Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 24 Rencana Pernikahan


__ADS_3

Vladimir tidak habis pikir mengapa vampir pembunuh seperti Julio bisa dikalahkan dengan mudah. Padahal Julio terbilang memiliki kemampuan yang cukup hebat dibandingkan dengan vampir sejenisnya.


'Apa aku harus mengutus vampir yang lain? Atau sebaiknya aku turun tangan sendiri untuk mencari Duncan sesuai janjiku kepada Ratu Claudia,' gumam Vladimir menimbang-nimbang.


Tepat pada saat itu, Vladimir mendengar jendela kamarnya seperti diketuk oleh seseorang. Dengan sigap, Vladimir menjetikkan jemarinya. Begitu jendela terbuka, seekor burung gagak hitam langsung hinggap di punggung tangan Vladimir.


Burung bernama Zarka itu meletakkan segumpal abu dari paruhnya ke tangan Vladimir.


"Jadi kau membawa abu tuanmu untukku. Di mana kau menemukannya?" tanya Vladimir seraya mengendus bau abu di tangannya.


Burung gagak itu pun mengeluarkan suara parau untuk menjawab pertanyaan Vladimir. Dari kedua matanya menetes bulir bening, sebagai tanda bahwa ia menangisi kematian sang majikan.


"Jangan sedih, Zarka. Bawa aku ke tempat abu Julio berada, dan aku akan segera membalaskan dendammu," ucap Vladimir seraya mengelus kepala Zarka.


***


Daphne masuk ke dalam rumah dengan dipapah oleh Duncan. Tubuh gadis itu masih terasa lunglai setelah ia hampir menjadi korban keganasan Julio.


"Sayang, ada apa denganmu? Dan kenapa kalian baru pulang?" tanya Kakek James cemas.


"Nona baru saja mengalami peristiwa yang menegangkan, Kek. Dia perlu istirahat," jawab Duncan.


Pria itu bergegas membawa Daphne ke kamarnya dengan diikuti oleh Kakek James dari belakang. Sesudah sampai di kamar, Duncan membantu Daphne berbaring lalu menyelimuti tubuh gadis itu.


"Duncan, kau pasti lelah. Kembalilah ke kamarmu, Kakek yang akan menjaga Daphne."


"Baik, Kek," jawab Duncan patuh.


Usai Duncan pergi, Kakek James membelai lembut rambut Daphne. Tatapan gadis itu masih kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.


"Sweetheart, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Saat pulang dari restoran tadi kamu masih baik-baik saja," tanya Kakek James penuh kekhawatiran.


Daphne memandang sang kakek dengan tatapan sendu, lalu ia mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kek, aku baru saja...bertemu dengan vampir."

__ADS_1


Kakek James langsung melotot saat mendengar pengakuan Daphne.


"Apa?! Bagaimana bisa kau bertemu vampir?"


"Ini semua salahku, Kek. Aku yang memaksa Duncan mengantarku ke daerah Westmington untuk mencari informasi tentang vampir. Aku ingin sekali...membalas dendam atas kematian ayah dan ibuku," lirih Daphne.


Kakek James merangkul Daphne dengan erat. Ada rasa sedih sekaligus bersalah di dalam hati lelaki tua itu. Seharusnya ia tetap menyimpan rapat-rapat rahasia kedua orang tua Daphne, supaya cucu perempuannya tidak terlibat dalam bahaya.


"Maafkan, Kakek, karena tidak bisa melindungimu. Untuk sementara waktu, kau jangan keluar dari rumah, Sayang. Kakek takut jika sewaktu-waktu ada vampir yang mencarimu. Kakek juga akan menutup restoran kita dalam beberapa hari ke depan."


Daphne melerai pelukan Kakek James, lalu menatap paras lelaki lanjut usia itu.


"Kakek tidak perlu cemas. Aku akan kuliah seperti biasa dan Kakek tetap bisa membuka restoran, karena aku sudah menemukan orang yang bisa melindungi kita," ucap Daphne.


Kakek James mengerutkan dahinya.


"Siapa orangnya, Sayang?"


"Duncan, laki-laki yang pernah Kakek jodohkan denganku. Aku sudah memutuskan untuk...menjadikan dia sebagai suamiku," jawab Daphne lirih.


Seketika Kakek James membulatkan mata, masih tak percaya bila Daphne mendadak setuju dijodohkan dengan Duncan.


"Karena Duncan sudah menyelamatkan aku dua kali, Kek. Dia bahkan tidak menghiraukan keselamatannya sendiri. Aku yakin di luaran sana tidak ada pria lain yang sebaik Duncan."


Dari binar mata gadis itu, Kakek James bisa menebak bahwa Daphne telah memiliki perasaan khusus kepada Duncan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh pepatah sebagai benci yang berubah menjadi cinta.


"Baik, Sayang, Kakek akan mendukung apapun keputusanmu. Nanti Kakek akan bicara empat mata dengan Duncan. Kapan kamu ingin menikah?"


"Hari Sabtu, Kek."


"Sabtu? Itu tinggal tiga hari lagi. Kita membutuhkan waktu untuk mempersiapkan semuanya, Sweetheart," ujar Kakek James terkejut.


"Aku hanya ingin pernikahan sederhana saja di Gereja. Tidak perlu ada pesta dan tidak usah mengundang siapapun. Cukup Kakek, Tracy, Noel, dan Xin Fei yang hadir," pungkas Daphne.


Mendengar permintaan cucunya, pria tua itu menghembuskan napas panjang.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu maumu. Kakek akan segera menghubungi Pastur Albert besok," ucap Kakek James.


...***...


Di dalam kamar, Duncan sedang menunggu penghuni rumah tertidur pulas, sebelum ia pergi ke makam ibunya. Duncan mencoba untuk duduk dan bermeditasi, tetapi mendadak ia merasa bibir dan tenggorokannya sangat kering. Rasanya sama seperti musafir di padang gurun yang tidak minum selama berbulan-bulan lamanya.


Semakin dilawan, rasa haus ini justru kian menjadi. Bahkan lambat laun tenggorokan Duncan serasa nyaris terbakar. Duncan tahu jika dahaganya ini bukanlah dahaga biasa, melainkan hasrat untuk meminum darah segar.


'Kenapa aku sangat menginginkan darah, padahal baru kemarin malam aku berburu. Biasanya aku bisa bertahan selama tujuh hari. Apa ini efek dari pertarunganku dengan Julio?' pikir Duncan bingung.


Ketika Duncan sedang berusaha mengatasi rasa hausnya, pintu kamarnya diketuk dari luar. Sontak Duncan bangkit untuk membuka pintu.


"Duncan, maaf Kakek mengganggumu malam-malam begini. Apa kamu sudah tidur tadi?" tanya Kakek James melihat wajah Duncan yang sedikit pucat.


"Belum Kek, silakan masuk."


Kedua pria beda usia itu lantas duduk berhadapan di tepi tempat tidur.


"Kakek ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Apa kau menyukai Daphne?" tanya Kakek James mencoba menggali perasaan Duncan.


"Tentu saja, Kek, aku dan Nona berteman baik," jawab Duncan spontan.


"Bagus, kalau begitu Kakek tidak akan ragu lagi untuk menikahkan kalian."


"Menikah?!" tanya Duncan terkejut.


"Iya, dulu Kakek pernah memintamu untuk menikahi Daphne, tetapi waktu itu Daphne menolak. Sekarang setelah kau berhasil menolong Daphne dua kali, dia setuju untuk menikah denganmu. Pernikahan kalian akan segera dilaksanakan hari Sabtu nanti."


Duncan tercengang mendengar perkataan Kakek James. Meski ia tidak benar-benar tahu apa arti pernikahan, tetapi Duncan merasa ragu untuk terikat dengan seorang wanita manusia. Pasalnya jika Daphne sampai mengetahui identitasnya sebagai vampir, gadis itu pasti akan ketakutan dan menolak dirinya.


"Kek, aku belum siap untuk menikah. Aku bahkan tidak punya pekerjaan dan hanya menumpang di rumah ini," tolak Duncan memberikan alasan.


Kakek James terkekeh pelan sambil menepuk bahu Duncan.


"Duncan, seorang pria tidak akan pernah merasa siap untuk menikah sampai dia melakukannya. Soal pekerjaan, kau bisa membantu Kakek di restoran. Rumah dan restoran Oliver Kitchen akan Kakek wariskan untukmu dan Daphne. Yang terpenting kau bersedia menjadi suami yang baik untuk Daphne."

__ADS_1


Mendengar perkataan Kakek James, Duncan tidak dapat menolak lagi. Namun, sebelum pernikahan itu terjadi, Duncan berencana untuk mengakui jati dirinya kepada Daphne.


Bersambung


__ADS_2