Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 32 Kau Bukan Dia


__ADS_3

Duncan menaikkan kecepatan mobilnya agar segera sampai di makam sang ibu. Meski sesungguhnya ia bisa berubah wujud menjadi kelelawar, tetapi Duncan memilih untuk memakai cara yang manusiawi. Bagaimanapun dia akan menikahi seorang manusia, dan ia ingin membiasakan diri menjadi manusia. Selagi tidak mendesak, ia tak akan menggunakan ilmu sihir.


Ketika memasuki daerah yang dipenuhi pepohonan rimbun, Duncan tahu bahwa ia sudah dekat dengan area pemakaman. Ia pun memarkirkan mobilnya di kawasan hutan tak bernama itu.


Karena suasana di sekitarnya sangat sepi, Duncan tidak mau mengambil resiko. Kali ini, ia terpaksa menggunakan mantra pelindung untuk mengamankan mobil milik Daphne. Setelah itu, barulah Duncan turun dari mobil.


Dengan sepatunya, Duncan menginjak semak belukar dan menyingkirkan ranting pohon yang melintang di tanah. Ia bergerak ke arah utara, mengikuti tuntunan intuisinya yang diperoleh dalam meditasi.


Setelah beberapa lama menyusuri hutan, mata Duncan menangkap keberadaan sebuah batu nisan. Bentuk dan warnanya sangat mirip dengan penglihatannya, sehingga Duncan yakin bila itu adalah makam Ariadna.


Tanpa berpikir dua kali, Duncan berjalan mendekati batu nisan yang tidak terawat itu. Nama yang tertera di atasnya bahkan sudah tidak terbaca lagi. Duncan pun merunduk lalu mengusap nisan tua itu dengan tangannya.


Pria itu memejamkan mata sejenak untuk memberikan sentuhan keajaiban. Seiring dengan pergerakan tangan Duncan, pahatan nama yang telah memudar muncul lagi ke permukaan. Namun kali ini tampak lebih indah, karena tulisan “Ariadna” terukir dengan tinta emas.


‘Mom, aku tidak tahu kenapa kau dimakamkan di tempat yang tersembunyi seperti ini? Nisanmu juga sangat kotor, seakan tidak pernah dibersihkan selama ratusan tahun. Apakah ini semua karena kau sudah melahirkan aku?’ gumam Duncan merasa sedih.


‘Maafkan aku, karena baru.mengunjungimu setelah seribu tahun berlalu. Aku berjanji setelah ini aku akan sering menjengukmu. Aku sudah berada di dunia manusia dan aku ingin mengenalmu lebih dekat.’


Meniru apa yang dilakukan Daphne, Duncan membersihkan makam itu dari helaian daun kering. Kemudian Duncan berpikir untuk mendatangkan serangkaian bunga mawar untuk menghiasi pusara ibunya. Ia yakin sang ibu pasti akan merasa bahagia di atas sana.

__ADS_1


Ketika Duncan bersiap untuk melakukan sihir, seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.


“Duncan….”


Pria itu menoleh dan seketika termangu saat melihat wajah gadis di hadapannya.


“Nona, bagaimana bisa kau ada di sini?” tanya Duncan mengerutkan dahi.


Gadis yang kini selalu mewarnai hari-harinya itu mendekat sambil melemparkan senyum manis.


“Tentu saja aku mengikutimu,” ucap Daphne lantas memegang kerah kemeja Duncan.


“Nona, sudah kubilang jangan ikut denganku karena daerah ini cukup berbahaya. Jarang sekali ada manusia yang datang ke mari.”


Daphne kembali memainkan jemarinya, tetapi kali ini ia bergerak turun untuk merasakan otot dada dan perut Duncan yang keras dan liat. Sementara wajah Daphne tetap menengadah ke atas, memindai seluruh sudut wajah pria tampan ini.


“Aku tidak takut apapun, selama kau ada di sisiku. Kau adalah pria yang selalu bisa menghangatkan hatiku."


Duncan masih diam saja, sehingga Daphne semakin berani. Gadis itu memberikan sentuhan nakal di bagian bawah tubuh Duncan, hingga pandangan pria itu menggelap.

__ADS_1


“Nona, tolong jangan seperti ini. Kita ada di depan makam ibuku,” kata Duncan berusaha menekan hasrat yang belum pernah dirasakannya selama ini.


Bukannya berhenti, Daphne justru memandang Duncan dengan tatapan menggoda.


“Tidak apa-apa. Justru ibumu akan melihat bagaimana kita saling membutuhkan. Kita akan menjadi pasangan yang saling memuaskan, Sayang.”


Daphne melingkarkan tangannya di leher Duncan dan menarik tengkuk pria itu. Namun sebelum bibir mereka menyatu, Duncan menyadari sesuatu yang berbeda pada diri gadis ini. Dengan cepat, Duncan memiringkan wajahnya


“Kenapa, Duncan? Jangan ragu, karena aku akan memberimu kenikmatan di tempat ini.”


Duncan melepaskan kedua tangan Daphne dengan kasar dari lehernya. Netranya yang semula berkabut oleh hasrat, kini berubah menjadi terang benderang.


"Jauhkan tanganmu itu dariku!" sentak Duncan.


Mendengar dirinya dibentak oleh pria pujaannya, mata Daphne pun berkaca-kaca.


"Tapi kenapa? Apa kau tidak menginginkan aku lagi? Aku sudah siap menyerahkan diri kepadamu," tanyanya dengan suara manja.


Seperti seekor burung elang pemangsa, Duncan memandang tajam kepada gadis yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menginginkan wanita sepertimu, karena kau...bukan Daphne!" tunjuk Duncan dengan tatapan nyalang.


__ADS_2