalam paper bag?"
"Betul sekali. Kau pasti akan berterima kasih padaku karena malam pernikahanmu semakin panas dan menarik. Aku juga memberikan pengetahuan tambahan untukmu dan Duncan, supaya kegiatan kalian tidak membosankan," ujar Tracy tersenyum smirk.
Mendengar penuturan Tracy, Daphne semakin berdebar-debar. Tinggal menunggu hitungan jam, dan ia akan menyandang status barunya sebagai istri seorang vampir. Entah keputusannya ini benar atau salah, yang jelas Daphne merasa hanya Duncan yang bisa membuat hatinya selalu tenang.
...****************...
Ratu Claudia terkejut melihat seekor kelelawar terbang ke dalam kamarnya. Kelelawar itu terbang dengan gontai lalu mendadak terjatuh ke lantai. Secara perlahan, binatang nokturnal itu berubah wujud menjadi seorang wanita muda.
"Salma! Apa yang terjadi padamu?" tanya Ratu Claudia dengan wajah cemas.
"S-saya terluka, Ratu."
"Siapa yang berani melukaimu sampai seperti ini? Aku pasti akan menghabisinya," tukas Ratu Claudia mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Pelakunya adalah...cucumu sendiri, Duncan Kliev," jawab Salma sambil merintih.