Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 40 Cinta di Atas Segalanya


__ADS_3

Setelah mengamati baju tipis menerawang itu dari berbagai sisi, Duncan memutuskan untuk membuangnya saja. Ia berpikir bahwa mungkin Tracy salah memberi baju, apalagi Daphne tidak mungkin memakainya di tempat yang dingin begini. Alhasil lingerie itu pun terbuang begitu saja di dalam tempat sampah.


Di sisi lain, Duncan mengingat perkataan Tracy bahwa di dalam hadiah tersebut ada pengetahuan tentang cara memiliki bayi. Karenanya, Duncan yakin bila benda persegi panjang inilah yang dimaksud oleh Tracy.


'Aku akan menyambungkan benda ini ke laptop seperti yang dilakukan Daphne. Siapa tahu di dalamnya ada pelajaran penting. Aku ingin segera memenuhi keinginan Kakek James untuk memberinya cucu,"


pikir Duncan menimang-nimang flash disk di tangannya.


Duncan pun mengambil laptop Daphne yang masih tersimpan di dalam tas. Kemudian dengan cepat ia menyalakan laptop tersebut dan mencolokkan flash disk di tempatnya. Awalnya Duncan sedikit bingung, tetapi setelah mengutak-atik sendiri dia berhasil membuka isi file di dalamnya. Ternyata isi file tersebut adalah sebuah film berdurasi empat puluh lima menit.


Dengan meletakkan laptop di pangkuannya, Duncan memutar film yang tidak jelas itu. Di awal cerita hanya ada pria dan wanita yang bercakap-cakap di depan pintu apartemen. Karena suaranya kurang jelas, Duncan menambahkan volume. Namun di adegan berikutnya, pria dan wanita itu saling ******* bibir. Sang pria kemudian menendang pintu sambil mengangkat tubuh si wanita menuju ke peraduan.


Mata Duncan terbelalak lebar menyaksikan apa yang dilakukan oleh pria dan wanita itu selanjutnya. Ia mulai merasakan gejolak aneh pada pusat tubuhnya, saat menonton aktivitas dari pemeran film tersebut.


Sementara Daphne mulai terganggu tidurnya karena mendengar suara tak lazim. Ia pun mengucek mata sambil meregangkan tubuh. Rasanya begitu malas untuk bangun dari kasur yang empuk. Namun jerit tertahan seorang wanita sangat mengusik telinga Daphne.


Ketika pandangan Daphne mulai fokus, ia menatap ke arah Duncan yang sangat serius memandangi layar laptop.


"Duncan, kamu sedang menonton apa? Tolong kecilkan suaranya sedikit," pinta Daphne setengah mengantuk.


Duncan pun tersentak kaget dan segera mengecilkan volume suara itu. Namun karena sudah kepalang tanggung, ia menonton film itu sampai habis.


Melihat Duncan tak bergeming, Daphne pun mengubah posisinya menjadi duduk. Perlahan ia bergeser mendekati Duncan karena merasa penasaran dengan apa yang dilihat pria itu.


Seketika Daphne memekik sambil menutupi kedua matanya dengan telapak tangan. Ia sangat terkejut karena mata suaminya yang polos telah ternodai oleh tontonan yang tidak senonoh.


"Duncan, hentikan!" seru Daphne segera merebut laptop itu dari tangan Duncan.


Dengan sekali klik, ia mematikan film itu dan menutup laptopnya.


"Kenapa kau menonton film yang tidak pantas?" tanya Daphne merasa malu sendiri.


"Itu hadiah dari Tracy. Dia memberikan dua buah barang, yang satu adalah baju kekurangan bahan, dan satu lagi benda itu," tunjuk Duncan kepada flash disk yang masih terpasang di laptop.

__ADS_1


Daphne mengepalkan kedua tangan karena kesal kepada Tracy. Andai gadis itu ada di sini dia akan menjewer telinganya sampai memerah, karena sudah memberikan pengaruh buruk kepada Duncan.


"Lalu di mana baju kekurangan bahan yang diberikan Tracy?" tanya Daphne lekas turun dari tempat tidur.


"Di tempat sampah, apa kau ingin mengambilnya?" tanya Duncan.


Daphne langsung menyilangkan kedua tangan. Ia menengok sebentar ke tempat sampah sambil bernapas lega. Untung saja Duncan sudah membuang lingerie yang mengerikan itu.


"Tidak, memang lebih baik barang itu dibuang saja. Aku mau mandi dulu."


Daphne bergegas kabur untuk menetralkan rasa kikuk dalam dirinya. Di dalam kamar mandi, ia segera melepas baju dan berdiang di bawah kucuran air shower yang hangat. Lama Daphne berdiam, menikmati percikan air hangat yang menerpa kulit dan rambutnya.


Ketika sudah merasa cukup, Daphne mematikan keran shower dan mengambil handuk. Daphne baru sadar bahwa ia tak membawa baju ganti sama sekali. Daphne pun melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Duncan, bisa tolong ambilkan bajuku?!" teriak Daphne dari balik pintu.


Karena tidak ada sahutan, Daphne terpaksa keluar sendiri dari kamar mandi. Namun ketika sampai di depan pintu, ia bertabrakan dengan Duncan. Daphne hampir saja terpeleset karena kakinya masih basah oleh air.


"K-kenapa kau ada di sini?" tanya Daphne tergagap.


"Aku kira kau tidak mendengarnya. Tolong berikan bajunya."


Daphne mengulurkan tangan untuk meminta baju, tetapi Duncan malah menariknya hingga handuk yang dikenakan gadis itu melorot ke bawah.


Sontak mata keduanya saling bertemu satu sama lain. Melihat tubuh mulus istrinya, ingatan Duncan langsung terhubung dengan adegan di film tadi. Sorot matanya pun menggelap seiring dengan deru napasnya yang memburu.


Mengetahui perubahan pada diri Duncan, denyut jantung Daphne semakin tak terkendali. Buru-buru Daphne menaikkan handuknya ke atas, tetapi Duncan sudah lebih dulu menahan tangannya.


"Duncan, a-aku mau pakai baju," pinta Daphne berusaha menghindar.


"Nanti saja. Seperti pria dan wanita di film tadi, kita tidak perlu memakai baju ketika ingin menyatu," ujar Duncan dengan suara berat.


Bulu kuduk Daphne meremang saat Duncan meniup pelan lehernya. Kemudian vampir tampan itu berbisik pelan di telinganya.

__ADS_1


"Sekarang aku sudah paham caranya, bagaimana suami dan istri bisa memiliki keturunan," ucap Duncan dengan sensual.


Daphne meneguk salivanya sendiri, antara takut dan juga menginginkan sentuhan Duncan.


"A-apa kau akan meniru semua adegan di film?" tanya Daphne dengan susah payah.


"Iya, tapi aku melakukannya dengan hati-hati. Ini pertama kalinya untuk kita dan aku tidak mau menyakitimu."


Duncan lalu menggendong tubuh Daphne dengan posisi ala bridal style, dan membaringkan tubuh sang istri di tempat tidur.


Ketika Duncan melepas bajunya satu per satu, Daphne terkesima melihat tubuh berotot sang suami yang terpahat dengan sempurna.


"Duncan, apa kau sungguh mencintaiku? Lalu bagaimana dengan pria bernama Hugo yang pernah bersamamu?" tanya Daphne. Ia masih mengira Duncan pernah menyukai sesama jenis.


"Hugo itu pelayan yang merawatku sejak kecil. Tentu dia tidak akan keberatan kalau aku menikah."


Duncan mendekatkan wajahnya sambil mengelus pipi Daphne.


"Dengar, Daphne, sejak aku pingsan di dekat tebing, aku menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padamu," jawab Duncan dengan lembut.


Mendengar pernyataan cinta dari suaminya, hati Daphne berbunga-bunga. Ia tidak peduli lagi dengan perbedaan ras di antara mereka berdua, karena baginya cinta lebih penting dari segalanya.


Tanpa ragu, Duncan pun meraup bibir Daphne, mencecap manisnya bibir ranum gadis itu. Namun di kala Daphne sudah menikmatinya, Duncan tiba-tiba menyudahi ciuman mereka.


"K-kenapa?" tanya Daphne merasa kehilangan.


"Aku khawatir jika sewaktu-waktu naluriku sebagai vampir akan mendominasi. Aku tidak mau kau sampai terluka."


Melihat kecemasan di mata Duncan, Daphne pun membelai rahang tegas suaminya itu.


"Tataplah mataku dan rasakan cinta di dalam sana, maka kau tidak akan pernah menyakiti aku. Aku percaya padamu, Duncan."


Mendengar kalimat lembut yang diutarakan Daphne, keraguan di hati Duncan memudar. Kini ia semakin yakin untuk mereguk keindahan cinta bersama dengan sang istri. Sama halnya dengan Daphne yang tenggelam dalam lautan kenikmatan bersama pria yang dicintainya. Kedua insan itu saling memberi dan menerima, tanpa menyadari jika bahaya besar telah menanti mereka di luar sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2