
Daphne sudah sampai di rumahnya setelah ia diantarkan oleh Vladimir. Gadis itu tidak ingat kapan Vladimir pergi, tetapi pria itu berjanji akan menemuinya besok setelah matahari tenggelam. Vladimir mengatakan bahwa dia akan membawa Daphne ke tempat persembunyian Duncan di dunia kegelapan.
Merasakan pusing yang masih mendera kepalanya, Daphne berjalan sempoyongan melewati ruang tamu. Kakek James yang sejak tadi menunggu kepulangan Daphne, segera memapah cucu perempuannya itu ke kamar.
“Sweetheart, akhirnya kau pulang juga, Kakek sangat mencemaskanmu. Apa kau mabuk?”
Daphne menggeleng pelan sebagai respon. Ia merasa bingung karena pikirannya serasa kosong, bahkan ia merasa sulit untuk berkonsentrasi. Kini yang terus terngiang-ngiang di benaknya hanyalah bagaimana cara membalas dendam kepada Duncan. Namun entah mengapa sebagian dari dirinya menolak untuk melakukan hal itu.
“Daphne, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau sedang patah hati dengan seorang pria? Atau kau ingin Kakek mencarikan jodoh untukmu?” tanya Kakek James.
Kerutan di dahinya nampak semakin dalam setelah melihat kondisi Daphne yang memprihatinkan. Bukan hanya wajah Daphne yang kuyu, tetapi matanya juga nampak cekung dan sembap.
“Kek, aku sudah dikhianati oleh seseorang yang aku cintai. Rasanya sakit sekali,” jawab Daphne dengan suara tersendat.
Tidak tega dengan penderitaan sang cucu, Kakek James merengkuh Daphne ke dalam pelukannya.
“Menangislah jika kau ingin menangis, Sweety. Keluarkan saja semuanya supaya perasaanmu menjadi lebih baik. Katakan siapa pria itu, Kakek pasti akan memberinya pelajaran.”
Daphne menenggelamkan wajahnya di bahu sang kakek sambil terisak pelan. Ini adalah kali terakhir baginya untuk menumpahkan segala kesedihan, sebelum ia memutuskan untuk menuruti perkataan Vladimir.
Setelah puas meratapi cintanya yang kandas, Daphne menjauhkan diri dari dekapan Kakek James.
“Kek, bukankah Daddy adalah seorang pemburu vampir? Apakah dia pernah meninggalkan sesuatu sebagai warisan untukku? Maksudku semacam kitab, jimat, atau senjata yang bisa dipakai untuk melawan vampir. Aku yakin Daddy pasti memikirkan keselamatanku sebagai anaknya, karena ada kemungkinan vampir yang menjadi musuh Daddy akan memburuku,” ucap Daphne.
__ADS_1
Kakek James membasahi bibirnya yang terasa kering. Ia terkejut karena Daphne tiba-tiba mempertanyakan soal warisan dari Gerald.
“Kenapa kau ingin tahu soal itu, Sweety? Selama ini kau hidup dengan baik bersama Kakek, tidak ada gunanya kau memakai senjata semacam itu,” jawab Kakek James berusaha menghindar.
“Aku memerlukannya untuk menjaga diri, Kek. Aku mohon tunjukkan kepadaku di mana Kakek menyimpan warisan dari Daddy. Aku yakin Daddy menitipkannya kepada Kakek,” bujuk Daphne.
Kakek James berdesah panjang sebelum membuka rahasia yang sudah sekian lama dipendamnya.
“Gerald memang meninggalkan sesuatu untukmu sebelum dia pergi. Dia mengatakan benda tersebut merupakan senjata warisan turun-temurun dari keluarganya, yang menjadi pusaka andalan untuk mengalahkan vampir. Namun Kakek sengaja tidak menceritakan hal itu kepadamu, karena Kakek tidak ingin kau terjebak dalam bahaya.”
Mendengar penjelasan sang kakek, Daphne semakin penasaran untuk melihat senjata yang diberikan ayahnya. Ia yakin senjata tersebut adalah alat yang paling ampuh untuk membasmi vampir jahat seperti Duncan.
“Tunjukkan sekarang, Kek. Aku ingin melihatnya supaya perasaanku lebih tenang,” pinta Daphne mencengkeram kuat telapak tangan kakeknya.
Tak ingin Daphne semakin terpuruk, Kakek James pun mengabulkan permohonan gadis itu. Ia menuntun Daphne menuruni tangga, menuju ke gudang yang terletak di basement. Memang selama ini, Daphne jarang sekali menginjakkan kaki di ruangan pengap itu, karena mengira di dalamnya hanya ada alat-alat pertukangan. Namun siapa sangka, di gudang tua itulah tersimpan benda berharga yang ditakuti oleh kaum vampir.
“Di sebelah mana Kakek meletakkannya?” tanya Daphne berusaha membongkar kotak peralatan satu per satu.
Kakek James terkejut melihat perubahan sikap Daphne yang menjadi agresif dan sangat terburu-buru. Lelaki tua itu berpikir bahwa emosi Daphne yang labil telah menyebabkan gadis itu berperilaku aneh.
“Sabar, Sweetheart, Kakek akan mengambilkannya untukmu.”
Kakek James melangkah menuju ke lemari kayu yang terletak di pojok ruangan. Dengan hati-hati ia membuka lemari yang sudah usang itu, lantas mengeluarkan sebuah peti berwarna hitam. Kakek James membawa peti tersebut ke hadapan Daphne.
__ADS_1
“Bukalah peti ini, Daphne. Kau akan melihat apa yang diwariskan oleh ayahmu.”
Dengan tidak sabar, Daphne bergegas membuka penutup peti. Ketika benda tersebut telah terpampang di hadapannya, Daphne langsung melindungi matanya dengan punggung tangan. Pasalnya, kilatan cahaya dari benda berwarna keperakan itu sangat menyilaukan.
“A-apa ini, Kek?” tanya Daphne memejamkan mata. Mendadak muncul perasaan takut di hatinya untuk menyentuh benda itu.
“Sebuah belati, Daphne. Ayahmu menyebutnya sebagai belati suci yang berumur ribuan tahun. Bahannya terbuat dari perak murni dan dihiasi oleh permata yaspis. Belati ini disebut suci karena sudah didoakan secara khusus oleh para pendeta, dan juga direndam ke dalam air suci. Menurut ayahmu, vampir terkuat sekalipun akan mati jika jantungnya tertusuk oleh belati ini.”
“Lalu kenapa Daddy tidak membawanya saat pergi berperang?” tanya Daphne penasaran.
“Karena menurut Gerald belati ini hanya pantas digunakan untuk melawan penguasa klan vampir, mungkin semacam raja, ratu, atau pangeran di kerajaan mereka.”
Daphne terhenyak saat mendengar penjelasan kakeknya. Dengan tangan gemetar, ia pun mengambil belati suci dari dalam peti. Ketika dipandang dari jarak dekat, belati ini bak sebuah mahakarya seni yang menakjubkan. Perpaduan antara sisi terang dan gelap yang nampak indah sekaligus menyeramkan. Benda ini merupakan simbol pertentangan antara cinta dan benci, yang mewakili perasaannya terhadap Duncan.
Seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, Daphne terus memandangi belati di tangannya. Ia bahkan menimang-nimang benda tersebut sebelum menyimpannya kembali ke dalam peti.
“Kek, aku akan menyimpan kenang-kenangan dari Daddy di kamarku. Boleh aku beristirahat sekarang?” tanya Daphne.
“Tentu saja boleh. Tidurlah yang nyenyak supaya besok kau merasa lebih baik.”
“Terima kasih, Kek. Aku sangat menyayangimu,” ucap Daphne sebelum melangkah pergi.
Setiba di kamarnya, Daphne mengunci pintu. Ia duduk bersimpuh di atas lantai, lalu mengeluarkan belati pemberian ayahnya. Saat Daphne mengamati belati itu, ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri yang tengah menggenggam erat benda tersebut. Kemudian tanpa ragu ia menghujamkannya ke dalam jantung Duncan. Tak berselang lama, pria yang dicintainya sekaligus dibencinya itu terkapar tak berdaya.
__ADS_1
‘Duncan, haruskah aku menghabisi nyawamu demi membalaskan kematian kedua orang tuaku? Dulu kau adalah suamiku, tetapi sekarang kau justru menjadi musuh terbesar dalam hidupku,’ batin Daphne menitikkan air mata.
Bersambung