
"Daph, apa kau sudah selesai? Sebentar lagi acaranya...."
Tracy berhenti bicara saat menatap wajah Daphne dari pantulan kaca rias. Ia begitu terpukau melihat penampilan Daphne yang berubah total. Tak hanya gaunnya yang indah, tetapi wajahnya juga membuat Tracy pangling. Meski hanya dipoles dengan make up sederhana, Daphne tampak memukau.
"Wow, apa benar ini kau, Daphne?" tanya Tracy sambil memutar tubuh Daphne ke kanan dan ke kiri.
Daphne mendelik kesal sambil berkacak pinggang.
"Tentu saja ini aku, kau pikir ada orang lain yang bisa menyamar seperti aku?"
Nyonya Victoria terkekeh mendengar perdebatan dua gadis muda itu.
"Sudah, Tracy, lebih baik kau bantu aku memasangkan veil untuk Daphne."
"Siap, Nyonya, dengan senang hati,” jawab Tracy.
Gadis itu memegang ujung sebelah kiri veil, sedangkan Nyonya Victoria sebelah kanan. Mereka berdua bekerja sama hingga veil itu terpasang sempurna di kepala Daphne. Setelah itu, Nyonya Victoria menyerahkan hand bouquet mawar merah ke tangan Daphne.
“Pengantin wanita sudah siap. Ayo, kita ke gereja sekarang,” ajak Tracy langsung menggandeng tangan Daphne keluar dari salon.
Karena mengenakan gaun panjang dan high heels, Daphne hampir tersandung beberapa kali.
“Aduh, pelan-pelan, Tracy. Kau lupa kalau aku memakai gaun pengantin?” gerutu Daphne saat tiba di depan mobil.
“Sorry, Babe, aku hanya ingin kau cepat sampai di gereja. Kasihan kan kalau Duncan menunggumu terlalu lama." Tracy berceloteh sambil memasukkan ekor gaun Daphne yang masih menjuntai.
“Memangnya kau sudah melihat Duncan?” tanya Daphne penasaran.
Tracy duduk di kursi kemudi sambil merotasikan kedua bola matanya.
“Tentu saja, aku melihatnya. Duncan sudah keluar dari salon empat puluh menit yang lalu. Dan dia…sangat sangat tampan mengenakan jas putih.”
__ADS_1
Melihat Tracy yang masih memuja calon suaminya, Daphne segera mencubit lengan sahabatnya itu.
“Oucch, sakit! Kenapa kau mencubitku, Daph?”
“Karena kau masih saja genit kepada Duncan. Ingat, kau sedang berhadapan dengan istrinya.”
Tracy mengusap lengannya sembari mencibir ucapan Daphne.
“Belum juga resmi, kau sudah posesif begini. Bisa-bisa nanti kau akan mengurung Duncan di dalam kamar supaya tidak bertemu dengan wanita lain.”
Daphne tidak menanggapi ejekan dari Tracy, karena sekarang ia mulai risau. Daphne masih was-was apakah Duncan yang memiliki darah vampir bisa mengucapkan janji suci di hadapan Pastur.
Karena tegang memikirkan pernikahannya, Daphne memilih diam sampai mereka tiba di depan gedung gereja. Begitu mobil mereka terparkir, jantung Daphne serasa meletup-letup di dalam rongga dadanya. Entah mengapa tiba-tiba ia sangat gugup untuk menghadapi upacara pernikahan ini.
“Daph, kenapa kau malah bengong? Kau ingin terus berada di dalam mobil?” tanya Tracy melihat Daphne tak kunjung keluar.
“I-iya, sebentar," jawab Daphne merapikan veilnya.
Dengan dibantu oleh Tracy, Daphne berhasil keluar dari mobil meski sedikit kerepotan. Di depan pintu, mereka langsung disambut oleh Kakek James. Pria tua itu sudah gelisah sejak tadi. Namun tatkala melihat betapa cantiknya sang cucu, Kakek James langsung tersenyum lebar.
“Terima kasih, Kek,” jawab Daphne dengan pipi bersemu.
Kakek James melipat tangannya membentuk segitiga, sehingga Daphne bisa mengapit tangan pria itu. Kemudian diiringi oleh dentang musik gereja, Kakek James memandu Daphne menuju ke altar gereja. Di belakang mereka, Tracy, dan Xin Fei ikut mengiringi sang pengantin wanita. Sedangkan Noel berdiri di dekat altar sebagai pendamping mempelai pria.
Sambil menghela napas, Daphne memandang lurus ke depan. Dari kejauhan, ia melihat seorang pria yang telah menantinya di altar. Dengan mata biru yang cemerlang, pria itu tak lepas memandangnya sambil tersenyum. Dilihat terus oleh Duncan, membuat Daphne semakin gugup, sehingga Daphne ia meremas lengan Kakek James dengan kuat.
"Tenang, Sayang, lihatlah Duncan sudah tidak sabar menikah denganmu," ucap Kakek James menepuk punggung tangan Daphne yang terbalut sarung tangan berenda.
Daphne pun mengangguk, lalu berjalan dengan anggun. Langkah demi langkah ia lalui, hingga akhirnya ia tiba di hadapan Duncan.
Tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat, memancarkan rasa kekaguman satu sama lain. Di dalam hati, Daphne merasa lega karena Duncan bersikap layaknya manusia normal yang tidak takut berada di tempat ibadah. Bahkan pria itu terlihat segar dan bersemangat.
__ADS_1
“Ekhhhmmm,” dehem Kakek James menyadarkan kedua mempelai itu.
“Duncan, aku serahkan cucuku satu-satunya ke tanganmu. Jaga dan sayangilah dia seumur hidupmu. Semoga kalian selalu rukun dan saling mencintai,” ucap Kakek James sembari menyatukan tangan Daphne dan Duncan.
“Pasti, Kek, aku akan selalu membahagiakan Nona Daphne.”
Kakek James menepuk pundak Duncan, lalu berbalik ke bangku gereja. Ia ingin menyaksikan bagaimana prosesi sakral pernikahan cucunya akan berlangsung.
Sambil berpegangan tangan, Daphne dan Duncan berbalik menghadap ke altar, di mana sudah ada Pastur Albert yang bersiap memandu mereka.
“Mulai sekarang jangan panggil aku “Nona”, karena aku akan menjadi istrimu,” bisik Daphne yang dijawab Duncan dengan anggukan.
Pastur Albert pun memulai upacara pernikahan dengan doa bersama. Sesekali Daphne mencuri pandang kepada Duncan untuk memastikan pria itu tidak mengalami kesulitan. Dan ternyata Duncan mampu mengikuti seluruh rangkaian acara, bahkan ia mengucapkan janji pernikahan dengan sangat lancar.
“Daphne Oliver, apakah kau bersedia menerima Duncan Kliev sebagai suamimu, mencintainya dalam senang maupun susah, untung maupun malang?” tanya Pastur Albert saat tiba giliran Daphne.
Sembari menghela napas dalam-dalam, Daphne pun memberikan jawaban yang lugas.
“Ya, saya bersedia.”
“Dengan demikian mulai hari ini kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak dapat diceraikan oleh manusia. Sekarang pengantin pria boleh mencium mempelai wanita.”
Dengan posisi saling berhadapan, Duncan segera membuka veil yang menutupi wajah Daphne. Awalnya Duncan terlihat ragu-ragu, tetapi detik selanjutnya ia menarik pinggang Daphne. Dengan penuh perasaan, Duncan memberikan kecupan di bibir wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Keempat orang yang hadir memberikan tepuk tangan meriah. Mereka turut mendoakan pasangan baru tersebut agar langgeng sampai kakek nenek.
“Selamat Daphne, kau akhirnya resmi menjadi istri Duncan,” ucap Tracy memeluk erat Daphne.
Xin Fei dan Noel juga memberikan ucapan selamat secara bergantian kepada Duncan.
“Selamat Duncan, kau beruntung bisa menikahi cucu pemilik restoran. Ingat perkataan Pastur Albert, apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Karena itu, kalian harus tetap bersama sampai maut memisahkan,” ujar Noel sok bijaksana.
__ADS_1
Mendengar perkataan Noel, entah mengapa hati Daphne menjadi terusik. Mendadak ia teringat akan ramalan kematian yang diungkap oleh ahli tarot dan Marcia. Benarkah maut yang akan menjadi jurang pemisah antara dirinya dari Duncan?
Bersambung